PLAGIAT


PLAGIAT

“Anya … Anya … to —”
“Ah! Diam!”

Anya bergeming. Tak diindahkannya suara lirih yang memanggil-manggil namanya.

“Diam kau, Lastri!”
“Oy! Ngomong sendiri! Udah gila, lu? Pulang, Nyet! Gue pulang duluan, ya. Awas digondol wewe gombel, lu!”
“Berisik! Pergi sana! Gue selesai sebentar lagi. Besok harus presentasi, dan gue harus berhasil.”

Menghela nafas, Nayla pun beranjak meninggalkan Anya sendiri, di ruang kantor yang hanya tinggal mereka berdua. Memandang sekeliling dengan bergidik, Nayla memilih menuruni anak tangga ketimbang memasuki lift. Suasana kantor memang belakangan agak berbeda hingga kerap membuat bulu kuduknya berdiri.

Keesokan harinya, dengan cemerlang Anya membawakan hasil pekerjaannya di hadapan para pimpinan. Tak dihiraukannya teguran Nayla yang menganggap ia seperti lupa daratan. Matanya menghitam dan tubuhnya kurus seperti kurang makan.

Anya hanya menjawab dengan senyum mengembang, “yang penting aku sukses, bukan?”

“Anya … Anya ….”
Shut it, Lastri!”

Suara itu lagi! Sial betul si Lastri ini! Tak henti-hentinya berbisik lirih di telingaku.


Anya dan Lastri, dua sahabat yang begitu terkenal di kampus dulu. Anya yang cantik dan terkenal sebagai seorang selebgram, sebutan untuk mereka yang akun Instagramnya diikuti puluhan ribu penggemar. Lastri, gadis desa yang berhasil masuk ke universitas bergengsi itu sebagai penerima beasiswa. Ia sangat cerdas, namun berbeda 180 derajat, penampilannya agak kuno bahkan kampungan. Setidaknya, begitu cibiran yang diterimanya setiap kali ia berjalan tanpa mendongakkan kepala di samping Anya.

Saling melengkapi, begitu jawab Anya tiap kali ditanya, bagaimana mereka bisa bersahabat karib. Tentu saja, karena Anya memang tidak terlalu pintar. Ia hanya pandai menebar pesona. Lastri, adalah pelengkap hidupnya, alias, sang pembuat pekerjaan rumah, dan hampir semua project di kampusnya.

Lastri yang lugu, tak sadar ia diperalat. Kekagumannya pada Anya membutakan mata dan telinga. Tak dihiraukannya cibiran dan pandangan sinis yang hanya dijawabnya dengan senyum manis.

“Anya adalah sahabat terbaikku,” begitu selalu ujarnya.

Ia baru terkesiap sadar ketika pada suatu hari, dilihatnya Anya menyadur hasil tulisan untuk karya ilmiahnya. Tulisan yang akan diserahkan Lastri sebagai syarat meneruskan pendidikan pasca sarjananya.

“A … Anya, kenapa … kenapa kau menyalin semua tulisanku? Aku … aku bisa membantumu menulisnya juga dengan materi yang berbeda.”

Ragu-ragu Lastri bertanya pada sang sahabat yang kemudian menatapnya tajam dengan mata memerah seperti kurang tidur.

“Diam kau, Lastri! Jika kau berani bersuara, akan kuhabisi kau beserta seluruh keluargamu!”

Lastri menunduk kelu, airmatanya tumpah tak terbendung. Terbayang wajah renta ibu, yang sudah bertahun-tahun bertahan hidup dari bantuan Anya, dan sang kekasih yang sudah berumur.

Karya ilmiah itu yang kemudian membuat Lastri menjadi tertuduh. Ia kini berlabel plagiator. Namun ia tak mampu membela diri dan hanya memendam segala kesedihan sendiri. Kesedihan yang makin menjadi, setelah ibu tutup usia secara mendadak. Hilang sudah penopang hidup dan segala kekuatan hidupnya.

Lastri dimasukkan ke sebuah rumah sakit jiwa … oleh Anya, sahabatnya sendiri.

“Kasihan Lastri, aku tak tahu mengapa ia sampai hati. Mencuri karya sahabatnya sendiri,” ungkap Anya penuh kesedihan di sebuah tayangan televisi.

