Love Is … (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Love Is … (Secangkir Kopi Hangat Emak)

“Bunda, are you packing us food or do we buy at the canteen?”

Pagi tadi Lana menemui saya di dapur ketika sedang membungkuskan bekal untuknya dan sang kakak. Seharusnya Kamis adalah hari jatah mereka jajan di kantin sekolah. Namun kemarin ternyata mereka harus pulang lebih awal karena kakak-kakak kelasnya akan menghadapi ujian tengah semester. Karena itu mereka jadi tidak bisa jajan di kantin sekolah.

“You can buy food Nak, but I will still pack you some. Okay?”
“Okay,
Bunda. Thank you.”

Seharusnya saya bisa saja menyuruh mereka jajan hingga tidak perlu sibuk menyiapkan ini itu di pagi buta. Belum lagi harus berpikir akan membuat apa.

Saya bukan hanya sedang mengajarkan anak-anak untuk berhemat dan menabung uang jajan mingguannya. Saya sedang mengungkapkan rasa cinta dan kasih sayang di setiap lembar roti atau apapun yang saya buat untuk mereka.

Meski kadang hanya berbentuk bekal sederhana, saya ingin mereka mengingat sang bunda di setiap detik kehidupan yang terlewati.

Beruntung kami dikaruniai putra putri yang manis dan hampir tidak pernah mengeluh. Semua bekal makanan yang saya buat untuk mereka selalu dihabiskan dengan gembira.

Tentu saja selain berusaha menyajikan makanan yang sehat, saya juga harus memahami apa saja yang mereka suka maupun tidak. Saya tidak pernah memaksa mereka makan apapun yang tidak disukai. Encouraging ya, tapi pemaksaan tidak. Saya ingin mereka makan dengan bahagia bukan terpaksa.

Sambil duduk menikmati pagi yang indah bersama secangkir kopi hangat, saya membuka deretan gambar bekal makanan yang pernah saya sajikan untuk suami dan anak-anak. Penuh cinta dan rasa sayang yang luar biasa besarnya.

Pesan saya untukmu para bunda, penuhi dan isi setiap detik kehidupan pasangan dan buah hati dengan sentuhan tanganmu sendiri. Percayalah, you will always gain by giving love. Mereka akan membawa cinta itu kemana pun mereka berada. Dengan namamu tersemat indah di dalamnya. Love is You … Bunda.

Love, Rere.

Bangkit! Sweat Now, Shine Later


Bangkit! Sweat Now, Shine Later

Pagi tadi saya bangun tidur dengan sedikit sakit di bagian kepala. Saya memang penderita sinus dan migraine. Sudah seperti makanan sehari-hari kedua penyakit itu.

But, hey! You won’t stop me!

Saya tidak akan kalah darimu! Bergegas saya memakai sepatu olahraga dan menyalakan laptop untuk mengikuti kelas daring Zumba.

Sambil menunggu sang pelatih membuka kelas, ingatan saya melayang di hari saya merasakan sakit yang luar biasa hebat di bagian kepala beberapa tahun ke belakang. Sakit yang sempat membuat saya takut mengingat gejala yang sama pernah membawa suami saya menjalani operasi pembedahan kepala.

Ya, sewaktu ia terkena brain aneurysm. Seperti yang saya ceritakan di sini,

https://reynsdrain.com/2020/06/15/piece-by-piece/

Hari itu, setahun setelah suami saya dinyatakan sembuh, giliran sakit kepala hebat menghampiri saya. Gejalanya sama seperti apa yang dialaminya dulu. Throbbing headache, rasanya seperti ada orang yang memukul kepala dari dalam.

Begitu hebatnya rasa sakit itu saya sampai tidak bisa membuka mata sama sekali. Kepala dan tengkuk terasa sangat berat, perut saya pun mual. Kali ini giliran suami memaksa saya pergi ke rumah sakit. Saya sungguh enggan karena berpikir itu adalah sakit kepala biasa. Saya juga tidak ingin meninggalkan anak-anak di rumah jika ternyata saya harus dirawat. Namun dengan berat hati sambil menahan sakit, saya tetap menuruti permintaan suami.

Sesampainya di rumah sakit ternyata kami bertemu lagi dengan dokter yang setahun lepas memeriksa suami saya. Dengan wajah khawatir ia menyuruh saya segera menjalani pemeriksaan CT Scan.

Sepanjang perjalanan menuju ruang periksa, mulut saya bergumam meminta Sang Pencipta memberi saya kesembuhan dan kesehatan. Terbayang wajah ketiga anak saya yang masih kecil. Saya masih ingin membesarkan mereka, Ya Rabb.

Beruntung hasil pemeriksaan dengan cepat kami ketahui dan ternyata saya terkena muscle spasm. Suatu keadaan dimana saya mengalami serangan fatigue secara tiba-tiba. Mungkin karena stress, terlalu lelah, atau kurang olahraga.

“You need to do exercise.”
“But I’m a mother of 3 kids, Doc. I moved a lot as I don’t have a maid.”
“That one is tiring. Exercise will make you fresh and more healthy. That’s the only cure to your muscle spasm.”

