NASKAH TERBAIK


NASKAH TERBAIK

Di Persimpangan, hadir sebagai tema dari antologi ke-5, sementara Cul De Sac adalah antologi ke-6 area luar negeri Nubar Rumedia.

Muncul sebagai jawaban dari pergolakan batin jiwa-jiwa yang berada di sebuah persimpangan, dengan beberapa pilihan. Apakah akan berakhir bahagia atau pahitnya bak menelan simalakama? Atau bahkan justru tak ada jalan keluar? Buntu.

Empat puluh satu naskah tersaji, menghadirkan cerita-cerita penuh inspirasi. Ada duka, suka, air mata, hingga beragam rasa, campur aduk menjadi bumbu kehidupan. Namun satu yang sangat mencuri perhatian dari masing-masing tema.

Siapa saja mereka, para peraih trophy naskah terbaik?

https://reynsdrain.com/2021/09/05/saat-diri-harus-memilih/

https://reynsdrain.com/2021/09/05/cul-de-sac/

Selamat, untukmu, dan semua penulis yang telah meluahkan segenap rasa demi kepuasan pembaca. Kalian semua pemenang, karena berani berkontribusi dan mengalahkan ragu untuk menyelesaikan satu demi satu buku. Congrats, untukmu!

Love,
Rere

CUL DE SAC


CUL DE SAC

Cul De Sac, adalah sebuah istilah dalam bahasa Prancis yang berarti dead end. Jalan buntu. Tema yang menjadi judul buku ke-6 area luar negeri Nubar Rumedia kali ini.

Terinspirasi dari segala persoalan dalam hidup yang tak jarang berujung dengan sebuah kebuntuan. Seperti seorang suami yang ditinggal belahan hati, lalu memilih sebuah jalan yang tak dipikirnya lagi … atau seorang reporter yang terjebak di antara romansa dan sebuah kepentingan, hingga berujung kengerian.

Aku benci pada keadaanku, yang harus memilih. Aku benci pada hatiku, yang bahkan tak memiliki hak untuk jatuh cinta. Aku benci pada relungku, yang tak punya kuasa untuk patah hati, dan aku berang pada diriku yang harus menyerah atas harga diriku akan kebenaran. Menenggelamkan kebenaran demi uang, dan kebahagiaan orang yang kucintai, dalam kobaran api yang perlahan melalap kewarasan.

Cerita pendek berjudul Reminiscence ini sangat menarik perhatian, karena ditulis dengan tata bahasa yang tak biasa. Milik seorang gadis muda, penggemar berat Pramoedya.

Congrats, Juwita! Usia muda ternyata tak menghalangimu untuk berkarya. Ingin menyampaikan pesan lewat kata bukan suara, menjadi tujuanmu menulis setiap cerita. Kisah tak biasa yang membuatmu terpilih di antara semua yang terbaik.

Selamat juga untuk para kontributor, yang bersedia bekerja sama, serta berani keluar dari zona nyaman penulisan. Genre tak biasa yang awalnya membuat gentar, nyatanya tak membuat semua mundur dengan gemetar.

Kalian semua, pemenang! Congrats!

Love, Rere

Saat Diri Harus Memilih


Saat Diri Harus Memilih

Di Persimpangan, hadir sebagai tema dari antologi ke-5, area Luar Negeri Nubar Rumedia.

Muncul sebagai jawaban dari pergolakan batin jiwa-jiwa yang berada di sebuah persimpangan, dengan beberapa pilihan. Apakah akan berakhir bahagia atau pahitnya bak menelan simalakama?

Dua puluh naskah tersaji, menghadirkan cerita-cerita penuh inspirasi. Ada duka, suka, air mata, hingga beragam rasa, campur aduk menjadi bumbu kehidupan. Namun satu yang sangat mencuri perhatian.

“Di sini Mbak Tari boleh menceritakan apa saja yang ingin disampaikan. Jangan takut, tidak ada yang akan menyalahkan. Kami akan mencoba membantu permasalahan yang sedang Mbak alami, namun semua itu hanya bisa dilakukan dengan bantuan dari mbak Tari juga. Tidak perlu takut, semua yang Mbak ceritakan akan menjadi rahasia kita. Tidak akan keluar dari ruangan ini tanpa ijin dari mbak Tari.”