Tak seorang pun melihat senyumnya yang licik di balik kamera TV.

Sementara Lastri, ia mulai depresi. Masa depan cerah yang tergambar di hadapannya musnah dalam hitungan hari. Ia tak lagi berpikir jernih, matanya terus mematung memandang sebotol penuh obat penenang.

Anya semakin berjaya. Namun hidupnya dihantui bayangan Lastri, sang sahabat yang dikhianati. Hingga pada suatu hari ia ditemukan tak sadarkan diri, oleh sang sugar daddy.

“Anya mengalami kelelahan kronis dan sekarang dalam kondisi koma,” ujar dokter yang menerimanya di ruang gawat darurat.

Di dalam ruang ICU, Nayla memandang Anya dengan penuh pilu. Meski mereka tak begitu dekat, namun Anya adalah rekan sekerja. Walau tak pernah dihiraukan, namun Nayla kerap mengingatkan Anya untuk berhenti bekerja terlalu berat.

“Anya … kau dengar suaraku?” ujar Nayla pelan sambil menggenggam tangan kurus itu.

Dilihatnya airmata Anya mengalir dari sudut pipinya, tanda ia masih bereaksi meski dalam diam.

Sepeninggal Nayla, Anya terbaring sendiri. Pelan kesadarannya pulih dan matanya terbuka sedikit. Nampak di hadapannya seseorang berpakaian bak suster rumah sakit, sedang tersenyum manis.

“La … Lastri? Kau … kau kah itu?” ucap Anya dalam hati, sambil memandang ngeri.

Tergambar hari ketika ia menyerahkan sebotol obat ke tangan Lastri, yang diakuinya untuk menenangkan diri. Berharap sang sahabat menenggaknya habis untuk mengakhiri hidup, yang diakuinya sudah mati.

Tak sepatah kata terucap, hanya sebuah garis lurus di layar ECG pertanda sang pasien telah pergi. Suster Astri pun melangkah ke luar ruangan, dengan senyum terkembang.

“Telah kubalaskan dendammu adik kembarku. Tenanglah sekarang di peraduan abadimu.”

(Tamat)

Don’t steal, be original, and proud of your own thing. (Rere)

PAPA


PAPA

“Nanti pas penjurusan pilih saja kelas bahasa, Nak. Terus kuliah di Sastra Inggris UGM, lewat jalur PMDK. Papa lihat minat dan kemampuanmu ada di sana. Papa yakin kamu pasti bisa.”

Papa … canggih, kan?

Baru saja sang putri kecil menginjak bangku kelas 1 SMA, ia sudah begitu memandang jauh ke depan. Benar-benar seorang visioner.

Ia yang selalu mengajariku untuk memiliki keingintahuan akan banyak hal. Memperluas pergaulan, meski sang putri kecil sangat pemalu, dan tidak punya kepercayaan diri sama sekali. Papa tidak peduli. Baginya lebih baik mencoba meski gagal, daripada tidak berusaha sama sekali.

Disuruhnya aku belajar ini itu, dan ikut berbagai komunitas, meski hanya duduk di barisan paling belakang sambil menunduk kaku. Diajarinya aku banyak hal, dan diperkenalkannya pada dunia melalui tayangan berita dan surat kabar.

Papa memang ajaib. Di saat orang tua lain tak menginginkan anak-anak mereka memilih jurusan bahasa di SMA, karena dianggap kelas terbuang, ia justru sebaliknya. Kemampuan sang putri terhadap mata pelajaran bahasa asing, membuat visinya ke depan menjadi jelas. Ia tahu sang putri memang tidak berminat pada mata pelajaran lain. Hebatnya … ia tidak memaksakan kehendaknya sendiri.

Dengan penuh senyum, hari itu kusodorkan sebuah surat berisi diterimanya aku melalui jalur prestasi untuk menjadi mahasiswa di kampus impiannya. Meski akhirnya ia justru jatuh sakit karena khawatir ditinggalkan sang putri jauh ke kota lain, aku tahu ia bangga padaku.