Dokter hanya memberi saya beberapa butir muscle relaxant dan menyarankan saya untuk berolahraga. Sejak menjadi ibu saya memang tidak pernah lagi berolahraga seperti ketika muda dulu. Rasanya tidak pernah ada waktu luang karena begitu sibuk dengan pekerjaan rumah tangga dan mengurus ketiga buah hati tanpa bantuan seorang asisten pun. Ternyata saya mengalami kelelahan luar biasa.

Thanks, Doc! Sejak hari itu saya bertekad akan bergerak untuk menjaga kesehatan. Saya akan bangkit dari keengganan dan mulai memperhatikan kesehatan, karena anak-anak di rumah butuh ibu yang sehat jasmani dan rohaninya.

Di sini lah saya sekarang dengan sejumlah kegiatan olahraga yang semakin padat justru sejak pandemi terjadi. Meskipun hanya dilakukan secara daring in the comfort of our own home, Senin hingga Minggu saya sempatkan untuk berolahraga bersama teman-teman.

Terbukti tubuh saya sekarang sehat dan muscle spasm pun tidak pernah lagi saya alami. Hadha Min Fadli Rabb. Semua karena kuasa-Nya.

Ayo teman, bangkit dari sofa empukmu dan mulai memperhatikan kesehatan ragamu. Olahraga bukan hanya akan merubah fisik namun juga menyehatkan mental di hari-hari sulit seperti sekarang ini. Terlebih lagi kita butuh untuk menjaga imunitas agar tidak mudah terkena virus. Mari ubah kebiasaan diri dan … bangkit, yuk!

Get up! It’s a good day to turn your life around.

Love, Rere.

Piece By Piece


Piece By Piece

“Ayo Yah ke hospital.”

“Enggak usah lah, ke klinik seberang rumah saja.”

“Kalau berobat ke klinik itu, paling juga dikasihnya paracetamol, Yah. Sudah 2 hari sakit kepala gitu memang enggak mau check? Udah cepet siap-siap, kita pergi ke hospital!”

“Malas lah.”

Puasa hari ke 2 di tahun 2013 itu nyatanya menjadi hari terberat dalam hidup kami.

Jika saja saya tidak memaksanya pergi ke rumah sakit untuk MRI hari itu … entahlah. Salah satu dari sekian banyak keputusan terbaik dalam hidup yang pernah saya buat. Sekaligus hari dimana saya berada di titik nadir. Hari dimana dunia saya tumbling down. Sang belahan jiwa terdiagnosa menderita Brain Aneurysm. Pembuluh darah di kepalanya pecah hingga tekanan darahnya kala itu mencapai 198/98. Tinggi sekali.

Dalam keadaan bingung dan shock berat, saya harus membuat banyak keputusan cepat. Membagi isi kepala antara ia dan anak-anak. Saya pun memacu kendaraan menjemput si sulung dan adiknya yang sekolah berjauhan sambil terus berpikir bagaimana besok mereka berangkat sekolah.

Dengan ragu saya menghubungi supir bis sekolah putri kedua saya, yang ternyata bersedia membantu mengantar dan menjemput Lana dengan senang hati. Alhamdulillah. Kakak ipar yang sedang bekerja pun untuk sementara menolong saya mengurus si bungsu yang baru berusia 2 tahun. Secepatnya saya juga menghubungi orang tua di Jakarta untuk datang membantu mengurus ketiga anak kami.

Terbata-bata dengan nafas sesak saya sampai di sekolah dan menemui kepala sekolah untuk meminta ijin menjemput anak-anak sebelum waktunya pulang karena kondisi sang ayah yang di luar perkiraan. Beruntung mereka memahami keadaan saya dan mengijinkan anak-anak untuk tinggal di rumah hingga segala urusan bisa saya tangani dengan baik.

Sesampainya di rumah, saya menyiapkan segala perlengkapan untuk suami selama ia dirawat di rumah sakit nanti. Juga memastikan bahwa persediaan makan serta segala kebutuhan anak-anak selama di rumah cukup, dan entah apalagi. Sampai lupa bahwa saya juga butuh baju ganti selama di rumah sakit. Ah … rasanya itu tak lagi penting.

Berlinang airmata, saya meninggalkan rumah dan memacu kendaraan menuju rumah sakit Mount Elizabeth yang letaknya di mana pun saya tak pernah tahu. Mengandalkan jasa GPS yang kerap hilang sinyalnya hingga saya harus kesasar dan beberapa kali hilang arah. Seperti pikiran dan hati saya yang juga sedang hilang, melayang entah kemana.

Setelah sampai di rumah sakit dalam keadaan tidak mampu berpikir logis, saya kembali dihadapkan pada keputusan penting menyangkut pembayaran serta bentuk tindakan operasi. Pilihan yang sama-sama berat apalagi harus saya putuskan sendiri. Padahal selama ini, segala keputusan dalam hidup selalu saya bicarakan berdua dengan suami.

Saya merasa tidak berdaya dan ingin menangis, namun saya harus bangkit. Saya harus kuat. Saya tidak boleh lemah dan terpuruk. Saya harus bangkit. Harus!

