MIMPI BURUK


MIMPI BURUK

“Wah, ada sandal bagus. Kebetulan sandalku sudah buluk.”

Dengan tenang, Adul memakai sandal berwarna coklat muda yang dilihatnya tergeletak di depan warnet tempatnya bermain games hari itu. Ditinggalkannya sandal plastik berwarna biru yang telah usang, namun sudah bertahun-tahun menemaninya berjalan ke sana kemari itu.

Ia pun bergegas pulang meninggalkan tempat itu, takut sang pemilik sendal yang asli tiba-tiba muncul. Meski bukan miliknya, Adul merasa bahagia dan bolak balik menatap sandal cantik yang menghiasi jemari kakinya itu dengan bangga.

“Akhirnya, punya juga aku sandal kekinian yang mirip seperti punya teman-teman. Keren, nih!”

Setibanya di rumah petak yang disewanya bersama sang ibu, Adul bergegas mandi. Sandal barunya ia letakkan dengan rapi di bawah lemari. Semoga tidak ada tikus yang menggerogoti. Ia lalu merebahkan diri di atas kasur tipis yang ada di sudut rumah kecilnya itu. Sambil menatap langit-langit rumah yang sudah berwarna kusam itu, Adul memikirkan nasibnya yang pilu.

Sejak kecil ia hanya tahu sosok sang ibu. Wanita pekerja keras yang sehari-hari berjualan sayur hingga beras. Ia tak tahu di mana bapaknya berada. Ibu hanya bilang, laki-laki itu minggat, artinya pergi entah kemana. Adul kesal sekali, karena berarti ia harus banting tulang menghidupi diri. Padahal ia malas sekali.

Adul juga tidak pernah merasakan bangku sekolah. Kerjanya hanya membantu Bang Amat si tukang parkir, atau sesekali menjadi tukang angkut barang di pasar. Uang hasil kerjanya habis di warnet untuk bermain games kegemarannya. Telinganya sudah bebal dimarahi ibu setiap hari tanpa jeda.

“Semoga Ibu tidak melihat sandal yang kuambil tadi. Bisa habis telingaku dijewernya sambil dimarahi sampai akhir bulan.”

Diliriknya sandal yang ada di bawah lemari kayu usang, tempatnya meletakkan baju yang hanya beberapa helai saja. Sandal itu seperti bersinar terang, hingga Adul tertidur dalam senyuman.

“Ibuuuuu! Kakiku sakit sekali! Kenapa sandal ini membuat kakiku nyeri?”
“Apaan sih, Dul? Berisik sekali! Ibu sedang masak, nih!”
“Lho! Ibuuuu mana sandal coklatku yang baru? Kenapa sandalku berubah seperti ini? Ini kan sabut kelapa!”

Adul menjerit kesakitan dan heran, melihat sandal coklat barunya mendadak berubah menjadi sabut kelapa dengan tali biru. Seperti sandal buluknya dulu! Kakinya pun terlihat mengeluarkan darah karena sabut kelapa yang tajam dan melukai kulitnya itu.

“Sandal coklat apa? Mana kau punya sandal coklat, Adullll? Sandalmu kan berwarna biru!”
“Aku … aku … punya sandal baru, Bu. Warnanya coklat, cantik sekali menghiasi kakiku. Tadi … aku letakkan di bawah lemari baju. Kenapa … kenapa sandalku hilang dan berubah begini?”
“Sandal coklat baru? Dari mana kau punya uang untuk membeli, ha? Kau curi milik orang lain, ya? Adul! Kau curi barang milik orang? Nanti kau dicokok polisi dan dimasukkan penjara baru tahu rasa!”

Seketika teriakan ibu menggema bak petir di siang bolong. Ia marah sekali dan menjewer telinga Adul dengan keras. Ibu memang selalu berpesan padanya untuk tidak pernah mengambil apa-apa yang bukan miliknya, meski hidup mereka serba kekurangan. Hidup sederhana dan jujur, begitu selalu nasehatnya sejak Adul kecil.

