FAITH


FAITH

Semalam saya bermimpi membuka jendela di pagi hari.
Lalu melihat pemandangan gunung yang tinggi.
Udara yang segar, dengan hembus angin yang membuat tubuh bergetar.
Aroma pinus memanjakan hidung, membuat hati sendu menjadi hidup.

Apa daya ketika sadar, hanya nampak bangunan apartemen berjajar.
Bukan tak bersyukur meski jadi tepekur.
Hidup toh harus terus meluncur jika tak ingin jiwa menjadi hancur.

Be happy, Self. This shall pass.

Love,
Rere

PEREMPUAN


PEREMPUAN

Belum tuntas proses pencetakan antologi Hitam Putih Perempuan selesai, jilid keduanya sudah full quota saja.

Ya. Perempuan … memang kompleks dan penuh cerita. Isi kepalanya ibarat gulungan kabel yang tak beraturan. Mbulet, pating kruwel. Itulah mengapa tema tentangnya, selalu menarik untuk saya abadikan.

Semua naskah dari kontributor cantik yang masuk, saya baca dengan penuh perasaan. Saya edit dengan penuh kehati-hatian, agar pesannya sampai dengan baik pada para pemesan.

Wahai, teman-teman perempuan. Mari kita saling mendukung dan mengingatkan dalam kebaikan. Jika jarimu memang tak sanggup kau tahan, mari sini tuliskan. Akan kubaca ceritamu dan kujadikan sebuah buku, bukan hanya menjadi buku harian.

Kelak, semua anak cucu akan mampu mengambil pelajaran hidup darimu. Hingga memori yang nanti muncul tentangmu, akan berisi kisah indah meski kadang sendu.

Mari berhenti saling menjatuhkan antara sesamamu. Jika tidak saling mendukung dan berbagi ilmu, bagaimana kelak anak-anak akan mengambil contoh darimu?

Being a woman is never easy, but together we’ll make it easier.

Love,
Rere

Photo Courtesy: Sahabat-sahabat perempuan yang saya percaya dengan sepenuh jiwa.

LOVE YOURSELF


LOVE YOURSELF

Hai, Cantik!

Hari ini saya ingin berbagi tentang apa yang saya alami dalam enam tahun belakangan ini.

Haid saya berhenti enam tahun lalu, ketika menghadapi sebuah masalah yang lumayan melelahkan. Lahir dan batin.

Hidup sendiri sudah saya jalani sejak menginjak bangku kuliah di kampus biru tercinta. Kemudian bekerja di Jeddah, dan sekarang beranak 3 di Singapura. Jalan berliku tentu ada dan banyak sekali saya lalui. Namun persoalan dengan sebagian orang beberapa tahun silam, akibat salah persepsi, menjadi puncak kesabaran.

Saya depresi dan stress berat, apalagi hanya punya suami sebagai orang terdekat. I’m alone. Sendiri menghadapi semua hal dengan sisa kekuatan. Berusaha menyelesaikan secara langsung dengan menghadapi orang per orang, nyatanya blood is thicker than water. Cul de sac. Jalan saya buntu.

Lelah batin membawa saya pada perubahan tubuh. Saya berhenti menstruasi, padahal secara tanda pada badan, tidak ada symptom menopause dini. Awalnya saya makin stress, karena takut ada sesuatu yang serius terjadi. Kemudian saya menemui seorang gynae untuk memeriksakan diri.

Alhamdulillah. Tubuh saya hanya bereaksi karena terlalu depresi. Hingga dinding rahim menipis dan berakibat berhentinya menstruasi. Meski awalnya tak menerima kenyataan dan takut, namun saya bertekad harus terus maju menghadapi. Senyum lebar akhirnya terkembang dan berucap, terima kasih, Gusti. Saya jadi tak perlu repot pakai kontrasepsi lagi.

Apa yang bisa dipelajari dari cerita ini? Bagaimana saya bisa terlihat tenang? Di mata kebanyakan, bahkan nampak tak menyimpan dendam atau pernah melewati masalah berat. 😉

Cintai dirimu sendiri. Loving yourself is not selfish. Jauhi segala hal yang membuat nyeri. Jika harus berkonflik, hadapi dengan berani dan langsung melakukan komunikasi. Tak perlu sekuat tenaga menghindari, karena ia yang sejatinya memunculkan kekuatan diri.