Di tengah kebingungan yang melanda, saya bersyukur Allah mempertemukan saya dengan orang-orang yang luar biasa baik dan sangat membantu hari itu. Mulai dari supir bis sekolah Lana hingga akhirnya saya berjumpa dengan Dr. Ernest Wang. Ia yang dengan lembut menghampiri saya dan mengajak saya berdiskusi mengenai besaran biaya yang kelak harus saya hadapi jika tetap memilih rumah sakit ternama itu. Semua berurusan dengan asuransi kesehatan suami yang … ah nanti saja saya ceritakan detilnya sebagai pelajaran untuk semua.

Dokter Wang akhirnya membantu saya mengurus perpindahan dari Mount Elizabeth ke Rumah Sakit Tan Tock Seng yang hanya berjarak dekat namun berbeda jauh dalam masalah biaya.

Suami pun segera dimasukkan ke ruang ICCU dan bersiap menghadapi open surgery, yang menjadi pilihan saya dari 2 pilihan yang sama-sama berat. Dua pilihan yang semua hanya memberikannya kesempatan hidup 10% saja, karena 90% nya adalah kemungkinan koma, hilang ingatan, atau lumpuh seumur hidup.

Pilihan yang sangat berat hingga saya bersikeras menemaninya dalam ruang ICCU walau dengan resiko harus tidur di lantai tanpa alas dalam ruangan yang begitu dingin. Karena peraturan melarang pasien ICCU ditemani dalam ruangan. Tak peduli. Saya akan terus berada di sisinya dan tidak akan pernah meninggalkannya sedetik pun.

Tidak lagi saya pedulikan dinginnya lantai yang hanya beralas sajadah tipis tanpa selimut hangat bahkan bantal empuk. Dinginnya begitu menusuk hingga ke tulang dan membuat saya menggigil kedinginan. Saya sudah tidak peduli.

Keesokan harinya, operasi pembedahan kepala pun dimulai dan berlangsung sekitar 5 jam. Beruntung hari itu orang tua saya sudah datang dan menjadi support system terbesar yang saya butuhkan. Mama dengan cekatan mengambil alih semua urusan rumah dan anak-anak. Papa juga bersedia mengantar dan menjemput kedua cucunya dari sekolah. Terima kasih Ma, Pa.

Lima jam operasi, detik demi detiknya terasa begitu lambat. Hingga operasi selesai dan sesaat setelahnya, ia pun sadar dan mulai memberontak. Kepalan tangannya mulai meninju kiri dan kanan sambil mengeluh tangannya sakit. Ia heran kenapa kepalanya penuh dengan selang. Ketakutan akan kondisi pasca operasi yang beresiko hilang ingatan pun muncul dalam benak saya. Ia mulai berubah.

Kekasih hati yang biasanya begitu sabar, menjadi sangat pemarah. Ia yang juga selalu menciumku kemudian menjauhi, karena bau yang katanya asing. Ini lah 90% itu. Ingatannya hilang, Tuhan.

Sepuluh hari menjalani perawatan di rumah sakit benar-benar menguras tenaga dan jiwa. Setiap pagi setelah mengantar anak-anak sekolah, saya bergegas menuju ke rumah sakit dan mengurusinya hingga hampir tengah malam. Dalam keadaan lelah saya harus memacu kendaraan kembali ke rumah. Rasanya diri ini sudah berada di ujung lelah hingga ingin berteriak. Saya rindu pada anak-anak setelah berhari-hari tidak bisa bercengkrama seperti biasa.

Belum lagi lelah hati menghadapi kemarahannya setiap saat. Ia memang sudah berubah. Saya pun hampir menyerah, jika tidak ingat ia dan anak-anak butuh saya yang kuat. Saya harus bangkit dan berdiri tegak. Saya harus sabar. Harus.

Tahun demi tahun berlalu dan semua pun kembali normal. Sujud syukurku pada Sang Maha Pemilik Hidup dan Mati. Sang belahan hati kini sembuh total dan hanya menyisakan bekas operasi panjang di dahi kanan serta sebuah klip di dalam kepalanya untuk menutup pembuluh darah yang pecah. Namun ia kini telah kembali seperti dulu. Lelaki baik hati yang sabar dan penyayang seperti ketika pertama kali saya mengenalnya.

“Kenapa ya saya bisa selamat hari itu? Sampai dokter pun heran dan bilang betapa beruntungnya saya bisa selamat dari lubang kematian.”

“Mungkin bekalmu belum cukup untuk menghadapNya, Sayang. Allah memberikanmu kesempatan lagi untuk memperbaikinya sampai tiba saatnya nanti.”

Apa yang bisa diambil dari cerita saya ini?

1. Jangan abaikan sekecil apapun alarm tubuh. Cepat periksa ke dokter dan minta pemeriksaan melalui MRI atau CT Scan terutama yang berhubungan dengan sakit di bagian kepala. Bergerak cepat sebelum terlambat. Jangan abai, jangan lalai. Jangan juga berusaha menyembuhkan dengan pengobatan alternatif. Cari informasi secepatnya mengenai dokter bedah syaraf yang terbaik.