Adul menangis. Bukan hanya karena telinganya sakit, tapi karena sudah berani mencuri dan telah melanggar janjinya pada ibu untuk selalu jujur. Ia juga takut ditangkap pak polisi lalu dimasukkan ke penjara karena telah mencuri sandal.

“Ibuuuuu! Maafkan Adul! Huhuhuhu! Adul mau mengembalikan sandal coklat itu. Adul kapok, Bu. Tapi … tapi … sandalnya sudah jadi begini,” ujarnya sambil mengangkat sepasang sandal yang terbuat dari sabut kelapa dan berbentuk aneh itu.

“Adul! Adul! Bangun, woy! Mimpi apa, sih? Sampai teriak-teriak begitu?”
“Ha? Sandalku! Sandalku mana? Sandal …” Adul terbeliak menatap wajah Bang Amat yang menatapnya dengan heran.
“Sandal sandal! Sana kerja! Tidur aja, lu!” Ujar lelaki berambut plontos di hadapannya itu sambil memukul kepalanya dengan sebuah sandal.

Sandal plastik berwarna biru buluk miliknya yang digenggamnya erat kala tertidur di pos ronda tadi siang.

Honesty saves everyone’s life.

Love Life, Rere

Sumber Photo: Internet

Dedicated untuk para peserta RNB 3 dengan tantangan menulis bertema. Tantangan yang mengajarkan saya untuk membuka mata dan keluar dari segala keterbatasan. Enam ratus lebih kata dalam satu jam saja. Kalian pasti bisa!

ENOLA HOLMES


ENOLA HOLMES

Film dengan tokoh perempuan yang tangguh, jagoan, dan berani memang selalu memiliki daya tarik tersendiri bagi saya.

Beberapa serial yang bercerita tentang seorang perempuan jagoan, rela saya tonton meski puluhan seri banyaknya. Sebut saja Supergirl. Mata perih pun tak saya rasa demi menonton aksinya membabat para penjahat. Tak sabar rasanya menunggu kelanjutan serial si gadis besi berjubah merah.

Dulu sekali, Xena adalah serial favorit saya jaman rikiplik. Sambil menonton, saya akan berkhayal melakukan pertarungan dengan para tokoh jahat. Xena juga yang membuat saya mempelajari bela diri. Walaupun belum lagi berubah sakti, tubuh ringkih saya sudah tergeletak sakit.

Hari ini saya menonton sebuah film baru di Netflix. Enola Holmes. Holmes? Yep. Enola adalah adik bungsu Sherlock Holmes. Sang detektif terkenal, yang diperankan oleh si Superman ganteng berdagu belah, Henry Cavill.

Film yang sangat menarik buat saya. Karena Enola diceritakan menentang stereotype perempuan di masa itu. Ia yang seharusnya berlaku santun, dan mampu melakukan pekerjaan layaknya perempuan, malah dibesarkan bak seorang jagoan.

Ia tidak bisa membordir kain atau baju, tapi bisa menendang musuh dengan Jiujitsu. Ia tidak bisa duduk dengan manis di meja makan, tapi mampu memecahkan masalah dengan brilian.

Enola adalah gambaran perempuan masa kini yang jauh dari standar sosial dan berani berbeda, namun ia tetap memiliki perhatian pada sekitar.

Hmmm … siapa yang membentuk kepribadian Enola? Tak lain dan tak bukan adalah ibunya. Perempuan pintar yang mengajarkan sang putri pentingnya membaca dan membuka mata. Termasuk pentingnya berani membela diri meski berjalan sendiri.

Kelak, Enola Holmes menjadi seorang detektif perempuan terkenal, yang jauh lebih cerdik daripada Sherlock Holmes. Keren, kan?

Jadi, masih berpikir bahwa perempuan tidak perlu pintar untuk menjadi seorang ibu?

Think again.

Love Life,
ReRe

Photo Credit: Netflix

Hmmm ….


Hmmm ….