Ia tak tahu betapa bangga aku memanggilnya PAPA. Toga yang kudapat 4 tahun setelah hari itu, kupersembahkan hanya untuknya. Sang visioner yang tidak pernah memaksa, namun selalu penuh dengan semangat dan harapan. Ia tak pernah lelah mendukung hingga membuatku yakin akan berbagai pilihan dalam hidup.

Universitas Gadjah Mada yang sudah 71 tahun berdiri tegak, akan selalu menjadi pengingat. Bahwa tugas orang tua bukan memaksakan kehendak namun harus mengarahkan.

Terima kasih, Pa. What would I do without your full encouragement. Things that built my self esteem grow bigger and bigger. Things that made me who I am now.

Dirgahayu ke-71 UGM tercinta. Semoga selalu jaya dan tetap menjadi pilihan utama.

Love, Rere

TUMBANG


TUMBANG

“Astagfirullah!”

Begitu pekik saya di hari Kamis siang itu, setelah mengunyah sepotong prata yang dibuat si sulung.

Kunyahan pertama tiba-tiba saja membuat bagian wajah sebelah kiri saya kaku hingga tak lagi bisa mengunyah dengan baik. Saya merasa syaraf di bagian itu seperti putus, kulit menebal, dan pipi saya terasa membengkak, hingga tak lagi bisa membuka mulut dengan leluasa.

Kepanikan segera menyerang apalagi ketika menatap pantulan wajah di cermin. Tak seperti biasanya yang kerap berlaku santai, saya seketika panik. Seluruh tubuh seperti kaku, tangan gemetar, jantung berdegup kencang.

Ketiga anak saya pun ikut panik melihat ibunya terpekik di depan cermin sambil menangis. Ya, saya yang kuat bak besi baja ini, hari itu menangis terisak di hadapan mereka.

Saya bukan sedih karena kesakitan atau takut melihat wajah yang bentuknya jadi tak karuan. Bayangan di kepala saya sudah macam-macam. Bell’s palsy, stroke, hingga membayangkan apa yang akan terjadi pada anak-anak kalau ternyata saya tak mampu lagi berfungsi sebagai seorang ibu. Dalam keadaan panik, saya sedikit bersyukur, untuuung saja saya sudah selesai mengurus pembelian buku dan seragam sekolah semua anak pagi itu.

Setelah mandi dalam keadaan gemetar, saya bergegas menghubungi suami yang menyarankan untuk pergi ke rumah sakit. Ia melarang saya membawa kendaraan sendiri, dan dengan perasaan tak karuan saya mengajak putri sulung pergi.

Sesampainya di unit A&E, saya segera ditangani. Dokter yang berjaga hari itu segera memanggil seorang spesialis ENT karena curiga saya menderita kelainan tiroid.

Ingat status tentang mata saya yang disangka dokter berhubungan dengan tiroid? Nah, hari itu lah akhirnya saya dirujuk untuk opname karena dokter khawatir bengkak yang saya alami akan semakin parah jika tak ditangani dengan cepat.

Selanjutnya saya melakukan serangkaian tes mulai dari CT Scan hingga tes darah. Hari itu untuk pertama kalinya, tekanan darah saya naik tinggi hingga ke 174/100. Padahal biasanya tensi saya hanya di angka 100/70 atau di bawah itu.

Hari itu saya baru paham bagaimana bentuk anxiety. Ya, saya terkena anxiety attack yang berakibat tekanan darah saya naik. Tubuh saya juga sedikit limbung dan sempoyongan, mungkin juga karena dari pagi belum sempat makan. Rasanya trauma membuka mulut mengingat wajah yang tiba-tiba membengkak setelah mencoba mengunyah prata.

Setelah mengurus ruangan dan menunggu kedatangan suami, saya segera dimasukkan ke kamar dan menerima infus pertama. Diagnosa dokter, berdasarkan rekaman ct scan, saya terkena Salivary Gland Infection. Infeksi kelenjar ludah.

Penyebabnya adalah virus. Meski dokter juga tak dapat memastikan bagaimana saya bisa terkena virus ini. Beruntung infeksi ini belum dimasuki puss atau nanah. Jika itu yang terjadi maka saya harus menjalani operasi. Ngeri, membayangkan sayatan yang bisa saja saya lalui. Alhamdulillah. Saya cepat mendapat pertolongan dari yang ahli.