Lalu accept then let go. Setelah menerima, biarkan ia pergi. Cukup disimpan di sudut hati untuk dilihat jika butuh kekuatan diri lagi. Pat yourself in the back dan bilang, “You did a great job, Self!”

Jangan lupa untuk selalu membuka hati pada segala nasihat atau pengingat yang datang dari sekitar. Legowo dan sumarah. Jalanmu pasti indah.

Have a great weekend, and always love yourself!

Love,
Rere

TALENAN HITAM


TALENAN HITAM

“Hitamnya chopping boardmu, Bunda.”
“Ih, iya. Ya, ampun! Baru sadar.”

***

Melengos wajah suami saya, kala melihat ulang tayangan video live yang biasa saya buat setiap pagi menjelang.

Hampir setiap hari, saya memang menayangkan video pembuatan camilan untuk anak-anak. Pagi itu saya tidak melihat lagi ulangannya seperti biasa, karena terlalu sibuk menyiapkan banyak hal di rumah. Sampai suami dan beberapa teman tertawa, melihat betapa hitamnya chopping board alias talenan yang saya pakai.

Saya benar-benar tidak menyadari noda hitam yang sudah bertanda, di talenan yang selama ini sudah berjasa. Ia yang menemani saya menyajikan masakan untuk semua kesayangan di rumah. Meski nampak hitam tapi saya selalu mencucinya bersih dengan air panas, lho. Ia menghitam entah karena apa, saya pun lupa.

Video itu lalu lumayan membuat saya merenung, dan berpikir dalam tentang kehidupan.

Begitu ya ternyata, kala melihat sesuatu dari sisi yang lainnya. Mungkin selama ini kita sendiri tak pernah melihat cacat cela pada diri sendiri, karena selalu sibuk mengomentari. Bereaksi pada segala hal yang bukan urusan pribadi. Mencibir bahkan bergunjing secara terbuka, tentang masalah orang lain. Masalah yang kita tak pernah tahu kebenarannya, bahkan kadang berasumsi semaunya. Tanpa kita sadari, mungkin diri ini juga menjadi bahan gunjingan, meski tak nampak di permukaan.

Talenan hitam yang baru saya lihat penampakannya melalui tayangan video di dinding hari itu, ibarat sebuah pengingat. Bahwa ada noda, cacat cela, atau kesalahan, yang baru nampak ketika pandangan berubah arah serta haluan.

Hmm … memang kadang butuh merubah pandangan atau mendengar komentar orang tentang diri kita, sebelum akhirnya sadar. Kamu, saya, kita … sama berdosanya. Sama bersalahnya, dan sama-sama punya noda dalam kehidupan.

Terima kasih, talenan hitam. Kalau bukan karenamu, mungkin diri ini tak pernah tahu betapa fokus pada perbaikan diri sendiri itu, yang paling penting dan perlu.

Namun maaf, dirimu terpaksa berakhir di bak sampah setelah cukup mengabdi sekian tahun di rumah. Ibarat noda pada perilaku yang harus diperbaiki setiap waktu, bahkan diubah dan dihilangkan bila perlu.

Maaf, talenan hitam, kedudukanmu di dapur berubah dengan dia yang baru. Seperti halnya attitude yang harus melewati jalan berliku sebelum akhirnya tahu, bahwa refleksi atas diri sendiri itu sangat perlu. Jangan sampai jari ini banyak menunjuk, tapi lupa untuk memperbaiki tingkah laku.

Don’t judge. You might know the names, but never the stories.

Love,
Rere

💔


💔

Bunda, do you know that my teacher talked about broken heart a few days ago?”
“Okay, what is it about?”
“It’s about how we deal with it. I mean, why? What’s the importance of talking about broken heart? So funny.”
“Well, in my opinion it’s as important as the talks about sex. Let me tell you something …”


Sambil tertawa geli, si sulung pernah bertanya pada saya, apa pentingnya pembicaraan tentang patah hati yang diterimanya di sekolah. Usianya memang sudah menjelang 15 tahun, tapi tingkahnya seringkali masih kekanak-kanakan. Sehingga pembicaraan tentang asmara, masih nampak lucu bahkan memalukan di matanya.