Semakin banyak melihat
Semakin banyak kelucuan tersemat
Rasanya kumerindu banyak saat
Ketika semua begitu sederhana tanpa sekat

Dunia ini panggung sandiwara memang
Tempat beragam topeng terpampang
Bahkan senyuman ternyata tak melulu riang
Kegundahan pun tak selalu bak airmata tergenang

Susahnya karena terlalu banyak melihat
Rasanya ingin sekali terbang bak kilat
Tak perlu nampak meski hanya sekelebat
Ahhh … mata sudah terpejam, telinga berdesing cepat

Bosanku sudah di ujung hari
Meski pergi bukan kehendak diri
Lucu yang manis masih jadi penghibur hati
Meski kadang terlalu manis bikin sakit gigi

Mungkin harus berhenti pakai hati
Hingga berlalu tak sulit lagi
Hanya ingin menghargai hari
Yang makin cepat berganti


Entah bila semua akan berhenti detaknya … di panggung ini.

Love Life,
Rere

Compassion & Self Reflection


Compassion & Self Reflection

“You know what, Bunda? One day I will go up to our neighbour and tell them that they are very noisy.”
“You mean the neighbour upstairs?”
“Yes. They always make annoying sounds. Children running everywhere, footsteps, very noisy! I can’t sleep you know!”
“Halah! Before you do that, make sure you didn’t make our neighbour downstairs feel the same way, too. You are very annoying most of the time, you know? When you watch TV, you always jump around and stomp your feet. Don’t you think they feel the same way, too?”

Makcep!

Rayyan … Rayyan.

Inget ya, Nak. Kita ini memang paling mudah melihat cacat, cela, dan segala kekurangan orang lain.

Bak kuman yang begitu kecilnya di seberang lautan, namun bisa nampak … padahal ada gajah segede gaban di depan mata yang tak nampak.

Protes sesekali memang perlu, tak salah. Tapi sebelum melayangkannya pada orang lain, “dheloken jithokmu dhewe sek, cah bagus.” Lihat kekurangan diri sendiri dulu. Kita begitu enggak sama orang lain? Kalau iya, ya jangan protes ketika mendapat perlakuan yang sama dari orang lainnya.

Lha wong kamu sendiri yo gedubrakan tur pencilakan di rumah, sampai harus selalu diingetin buat duduk anteng, kok ndadak protes² barang.

“You have anything to say?”
“Mmm … no,
Bunda. I promise I won’t do that again … but I can still talk to our neighbour upstairs, right?”
“Hilih! Gayamu!”

If your compassion does not include yourself, buy a new mirror. (Rere)

Love Life, Rere

DUA BEDA


DUA BEDA

Pagi tadi saya tertarik menyimak postingan seorang sahabat perempuan, yang sering saya baca insightnya seputar dunia perempuan.

Saya bertemu suami di usia yang sudah tidak muda lagi. Terhitung telat untuk ukuran kerabat dekat. Karena di saat saya masih sibuk keluyuran, ugal-ugalan, dan seneng-seneng sendiri, beberapa teman perempuan sudah menyenandungkan nina bobo buat sang buah hati.

Saya bahkan sempat tidak tertarik sama sekali buat menjadi seorang istri. Justru lebih tertarik menjadi ibu tanpa perlu terikat dalam sebuah lembaga pernikahan yang rumit. Sampai akhirnya saya bertemu seorang lelaki.

Laki-laki bertinggi 182cm (lumayan buat perbaikan keturunan) yang berjarak ribuan mil jauhnya waktu itu. Ia tak pernah surut langkah untuk membina komunikasi dengan saya. Perempuan mungil yang hanya dilihat fotonya dari sebuah sosial media. Meski harus terbelalak setiap kali tagihan ponsel sampai ke tangannya.

Psstttt! Jaman dulu belom ada kamera jahanam, ye. Tapi eh tapi … si perempuan juga belom ketemu panci, pampers, apalagi pakek ngosrek toilet. Jadi memang aslik kinclong dan kecenya. Duluuuu. Hahaha!