Infus antibiotik dan glucose pun saya dapatkan sejak Kamis. Bengkak di wajah saya memang tidak sakit, namun begitu saya coba untuk mengunyah makanan yang sedikit keras, rasanya membuat meringis hingga saya menangis. Sakitnya begitu membuat frustasi karena ngilu dan aneh sekali.

Lambat namun pasti, bengkak di wajah pun mulai kempes. Hingga sore hari ini saya bisa pulang ke rumah lagi. Pesan dokter hanya agar saya menghabiskan antibiotik dan mengubah kebiasaan buruk kurang minum air putih.

Satu hal yang membuat hati saya pedih melebihi rasa perih di wajah hari itu adalah, berkaca-kacanya mata indah Lara, si sulung. Ia mengira saya sakit akibat food poisoning dari prata yang ia buat untuk saya di pagi hari Kamis itu.

“I was shocked and also panicked, Bunda. I got goosebumps, thinking that I might poison you from the prata I made in the morning. I was just trying to be nice, but end up with my mother being hospitalized.”

Oalah, Nak.

Thank you for all your kind well wishes, teman-teman. Stay healthy and always happy, karena meski sekuat baja bisa tumbang juga.

Love Life, Rere.

Lucia


Lucia

“Sayang, kenapa mematung di depan pintu? Ayo, tidur lagi.”

Penuh kelembutan, ia membawa gadis itu kembali ke kamar tidurnya. Mimi bukannya tak tahu kalau putri semata wayangnya itu selalu mengigau di kala waktu tidurnya. Namun akhir-akhir ini ia sering mendapati Lucia, nama gadis kecil itu, terbangun dari tidurnya lalu berjalan tak tentu arah dengan mata terpejam.

“Lucia is sleepwalking,” katanya melalui sambungan telepon, kepada Adam sang suami, yang tinggal di luar kota karena urusan pekerjaan.

Ya, Mimi memang hanya tinggal berdua di rumah besar itu, dengan putri tunggal Adam, yang baru setahun ini menikahinya. Meskipun ada dua orang asisten rumah tangga tersedia untuk melayani segala kebutuhannya. Mereka ditempatkan di bangunan lain, di sisi sebelah utara rumah utama itu.

Adam adalah seorang pengusaha sukses. Mimi seketika jatuh hati pada pandangan pertama ketika mereka bertemu di suatu acara. Diterimanya dengan penuh cinta, status Adam yang tak lagi perjaka. Ia adalah seorang duda beranak 1 yang sudah beberapa tahun ditinggal istri pertamanya.

Tak seorang pun mengetahui keberadaan sang istri. Menurut Adam, perempuan itu pergi meninggalkannya dan lari bersama seorang lelaki muda selingkuhannya. Mimi tak sanggup menahan perih mengetahui kisah pilu ini. Ia semakin jatuh hati, hingga akhirnya bersedia dinikahi.

Lucia, adalah gadis kecil yang penuh misteri. Ia manis sekali, namun seperti menyimpan sesuatu dalam hati. Meskipun begitu, Mimi tak secepatnya menyerah lalu pergi. Penuh kelembutan, ia menempatkan diri sebagai ibu sambung sekaligus sahabat bagi sang putri.

Meski gadis itu hampir tak pernah bersuara, Mimi berkomunikasi dengannya melalui coretan berupa gambar sketsa. Lucia suka sekali menggambar sosok perempuan cantik. Mungkin ia merindukan sang ibu, yang dilihat Mimi memang mirip sekali fotonya dengan gambar milik Lucia. Kasihan.

Penuh kasih sayang, Mimi mendampingi Lucia. Termasuk menjaganya ketika ia mulai mengigau, hingga berjalan dalam keadaan tidur. Herannya, gadis itu selalu berdiri di depan sebuah pintu. Pintu menuju sebuah gudang, tempat keluarga Adam menyimpan banyak barang.

Meski penasaran, Mimi urung membuka pintu ruangan itu. Alergi debu membuatnya menghindari tempat yang berpotensi memicu. Hingga pada suatu malam, semuanya berubah pilu.