2. Asuransi yang begitu penuh dengan polemik terbukti sangat membantu. Ingat. Choose the best insurance untuk sang kepala rumah tangga. Suami saya yang begitu baik, memilihkan asuransi terbaik hanya untuk anak dan istrinya saja, bukan untuknya sendiri. Ia lupa bahwa ia lah sang pencari nafkah tunggal dalam keluarga. Jika ada suatu hal terjadi padanya, maka masalah biaya akan menjadi begitu runyam untuk saya istrinya. So, choose the best one. I mean it.

3. Buang jauh segala kebiasaan buruk demi kesehatan. Jauhi stress, beban pekerjaan yang menumpuk, kurang olahraga, dan makanan yang tidak terjaga. Kurangi juga konsumsi makanan yang mengandung pengawet.

4. Untukmu para istri jika hal seperti ini terjadi, tetap tenang dan berfikir sistematis akan sangat membantu dalam memutuskan sesuatu. Ingat selalu untuk banyak bersabar. Sabar manakala pasca operasi, pasangan akan banyak berubah. Selalu berdoa dan banyak berserah diri akan sangat membantu kesehatan juga hati.

Piece by Piece by Kelly Clarkson yang saya nyanyikan ini ditulis berdasarkan kesedihannya ditinggalkan sang ayah kala berusia 6 tahun. Sama halnya dengan usia si sulung yang baru menginjak 7 tahun, sementara sang adik berusia 6, dan 2 tahun, ketika sang ayah harus berjuang di meja operasi. Saya membayangkan kesedihan yang mungkin juga dirasakan anak-anak hari itu jika sang ayah tidak berhasil melalui operasinya, dan jika sang bunda memilih untuk menyerah.

Dalam lagu sendu ini, Kelly Clarkson akhirnya menemukan kembali semua yang hilang dalam hidupnya setelah bertemu sang suami dan memiliki anak. Seperti cerita saya 7 tahun yang lalu. Tentang asa yang masih ada di titik nadir perjalanan, dan tentang keberanian untuk akhirnya bangkit dari keterpurukan.

Be strong now because things will get better. It might start with stormy weather but it can’t rain forever.

Love, Reyn

Try. Try Hard. Try Harder


Try. Try Hard. Try Harder

Kalau dipikir-pikir, universe beserta Sang Pencipta kadang bercandanya seru, ya?

Beberapa bulan lepas kita masih pergi ke mana pun kaki melangkah dengan bebas. Setelah itu ia memutuskan untuk beristirahat dan membuat seluruh penghuni bumi dimasukkan dalam “sangkar” emas.

Berbulan-bulan hanya berdiam di rumah saja tentunya membawa banyak perubahan pada fisik dan mental. Biasanya aktif di luar rumah, sekarang harus menikmati detik demi detik kehidupan di dalam rumah saja. Bosan, jenuh, bete, hingga enggak tahu mau melakukan apa lagi.

Nah, apa yang bisa kita lakukan selama di rumah saja? Banyak! Salah satu contohnya adalah melakukan kegiatan yang disukai dan mencoba hobi baru setiap hari.

Bukankah a hobby a day will keep the boredom away? Jadi kenapa kita tidak berusaha mencoba banyak keahlian dan hobi?

“Ah, gue kan enggak berbakat kayak elu.”
“Elu mah megang apa aja jadi, Mak. Gue mah enggak bisa.”

Ih! Kalian tahu tak kalimat “tak kenal maka bisa utang … eh … maksudnya tak sayang”? Bagaimana sih kalian bisa tahu kalau tidak berbakat jika mencoba saja belum pernah. Padahal kegagalan itu masih lebih baik daripada keengganan. Mending gagal tapi pernah mencoba, daripada belum coba tapi sudah menyerah kalah.

Untuk itu, kalau kalian pikir saya bisa ini itu dari lahir, kalian salah. Sesungguhnya saya hanya punya semangat dan ketekunan. Semangat untuk selalu belajar hal baru, tekun mencari ilmu, serta rajin mencoba keahlian baru.

Tahukah kalian semua, jika semakin banyak hal saya temui dalam proses belajar ini, semakin saya paham bahwa sejatinya saya tidak tahu apa-apa. Untuk itu saya belajar membuka diri dan juga hati agar semua ilmu bisa saya pelajari tanpa ruangnya pernah saya batasi.

Setiap hari saya meluangkan waktu untuk melihat video cara pembuatan beragam kerajinan tangan di internet. Kemudian saya mulai mencoba dan melakukan eksperimen sendiri. Kadang gagal, tapi saya tidak menyerah. Terus mencoba, itulah prinsip hidup saya.

Jadi, apa yang kalian lihat postingannya selama ini di beranda pribadi saya, adalah hasil dari sebuah proses belajar, proses mencoba, dan juga proses melakukan banyak kesalahan.

Begitulah cara saya belajar. Hingga tercipta beberapa hasil karya berupa macrame, wire weaving, resin, dan juga beberapa tulisan yang menunggu untuk dibukukan. Percayalah, memakai hasil karya sendiri itu sensasinya beda teman.

Jadi, masih mau bilang enggak bisa dan enggak berbakat? Think again.

Making mistakes simply means you are trying harder than anyone else.

Love, R

Belajar Dari Rayyan


Belajar Dari Rayyan

Ting Tong!