Anyways, sembilan bulan berkomunikasi tanpa jeda sampai saya dijuluki Miss Ring-Ring, saking enggak pernah lepas ponsel dari telinga. Apa saja yang kami bicarakan, sih? Banyak. Saya kerap memunculkan sebuah contoh kasus yang umum, sambil mencari tahu bagaimana sikapnya akan hal tersebut.

Tentu saja belum sampai pada pembicaraan yang terlalu mendalam, seperti pemilihan alat kontrasepsi. Hahaha! Saya sendiri juga masih bloon, kepikiran buat bertanya pun tidak. Lagipula, kami baru saja saling mengenal. Bisa makjegagig dia kalau tiba-tiba diajak diskusi seputar KB.

Anyways, dalam masa sembilan bulan itu hanya 5 kali saja kami bertemu secara langsung. Lima kali yang membawa saya pada sebuah ketetapan hati, setelah “memaksanya” memilih. Mau berhubungan serius, atau sekedar iseng tanpa tujuan hidup.

Ya, saya emang tukang maksa. 🤣

September kemarin, lima belas tahun sudah perjalanan kami, dan pastinya sangat tidak mudah. Beda budaya, beda latar belakang, beda didikan, beda kebiasaan, bahkan beda bahasa juga sering jadi kendala.

Beruntung saya bukan perempuan yang “diam”. Jika ada masalah mengganjal, saya akan bertanya meski kadang berujung diem-dieman. Biar saja, yang penting tidak ada masalah disembunyikan karena berhasil menemukan satu titik yang sama.

Meski saya terhitung keras kepala dan enggak bisa dilarang, saya tetap meminta ijinnya setiap kali ingin melakukan sesuatu. Be it menimba ilmu, sekedar nongkrong tak tentu, atau jalan dengan temen yang itu-itu. Saya mengharuskan diri untuk minta ijin selalu.

Beruntung, laki-laki itu bukan tipe ribet. Tak selalu mengangguk setuju, kadang ia juga melarang meski saya harus paham alasannya dulu. Di awal tahun pernikahan, sih, saya masih ndableg. Dilarang enggak bakal mempan. Sekarang saya lebih manutan, karena merasa larangannya memang untuk menjaga saya … yang sudah vintage nan langka ini. Susah nemunya lagi.

Jadi, enggak ada patokan untukmu tahu apakah ia lelaki yang tepat atau bukan, untuk menjadi pasangan seumur hidup. Hanya pengalaman. Pengalaman mengenal banyak lawan jenis disertai rangkaian “interogasi” terselubung. Selanjutnya, percaya lah pada instinct dan gut feeling.

Untukmu yang sedang gundah, jangan takut membuat pilihan dengan membuka seluruh panca indra. Don’t be blinded, karena waktu tidak bisa diputar ulang.

Kalau terlanjur sayang meski ternyata tak menemukan kecocokan, gimana? Selama tidak ada kekerasan, verbally maupun physically, banyak-banyak lah komunikasi. Sounds clichè tapi sangat penting dilakoni.

Jangan jadi perempuan yang “pendiam”. Stand up, speak out. Karena hanya dengan “tidak diam”, YOU can change anything.

Love Life,
ReRe

Kamu Dan Kenangan – Maudy Ayunda (Cover)

Being Brave


Being Brave

“Maaf, Cik, tengah cuci bilik toilet, kah? Baju saya jemur jadi basah semua.”

Kemarin seorang tetangga, dari lantai 3 bangunan apartemen kami, mengetuk pintu rumah. Ia ingin tahu apakah kami sedang membersihkan toilet sampai airnya keluar jendela, hingga membasahi deretan baju yang sedang dijemurnya.

Kami tinggal di lantai 5, dan jendela toilet menghadap tepat ke arah tempat kami semua biasa menggantung galah jemuran. Herannya, hari itu saya tidak sedang ngosrek toilet. Lagian saya tidak pernah membersihkan jendela dengan menyemprotkan banyak air. Biasanya hanya saya lap saja.

