Masjid Sultan – Singapore Out And About


Masjid Sultan – Singapore Out And About

Siapa tak kenal dengan bangunan bersejarah satu ini?

Sultan Mosque atau Masjid Sultan. Dipakai sebagai tempat peribadatan secara resmi pada tahun 1929. Mengambil nama Sultan Hussain yang mendirikan masjid ini sekitar tahun 1824, di samping istananya yang berlokasi di daerah Kampong Gelam. Bangunan ini lalu diabadikan sebagai monumen nasional pada tahun 1975. (Wikipedia)

Terdiri dari 2 lantai, yang bagian atasnya adalah tempat khusus beribadah kaum perempuan. Sementara tempat berwudhu dan kamar kecil ada di sisi sebelah kanannya.

Oh ya, jangan harap bisa melangkah masuk ke dalamnya jika anda tidak memakai pakaian yang rapi dan sopan. Namun jangan khawatir, para penjaga yang duduk di tangga masuk masjid telah menyediakan sarung atau abaya yang bisa anda pinjam dan kenakan jika ingin mengunjungi bagian dalam masjid.

Untuk memanjakan perut, terdapat banyak sekali restoran dan cafe di bagian luar bangunan megah ini. Mulai dari kuliner khas warga Melayu, Lebanesse, Arabs, Moroccans, India, hingga rumah makan Padang pun juga tersebar di sekitarnya. Tak ketinggalan toko-toko roti yang wanginya semerbak pun sangat menggoda untuk didatangi. Ingin membawa buah tangan untuk keluarga di rumah? Para penjaja suvenir khas negara ini pun bisa disambangi di bagian luar masjid.

Jangan lupa, segala perlengkapan umrah dan haji juga bisa didapat di sekitar bangunan ini. Harganya? Lumayan masih terjangkau lah.

Oh, jangan lupa berfoto ya. Ini adalah salah satu tempat dengan spot foto terbaik di negara ini. Pokoknya Instagrammable deh! Caelah!

Photo credit: Mila Photography

(Bersambung)

Love, Rere

Si Susah Sebut – Road To The Crystal Year


Si Susah Sebut – Road To The Crystal Year

Desember 2003

“Nama kamu gimana sih bacanya? Siyed? Said?”
“Bukan. Spelled as Saeed.”
“Susah banget, sih.”
“Panggil Bull saja. Tak susah, kan?”
“Kok, Bull? Kenapa kamu dipanggil, Bull?”
“Kata teman-teman, dulu sewaktu saya main sepakbola, saya hantam orang macam bulldozer.”
“Ha? Serem amat! Ya udah, Bull aja. Nggak susah sebut.”
“Kalau full name kamu?”
“Beuh. Full banget. Kamu nggak bakal inget, deh!”
“Siapa coba?”
“Susah pasti buat kamu.”
“Try me.”

Dengan pelan, kueja nama panjangku, yang dulu kerap ditertawakan teman-teman, saking panjangnya. Bahkan setiap kali mengisi formulir pengisian data diri dengan kotak-kotak per huruf itu, namaku nggak pernah cukup. Belum kalau harus ditambah Binti nama bapakku.

Apes betul laki-laki yang kelak menikahiku. Terbayang sulitnya mereka mengucapkan akad nikah dengan menyebut nama panjangku, ditambah binti nama bapakku. Ya, namanya sendiri tak kalah panjang bak deretan gerbong kereta api. Hahahaha!

Sayangnya, sambungan telepon Singapura – Jeddah itu tidak mampu merekam ekspresi wajah lelaki si susah sebut itu. Ah, belum tentu juga ia ingat namaku yang lebih susah sebut ini.

September 2005

Sembilan September 2005, di dalam sebuah kamar hotel Sari Pan Pacific, Jakarta. Lelaki bernama susah sebut itu, mondar mandir dengan muka tegang. Mulutnya terlihat komat kamit menghafalkan sesuatu.

Ia tidak memejamkan mata semalaman. Tegang, katanya. Ia juga mendadak kehilangan selera makan.

“Semoga esok lancar, dan semoga aku bisa mengingat nama panjang si kurus … yang susah sebut ini.”