Saya lalu bercerita padanya tentang rasa sakit karena patah hati. Tak melulu rasa sakit akibat ulah lawan jenis, tapi mungkin terjadi antara dua sahabat dekat, bahkan anggota keluarga. Rasa sakit yang terasa sangat pedih, ketika harapan sudah terlanjur membumbung tinggi, pada seseorang yang sangat dekat di hati.

Tanpa disadari, luka karena patah hati bisa berdampak buruk pada diri. Seorang yang tadinya cemerlang di sekolah, bisa terpuruk bahkan mungkin gagal karena menolak sumarah. Menolak kenyataan bahwa ia telah gagal mempertahankan hubungan, padahal hati sudah diberikan.

Itu sebabnya pembicaraan tentang patah hati menjadi penting, Nak. Bagaimana hati mempersiapkan diri untuk disakiti. Rasa sakit itulah, yang membuat seseorang berdiri tegak menghadapi hari. Rasa yang tidak perlu ditolak kehadirannya, hanya butuh dinikmati. Menikmati sakit untuk tahu bagaimana mengatakan pada diri sendiri, “I respect me. I respect my feeling and I will deal with it myself.”

Ada banyak hal di dunia ini yang masih terbuka untuk kita pelajari. Tak ada satu jalan pun yang tak berkerikil atau berkelok. Pilihanmu hanya berhenti atau terus. Jika berhenti maka hidupmu berakhir di sini, jika terus, meski sakit, hidupmu akan terus maju.

***

Untukmu Young Girl, life must go on. Jika ia menghilang pergi, biarkan saja. Tak perlu lama meratap dan berharap. Raih semua cita, maju demi masa depan. Cinta milikmu akan datang pada saat yang menurut-Nya tepat, meski mungkin bukan tepat di mata manusia biasa.

Untukmu Mommy … saya memahami. Bahwa ketika anak-anak kita tersakiti, hasrat hati untuk melempar sebuah batu ulekan bekas mengulek sambel belacan, begitu membara. Saya paham rasanya. Tapi putrimu butuh ibu yang kuat dan bijaksana, bukan penuh angkara. Peluk saja ia dan katakan betapa dirimu mencintainya. Soal asmara akan datang pada saatnya. Menangislah sebentar, lalu bangkit dengan senyum mengembang. Hidup ini terlalu berharga hanya untuk memikirkan mereka yang telah menyakiti. Have a self respect and dignity, especially for your daughter. Dia yang pergi, biarkan saja tak perlu menahan atau memintanya kembali. Percayalah, ia tak cukup berharga untuk dipertahankan.

Untukmu sang Lelaki, tak semua orang paham apa maksud di hati. Berani memulai harus berani mengakhiri. Jangan berpikir segan, demi menghindari konflik dan air mata. Air mata pasti kering, namun hati yang bertanya-tanya akan meninggalkan lubang menganga. Berani mengambil hati, harus berani menjaganya agar tak pecah berkeping. Bertanggung jawablah sebagai lelaki yang menghargai kaum perempuan, karena kelak kau akan punya anak-anak perempuan. Mereka yang mungkin akan menangis di pangkuan, ketika sang kekasih pergi meninggalkan.

***

Wahai gadis muda, para perempuan. Tahanlah hasrat untuk terlalu berharap, kecuali siap dengan hati yang mungkin patah. Be strong, bangun dari tidurmu lalu melangkah maju. Hingga kelak bisa kau ajarkan putra putrimu, bagaimana menyikapi rasa sakit itu. Bagaimana ia dihadapi, bukan dihindari.

Stop seeking for happiness, in the heart of others. Happy International Women’s Day!

Love,
Rere

GRATISAN


GRATISAN

“Yah, ambil masker gratisan, yuk.”
“Enggak mau.”
“Ish!”


Secara berkala, pemerintah setempat memberikan kami semua, fasilitas masker yang bisa diambil gratis. Hanya butuh nomor IC atau KTP yang dimasukkan pada sebuah mesin, voila! Masker gratis pun siap meluncur untuk dipakai siapa pun.