He? Siapa yang pagi-pagi begini sudah bertamu ke rumah? Waduh! Saya belum lagi mandi, dan baru saja menyeduh secangkir kopi. Bergegas saya menuju pintu rumah dan melihat dari lubang intip.

Lah! Si Rayyan?

“What’s wrong, Rayyan? Did you forget something?”
Bundaaa! I forgot my mask! I was almost reached the school gate when I realized I didn’t put on my mask.”
“Oalah! Hold on, I take your mask.”
“Thank you,
Bunda.”
“There you go. Be careful. Just go down by the lift,
Nak.”
“I’ll go down by the stairs,
Bunda. So sorry for this.”
“No problem. Take care!”
“I love you,
Bunda. Assalamualaikum.”
“Love you more!
Waalaikumussalaam.”

Lamat saya masih mendengarnya berteriak menyatakan penyesalan dan cintanya, sambil menuruni anak tangga, sesaat setelah saya menutup pintu.

Apartemen kami berada di lantai 5, dan anak-anak selalu turun naik menggunakan tangga tanpa pernah mau naik lift yang letaknya persis di samping rumah. Kami memang mengajarkan mereka untuk rajin menggunakan tangga di mana pun berada. Anggap saja olahraga.

Saya pun mengawasi Rayyan dari jendela rumah sampai ia selamat menyeberang lalu melambaikan tangan sebelum masuk ke gerbang sekolah. Beruntungnya kami, sekolah dasar anak-anak hanya terpisah 1 blok saja dari bangunan apartemen rumah.

Ah Rayyan … seandainya semua orang belajar disiplin darimu. Si bungsu yang baru berusia 9 tahun. Demi menjaga diri dan lingkungannya, ia sampai rela harus turun naik tangga dari lantai 1 ke lantai 5 mengambil masker penutup mulutnya yang tertinggal di rumah. Padahal di sekolah ia juga harus turun naik dari lantai 3 ruang kelasnya ke lantai 1, atau lantai 2 untuk mengikuti serangkaian kelas.

Semoga tetap semangat dan bahagia ya Nak. Tidak perlu meminta maaf karena sudah menerapkan disiplin dengan baik, dan melakukan sesuatu yang benar. Padahal bisa saja ia tidak peduli dan tinggal bilang lupa. I’m so proud of you big boy!

Semoga banyak manusia ikut belajar dari Rayyan.

Love, R

Selamat Berjuang, Nak!


Selamat Berjuang, Nak!

“How’s school, Lana?”
“It was okay,
Bunda.”
“Are you okay wearing face mask during lesson?”
“I’m okay.”
“Can you breathe easily?”
“Kinda dizzy a bit but no problem.”
“Huh? You must inform your teacher if you feel uncomfortable,
Nak.”
“It’s okay,
Bunda. It’s only for a while. After that I’m fine.”

Hhhh … sesak dada rasanya melihat ketiga anak saya dan seluruh murid di Singapura kembali ke sekolah. Ya, sejak mulai diberlakukannya Fase 2 di awal Juni kemarin, mereka memang mulai bergantian kembali belajar di dalam kelas. Tentu saja dengan sederet aturan yang harus dipatuhi tanpa kecuali.

Setelah minggu kemarin dua putri saya masuk sekolah sementara si bungsu mengerjakan tugas di rumah, minggu ini giliran Rayyan yang masuk sekolah dan sang kakak mengerjakan tugas sekolah dari rumah.

Saya sedikit khawatir memang pada kondisi Lana yang pernah menderita asma. Ia juga mudah sekali mimisan ketika suhu tubuhnya naik. Namun saya hanya mengingatkannya untuk berkomunikasi dengan sang guru ketika ia mulai merasa tidak enak badan. Bangganya saya ketika melihatnya begitu tabah dan tanpa keluh kesah menuruti peraturan sekolah.

Begitu pula dengan si bungsu Rayyan, yang begitu bersemangat mengawali pagi. Tak nampak raut wajah khawatir atau segan setelah sekian lama hanya di rumah saja. Sejak hari Senin kemarin, ia harus kembali ke sekolah dan memulai segala sesuatu dengan hal baru.

Ia juga harus belajar beradaptasi dengan masker yang terpakai sepanjang hari, serta berjuang untuk melalui semuanya tanpa kecuali.

“How’s school, Rayyan?”
“Oh my! It was so hot with my mask on,
Bunda.”
“But are you okay?”
“Yea, I’m fine. Teacher asked us to wear PE attire to school so we don’t sweat too much.”
“I know you can do it and able to adapt to the new normal. Right?”
“Yea. I’m fine. I look cool with my mask on anyway.”
“Ish! So vain!”

Hahaha! Mungkin hanya Rayyan yang kegirangan memakai masker wajah karena menurutnya ia tampak keren.

Alhamdulillah mendengar mereka tetap semangat, tidak banyak mengeluh, dan cepat beradaptasi dengan keadaan yang baru ini. So proud of you, kids!

Semoga perjuangan kalian di bangku sekolah dalam situasi tidak mengenakkan tahun ini, akan membentuk pribadi yang kuat dan tidak mudah mengeluh ketika dewasa kelak. Masih banyak tantangan di depan sana yang harus kalian perjuangkan bukan? Ini hanya sebagian kecil dari proses belajar hidup, Nak.