Love, Rere

Mencari Ilham


Mencari Ilham

Menulis cerpen butuh mood dan bakat? Ah, itu hanya mitos belaka. Menulis itu butuh ilham.

Ya, seperti sebuah ilham yang kami dapat ketika pelatihan kemarin. Bahwa menulis cerpen adalah semudah makan semangkuk bakso pedas yang panas nan menggemaskan. Ilham yang ini adalah sang founder Rumah Media Grup. Entah karena beliau begitu hobi makan bakso atau memang semudah itu kah menulis sebuah cerita pendek?

Bagi para pemula, 3 cara mudah ini bisa diterapkan untuk awal menulis sebuah cerita pendek.

1. Sisihkan waktu

Sebuah cerita pendek bermuatan antara 1000 hingga 2000 kata saja. Maka menyisihkan 10-20 jam waktu kita untuk mencari ilham rasanya cukup.

2. Mencari ide

Kadang sebuah ilham muncul di mana saja dan kapan saja. Jangan sia-siakan ide yang muncul tiba-tiba itu. Sesegera mungkin catat di dalam sebuah buku saku, sebelum ia melayang dan pergi jauh.

3. Tentukan gaya

Mulailah dengan bersikap jujur sejak awal menulis. Tidak perlu berusaha meniru gaya seseorang dan berusaha keras menjadi orang lain. Be true to yourself.

Setelah 3 tahap awal ini berhasil dilakukan, pelatihan bersama Pak Ilham kemarin juga memberikan pencerahan berupa tips menulis cerpen. Apa saja tips yang sangat berguna itu?

1. Tema

Pilihlah tema yang memang dikuasai oleh penulis dan dirasa nyaman dengan diri sendiri. Karena dengan menguasai sebuah tema berarti penulis telah memiliki pengalaman dan tentunya telah mengumpulkan banyak informasi. Hal ini akan membuat cerita mudah diolah agar pembaca dapat memetik hikmah atau pelajaran di dalamnya.

2. Penokohan

Menentukan tokoh selanjutnya menjadi hal utama setelah tema. Hendaknya fokus hanya pada 1 hingga 3 tokoh saja dalam setiap cerita. Penokohan ini juga harus mempertimbangkan nama, sifat atau karakter masing-masing tokoh, serta perannya di dalam cerita.

3. Alur

Sebuah cerita tentu saja membutuhkan alur atau dinamika yang membuatnya hidup. Beberapa jenis alur bisa menjadi pilihan. Misalnya alur maju, yang berarti cerita tentang hari ini hingga esok atau lusa, atau alur mundur yang bercerita tentang hal yang lampau atau sebuah kilas balik. Alur campuran juga bisa dijadikan pilihan yang merupakan kombinasi antara alur maju dan kilas balik, biasanya ditemui pada sebuah novel.

4. Sudut pandang

Penentuan sudut pandang juga memegang peranan penting dalam sebuah cerita. Jika ingin menceritakan tentang aku, maka sudut pandang orang pertama bisa menjadi pilihan. Namun jika penulis ingin menjadi tokoh utama sekaligus pencerita, maka bisa memilih sudut pandang orang kedua. Menjadi pengamat atau sutradara dalam cerita, berarti penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga.

5. Susastra

Susastra berarti semua hal yang berkaitan dengan karya sastra. Dalam hal ini berupa permainan bunyi atau rima, pengulangan kata menggunakan padanannya, atau dialog cantik antar tokoh di dalamnya. Penulis juga bisa menggunakan bahasa asing, kata-kata yang jarang dipakai, atau puisi untuk membuat jalan cerita lebih menarik. Penggunaan simbol sebagai penggambaran karakter juga bisa dijadikan salah satu bentuk susastra.

6. Judul

Setelah semua kerangka cerita didapat, pemilihan judul menjadi hal terpenting selanjutnya. Beberapa hal berikut ini bisa dijadikan cara penentuan. Pertama, judul harus menarik perhatian pembaca. Bisa dengan menggunakan kata-kata yang unik atau jarang digunakan. Nama tokoh utama dalam cerita juga bisa dijadikan alternatif. Kedua, judul tidak perlu terlalu panjang. Cukup satu kata asal mempesona, rasanya sudah membuat sebuah cerita menjadi magnet bagi pembaca.