Aleena mencoba melanjutkan perbincangannya dengan Tari, nama panggilan untuk Lestari Handayani. Untuk sesaat, terjadi keheningan di ruang konseling. Berkali-kali terdengar helaan nafas panjang. Tangan perempuan itu meremas saputangan yang dibawanya. Sesekali matanya melihat ke atas, mencoba menahan airmata yang sudah ingin meluncur tanpa permisi.

Naskah yang membuat air mata mengalir dan nafas sesak ini, ditulis oleh seorang psikolog yang akrab dengan sesi counselling. Jalinan cerita pendek yang disajikan, membuat tulisan ini begitu hidup seakan nyata. Seperti melihat sosok Tari dengan segala kisahnya, sedang berbicara di hadapan.

Selamat, Mbak Ekan. Naskahmu sukses membuatku merenung, bahwa banyak hal memaksa seseorang berada di persimpangan untuk menentukan sebuah pilihan. Pilihan yang kadang berakhir tanpa kendali nalar.

Selamat untukmu, dan semua penulis yang telah meluahkan segenap rasa demi kepuasan pembaca. Kalian semua pemenang, karena berani berkontribusi dan mengalahkan ragu untuk menyelesaikan satu demi satu buku. Congrats !

Love,
Rere

Senandung Cinta


Senandung Cinta

Siapa tak pernah merasakan cinta. Mungkin hanya mereka yang tak bernyawa, atau pernah merasakan kepedihan.

Cinta, yang kadang menjadi inspirasi sebuah alunan. Diramu dengan musik yang indah hingga menjadi sebuah kasidah.

If You’re Not The One, mungkin pernah membuat seseorang berkata sial! Namun senandung selawas Seroja, nyatanya mampu membuat sebuah kisah sedih berubah menjadi senandung penuh kasih.

Bagaimana dengan kisah yang lain? Tentu saja semua begitu mengaduk perasaan dan batin.

Someone’s Watching Over Me, mungkin yang paling mampu mengobrak-abrik tatanan hati. Hati yang begitu penuh cinta, namun dihancurkan dalam sekejap mata. Hingga semua harapan luluh lantak, tak bersisa.

Selamat untukmu! Deretan aksara yang tertuang qdarimu, mampu membuatku merenung. Bahwa perjalanan hidup memang sangat berliku. Meski sulit namun hidup harus terus bergerak, dari sebuah ruang sempit … bernama sakit.

Terima kasih untuk 20 penulis yang bersedia berbagi senandung cinta kasihnya. Para perempuan hebat, dan lelaki luar biasa.

Salam hangat,
Rere
(Nubar Area Luar Negeri)

Hitam Putih Perempuan


Hitam Putih Perempuan

Perempuan.

Selalu punya cerita mengejutkan. Isi hatinya tak mudah dicari jawabnya. Semua tertuang dalam 21 cerita yang sangat menghangatkan.

Perempuan yang bermetamorfosa, ada lalu tiada, menghadapi kepingan puzzle kehidupan, hingga kembali menjadi manusia purba.

Sebuah kacamata milik seorang mama, ternyata berisi kenangan penuh duka lara. Namun ia membentuk sebuah jiwa, menjadi tegar menghadapi dunia. Meski kadang butuh tiga sahabat, atau seseorang yang sekedar duduk to keep me company silently, through the rain. Serta deretan kisah lain yang begitu menawan.

Surat Untuk Diriku Yang Dulu, nyatanya paling mencuri hatiku. Kisah manis penuh kesederhanaan, yang mampu membuat siapa pun yang membacanya, larut melangut.

Selamat hey kamu! Deretan aksaramu mewakili pengembaraan seorang perempuan, yang sedang mencari jati diri di tengah sebuah kerinduan. Bahwa ada hitam, dan putih di setiap perjalanan.

Peluk penuh cinta untuk 20 perempuan hebat yang bersedia berbagi rasa. Sebagai ibu, emak, anak perempuan, maupun sahabat bagi sesama.

Salam hangat,
Rere

Sang Pemenang


Sang Pemenang

Hei, bintang-bintang tampak cemerlang!
Bulan pun punya panggung untuk pamer ketampanan.
Di bawahnya, kerlap-kerlip lampu jalanan menggemaskan.
Ini adalah singa yang sama, yang kini ditatapnya dari jendela kantor lantai dua puluh enam.
Namun kini matanya justru memilih terpejam, ditariknya nafas panjang, hatinya sungguh merasa kepenuhan.