Welcome back to school and welcoming the new normal!

Love, R

#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #ReReynilda #Perjuangan

Welcoming The New Normal. Hang in there, Kids!

Surat Cinta


Surat Cinta

Adakah di antara emak semua yang masih menyimpan lembaran surat cinta? Surat-surat sederhana yang kadang hanya ditulis di selembar kertas nota kecil, kadang sudah lusuh bahkan mungkin robek di sana-sini? Eits! Saya tidak sedang berbicara tentang masa lalu ya. Ihik!

Ini tentang surat cinta yang saya dapat dari ketiga anak saya, yang tersimpan dan saya rawat dengan baik.

Dulu, waktu kedua putri saya masih kecil dan baru belajar menulis, mereka sering menghadiahi saya surat sebagai tanda cintanya. Walaupun tulisannya masih bak cakar ayam atau dengan gambar yang meleyot sana sini. Banyak lho yang masih saya simpan walau sebagian besar raib, mungkin terbuang waktu kami pindah rumah dulu.

Sekarang, surat cinta itu saya dapatkan kebanyakan dari si bungsu yang memang luar biasa romantis. Ia begitu perhatian dan sangat ekspresif. Rajin sekali memeluk, mencium, dan mengungkapkan isi hatinya dengan bahasa yang lucu.

Ya, ia akan tiba-tiba datang dan menyerahkan sobekan kertas yang berisi kata-kata manis untuk saya.

“I will write down something for you every single day Bunda, because I love you so so so much,” begitu ujarnya.

Ah … meleleh!

Sebagian surat cinta itu sengaja saya letakkan di tempat khusus supaya saya bisa selalu melihat dan membaca. Sebagai pengingat juga untuk tidak selalu marah dan bermuka tegang di rumah. Sebagai tanda juga bahwa ada orang-orang di sekitar yang menyayangi saya dengan tulus hati. Unconditionally.

Thank you, Nak! Rasanya tidak ada hal yang begitu membahagiakan dibanding menjadi seorang ibu. Surat-surat cintamu membuat hidup bunda begitu indah dan bahagia.

Life has never been so good!

Love, R

#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #ReReynilda

TERSERAH!


TERSERAH!

"Yah, pingin banget makan Thosai di restoran itu deh. Duh! Udah kemecer di ujung lidah nih. Enak banget thosainya di sana."
"Bunda mau?"
"Iya. Sarapan di sana, yuk. Pingin minum Lassi juga.'
"Okay. Ayo ke sana."

Pagi itu saya, yang akan mengantar suami berangkat ke kantor, tiba-tiba ingin sarapan di sebuah restoran yang menyajikan masakan India. Kami pun bergegas mempersiapkan diri, dan saya sibuk memilih baju serta bersolek di depan kaca.

"Yah, pakai baju apa ya? Pilihin dong yang merah atau hitam?
"Mana saja bagus, kok. Terserah Bunda saja."
"Ih! Bantuin mikir dong! Bingung nih."
"Ya sudah merah saja bagus."
"Memangnya yang hitam kenapa? Enggak bagus ya?"
"Lah! Katanya tadi saya disuruh milih?"
"Hmm ... ya sudah nanti saya pikir dulu. Merah ya?"

Beberapa saat kemudian,

"Bunda, sudah siap?"
"Sudah, Yah. Ayo berangkat."
"Lah? Ayah pikir mau pakai baju merah tadi?"
"Enggak, ah. Pakai pink saja."
"Ish! Tadi buat apa tanya?"
"Ya, pingin tahu saja pilihanmu."
"Terus yang dipilih malah beda. Dasar! Terserah deh!"

Hahaha! “Sabar ya, Sayang,” ujar saya sembari nyengir dan menggandeng tangannya menuju tempat parkir. Sebelum saya melajukan kendaraan, kembali sebuah pertanyaan saya ajukan.

"Yah, kita mau lewat jalur A atau B?"
"Terserah Bunda."
"Ih! Jangan terserah-terserah terus lah!"
"Hhhh ... Ya sudah lewat jalur A saja mungkin enggak macet."
"Eee ... tapi kan jalur itu lebih jauh terus macet lagi nanti."
"Ish! Terserah deh!"

Saya pun berbelok melalui jalur C … yang macet! Hahaha! Sambil melirik ke arah sang suami yang merengut, saya tertawa lepas sambil berusaha mengusir rasa bersalah karena tidak menuruti kata-katanya.

Akhirnya kami pun tiba di restoran yang sedari pagi thosainya saya inginkan bak sedang mengidam berat. Thosai adalah sejenis makanan khas India yang bentuknya seperti pancake dengan isian kentang yang gurih dengan beragam cocolan sambal yang nikmat. Sementara lassi adalah minuman dari buah segar yang dicampur dengan sejenis yoghurt yang segar. Enak pokoknya!

"Pesan ya? Ayah mau prata telur bawang dan teh tarik. Bunda mau thosai dan lassi, kan?"
"Iya. Eh sebentar, mau lihat menu dulu."

Suami pun memanggil pelayan untuk memesan, berpikir bahwa saya akan membeli makanan yang sebelumnya saya inginkan.