Setelah semua hal tersebut didapat maka bagaimana cara penulis mengawali sebuah cerita pendek?

  1. Mulai dengan narasi atau deskripsi tokoh
  2. Mulai dengan percakapan

Setiap awal tentunya harus ada akhir, bukan? Setelah alur cerita selesai, bagaimana cara menentukan akhirnya? Berikut adalah 2 cara untuk menamatkan sebuah cerita, yaitu;

  1. Ending tertutup, berarti cerita berakhir dengan kebahagiaan atau kesedihan yang jelas.
  2. Ending terbuka, biasanya dipilih untuk sebuah cerita yang panjang karena penulis belum bisa menentukan akhirnya. Ending seperti ini membebaskan pembacanya untuk menentukan sendiri akhir konflik atau kisah di dalamnya. Keuntungan bagi penulis jika menggunakan ending ini adalah terbukanya kemungkinan untuk memunculkan cerita baru yang makin seru.

Jadi, masih berpikir bahwa menulis cerpen butuh mood dan bakat? Cobalah mulai mencari ilham tulisanmu. Jika tidak juga bertemu, silahkan mencarinya di pelatihan menulis yang lain bersama Ilham Alfafa, sang founder Rumedia Grup.

Sumber: Pelatihan Menulis “Sehari Bisa Menulis Buku” bersama Ilham Alfafa

Love, Rere

Keliling Dunia


Keliling Dunia

Ujung tahun 2000 waktu itu, ketika airmata saya menetes di atas pesawat yang bertolak dari Jakarta menuju Jeddah. Ada rasa yang mendadak hilang hingga membuat lutut saya terasa lemas. Jantung saya berdebar membayangkan sebuah tempat nun jauh di belahan bumi lain, ribuan kilometer jauhnya dari tanah kelahiran.

Memang pergi ke luar negeri adalah cita-cita saya sedari kecil. Meski tidak banyak anak seusia saya yang berpikir untuk menjadikannya sebuah keinginan. Kebanyakan dari mereka menjadikan sebuah profesi sebagai mimpi masa depannya. Namun tidak bagi saya.

Nyatanya menjadi seorang awak kabin adalah jalan saya mewujudkan mimpi itu. Kalau tahu, dulu saya bercita-cita saja menjadi seorang pramugari, hingga tidak ada orang yang tertawa geli mendengar seorang bocah SD menjadikan pergi dan tinggal di luar negeri sebagai mimpinya.

Meskipun belum seluruh belahan bumi yang begitu luas ini saya datangi, namun banyak pengalaman batin membuat saya merasa kaya. Ya, kaya pengalaman yang menjadi bekal saya memandang banyak hal saat ini.

Pernah mendengar sebuah tempat bernama Khartoum? Mungkin tidak banyak yang tahu atau sadar bahwa ada sebuah kota bernama Khartoum yang menjadi ibukota negara Sudan. Dalam penerbangan menuju tempat itu, pesawat kami penuh berisi deportees, atau mereka yang diusir dari negara lain karena sebab tertentu. Jangan bayangkan perjalanan ini fancy ya. Hampir seluruh penumpang tidak memakai alas kaki, bahkan ada yang sudah berhari-hari tidak mandi.

Pesawat berhenti di sebuah tempat yang sejauh mata memandang hanya berupa deretan gurun yang kering dan tandus. Kami bahkan harus membuka seluruh pintu pesawat karena aroma menyengat yang ditinggalkan para penumpang. Miris melihatnya, sambil mengingat sejarah tertindasnya bangsa mereka sejak jaman dahulu kala.

Perbedaan warna kulit … gumam saya pelan.

Khartoum bukan satu-satunya pengalaman menakjubkan yang pernah saya lalui. Banyak sekali cerita penuh warna saya temui. Pekerjaan ini memang membawa saya berinteraksi dengan banyak budaya, ras, bahkan hingga akhirnya bertemu sang belahan jiwa. Bahwa hidup adalah sebuah pilihan, terjadi setelahnya. Meski dengan sedikit berat hati, saya berhenti dari pekerjaan yang saya cintai karena banyak memperkaya batin itu.