“Lucia? Astaga! Kau membuatku terperanjat! Ada apa, Sayang? Kau ….” ucapan Mimi tak sempat terselesaikan, ketika sebuah pisau menancap di dadanya, tepat mengenai jantungnya. Matanya terbeliak tak percaya, melihat Lucia menikamnya dengan mata tertutup rapat. Bersimbah darah, ia jatuh ke lantai berkarpet mahal, di dalam kamar tidurnya yang penuh perabotan mewah.

Jerit Lucia membangunkan kedua asisten rumah tangga yang sedang tidur di bangunan sebelah. Menghela nafas panjang, salah seorang dari mereka secepatnya menghubungi Adam.

“Tuan … ia melakukannya lagi. Haruskah kami mengubur jasad istri tuan di dalam gudang lagi?”

(Tamat)

Sumber foto: WAG RNB

Love, ReReynilda

LUKA


LUKA

Aku tak tahu mengapa umak memberiku nama Luka.

Luka saja, tanpa awal atau akhir kata.

Menurut orang-orang kampung sini, aku dilahirkan tanpa bapak sewaktu umak pergi bekerja ke luar negeri. Usia umak baru 17 tahun ketika itu. Sedang mekar-mekarnya anak gadis, kata mereka.

Umak yang cantik dan pintar terpaksa berhenti sekolah dan harus bekerja keras, demi membayar hutang kedua orangtuanya. Kakek dan nenek yang tak pernah kutahu sosoknya.

“Terbakar dalam rumah sewaktu perampok menyatroni mereka di pagi buta,” kata Pak Saman tetangga desa.

Waktu itu umak sudah berangkat ke luar negeri, dan menjadi buah bibir di kampung. Bagaimana tidak … baru beberapa bulan umak pergi, rumah kakek dan nenek sudah naik tinggi. Keramik cantik menghiasi lantai, mengganti alas tanah yang sebelumnya tiap pagi berhias tai. Ya, kotoran ayam milik tetangga, yang kandangnya ada di sebelah rumah.

Umak juga mengirim sebuah kendaraan mewah, sebagai pengganti becak yang selalu dikayuh kakek keliling desa sebelah. Dibangunkannya sebuah toko megah, untuk nenek yang biasanya berjualan tempe di pasar basah. Tentu saja, semua tetangga memandang gerah. Termasuk komplotan pencuri yang sudah terkenal namanya di pusat kota, geng bramacorah.

Kebakaran rumah umak di desa menjadi akhir kisah hidup dan ceritanya di sana. Umak yang anak tunggal, mengubur semua mimpi dan harapannya bersamaan dengan terkuburnya jasad kakek dan nenek menjadi abu, di rumah kebanggaan mereka yang berujung pilu.

Tak ada seorang pun tahu apa yang terjadi pada umak setelah itu. Hanya kabar burung beredar di kampung, umak bukan hanya bekerja sebagai pembantu. Ia adalah simpanan seorang tauke berharta menggunung. Banyak yang kagum, lebih banyak yang mencibir dengan sinis, biasa lah sesama kaum. Mungkin mereka iri dan dalam hati kecil ingin berjaya seperti umak, yang diam-diam mereka kagumi.

Semua berubah di hari umak kembali. Dengan tubuh kurus kering, umak kembali ke kampung membawa seorang bayi dalam bengkung. Seisi kampung gempar, bisik-bisik semakin tak terbendung liar.

Dengan sisa gemerincing koin di saku, umak menepi di sebuah rumah berpagar bambu. Entah rumah siapa, umak pun tak tahu. Gubuk berhantu, kata Pak Saman dulu.

Umakku tak takut hantu. Ia lebih takut melihat mulut-mulut yang menggerutu. Istri-istri yang takut suaminya jatuh hati, gadis-gadis yang takut kekasihnya berpaling pergi. Padahal umak kembali tanpa penampilan bak gadis ting-ting. Umak kembali membawa sakit, di hati dan diri. Karena di gendongannya ada bayi lelaki yang harus diurus sendiri.

Umak … umak.

Malang sekali nasibmu berakhir. Kataku sambil menatap hembusan asap rokok beraroma tajam … sembari membetulkan gincu berwarna merah terang. Untuk pelanggan lain yang segera datang.