Sayangnya, keriangan saya menerima barang gratisan ini kerap bertolak belakang dengan prinsip suami. Ia memang tidak pernah ikut menjadi seorang “kiasu” pada hampir semua hal. Berbeda dengan sang istri yang kerap heboh sendiri. Terutama jika ada kerumunan di sana-sini. 🤣

Padanya, “Biarkan mereka yang lebih membutuhkan mengambil bagian kita. Kita toh masih mampu membeli, meski bukan seorang yang hidup berlebih.”

Bangga, sih, saya padanya. Prinsip ini yang kemudian menjadi sebuah pengingat penting, untuk menekan keriangan saya, pada semua hal yang tidak terlalu saya butuhkan. Walaupun saya masih tetap bahagia mengejar barang gratisan, hingga saat ini. 🤣

Tentu saja dengan resiko menerima “roll eyes” dan muka melengos darinya, yang takjub dengan kegigihan saya. Hingga rela berkeliling mencari masker gratisan ini, contohnya.

“Ini bagus, Yah. Ukurannya besar, pas buatmu biar ganti-ganti.”
“Heleh! Ayah belikan Bunda masker seperti yang kemarin, ya?”
“Okay. Mahal?”
“Enggak.”
“Okay, deh.”

Meskipun bahagia akhirnya punya masker gratisan, namun rejeki jangan pernah ditolak, Gaes!

Love,
Rere

Emak MoDisAn
(Modal Diskon dan Gratisan)

Learn & Relearn


Learn & Relearn

Vajra Series kali ini adalah hasil belajar pada seorang crafter yang menjadi “guru” tempat saya belajar dari jauh. Ya, saya memang senang belajar dan kembali belajar.

Sang guru itu … saya mengagumi semua karyanya. Namun lebih kagum lagi pada caranya menyebarkan ilmu tanpa pandang bulu.

Guru, di mata saya, adalah pekerjaan yang begitu mulia. Bahkan saya, yang terkenal tidak sabaran ini pun, sebenarnya memiliki sedikit obsesi untuk menjadi seorang pengajar.

Rasanya bahagia sekali ketika ada orang yang mendapat ilmu dari diri ini. Apalagi ketika ilmu itu mampu menjadi pijakan batu, untuknya melangkah maju. Di situ rasanya ada kepuasan yang tak terganti meski dengan apapun. Terutama … rasa bangga ketika melihatnya sukses karena berani maju.

Inilah hasil belajar saya dari sang “guru”, yang ilmunya saya adopsi dalam berbagai bentuk, menggunakan kristal batu.

Thank you, You!
Love,
Rere

BELIEVE


BELIEVE

“I feel really stressed out, Bunda. Express is hard. School is hard. I get headaches and I’m super sleepy even sometimes after sleeping around 10. I’m not sure how much longer I can cope with it … I’m sorry, Bunda. I’ll try harder.”

Begitu sebagian dari pesan singkat yang saya terima kemarin. Lana, putri kedua saya mengirimkannya di sela masa istirahat sebelum kegiatan ekskulnya dimulai. Pesan singkat tak singkat, yang cukup membuat saya mundur untuk berpikir.

Saya menelaah kata demi kata yang dikirimkannya itu. Berpikir ulang apakah tepat keputusan saya mendorongnya mengambil tawaran untuk masuk kelas akselerasi, atau express stream namanya di sini. Ia juga mengeluh bahwa pada saat yang bersamaan dengan musim ujian di sekolah, madrasah tempatnya belajar agama juga mengadakan ujian.

Saya merasa ia hanya takut menghadapinya. Ia takut gagal. Apalagi setelah 1 mata pelajarannya di sekolah, mendapat nilai yang tidak sesuai harapan. Padahal ia merasa mampu.

Ia lalu bertanya apakah ia bisa belajar pada saya saja tentang Islam, hingga tak perlu datang dan belajar di kelas madrasah. Hmm … ilmu saya sangat tak cukup untuk membekalinya dengan pengetahuan tentang agama. Saya pun masih terus belajar. Itu sebabnya saya mengirimnya belajar ke madrasah, dengan harapan ilmu yang mereka dapat bisa menjadi pegangan dalam hidup kelak.

Sepulangnya dari sekolah, kami mulai berbicara dari hati ke hati. Setelah mendapat banyak pencerahan dari sang ayah, tiba giliran saya berbicara padanya. Sebelum mulai, saya memeluknya dan berkata betapa bangganya kami semua pada segala pencapaiannya di sekolah selama ini.