Setelah suami saya selidiki ternyata jendela toilet memang terbuka dan … basah! Jadi benar lah ada orang yang menyemprotkan air lewat jendela.

Hmmm … siapa pelakunya, ya?

Ya, siapa lagi kalau bukan Rayyan.

Rayyan … memang tak selalu manis. Ia kadang “teramat manis” sampai membuat kami semua kesal dan meringis. Menurut pengakuannya, ia iseng saja menyemprotkan air melalui jendela toilet ketika sedang BAB. Gustiiiii! 🤦🏻‍♀️ Ia tidak mengerti bahwa di luar sana ada deretan baju sedang dijemur.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, ia akhirnya turun ke lantai 3, dan menemui sang pemilik baju itu. Didampingi kedua kakaknya, ia meminta maaf karena tanpa sadar melakukan hal yang merugikan orang lain.

“I’m so sorry, it was ME who sprayed the water through our toilet window. I didn’t realize that I’d wet your clothes. I’m so sorry.”
“Well, though I have to wash my clothes again, but it’s okay. Thanks for telling me this.”
“I won’t do it again. I’m sorry.”

Kami sedang mengajarkan Rayyan artinya berani. Bukan sekedar berani menghadapi kesulitan, namun juga berani mengakui kesalahan, dan berani meminta maaf. Hal mendasar dalam pendidikan di rumah, yang saya dan suami tekankan sejak mereka kecil.

Jangan segan meminta maaf dan mengakui kesalahan. Be humble and have courage.

Well, begini lah romantikanya tinggal di rumah susun. Meskipun saya tidak mengenal tetangga atas maupun bawah, saya bahkan selalu mengingatkan anak-anak untuk menjaga sikap. Misalnya dengan tidak berjalan kaki di dalam rumah bak gajah dengan bobot yang berat, atau terlalu ribut hingga membuat tetangga di sekitar pusing kepala.

Apalagi jika membuat mereka harus mencuci ulang baju yang basah kuyup karena ulah iseng Rayyan ini, contohnya.

“I’m sorry, Bunda. I’m sorry, Ayah.”
“Do 10 times push up!”
“Haaa? But … but ….”
“No buts!”

Love Life,
Rere

N G A M U K


N G A M U K

Well, setelah marah kemarin, lantas apa yang saya kerjakan untuk meredamnya?

Gampang.

Saya membeli es krim kegemaran, yang biasanya saya tahan untuk membeli karena harganya yang bagi saya mahal. Biasanya saya berpikir, “sayang, ah. Mending buat beli fresh milk anak-anak.” Hari itu, saya memasukkannya ke dalam keranjang belanjaan.

Kemudian, saya meninggalkan anak-anak di sebuah restoran fast food sebagai treat untuk mereka. Saya jarang sekali membawa anak-anak jajan di luar dan lebih suka memasakkan hidangan kegemaran mereka di rumah. Selagi meninggalkan mereka menikmati “jajan mevvahnya”, saya melangkah masuk ke sebuah gerai baju.

Sudah beberapa hari saya eyeing sehelai cardigan bermotif lucu. Tadinya saya hanya menghela nafas panjang melihat deretan angka di sana. Biasanya lagi-lagi saya berpikir, sayang, ah. Mending buat beli groceries.

Hari itu, saya memasukkan cardigan cantik itu dalam keranjang belanjaan. Sambil terus menikmati pemandangan baju-baju cantik di sekitarnya.

“Oh well, I’ll take this, too. Ah this one too, lah.”

Saya bertekad akan menghadiahi diri sendiri dengan sejumlah angka hari itu. Asikkkk! Baju baru!

“Wow! You went shopping, Bunda?”
“Yep. It’s a reward that I deserve, right?”
“I give you my salary later,
Bunda. So you can buy whatever you want.”
“Okay,
Rayyan. I’ll keep that in mind. Make sure you keep your promise.”