Beruntung saya tidak dibesarkan untuk melihat perbedaan. Maka berada di mana pun bagi saya tetap menyenangkan. Meski berkali-kali tergagap mengikuti alur sekitar, namun jiwa petualang membuat saya mampu bertahan. Apalagi kali ini saya harus hidup berdampingan dengan beberapa ras sekaligus. Cina, India, Melayu, dan etnis lain menjadi pengalaman baru yang semakin memperkaya kehidupan di tahun ke-14 saya tinggal di negara multikultural ini.

Beruntungnya saya. Setelah pernah keliling Indonesia https://reynsdrain.com/2020/08/18/keliling-indonesia/ lalu keliling dunia, sekarang membesarkan anak-anak di tengah banyak perbedaan https://reynsdrain.com/2020/08/07/rumah-ke-2/

Tidak banyak harta ayah dan bunda kelak tinggalkan, Nak. Namun pengalaman serta terbukanya wawasan akan menjadi bekalmu memandang indahnya kehidupan. Indah karena beda. Beda yang harus dihargai keberadaannya sebagai anugerah dari Sang Pencipta.

It’s not about being all the same. It’s about respecting differences.

Love, Rere

Tujuh Puluh Lima


Tujuh Puluh Lima

Tanah air ku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu

Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai

Walaupun banyak negeri kujalani
Yang masyhur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah ku rasa senang

Tanah ku tak kulupakan
Engkau kubanggakan
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai

Tercekat dan bergetar rasa hati setiap kali mendengar lagu ini bergema. Bukan hanya karena indahnya kata dan syahdunya nada, namun semata karena rindu yang begitu kuat merebak.

Berada jauh dari sanak saudara dan tanah air tercinta, tidak pernah menyurutkan rasa cinta kami semua pada Indonesia. Ibu pertiwi tempat kami pertama kali merasakan segarnya udara dan indahnya warna warni dunia.

Bersama kami menyatakan cinta dan rasa untukmu negeri tercinta, yang hari ini semakin menua. Tujuh puluh lima tahun sudah, semoga tetap jaya dan bersama kita bersatu, merajut asa dalam perbedaan … dengan penuh cinta.

Salam persatuan dari kami, para ibu perantau, asal Indonesia.

Merdeka! 🇲🇨

Tanah Air – Ibu Sud

Tik Tok Mentok


Tik Tok Mentok

Kak, ayo dong ajari Bunda main Tik Tok.”
“Ish,
Bunda! No.”
“Ih
coba bikin 1 yuk, tapi jangan yang susah ya.”
“Renegade?”
“Mmmm …
boleh deh. Susah tak?”
“I teach you.”
“Then later can I upload the video?”
“Ih,
Bunda! No shame!”
“Hahaha! Satu saja … boleh ya? Ya?”

Begitu rayuan maut saya ketika membuat video Tik Tok pertama kali dulu. Tentu saja setelah mereka akhirnya menyetujui keinginan saya mengunduh videonya dengan syarat, mereka akan menutup wajahnya dengan masker. Hahaha!

Saya tentu saja dengan kepercayaan diri super tinggi menolak memakai masker seperti mereka. Walaupun gerakan saya pun … entahlah. Susah ternyata! Saya ibarat sedang berlari mengelilingi lapangan bola karena keringat mengucur deras ketika sedang berlatih gerakannya. Phew!

Generasi Tik Tok rasanya tidak bisa saya sematkan pada anak-anak itu. Mereka ternyata malu berjoget-joget di depan kamera apalagi kemudian ditonton banyak orang. Entah kenapa saya merasa lega. Bukan karena aplikasi ini kurang sukses merasuki jiwa anak-anak di rumah, tapi lebih karena bersyukur mereka masih memiliki rasa segan dan malu. Jadi rasanya saya tidak perlu terlalu banyak melarang ini itu.

Sebagai ibu di jaman milenial ini, saya memang selalu membuka diri dengan kemajuan teknologi. Termasuk segala aplikasi hits di jaman ini. Kadang kami berdiskusi tentang segala hal yang sedang santer diberitakan. Termasuk juga Tik Tok dengan segala kelucuan dan kehebohannya.