***

Tulisan kontributor satu ini memang membuat saya kagum, sejak pertama kali menerima naskahnya. Tak nampak layaknya seseorang yang baru menulis, seperti katanya dengan penuh rendah hati.

Gaya bahasa yang manis, berhias rima cantik, dan runtut dalam penyusunan, membuat saya mantap memilih naskah ini.

… daaannnn …

Ini lah naskah terbaik, antologi “Rumah Kedua”, event perdana NuBar area Luar Negeri yang berjudul “Bloom Where You Are Planted”.

Congrats Fransiska Defi! Semoga menjadi semangat untuk terus berkarya dalam menorehkan deretan aksara untuk kebaikan.

Terima kasih untuk semua kontributor Rumah Kedua. Para perempuan hebat, yang di sela-sela kesibukan hariannya, mampu berkomitmen, dan menyelesaikan tugas dengan baik tanpa banyak huru-hara.

Event perdana ini adalah bukti bahwa kami mampu menghasilkan sebuah karya. Meskipun bergelar ibu rumah tangga yang 24/7 di rumah saja.

Congrats! Untuk kita semua … para pemenang.

Love,
Rere

MIMPI


MIMPI

“Pah, pinjam mesin tik nya ya.”
“Buat apa? Memang tahu cara pakainya?”
Tau dong. Mau nulis buat mading.”
“Nulis apa?”
“Enggak tahu. Hehe.”

Mesin tik bersejarah itu awal saya berkenalan dengan dunia tulis menulis di tahun 1991, ketika duduk di bangku SMA.

Satu persatu huruf di mesin tik tua itu saya kenali dan berusaha keras mengakrabkan diri. Lembar demi lembar tulisan yang saya buat darinya akhirnya bertengger di majalah dinding sekolah kami. Tentu saja dengan nama samaran karena saya belum lagi percaya diri.

Berkenalan dengan grup para penulis keren awal tahun lalu, membuat saya kembali tertarik menuangkan keluh kesah dan pengalaman hidup. Ya. Hampir semua tulisan yang saya buat memang berdasarkan apa yang saya lalui selama ini. Tidak selalu manis dan indah, bahkan sarat dengan kisah sedih dan airmata.

Tulisan pertama saya bahkan juga menghadiahi diri ini piala pertama dalam hidup. Hahaha!

Kini, dua di antara beberapa antologi yang telah saya tulis juga menempatkan saya di deretan terbaik . Melalui antologi Seni Menyikapi Ketelanjuran dan Ketika Jiwa Terlahir Kembali.

https://parapecintaliterasi.com/5-naskah-terbaik-dalam-event-spesial-milad-ma-nubar-sumatera/

https://parapecintaliterasi.com/siapakah-terbaik-dalam-event-terdahsyat-nubar-sumatera-bertemakan-hijrah/

Percayalah, ini adalah wujud dari semua mimpi yang pernah saya rajut sejak di hari saya menekan tombol-tombol huruf di mesin tik tua milik papa. Tidak pernah muluk-muluk berpikir untuk melihat tulisan saya kelak nangkring di toko buku ternama. Cukup dengan membuat banyak mata membaca kemudian mengambil pelajaran dari semua kisah yang saya bagikan. Itu saja.

Mimpi, jangan takut dipunyai. Karena mimpi yang memberi warna hidup ini. Gelap bisa berubah terang, terang bisa semakin bersinar.

Follow your dream, believe in yourself, and never give up.

Love, R

Disiplin & Tanggung Jawab, Untuk Siapa?


Disiplin & Tanggung Jawab, Untuk Siapa?

“Bunda …”
“Yes?”
“I left my lunch box and bottle at home.”
“So?”
“Can you send it to me?”
“No, I can’t.”
“But I’m hungry,
Bunda.”

Begitulah pesan singkat yang saya terima dari putri sulung saya. Ketika sedang menikmati secangkir kopi hangat pagi itu. Kotak makan, dan botol minumnya memang tertinggal di rumah. Saya menemukannya tergeletak di depan pintu. setelah ia pamit berangkat sekolah.

Ia memang nampak terburu-buru hari itu. Ada tugas Student Council, katanya. Semacam OSIS di sekolah Indonesia. Dengan singkat saya membalas pesannya, “Learn from this lesson.”