(Tamat)

Love, Rere

Bibi TitiTeliti


Bibi TitiTeliti

Bagi saya, tidak ada satu pun hal yang tidak penting. Semua penting, dan harus diperhatikan dengan teliti.

Memang saya jadi terkesan cerewet dan bawelnya “ndak lumrah“. Hanya karena menolak anggapan, ahhh … gitu aja serius amat.

Tak kurang satu dua sahabat atau keluarga yang bahkan segan membantu saya mengerjakan sesuatu. Takut saya marahi ketika hasilnya tidak sesuai ekspektasi. Tentu saja ekspektasi saya sendiri. Hihihi!

Bahkan ini juga yang menyebabkan saya tidak mau memakai jasa seorang part timer untuk membantu membersihkan rumah. Setelah dulu pernah kapok melihat hasil kerjanya yang akhirnya saya ulangi demi mendapat hasil yang saya maui.

Seremeh pekerjaan menjemur baju pun bisa jadi akan saya ulangi jika mata ini berbulu melihatnya tidak tertata rapi. Begitu akhirnya saya melatih anak-anak di rumah untuk melakukannya dengan teliti. Searah, sekelompok, dan tentunya tidak berkerut seperti wajah yang merengut.

Hal yang nampak sepele, seperti membungkus peralatan makan plastik untuk pesanan esok pun, saya lakukan dengan sepenuh hati. Berapa pun jumlahnya.

Mungkin karena saya orang yang melihat sesuatu dari pandangan pertama. First impression must be impressed. Bukan untuk menghakimi, hanya semata menikmati karunia penglihatan dari Sang Illahi.

Sendok garpunya jadi cakep kan, Cint? 😉

Namun apakah saya selalu seteliti ini? Enggak juga. Beberapa kali saya pernah melakukan kecerobohan, walau sangat jarang. Salah satu kisahnya akan saya ceritakan nanti di antologi terbaru, hingga kalian bisa tertawa melihat bibi tititeliti tak selalu teliti.

Love Life, Rere

MIMPI BURUK


MIMPI BURUK

“Wah, ada sandal bagus. Kebetulan sandalku sudah buluk.”

Dengan tenang, Adul memakai sandal berwarna coklat muda yang dilihatnya tergeletak di depan warnet tempatnya bermain games hari itu. Ditinggalkannya sandal plastik berwarna biru yang telah usang, namun sudah bertahun-tahun menemaninya berjalan ke sana kemari itu.

Ia pun bergegas pulang meninggalkan tempat itu, takut sang pemilik sendal yang asli tiba-tiba muncul. Meski bukan miliknya, Adul merasa bahagia dan bolak balik menatap sandal cantik yang menghiasi jemari kakinya itu dengan bangga.

“Akhirnya, punya juga aku sandal kekinian yang mirip seperti punya teman-teman. Keren, nih!”

Setibanya di rumah petak yang disewanya bersama sang ibu, Adul bergegas mandi. Sandal barunya ia letakkan dengan rapi di bawah lemari. Semoga tidak ada tikus yang menggerogoti. Ia lalu merebahkan diri di atas kasur tipis yang ada di sudut rumah kecilnya itu. Sambil menatap langit-langit rumah yang sudah berwarna kusam itu, Adul memikirkan nasibnya yang pilu.

Sejak kecil ia hanya tahu sosok sang ibu. Wanita pekerja keras yang sehari-hari berjualan sayur hingga beras. Ia tak tahu di mana bapaknya berada. Ibu hanya bilang, laki-laki itu minggat, artinya pergi entah kemana. Adul kesal sekali, karena berarti ia harus banting tulang menghidupi diri. Padahal ia malas sekali.

Adul juga tidak pernah merasakan bangku sekolah. Kerjanya hanya membantu Bang Amat si tukang parkir, atau sesekali menjadi tukang angkut barang di pasar. Uang hasil kerjanya habis di warnet untuk bermain games kegemarannya. Telinganya sudah bebal dimarahi ibu setiap hari tanpa jeda.

“Semoga Ibu tidak melihat sandal yang kuambil tadi. Bisa habis telingaku dijewernya sambil dimarahi sampai akhir bulan.”