Kemudian kami pun mulai tertawa bahagia lagi.

Tentu saja ini bukan satu-satunya cara saya meluapkan amarah. Jika setiap kali marah saya belanja, mungkin tak akan ada beras dan makanan di rumah jadinya.

Kadang saya melampiaskannya dengan ngamuk dan mengubah interior rumah. Bak Supergirl setengah tua, saya mampu memindahkan sebuah tempat tidur berukuran besar dan berat … sendirian. Kemudian memanjat apapun untuk membereskan gudang. Setelah itu semua penghuni akan dengan terpaksa ikut membereskan rumah dan kamar masing-masing, sambil bersungut-sungut kesal.

Saya … tinggal berkacak pinggang dan memerintah ini itu bak seorang mandor bangunan.

Sweet revenge, ain’t it? *smirk*

Be happy, Moms.
Supaya tak ada lubang dalam hatimu, untuk membuat orang lain tidak bahagia sepertimu hari itu.

Happy Moms, Happy Homes, kan? *winks*

Love Life,
Rere

Photo Credit: Suryatmaning Hany

SuperBunda

M A R A H


M A R A H

“Did you bring pencil case, Rayyan?”
“Eeee … no,
Bunda. I forgot.”
“Astagfirullah!”

Sepagian ini saya sudah marah tentang banyak hal di rumah. Marah as in … marah. Bukan hanya pada Rayyan, namun semua penghuni rumah.

Ketika marah, saya memang akan meluapkan segala hal tanpa ragu. Begitu lah saya … and it’s humane, Moms.

Tak perlu berusaha keras menutupi segala perasaanmu demi menjadi contoh terbaik untuk anak-anak.

Just be you.

Well, saya memang bukan contoh ilmu parenting yang baik, karena ketika marah, saya akan menunjukkan bahwa saya sedang marah. Tentu saja marah karena suatu hal, bukan marah tanpa alasan. Setelah selesai meluapkan kemarahan, saya biasanya mengajak anak-anak untuk bicara. Bertukar pikiran mengenai sebab dan alasannya, lalu saling meminta maaf.

Mereka harus tahu bahwa ibunya sama seperti mereka semua … bukan robot. Ibunya juga seorang manusia dengan hati, dengan mood yang sesekali swing ke sana kemari. Dengan raga yang juga bisa merasa lelah sekali, kadang juga bisa bosan atas rutinitas sehari-hari.

Tidak perlu berusaha keras menutupi itu semua, Moms, Ladies. Karena semakin keras usaha kita menutupi kemarahan itu dan bersikap seolah ia tidak pernah ada, semakin banyak hal tanpa sadar akan kita hancurkan. Misalnya, dengan meluapkannya melalui deretan kata di sosial media instead of dealing with it. Percayalah, bukan solusi yang kalian dapat kecuali persoalan baru … atau mungkin bahan gosip terbaru. 🥴

So, deal with your anger. Face it, luapkan bukan tuliskan, lalu cari cara untuk membuatmu tersenyum kembali.

Shopping baju baru mungkin? 😉

Love Life,
Rere

TIMEOUT


TIMEOUT

“Everybody in your room now.”
“Whyyyyyyy?”
“I need to do some works.”
“I’ll turn the volume down, Bunda.”
“Nope. I want a quiet place. Go inside now, please.”
“Guys! Give
Bunda some time.”

Begitu lah perintah saya pada anak-anak ketika sedang mengerjakan sesuatu. As simple as membuat tulisan sederhana ini.

Biasanya saya akan meminta waktu untuk sekedar duduk dan menulis dalam suasana yang sepi. Akibatnya semua harus masuk kamar dan meninggalkan saya di luar dengan tenang. Entah untuk menulis atau melakukan terapi tapping.

Suami saya adalah support system paling besar dalam hal ini. Berpikir bahwa ia bakal ribut atau protes, alih-alih ia sendiri yang memerintah anak-anak untuk masuk kamar dan membiarkan saya menyelesaikan pekerjaan, seremeh apapun itu.