Saya mengajak anak-anak untuk berpikir terbuka. Jika mereka memang tidak suka, cukup jadi penikmat saja. Satu saja pesan saya, tidak perlu mencibir atau menghina mereka yang berbeda karena menyukai aplikasi ini. Mari kita hanya melihat segala kelucuan yang ada.

Selama ini saya hanya menemukan beberapa video yang memang mampu mengundang gelak tawa, dan sebagian sukses membuat mulut menganga dengan keajaibannya. Terus terang bukan mudah membuat video seperti tik tok ini. Paling tidak saya sudah pernah mencoba satu kali dan mungkin tidak akan pernah lagi. Sudah mentok … gagalnya. Hahaha!

Jadi, pilihannya adalah menjadi pemain atau sekedar penikmat. Tak ingin melihat sama sekali? Boleh juga. Karena saya pribadi rasanya juga tidak punya nyali untuk membuat video sendiri dan akhirnya bersama anak-anak, lebih memilih untuk menjadi penikmat saja.

We are all different, so don’t judge.
Understand instead.

Love, Rere.

Rumah Ke-2


Rumah Ke-2

Empat belas tahun sudah saya turut merasakan gegap gempitanya warna merah putih berkibar di negara ini. Merah putih yang berhias bulan dan bintang.

Empat belas tahun yang tanpa terasa saya lalui di negara sejuta denda ini dengan segala pasang surutnya yang bak roller coaster nya kehidupan. Seru dan selalu menantang.

Jika ditanya apakah saya menikmati setiap detik yang saya lewati selama ini, jawaban saya tentu saja ya. Singapura adalah rumah kedua saya. Tempat dimana saya membangun keluarga kecil dan mengajarkan anak-anak segala hal tentang kebaikan, kepekaan sosial, keberagaman, kesetaraan, tanggung jawab, dan tentu saja disiplin.

Singapura memang menyenangkan. Bersih, teratur, tertib, patuh, tenang, nyaman, aman. Walau aman bukan berarti tanpa kewaspadaan. Low crime doesn’t mean no crime, begitu ujar suami saya yang kerap mengingatkan kami semua untuk tidak terlena dan lengah.

Beragam budaya, bahasa, ras hingga agama, tumbuh bersama dan saling berdampingan di negara ini. Tanpa saling caci, hujat, maupun mengecilkan satu sama lain.

“We, the citizens of Singapore, pledge ourselves as one united people regardless of race, language or religion, to build a democratic society based on justice and equality so as to achieve happiness, prosperity and progress for our nation.”

Pledge yang setiap pagi wajib dibaca semua murid di sekolah ini benar-benar menunjukkan, betapa semua warganya harus hidup rukun dan saling menghargai. Jika ingin ketenangan dan kenyamanan hidup betul-betul tercapai.

Meski hanya sebuah titik kecil di peta dunia, Singapura memang luar biasa. Hingga tenang rasanya hati menjadikannya rumah kedua.

Selamat 55 tahun Singapura! Semoga makin luar biasa dan menjadi satu titik kecil yang terus bersinar terang di peta dunia.

Love, Rere

Singapore National Day 9 August 1965 – 9 August 2020

Hitam Putih Perempuan (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Hitam Putih Perempuan (Secangkir Kopi Hangat Emak)

Being a woman is never easy
Melalui banyak fase yang berakibat perubahan pada diri
Belum lagi siklus hormonal yang kadang bikin pusing sendiri
Mending jauh-jauh daripada kena usir

Being a woman is never easy
Masa muda harus benar-benar jaga diri
Kalau tak ingin masa itu terenggut dini

Being a woman is never easy
Setelah berbuntut dan menimang buah hati
Kesenangan pribadi harus rela tersisih

Being a woman is never easy
Menjaga yang tersayang kadang butuh otot besi
Namun penampilan tetap harus manis tak boleh basi

Ladies, mari saling mendukung
Berbagi cinta dan cerita untuk yang terkungkung
Tak perlu drama dan kelamaan merenung
Segera bangkit dan tegakkan punggung
Hitam putihnya dunia mari hadapi dengan senyum

Hitam putih challenge ini sungguh menarik. Melihat bagaimana kaum perempuan saling memdukung dan berbagi kekuatan satu sama lain. Melalui berbagi foto tanpa warna-warni.