Kejam kah saya? Bagaimana dengan Anda para ibu? Jika anda menjadi saya, apakah anda akan mengambil langkah yang sama dengan saya yaitu menolak mengantar barang yang tertinggal sebagai pembelajaran? Atau justru tergopoh-gopoh pergi ke sekolah untuk mengantar barang mereka karena kasihan?

I might sound mean to many. Ibu yang kejam. Sekolah sebelah rumah saja tidak mau mengeluarkan sedikit effort untuk mengantar keperluan bocah yang tertinggal.

Ya. Begitulah cara saya mendidik anak-anak di rumah. Disiplin dan tanggung jawab adalah hal yang utama di keluarga kami. Jangan heran jika berkunjung ke rumah saya, anda akan melihat saya tidak segan memerintahkan anak-anak untuk melakukan banyak hal, bahkan sejak usia mereka masih sangat muda.

Memasak, membersihkan rumah, membereskan kamar, membuang sampah, pendeknya semua harus mampu mengerjakan pekerjaan rumah. Semua. Tanpa kecuali.

Bahkan putra bungsu saya yang baru berusia 9 tahun, sudah terampil mempersiapkan menu sahur sederhananya sendiri, lho. Apalagi kedua kakaknya. Merekalah yang sekarang ini bertanggung jawab atas banyak hal di rumah kami.

Bagaimana saya melakukan semuanya?

It takes two to tango.

Kami melakukannya bersama-sama. Berproses sedari kecil, dan belajar dari semua kesalahan selama proses berlangsung. Seperti yang saya ceritakan dalam buku antologi Tips Mengoptimalkan Kemampuan Belajar Anak Jilid 1 https://curhatanaksekarang.com/tips-mengoptimalkan-kemampuan-belajar-anak/

Belajar bukan hanya di ruang kelas dan membuka buku. Belajar hidup disiplin dan mengenal arti tanggung jawab, juga termasuk ilmu tentang kehidupan yang akan berguna seumur hidup. Ini yang tanpa lelah saya tanamkan di diri putra dan kedua putri saya.

Untuk siapa semua life skills ini? Untuk mereka. Agar kelak mereka bertiga tumbuh menjadi orang-orang dewasa yang disiplin, berani bertanggung jawab, dan tidak pernah menyusahkan orang lain.

Mau membaca tulisan kami semua dan menyerap manfaatnya? Mari belajar bersama.

Love, Reyn.

ASA


ASA

​“Bun, kapan mau ikutan ngaji? Dateng cuma pas makan-makan aja, nih.”

​“Iya, iya. Nanti lah. Masih ribet sama anak-anak dan bayi di rumah, nih,” sahutku seraya bersungut-sungut menjawab sindiran seorang teman. Dalam hati aku justru bertekad tidak akan pernah lagi datang menghadiri undangan makan dari teman-teman pengajian itu. Malas rasanya.

Hingga pada suatu hari …

Pernahkah anda mengalami suatu titik balik? Ketika sebuah peristiwa mengubah pemahaman tentang suatu hal? Sesuatu yang awalnya dihindari kemudian dicari, karena merasa diri sudah berada di ujung hari.

Inilah yang terjadi pada saya di antologi “Ketika Jiwa Lahir Kembali” kali ini. Saya yang pernah kehilangan arah dan merasa jiwa ini kosong, akhirnya kembali pada titik awal lagi setelah satu peristiwa mengguncang hati.

Percayalah, hidup memang tidak selalu berada pada jalurnya. Kadang di hadapan ada persimpangan yang harus kita pilih. Bisa jadi kita akan jatuh karena salah mengambil arah … hadapi saja, lalu bangkit, dan jangan menyerah.

Mau baca? *winks*

Reyn

Dari “Daun Sirih” ke “Rumah Sakit” Hingga “Di Antara Dua Beda”


Dari “Daun Sirih” ke “Rumah Sakit” Hingga “Di Antara Dua Beda” “Mama baca ceritamu yang di buku Suspense Episode, serem banget! Itu beneran ya?”“Iya Ma. Waktu Mama masuk “Rumah Sakit” dan aku tidur di sana nemenin.”“Hiiiyy! Jadi sedih mikirnya dulu. Kamu pasti repot ya Nak ngurusin semua sendiri, mana lagi kerja.”“Enggak apa Ma.” “Re, Mama […]