Moms, sesekali kita butuh waktu sendiri. Sekian jam dari 24/7 merelakan tubuh dan pikiran terfokus pada rumah tangga, rasanya tidak akan menjadikan kita ibu yang buruk karena merasa egois.

Menghadiahi diri untuk memikirkannya selama beberapa saat, adalah tanda bahwa kita mencintai tubuh ini. Dengan tidak memperlakukannya bak sedang kerja rodi, karena tubuh ini bukan terbuat dari besi yang selalu tahan banting.

Dirimu butuh juga diperhatikan, dan disayang sebagaimana caramu memperlakukan sekitar. Bagaimana sih kita bisa mencintai orang lain jika pada jiwa dan raga yang bertahun-tahun dipakai bekerja tanpa henti saja, kita tidak bisa.

Pastikan kita memiliki waktu untuk diri sendiri, Moms! Karena jiwa yang bahagia datang dari raga yang sehat. Kesehatan yang tumbuh dari kesadaran untuk mencintai diri sendiri dan itu bukan tanda dirimu egois. Percayalah, ibu yang bahagia akan membuat seisi rumah bahagia.

Love yourself is not selfish!

Love Life,
Rere.

C I N T A Ini …


C I N T A Ini …

“I want to kill myself.”
“Astaga! Alma! Sadar! Oy! Ngomong apa, lu?!”

Bergetar jemari Tania membalas pesan singkat yang diterimanya dari sang sahabat.

Alma, putri tunggal seorang pengusaha kaya raya. Ia cantik, seorang model yang cukup terkenal, baik hati dan tidak sombong. Kehidupan yang sangat berkecukupan tidak pernah membuatnya tinggi hati. Ia bahkan mau bersahabat dengan Tania sejak kecil, yang hanya putri seorang pegawai kantor sederhana di salah satu perusahaan milik Ayahnya.

Tania begitu mengagumi Alma. Kadang ia pun tak habis pikir, mengapa Alma mau bersahabat dengannya. Padahal sebagai kembang di kampus, tidak sedikit mahasiswi tajir bak sosialita, yang mendekati, dan ingin menjadi sahabatnya. Tapi Alma malah lebih suka nongkrong di warung mie ayam seberang kampus bersama Tania.

“Aku kesepian. Jangan tinggalkan aku, Tania.”

Rumah megah bak istana dengan deretan mobil mewah, ternyata tidak cukup membuat Alma bahagia. Ia tumbuh dewasa menjadi sosok yang rapuh dan lemah. Jika saja Tania tidak menjaga bahkan kerap memarahinya, mungkin Alma sudah terjerumus dalam buaian semu zat psikotropika.

Orang tua Alma memang kerap meninggalkannya sendiri, karena sibuk dengan bisnis dan dunia gemerlap mereka masing-masing. Alma, yang dilahirkan di luar sebuah pernikahan resmi, merupakan “beban” bagi mereka. Sebuah kehidupan yang tidak pernah diharapkan kehadirannya.

Alma kecil lalu tumbuh dewasa di bawah asuhan beberapa asisten rumah tangga. Mereka yang diam-diam begitu dibencinya, hingga ia seringkali berulah untuk membuat para asisten itu diberhentikan dari pekerjaannya. Yang tersisa hanya Mbok Sarmi yang sudah berusia lanjut dan Mang Diman sang supir keluarga.

Orang tua Alma pun menyerah dan membiarkan sang putri mengurus dirinya sendiri. Bagi mereka, melimpahi hidup Alma dengan materi, dirasa cukup. Toh ada Tania, sang sahabat yang sudah dianggap seperti anggota keluarga sendiri. Mereka tidak menyadari bahwa kebebasan yang diterima Alma membuatnya semakin kesepian. Ia sering terlihat murung sambil memeluk sebuah boneka. Boneka usang yang tidak pernah lepas dari pelukannya, milik Tania yang direbutnya ketika kecil dulu.