Hanya hitam dan putih.

Ibarat hidup yang penuh dengan pasang surut. Kadang berpikir ia bahagia, ternyata hidupnya carut marut. Kadang menganggap ia menyebalkan, ternyata justru darinya didapat ilmu tentang kehidupan. Ahhh … sawang sinawangnya hidup.

The least we can do adalah berhenti memberi terlalu banyak komentar, terutama berbagi negativity. Karena terkadang di mata kita tampak hitam, ternyata ada putih di sana, pun sebaliknya. Berhati-hati dengan setiap ucapan, karena sejatinya pergumulan hidup setiap orang berbeda. We never know.

Pelukku untukmu semua yang sedang berjuang menghadapi kehidupan, dan berpacu menghadapi waktu. Berbahagialah menghadapi hiruk pikuknya. Karena ketika kita bahagia, tak akan ada waktu terbuang untuk membuat orang lain tidak bahagia.

Ladies, sisihkan waktu untuk menikmati hidupmu. Seruput hangat kopi di hadapan, agar senyum kembali terkembang di wajahmu.

Love, Rere

Kenalan, yuk!


Kenalan, yuk!

“Suka baking ya, Bun?”

Melihat beberapa postingan saya tentang baking, seorang sahabat bertanya apakah saya memang hobi membuat kue atau roti.

“Sama sekali enggak,” demikian jawab saya padanya. Hahaha!

Jika dibandingan dengan membuat kue, memanggang roti, atau membuat makanan sejenis, saya lebih memilih untuk memasak. Tidak telaten rasanya jika harus mengaduk adonan lama-lama, atau menguleni hingga lengan pegal-pegal, atau membentuk satu demi satu penganan. Beda sekali dengan masakan. Satu kali masak, saya bisa menyediakan sekian banyak porsi tanpa harus lama-lama berdiri di dapur.

Namun tak suka bukan berarti saya menolak untuk mencoba. Justru karena keengganan itu saya jadi tertarik untuk belajar. Ya, pilihan saya jatuh untuk belajar di sebuah studio.

“Apa bedanya dengan belajar sendiri lewat internet? Malah gratis.”

Betul banget. Banyak sekali mereka yang dengan sukarela berbagi resep bahkan video tutorial langkah demi langkah membuat beragam masakan. Kadang saya juga dengan rajin mencari postingan seperti ini, lho. Mencatatnya, kemudian beberapa kali mencoba sendiri. Sebagian berhasil, meskipun banyak yang gagal dengan sukses. Hahaha!

Memutuskan untuk mengikuti kelas membuat kue dan roti di sebuah tempat tentu saja dengan beberapa pertimbangan. Salah satunya adalah tips dan trik dari mereka yang ahli di bidang ini. Satu hal yang tidak mudah saya dapat dari internet, karena beberapa tutorial hanya menyajikan hasil akhir yang cantik. Padahal sebelumnya mereka melakukan banyak trial and error di balik layar tanpa kita sadari.

Pertimbangan selanjutnya adalah keseruan memasak bersama para sahabat. Meskipun saya bukan orang yang terlalu suka bepergian, tapi bertemu mereka lalu memasak hingga tertawa bersama, adalah salah satu cara melepas penat dan rutinitas harian di rumah. Beda lho rasanya memasak sendiri dengan bersama teman. Seru!

Lambat laun saya makin cinta dengan perbakingan. Pupus sudah keyakinan bahwa saya dikutuk oleh semua oven di dunia ini. Ternyata saya hanya belum kenal, makanya belum cinta.

Jadi, keluar dari zona nyaman memasak itu ternyata seru juga, lho. Seseru hasil baking saya beberapa hari ini dengan mencoba beberapa resep kekinian dengan hasil yang kece berat. Burnt Cheese Cake, Volcano Garlic Bread, dan Camembert Noix it is, guys!