Diliriknya sandal yang ada di bawah lemari kayu usang, tempatnya meletakkan baju yang hanya beberapa helai saja. Sandal itu seperti bersinar terang, hingga Adul tertidur dalam senyuman.

“Ibuuuuu! Kakiku sakit sekali! Kenapa sandal ini membuat kakiku nyeri?”
“Apaan sih, Dul? Berisik sekali! Ibu sedang masak, nih!”
“Lho! Ibuuuu mana sandal coklatku yang baru? Kenapa sandalku berubah seperti ini? Ini kan sabut kelapa!”

Adul menjerit kesakitan dan heran, melihat sandal coklat barunya mendadak berubah menjadi sabut kelapa dengan tali biru. Seperti sandal buluknya dulu! Kakinya pun terlihat mengeluarkan darah karena sabut kelapa yang tajam dan melukai kulitnya itu.

“Sandal coklat apa? Mana kau punya sandal coklat, Adullll? Sandalmu kan berwarna biru!”
“Aku … aku … punya sandal baru, Bu. Warnanya coklat, cantik sekali menghiasi kakiku. Tadi … aku letakkan di bawah lemari baju. Kenapa … kenapa sandalku hilang dan berubah begini?”
“Sandal coklat baru? Dari mana kau punya uang untuk membeli, ha? Kau curi milik orang lain, ya? Adul! Kau curi barang milik orang? Nanti kau dicokok polisi dan dimasukkan penjara baru tahu rasa!”

Seketika teriakan ibu menggema bak petir di siang bolong. Ia marah sekali dan menjewer telinga Adul dengan keras. Ibu memang selalu berpesan padanya untuk tidak pernah mengambil apa-apa yang bukan miliknya, meski hidup mereka serba kekurangan. Hidup sederhana dan jujur, begitu selalu nasehatnya sejak Adul kecil.

Adul menangis. Bukan hanya karena telinganya sakit, tapi karena sudah berani mencuri dan telah melanggar janjinya pada ibu untuk selalu jujur. Ia juga takut ditangkap pak polisi lalu dimasukkan ke penjara karena telah mencuri sandal.

“Ibuuuuu! Maafkan Adul! Huhuhuhu! Adul mau mengembalikan sandal coklat itu. Adul kapok, Bu. Tapi … tapi … sandalnya sudah jadi begini,” ujarnya sambil mengangkat sepasang sandal yang terbuat dari sabut kelapa dan berbentuk aneh itu.

“Adul! Adul! Bangun, woy! Mimpi apa, sih? Sampai teriak-teriak begitu?”
“Ha? Sandalku! Sandalku mana? Sandal …” Adul terbeliak menatap wajah Bang Amat yang menatapnya dengan heran.
“Sandal sandal! Sana kerja! Tidur aja, lu!” Ujar lelaki berambut plontos di hadapannya itu sambil memukul kepalanya dengan sebuah sandal.

Sandal plastik berwarna biru buluk miliknya yang digenggamnya erat kala tertidur di pos ronda tadi siang.

Honesty saves everyone’s life.

Love Life, Rere

Sumber Photo: Internet

Dedicated untuk para peserta RNB 3 dengan tantangan menulis bertema. Tantangan yang mengajarkan saya untuk membuka mata dan keluar dari segala keterbatasan. Enam ratus lebih kata dalam satu jam saja. Kalian pasti bisa!

ENOLA HOLMES


ENOLA HOLMES

Film dengan tokoh perempuan yang tangguh, jagoan, dan berani memang selalu memiliki daya tarik tersendiri bagi saya.

Beberapa serial yang bercerita tentang seorang perempuan jagoan, rela saya tonton meski puluhan seri banyaknya. Sebut saja Supergirl. Mata perih pun tak saya rasa demi menonton aksinya membabat para penjahat. Tak sabar rasanya menunggu kelanjutan serial si gadis besi berjubah merah.

Dulu sekali, Xena adalah serial favorit saya jaman rikiplik. Sambil menonton, saya akan berkhayal melakukan pertarungan dengan para tokoh jahat. Xena juga yang membuat saya mempelajari bela diri. Walaupun belum lagi berubah sakti, tubuh ringkih saya sudah tergeletak sakit.