"Hi. Can I have 1 telur bawang prata, 1 thosai masala, and ..."
"Eh, wait wait. Sebentar, Yah. Bunda pesan cheese prata dan teh panas saja, deh."
"Lah? Bukannya jauh-jauh kemari mau makan thosai dan minum lassi? Kenapa jadi cheese prata dan teh panas?"
"Thosai sudah pernah, ah. Mau coba cheese prata. Hehe."

Penuh keheranan suami saya pun merubah pesanan sebelumnya sambil menggerutu, “Gimana sih? Tadi katanya mau apa, terakhir jadi apa. Terserah deh!”

Hahaha! Begitu lah saya, yang seringkali membuat suami mengelus dada atau membeliakkan mata tanda takjub. Ya, ia sering dibuat takjub dengan cepatnya saya merubah keputusan, mengingat sang istri adalah orang yang menghendaki banyak hal terorganisir dengan baik, rapi, disiplin, serba harus, dan tepat.

Yah, saya memang justru sering konsisten untuk tidak konsisten dalam hal mengambil keputusan yang sepele dan remeh. Hahaha! Tapi jangan main-main dengan saya dalam urusan serius seperti sekolah. Saya tidak perlu berpikir dua kali dan ragu-ragu untuk urusan disiplin pengajaran anak dan pendidikan.

Well, anggap saja ini bentuk terapi saya melawan OCD alias Obsessive Compulsory Disorder yang selama ini lumayan membuat stress mereka yang ada di sekeliling saya. Walaupun terapi ala saya ini harus sering membuat kesal suami hingga membuatnya mengernyitkan dahi sambil berkata, “Terserah!”

"Yah, Bunda gendut ya?"
"Enggak."
"Ah, bohong!"
"Beneran! Enggak gendut kok."
"Tapi enggak langsing juga kan?"
"Langsing!"
"Bohong!"
"Ya udaaahhh gendut!"
"Ih! Tega bener!"
"Hadeh! Terseraaaaahh!"

Marriage lets you annoy one special person for the rest of your life. (Anonymous)

Love, R

#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #Terserah #ReReynilda

Dirawat VS Diedit


Dirawat VS Diedit

“Cantik banget siiiihh kamu!”
“Hahaha! Editan itu. Filter maksimal, Cint.”
“Ah, gak diedit juga udah cantik.”
“Kata siapa? Cantik itu kudu dirawat Cint. Perawatan mahal jadi … edit aja. Gratis dan bikin bahagia!”

Hahaha!

Ini adalah kalimat yang biasa saya ucapkan ketika menerima pujian dari beberapa sahabat setelah mengunggah hasil swafoto di media sosial.

Ya, saya memang kadang menggunakan aplikasi untuk mendapat hasil foto yang bagus. Paling tidak membuat saya bahagia. Walaupun saya berusaha untuk tidak terlihat terlalu mulus dan flawless. Nanti yang bertemu langsung dengan saya bisa makjegagig kaget, karena ternyata aslinya tidak seindah tampilan di layar gawai.

Berbicara soal perawatan, siapa sih yang tidak ingin merawat tubuh dan kulitnya secara paripurna? Tahukah kalian semua, betapa kami para perempuan ini sebenarnya khawatir? Semakin menua, kulit kami tidak menjadi semakin mulus dan glowy. Semakin bertambah usia, yang tadinya kencang menjadi serba melorot. Mata yang tadinya berbinar indah, menjadi berkantung tebal dan kehilangan sinar.

Belum lagi bertambahnya babat dan timbunan lemak di banyak tempat. Padahal kami sudah berusaha menjaga pola makan dan menghindari beberapa jenis makanan. Tetap saja kami tidak bisa selangsing Sophia Latjuba dan secantik Putri Marino. Mereka sih rasanya tidak perlu repot melakukan diet ketat atau perawatan maksimal, bahkan rasanya mereka tidak pernah menggunakan aplikasi untuk mempercantik tampilan.

Uhari pernikahan saja pipi mereka tidak diteploki bedak dan shading setebal 2 mm kok. Coba kalau kita yang tidak full make up di hari pernikahan. Sudah pasti tampilan kita akan seperti orang yang baru bangun tidur. Bengkak dan kusam.

Perawatan yang saya lakukan di rumah juga terbilang lengkap. Tentu saja, bila mengingat mahalnya melakukan perawatan ke salon kecantikan di negara ini. Awalnya saya berpikir, daripada ke salon mendingan saya rawat sendiri di rumah. Karena jika dihitung akan jauh lebih murah dan hemat.

Bagaimana dengan suami saya? Apakah ia mendukung cara saya melakukan perawatan ini? Ya tentu saja jika ingin melihat saya tampil mendekati seperti 15 tahun yang lalu ketika ia pertama kali terpana melihat saya. Eeeaaaaaa!

Para suami tentu saja harus memberikan dukungan penuh jika menghendaki sang istri tampil menawan bak polesan aplikasi peluntur kekusaman. Jangan hanya menuntut kami ini bekerja di rumah seperti kuli dengan tampilan wajib bak gadis muda kinyis-kinyis, yang bahkan menyalakan kompor saja masih meringis.