Wow! Your cake and breads are awesome, Bunda! So yummy!” dan ini yang membuat saya makin bersemangat mencoba banyak hal baru.

Jadi … masih mau bilang enggak suka bikin ini itu? Cobaaaa kenalan duluuu.

Love, Rere

TTM Yang Manis


TTM Yang Manis

Sudah ada yang nonton “Teman Tapi Menikah” 1 dan 2?

Film yang diangkat dari buku milik Ayudia Bing Slamet dan Ditto Percussion ini buat saya lumayan menghibur. Bagian 1 menceritakan bagaimana mereka bertemu di bangku SMA dan bertahun-tahun berada di friendzone hingga menyadari ternyata ada cinta di sana. Hmm … berapa banyak sih dari kita yang berawal dari teman sekolah lalu berakhir menjadi pasangan hidup karena menikah?

Well, walau harus saya akui cerita film ini sebenarnya biasa saja. Namun tanpa diduga, sequelnya ternyata lumayan menyentuh, hingga saya sempat meneteskan airmata. Ya, di bagian ke-2 film ini, Ayu dan Ditto akhirnya menikah. Namun tak seindah ketika bersahabat, konflik di antara mereka justru muncul ketika Ayu mulai berbadan dua.

Bagian ini saya tonton bersama suami, lalu kami sedikit flashback mengenang masa-masa ketika saya hamil pertama kali dulu. Tiga kehamilan yang masing-masing membawa cerita berbeda. Beruntung saya tidak mengalami perubahan yang terlalu parah seperti Ayu yang menjadi sangat emosional, hingga sempat membuat Ditto kelabakan.

Perubahan emosi Ayu semakin menjadi setiap kali ia bertemu dengan para sahabat yang masih lajang. Tubuh langsing, dandanan cantik, sepatu berhak tinggi yang tidak lagi dimiliki Ayu, membuatnya kehilangan kepercayaan diri di hadapan mereka.

“Nikmati masa-masa single lo karena itu enggak bakal balik lagi. Maksimalin. Main, kerja, jalan-jalan, jatuh cinta, karena kalau badan lo udah kayak gue nih, gerak aja usaha. Kalian bisa lihat kaki gue kan? Gue udah berbulan-bulan enggak bisa lihat,” ucapnya dengan sedih di hadapan para sahabatnya yang masih lajang.

Ayu … memang masih muda ketika menyadari telah berbadan dua pasca menikah. Padahal ia bermimpi ingin keliling dunia berdua Ditto dan sempat merasa kehamilannya menjadi penghalang.

Hehe. Yu, saya dulu juga begitu. Bulan madu berdua saja bahkan tak sempat kami lakukan. Keburu hamil, lalu hamil lagi, lalu hamil lagi. Tubuh yang sebelumnya cantik dan langsing jadi membengkak, lalu susut, lalu bengkak lagi, susut lagi, bengkak lagi, susut dikit … dikiiit sekali hingga hari ini, dan tak bisa kembali langsing seperti ketika masa muda.

Saya juga sempat merasa tidak percaya diri bertemu teman-teman kerja dulu. Melihat betapa chic dan cantiknya mereka, sementara saya kesana-kemari membawa gembolan dengan baju longgar dan muka pucat tanpa polesan make up. Kalau tidak sedang hamil, gembolan saya berubah menjadi botol susu, popok, dan segala printilan bayi.

Ah, sungguh masa-masa peralihan yang tidak mudah. Berubah dari lajang menjadi calon ibu, mengganti semua hal tentang aku menjadi tentangmu, kamu, dan kamu.

Namun sembilan bulan kesakitan itu nyatanya berbuah cinta hingga seumur hidup. Dengan tambahan gurat pelangi di setiap sudut. Dunia juga jadi lebih berwarna tak lagi pucat, indah tak lagi gundah, seru tak lagi beku.

Terima kasih untuk-Mu yang sudah menyempurnakan hidup ini dengan lika-liku, meski tak mudah tapi tetap indah. Seindah kisah Ayu dan Ditto yang menutup cerita dengan manis. Semanis senyum sang bayi, Dia Sekala Bumi.

Love, Rere