Hari ini saya menonton sebuah film baru di Netflix. Enola Holmes. Holmes? Yep. Enola adalah adik bungsu Sherlock Holmes. Sang detektif terkenal, yang diperankan oleh si Superman ganteng berdagu belah, Henry Cavill.

Film yang sangat menarik buat saya. Karena Enola diceritakan menentang stereotype perempuan di masa itu. Ia yang seharusnya berlaku santun, dan mampu melakukan pekerjaan layaknya perempuan, malah dibesarkan bak seorang jagoan.

Ia tidak bisa membordir kain atau baju, tapi bisa menendang musuh dengan Jiujitsu. Ia tidak bisa duduk dengan manis di meja makan, tapi mampu memecahkan masalah dengan brilian.

Enola adalah gambaran perempuan masa kini yang jauh dari standar sosial dan berani berbeda, namun ia tetap memiliki perhatian pada sekitar.

Hmmm … siapa yang membentuk kepribadian Enola? Tak lain dan tak bukan adalah ibunya. Perempuan pintar yang mengajarkan sang putri pentingnya membaca dan membuka mata. Termasuk pentingnya berani membela diri meski berjalan sendiri.

Kelak, Enola Holmes menjadi seorang detektif perempuan terkenal, yang jauh lebih cerdik daripada Sherlock Holmes. Keren, kan?

Jadi, masih berpikir bahwa perempuan tidak perlu pintar untuk menjadi seorang ibu?

Think again.

Love Life,
ReRe

Photo Credit: Netflix

Hmmm ….


Hmmm ….

Semakin banyak melihat
Semakin banyak kelucuan tersemat
Rasanya kumerindu banyak saat
Ketika semua begitu sederhana tanpa sekat

Dunia ini panggung sandiwara memang
Tempat beragam topeng terpampang
Bahkan senyuman ternyata tak melulu riang
Kegundahan pun tak selalu bak airmata tergenang

Susahnya karena terlalu banyak melihat
Rasanya ingin sekali terbang bak kilat
Tak perlu nampak meski hanya sekelebat
Ahhh … mata sudah terpejam, telinga berdesing cepat

Bosanku sudah di ujung hari
Meski pergi bukan kehendak diri
Lucu yang manis masih jadi penghibur hati
Meski kadang terlalu manis bikin sakit gigi

Mungkin harus berhenti pakai hati
Hingga berlalu tak sulit lagi
Hanya ingin menghargai hari
Yang makin cepat berganti


Entah bila semua akan berhenti detaknya … di panggung ini.

Love Life,
Rere

Compassion & Self Reflection


Compassion & Self Reflection

“You know what, Bunda? One day I will go up to our neighbour and tell them that they are very noisy.”
“You mean the neighbour upstairs?”
“Yes. They always make annoying sounds. Children running everywhere, footsteps, very noisy! I can’t sleep you know!”
“Halah! Before you do that, make sure you didn’t make our neighbour downstairs feel the same way, too. You are very annoying most of the time, you know? When you watch TV, you always jump around and stomp your feet. Don’t you think they feel the same way, too?”

Makcep!

Rayyan … Rayyan.

Inget ya, Nak. Kita ini memang paling mudah melihat cacat, cela, dan segala kekurangan orang lain.

Bak kuman yang begitu kecilnya di seberang lautan, namun bisa nampak … padahal ada gajah segede gaban di depan mata yang tak nampak.

Protes sesekali memang perlu, tak salah. Tapi sebelum melayangkannya pada orang lain, “dheloken jithokmu dhewe sek, cah bagus.” Lihat kekurangan diri sendiri dulu. Kita begitu enggak sama orang lain? Kalau iya, ya jangan protes ketika mendapat perlakuan yang sama dari orang lainnya.

Lha wong kamu sendiri yo gedubrakan tur pencilakan di rumah, sampai harus selalu diingetin buat duduk anteng, kok ndadak protes² barang.

“You have anything to say?”
“Mmm … no,
Bunda. I promise I won’t do that again … but I can still talk to our neighbour upstairs, right?”
“Hilih! Gayamu!”

If your compassion does not include yourself, buy a new mirror. (Rere)

Love Life, Rere