Namun sebagai perempuan yang sudah menjadi ibu juga harus paham, bahwa ada banyak hal yang butuh perhatian lebih sekarang. Skala prioritas hidup harus sedikit diatur walau tidak melupakan kebutuhan pribadi.

Lihat kan regime perawatan muka saya? Semua ini tidak berharga murah memang. Tapi saya membelinya dari menyisihkan uang jatah jajan saya sendiri. Ya, saya menghadiahi diri sendiri uang jajan setiap bulan yang bisa dengan bebas saya pergunakan.

Nah, daripada saya menghabiskannya untuk nongkrong cantik atau arisan di resto mewah, saya menyisihkannya untuk membeli beberapa alat perawatan kulit dan wajah. Semacam investasi kecantikan.

Lantas, dipakai tidak? Yaaaaa kebanyakan sih setelah berakhirnya uforia, mereka akan teronggok di sudut lemari kaca. Lantas butuh suntikan semangat untuk menggunakannya kembali. Saya sih masih pakai kok sesekali. Sayang juga sudah mahal-mahal dibeli.

Segitu amat ya perawatannya? Sementara kebanyakan dari kita merasa, “Ah sudahlah. Begini juga sudah laku dan beranak pinak.” Betul tidaakkk? Padahal pikiran seperti itu yang sebenarnya lambat laun akan membuat kita makin malas merawat tubuh hingga kehilangan rasa cinta pada diri sendiri.

Saya sih juga seringnya malas melakukan perawatan sendiri. Namun biasanya dengan beberapa sahabat kami saling menyuntikkan semangat untuk rajin merawat diri. Kadang juga janjian menyeberang pulau untuk pergi ke salon kecantikan dengan harga yang jauh lebih murah daripada di sini.

Jadi, perlu kah kita merawat diri hingga tak lagi butuh sekedar mengedit dengan aplikasi? Jika dengan aplikasi saja kita sudah bahagia, ya lakukan saja. Bebas. Yang penting mencintai dan menyayangi diri sendiri itu juga wajib.

Eyow para suami, bantu istri-istrimu di rumah. Jika tidak menghendaki mereka menghabiskan uang untuk melakukan perawatan, setidaknya berikan dukungan secara verbal bukan melulu perundungan.

“Gendut amat sih, Ma?”
“Kusem amat tu muka, Bun!”
“Lihat deh ini Yuni Shara umur 50 tahun masih kinclong enggak kayak kamu, Mi!”

Oy! Percayalah, ini semua dilakukan para perempuan untuk membahagiakan anda semua. Jadi berikan dukungan, modali istrimu untuk sesekali pergi ke salon kecantikan, dan berikan waktu untuk menghibur diri sejenak dari rutinitas harian. Above all, watch your words! Karena tajamnya bisa menusuk lebih daripada pedang.

Trust me, being a woman is never easy. We have to think like a man, work like a horse, and look like a young girl.

Love, R

#WCR #TantanganMenulis #RumahMediaGrup #Rereynilda #SecangkirKopiHangatEmak

MIMPI


MIMPI

“Pah, pinjam mesin tik nya ya.”
“Buat apa? Memang tahu cara pakainya?”
Tau dong. Mau nulis buat mading.”
“Nulis apa?”
“Enggak tahu. Hehe.”

Mesin tik bersejarah itu awal saya berkenalan dengan dunia tulis menulis di tahun 1991, ketika duduk di bangku SMA.

Satu persatu huruf di mesin tik tua itu saya kenali dan berusaha keras mengakrabkan diri. Lembar demi lembar tulisan yang saya buat darinya akhirnya bertengger di majalah dinding sekolah kami. Tentu saja dengan nama samaran karena saya belum lagi percaya diri.

Berkenalan dengan grup para penulis keren awal tahun lalu, membuat saya kembali tertarik menuangkan keluh kesah dan pengalaman hidup. Ya. Hampir semua tulisan yang saya buat memang berdasarkan apa yang saya lalui selama ini. Tidak selalu manis dan indah, bahkan sarat dengan kisah sedih dan airmata.

Tulisan pertama saya bahkan juga menghadiahi diri ini piala pertama dalam hidup. Hahaha!

Kini, dua di antara beberapa antologi yang telah saya tulis juga menempatkan saya di deretan terbaik . Melalui antologi Seni Menyikapi Ketelanjuran dan Ketika Jiwa Terlahir Kembali.

https://parapecintaliterasi.com/5-naskah-terbaik-dalam-event-spesial-milad-ma-nubar-sumatera/

https://parapecintaliterasi.com/siapakah-terbaik-dalam-event-terdahsyat-nubar-sumatera-bertemakan-hijrah/

Percayalah, ini adalah wujud dari semua mimpi yang pernah saya rajut sejak di hari saya menekan tombol-tombol huruf di mesin tik tua milik papa. Tidak pernah muluk-muluk berpikir untuk melihat tulisan saya kelak nangkring di toko buku ternama. Cukup dengan membuat banyak mata membaca kemudian mengambil pelajaran dari semua kisah yang saya bagikan. Itu saja.

Mimpi, jangan takut dipunyai. Karena mimpi yang memberi warna hidup ini. Gelap bisa berubah terang, terang bisa semakin bersinar.

Follow your dream, believe in yourself, and never give up.

Love, R