•• GRATITUDE ••

“Bunda, why are we never celebrating your birthday?”

Pertanyaan ini muncul dari si bungsu beberapa hari setelah kami merayakan pertambahan usianya, di awal April yang lalu.

Sambil tersenyum, hanya kujawab, “It’s okay. I didn’t expect anything from anyone.”

Jawaban ini ternyata membuat matanya berkaca-kaca. Lelaki kecil berhati baik itu lalu memeluk sambil berjanji, bahwa ia akan membuatkan scrambbled egg andalannya, di hari ulang tahunku nanti. Masakan, yang menurutnya lebih sedap daripada buatan sebuah gerai fast food terkenal. 🤣

Ternyata di hari Minggu itu, sinusitis menyerang hingga hanya tiduran saja yang bisa kulakukan. Kupilih sofa nyaman di ruang TV, yang jauh dari kipas angin maupun pendingin ruangan.

“Hi, Bunda. What’s the date today?” tanya si bungsu sambil memeluk, seperti yang biasa dilakukannya setiap melihatku di mana saja.

Mendengar bahwa hari itu adalah tanggal 10 April, ia nampak kaget. Lalu bergegas pergi untuk mandi, setelah sebelumnya membangunkan sang kakak.

Tak lama kemudian, ia dan sang kakak meminta ijin untuk jalan-jalan sebentar ke bawah block apartemen tempat kami tinggal. Sambil menahan beratnya kepala, hanya bisa kuingatkan untuk segera pulang karena cuaca sudah mulai panas, sementara mereka berdua sedang berpuasa.

Setelah itu tidur dan tidur saja yang kulakukan seharian. Tanpa sadar, ternyata ada empat manusia di rumah, yang sibuk hilir mudik, melakukan sebuah konspirasi sambil berbisik.

Waktu berbuka pun tiba. Dengan lesu, kududuk di meja tanpa sempat berpikir akan makan apa semua.

“Ah, mungkin suamiku sudah memesan sesuatu untuk berbuka,” begitu pikirku.

Kemudian, sebuah brownie cake berbentuk hati, tiga buah kotak berbeda ukuran, serta sebuah pot kecil berisi bunga plastik dengan selembar kertas, disodorkan mereka ke hadapan.

“Happy birthday, Bunda!”

Rupanya, seharian mereka mondar mandir mempersiapkan segala hal untuk merayakan pertambahan usia. Si sulung dan si bungsu ternyata bertugas membeli beberapa barang untuk membuat origami, kartu ucapan, dan bunga. Si tengah bertugas di dapur untuk membuat cake, dan nasi goreng untuk berbuka. Sang ayah pun sibuk memesan cake dari sebuah merk terkenal, dan membungkus sebotol parfum beraroma manis nan menggoda.

Meski dada sesak karena haru, ucapan terima kasih terlontar untuk mereka yang terkasih.

“We were already planning so many things to distract you, Bunda. Turns out, it’s a lot easier than expected, as you were sleeping the whole day. At first we thought you were sad, thinking that we didn’t remember your birthday.”

Mereka rupanya khawatir melihat saya nampak sedih sampai tertidur di ruang TV. Padahal saya hanya menghindari angin di hampir semua ruangan di rumah ini. 🤣

Pertambahan usia memang tak lagi jadi sesuatu yang spesial sejak 1993. Tahun itu adalah perayaan terakhir bertambahnya usiaku yang diadakan orang tua, sebagai penanda mulainya tahap menuju dewasa. Meskipun selalu jadi “otak” atas semua perayaan ulang tahun siapa pun di rumah, tak pernah kuingatkan mereka untuk melakukan hal yang sama ketika hariku tiba. Mungkin, inilah wujud dari sebuah unconditional love, memberi dan hanya memberi. Lagipula, tak layak rasanya terlalu banyak meminta, di usia yang setiap harinya penuh keberkahan tanpa jeda.

“I promise, starting from today, we will always celebrate your birthday, Bunda. I can always make scrambbled egg, as I can not afford to buy anything, yet. I hope you like our gifts. I love you, Bunda. I hope you’re happy today.”

Itu saja, sudah cukup, Nak. Thank you Ayah Syed Abdullah Alsagoff, my precious Lara, Lana, and Rayyan.

“But wait, isn’t that my money that you use to buy stuffs?”
“Well, yeah. I only have 10cents in my wallet, Bunda. How am I going to buy stuffs?”
😑

Gratitude, turns what we have into enough.

Love Life,
ReRe

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: