LUKA


LUKA

Aku tak tahu mengapa umak memberiku nama Luka.

Luka saja, tanpa awal atau akhir kata.

Menurut orang-orang kampung sini, aku dilahirkan tanpa bapak sewaktu umak pergi bekerja ke luar negeri. Usia umak baru 17 tahun ketika itu. Sedang mekar-mekarnya anak gadis, kata mereka.

Umak yang cantik dan pintar terpaksa berhenti sekolah dan harus bekerja keras, demi membayar hutang kedua orangtuanya. Kakek dan nenek yang tak pernah kutahu sosoknya.

“Terbakar dalam rumah sewaktu perampok menyatroni mereka di pagi buta,” kata Pak Saman tetangga desa.

Waktu itu umak sudah berangkat ke luar negeri, dan menjadi buah bibir di kampung. Bagaimana tidak … baru beberapa bulan umak pergi, rumah kakek dan nenek sudah naik tinggi. Keramik cantik menghiasi lantai, mengganti alas tanah yang sebelumnya tiap pagi berhias tai. Ya, kotoran ayam milik tetangga, yang kandangnya ada di sebelah rumah.

Umak juga mengirim sebuah kendaraan mewah, sebagai pengganti becak yang selalu dikayuh kakek keliling desa sebelah. Dibangunkannya sebuah toko megah, untuk nenek yang biasanya berjualan tempe di pasar basah. Tentu saja, semua tetangga memandang gerah. Termasuk komplotan pencuri yang sudah terkenal namanya di pusat kota, geng bramacorah.

Kebakaran rumah umak di desa menjadi akhir kisah hidup dan ceritanya di sana. Umak yang anak tunggal, mengubur semua mimpi dan harapannya bersamaan dengan terkuburnya jasad kakek dan nenek menjadi abu, di rumah kebanggaan mereka yang berujung pilu.

Tak ada seorang pun tahu apa yang terjadi pada umak setelah itu. Hanya kabar burung beredar di kampung, umak bukan hanya bekerja sebagai pembantu. Ia adalah simpanan seorang tauke berharta menggunung. Banyak yang kagum, lebih banyak yang mencibir dengan sinis, biasa lah sesama kaum. Mungkin mereka iri dan dalam hati kecil ingin berjaya seperti umak, yang diam-diam mereka kagumi.

Semua berubah di hari umak kembali. Dengan tubuh kurus kering, umak kembali ke kampung membawa seorang bayi dalam bengkung. Seisi kampung gempar, bisik-bisik semakin tak terbendung liar.

Dengan sisa gemerincing koin di saku, umak menepi di sebuah rumah berpagar bambu. Entah rumah siapa, umak pun tak tahu. Gubuk berhantu, kata Pak Saman dulu.

Umakku tak takut hantu. Ia lebih takut melihat mulut-mulut yang menggerutu. Istri-istri yang takut suaminya jatuh hati, gadis-gadis yang takut kekasihnya berpaling pergi. Padahal umak kembali tanpa penampilan bak gadis ting-ting. Umak kembali membawa sakit, di hati dan diri. Karena di gendongannya ada bayi lelaki yang harus diurus sendiri.

Umak … umak.

Malang sekali nasibmu berakhir. Kataku sambil menatap hembusan asap rokok beraroma tajam … sembari membetulkan gincu berwarna merah terang. Untuk pelanggan lain yang segera datang.

(Tamat)

Love, Rere

Berani Terima Rantangan?


Berani Terima Rantangan?

“Have you decide on what to draw?”
“Eeenggg …”

Dasar paling enggak bisa ditenteng eh ditantang!

Melihat sahabat di hadapan saya mengeluarkan sebuah gambar cantik berbentuk batik, saya pun latah. Pola mandala yang sudah saya gadang-gadang untuk dilukis di atas rantang putih nan imut ini pun berubah haluan.

Motif Parang yang selalu saya kagumi menjadi pilihan. Entah kenapa, saya yang sebenarnya tidak terlalu suka batik, begitu jatuh cinta pada motif ini. Berbentuk bak huruf S yang sederhana, dengan garis tegas namun tidak putus, seperti bagaimana saya memandang hidup.

Tidak perlu gumunan, namun pantang menjadi lemah apalagi mudah menyerah. No way, Cinta!

Meskipun saya jadi harus bekerja 2 kali untuk merubahnya dari motif awal yang saya buat pada goresan pertama. Enggak apa-apa. Rasa cinta pada bentuk dan filosofi yang terkandung pada motif ini membuat saya kembali mencoba melukisnya dengan harap-harap cemas. Takut hasil akhirnya tidak sesuai harapan seperti sebelumnya.

Hmmm seperti hidup ya, yang kadang tidak seindah bayangan. Namun akan selalu terbentang jalan untuk merubah, meski butuh perjuangan.

Kalau ingin menambah sedikit bumbu di tengah perjalanan itu, please do. Seperti saya yang akhirnya membuat 2 sisi rantang dengan motif berbeda. Batik parang dan motif bunga. Sebagai tanda cinta saya pada keindahan dan segala hal tentang perempuan.

Jadi perempuan harus kuat namun tetap nampak indah. Keindahan yang didapat dari rasa bahagia yang muncul dari dalam jiwa. Jiwa yang sehat tentunya.

Jadi, berani terima rantangan … eh tantangan? Berani, dong! Ingat, jangan ragu membuat perubahan. Karena berubah itu seru dan bikin hidup berani maju!

Love, Rere

KERJA


KERJA

“Besok Senin mulai kerja ya. Ikut saja arahan teman-teman senior.”

Yayyyy! Gue jadi reporter!

Hari itu, 20 tahun yang lalu. Dengan sumringah saya pulang ke rumah di Depok. Meski harus menempuh jarak panjang karena lokasi tempat wawancara yang berada di tengah kota Jakarta.

Sejak hari itu, setiap hari tak kenal ujung Minggu, dengan penuh semangat saya melakukan liputan, wawancara, menulis naskah, dan sederet aktifitas lainnya. Bangga rasanya bisa mengecap pengalaman bekerja sebagai seorang awak media. Meski hanya untuk sebuah perusahaan yang tidak terlalu besar waktu itu.

Saya bahkan tidak peduli, ongkos transportasi yang lebih besar dari gaji yang saya dapat. Sudah bekerja bahkan sebelum wisuda saja, rasanya bikin kegirangan luar biasa. Belum lagi kesempatan mendapat pengalaman baru, bertemu tokoh-tokoh terkenal, berbincang dengan mereka, menulis artikel … ahhhh semua itu tak tergantikan dengan besaran apapun.

Sayangnya, kesempatan bagus itu terpaksa harus putus karena konflik di dalam perusahaan. Belum setahun menikmati pekerjaan seru itu, saya diberhentikan mendadak. Sedih, mangkel, gemes, dengan gigi gemerutuk menahan marah, saya menyodorkan sejumlah pekerjaan yang telah saya selesaikan sebelum batas waktu.

“Jangan patah semangat ya, Re. Di depan masih banyak peluang untuk perempuan pintar dan tangguh sepertimu. Kamu pasti lebih berhasil setelah ini,” ujar Pemred baik hati, dengan suara tercekat.

Di bawah tetesan hujan sambil berurai airmata, saya berjalan pulang.

“Jangan cengeng, ini baru awal. Sana lihat ke depan! Jalanmu masih panjang!”

(Bersambung)

Never give up, you are stronger than you think ~ Rere

VINI – Hitam Putih Perempuan


VINI – Hitam Putih Perempuan

“Sayang, ngapain Raka telepon kamu? Ada hubungan apa kalian?”
“Raka? Rakanya Dena? Hubungan apa maksudmu, Mas?”
“Kamu jangan coba-coba selingkuh ya, Vin.”
“Mas, ngomong apa sih? Coba kembalikan gawaiku. Aku mau coba telepon Raka.”
“Heh! Kamu istriku! Ngapain kamu telepon laki-laki lain?”

PLAK!

Pipi mulus Vini kini berhias bayangan tangan sang suami. Gawainya pun pecah berhamburan setelah dibanting Attar, suami yang baru saja menikahinya selama 2 tahun ini.

Attar, dikenal Vini sejak muda belia. Mereka dulu bersahabat baik namun tanpa Vini sadari, Attar telah mencintainya sejak mereka masih sama-sama main di rumah pohon dulu. Tempat mereka bercengkrama bersama beberapa teman.

Mereka berpisah ketika Vini memutuskan untuk melanjutkan sekolah di kota lain. Sementara Attar yang harus menjaga sang mama memutuskan untuk bekerja di kota tempat mereka berdua dilahirkan. Namun tanpa jeda, ia selalu mengirimkan sepucuk surat pada Vini … yang tidak pernah menerima selembar pun berita dari sang sahabat.

Attar, tinggal bersama sang mama dan Atilla sang adik. Anita, sendirian membesarkan kedua anaknya sepeninggal sang suami. Attar adalah anak yang sangat penurut karena merasa sang mama telah berjuang tanpa bantuan siapapun. Ia tidak ingin semakin menyusahkan hidup sang mama. Tanpa ia ketahui, Anita selalu mengambil semua surat yang ia kirim pada Vini.

“Belum saatnya Attar. Kau harus berhasil dan tumbuh menjadi lelaki sukses yang mengangkat derajat kami semua. Perempuan ini hanya akan menghalangi cita-citamu,” desis Anita sambil memasukkan semua surat Attar ke dalam sebuah kotak besar. Bersamaan dengan beberapa lembar foto Vini yang ditemuinya di dalam kamar sang putra.

Setelah tamat bersekolah, Vini lalu bekerja di sebuah perusahan besar di ibukota. Pekerjaan yang mempertemukannya dengan Alfan sang tunangan. Rencana pernikahan yang tinggal hitungan bulan lalu buyar karena Vini mendapati Alfan telah berkeluarga.

Meski Vini telah berulang kali menolak rencana Alfan yang ingin menikahinya setelah ia menceraikan sang istri, Alfan terus mengejarnya. Hingga Vini terpaksa berhenti dari pekerjaannya dan pindah ke kota lain. Kepindahan yang lalu mempertemukannya dengan Attar tanpa sengaja.

Sakit hati dibohongi Alfan, Vini menutup pintu hatinya dari siapapun, termasuk Attar yang datang dengan sebuah cincin berlian. Tak kenal menyerah, Attar mendekati Vini dengan berbagai cara, termasuk mendekati sang ibu.

“Apa lagi yang kau cari, Vin? Attar sangat mencintaimu. Ia baik, tampan, soleh, sayang keluarga, pemilik beberapa usaha dan hotel terbesar di kota kita. Eh, kau tahu tidak apa nama hotel mewah bintang 5 milik Attar? Vinitta Hotel, kependekan dari Vini Attar.”

Tergelak Vini mendengar cerita sang ibu di ujung telepon. Mana mungkin Attar menamakan hotel mewahnya seperti itu. Lebay.

Kegigihan serta kelembutan Attar menghadapi sikap keras Vini lantas membuatnya luluh. Ia menerima pinangan Attar dan pesta pernikahan mewah mereka menjadi buah bibir semua orang.

Beberapa bulan berlalu, Vini mulai melihat perubahan pada diri Attar. Ia memang mencintai sang istri dengan sepenuh hati, besar sekali. Cinta yang lambat laun membuat Vini merasa terkekang bahkan ketakutan. Ia tak lagi boleh bekerja atau sekedar ke luar rumah sendirian. Meski harta benda dicukupi Attar, Vini merasa bak berada di dalam sebuah sangkar emas.

Pagi itu ia merasa sangat terkejut karena Attar menamparnya dan membanting gawai tanpa mau mendengar penjelasannya. Ia merasa tidak ada hubungan apa-apa dengan Raka. Perasaannya tidak enak memikirkan Dena, sang sahabat.

Ting tong!

Vini terbangun dari tempat tidurnya dan melangkah ke luar kamar untuk melihat siapa yang datang. Lamat didengarnya sang suami berbicara dengan seseorang.

“Vini sedang sakit. Ada apa, Dir?”
“Ee Dena Tar. Aku butuh ketemu Vini sekarang. Dena … Dena masuk rumah sakit. Aku enggak bisa menghubungi Vini dari tadi. Gawainya rusak ya?”
“Gue udah bilang istri gue lagi sakit! Nanti biar dia pergi sama gue ke rumah sakit. Oh dan bilang Raka, enggak usah telepon Vini terus.”
“Ehh tapi Tar.”
“Gue capek. Bye, Dir!”

Bulir bening membasahi pipi Vini. Dipandangnya ruang kamar tidur luas berhias perabotan mewah yang baginya bak sebuah sangkar emas. Tersekat. Terpenjara.

“Maafkan aku, Dena.”

(Bersambung)

ReReynilda