Pesta kelulusan yang seharusnya menjadi momen membahagiakan bagi para mahasiswa, nyatanya hanyalah sebuah episode buruk dalam hidup Alma. Tania, yang datang dengan orang tua dan calon suaminya nampak begitu bahagia berfoto bersama. Sementara di suatu sudut, Alma menghembuskan asap rokoknya sambil memandang senyum Tania dari kejauhan dengan tajam.

“Al! Ngapain lu di sini? Ayo, foto sama gue. Om dan Tante Sofyan mana?”
“Mati.”
“Ih, udah gila ni anak! Amit-amit! Udah sih, ngerokok mulu! Betulin, tuh, make up lu.”
“Foto sama sapa? Pacar lu? Males gue!”
“Ihhhhh! Berdua aja. Yuk. Ayo, lahhh. Abis ini lu cabut ke luar negri. Kapan lagi kita foto berdua.”

Tangan Tania pun menggeret lengan Alma yang melangkah dengan malas sembari cemberut. “Kamu bodoh, Tania! Kamu tidak paham perasaanku! Sial!” Maki Alma dalam hati. Sambil memperhatikan Tania dari belakang, terbayang wajah manisnya ketika ia menginap di rumah megahnya dulu. Tania yang cantik, baik hati dan menyayanginya seperti … seperti seorang adik kecil. Alma mendengus kesal.

“Al, ini undangan pernikahanku. Kamu pulang, ya, ke Indonesia. Jangan sampai nggak datang. Awas!”

Pesan singkat yang diterima Alma berupa sebuah undangan cantik dengan foto Tania dan Raka, membuatnya histeris. Ia melempar gawai berharga mahal pemberian sang Ayah ke dinding kamar apartemennya, hingga hancur berkeping. Alma menjerit, meraung, dan menangis sejadi-jadinya.

“Taniaaaa! Bodoh lu! Bodohh!” Tangannya meraih sesuatu yang tersimpan di dalam laci sebelah tempat tidurnya. Sebotol penuh obat tidur yang menemani hari-hari Alma, karena insomnia akut yang dideritanya. Dengan gemetar, ia menelan semua isinya sambil menenggak sebotol minuman beralkohol. Sebentar kemudian ia menggelepar dengan mulut berbusa.

“I want to kill myself.”
“Astaga! Alma! Sadar! Oy! Ngomong apa, lu?!”

Tangan gemetar Tania menekan nomor gawai milik Tante Sofyan yang dijawab lama sekali setelah ia berkali-kali menghubungi. Suara keras musik disko yang terdengar di latar belakang, membuat Tania harus bicara sambil berteriak. “Tante!!! Alma ingin bunuh diri. Tante di mana? Tolong lihat Alma, Tante. Toloong.”

“Aku mencintaimu, Tania. Mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Mungkin kau tak sadar makna belaian tanganku di wajahmu. Mungkin kau tak sadar pelukan hangatku ketika kau tidur. Bahkan kecupan mesraku di dahimu. Boneka lusuh yang kurebut darimu dulu, adalah pengganti wujudmu untuk mengisi hariku yang sepi dan tanpa arti di sini. Aku tidak ingin menjadi adikmu, Tania. Aku ingin menjadi … kekasihmu. Maafkan aku. Selamat tinggal, Tania. Semoga kau berbahagia dengan Raka. Aku benci padamu.”

Wajah Tania pucat pasi menerima sepucuk surat berwarna jingga dari Tante Sofyan.

“Tania, Alma ditemukan meninggal dunia di kamar apartemennya sambil memeluk boneka yang direbutnya darimu dulu. Surat ini mereka temukan di dalam laci kamarnya bersama puluhan alat suntik bekas pakai. Tante menyesal. Tante berdosa pada Alma,” tangis Tante Sofyan kemudian terdengar samar. Pandangan Tania seketika gelap, ia meraung memanggil nama sang sahabat, kemudian terkulai lemah.

“Alma!!!!”

Tamat

Re Reynilda