Sambil mengusap lembut kepalanya, saya mengatakan bahwa saya paham ketakutannya menghadapi ujian. Ia takut karena memang tidak mempersiapkan diri dengan baik, hingga tak punya kepercayaan diri yang cukup. Namun hidup sejatinya berisi penuh ujian, Nak. Jika satu ujian saja membuatmu mundur bahkan sebelum mencoba, bagaimana kamu akan menjalani hidup kelak? Hidup yang pasti akan semakin tidak mudah.

Gagal itu biasa, yang tidak biasa adalah tidak pernah gagal … karena tidak pernah berani mencoba.

Saya mengajaknya untuk mengurai masalah dan mencoba fokus satu per satu untuk menyelesaikan dengan segala kemampuan. Ia saya ajarkan untuk percaya pada kemampuan dirinya sendiri.

If you think you can, you will. If you think you can’t, you won’t.

Ingat, Nak. Ujian itu harus ada, untuk melihat batas kemampuan kita. Kemampuan yang kita dapat melalui proses belajar yang tanpa henti, hingga kelak tiba di ujung hari. Belajar yang harus membuat kita semakin merunduk, bukan mendongak pongah. Bak ilmu padi yang kerap menjadi nasihat.

Jangan mundur menghadapi ujian yang ada di depanmu. Maju dengan berani, percaya pada diri sendiri. Bekali diri, dan jangan pernah menyerah meski hanya sekali.

Pembicaraan pun kami tutup dengan pelukan hangat serta janji, bahwa ia akan mencoba lebih keras menghadapi semua ujian di hadapan. Kerjakan satu per satu, jangan menumpuknya dan hanya pergi berlalu. Selesaikan tugasmu, manfaatkan setiap detik hidupmu.

If you believe in yourself, anything is possible.

Love,
Rere

SewAdorableYou


SewAdorableYou

S.A.Y adalah project remaking old clothes yang selalu saya buat setiap kali mood menjahit datang.

Sudah menumpuk jeans lama milik suami yang sudah tidak dipakai, dan sedang menanti sentuhan. Hari ini saya bertekad akan mulai satu demi project ini lagi. Kasihan “Si Abang” sampai berdebu tak pernah kena sentuh.

Semangat saya yang berkobar rupanya mendapat ujian. Si Abang ngadat. Benang yang harusnya melekat erat pada jarum mesin, kerap terlepas. Belum lagi lampu yang berkedip-kedip genit, kemudian byar pet mati tanpa permisi. Ah, Abang … ngambek rupanya.

Beruntung dua celana milik si dia berhasil saya selesaikan.

Celana hitam, saya padukan dengan rok plisket berwana maroon, milik saya jaman dahulu kala. Terinspirasi dari rok cantik milik Nagita Slavina yang berharga fantastis. Saya juga punya lho, Mbak Gigi. Sedangkan celana hijau, saya tambahkan hiasan ruffles di bagian depan sebagai pemanis. Lumayan, kan?

Jadi, punya baju atau celana yang sudah bosan dengan model yang itu-itu saja? Remake, yuk. Lumayan … ngirit. 😉

Love,
Rere

Hey, You!


Hey, You!

Kamu … sudah selesai belum dengan dirimu utuh?
Kamu … sudah selesai belum berdamai dengan kemarahan yang terpendam?
Kamu … sudah selesai belum dengan proses menerima segala kelemahan, tanpa berusaha sekuat tenaga untuk kelihatan kuat?

Kalau belum, berdamai dulu dengan dirimu, deh.
Hingga tak perlu selalu menanggapi banyak hal dengan amarah.
Hingga tak perlu menjadi “sour” seperti jeruk kecut atau kaku bak kanebo kering pada orang lain.
Hingga tak perlu melihat banyak hal dengan hati penuh prasangka.

Kamu … coba peluk dirimu sendiri dulu.
Kamu … coba bilang, “Aku mengerti kemarahan dan kesedihanku. Aku menerima dan akan menghadapi segala rasanya, tanpa harus repot berlari untuk menghindar.”

Kalau sudah, welcome back!

Love,
Rere