SAHABAT DULU (Re Reynilda)

•• SAHABAT DULU ••
(Re Reynilda)

“Elu serius mau nikah sama cowok itu? Lu emang udah yakin? Gak takut lu denger berita yang beredar?”

Mayang menatapku tajam. Rentetan kalimat dan pertanyaan yang muncul dari bibir tipisnya tak lagi kuhiraukan. Keputusanku sudah bulat dan tak bisa dirubah. Kutatap Mayang lekat sambil tersenyum menantang.

“Elu iri?”

Tak ada jawaban terlontar. Sahabat sejak usia belasan itu beranjak pergi, dan tak pernah menoleh lagi.


“Papa meeting lagi di luar kota?” tanyaku saat melihat lelaki itu berdandan klimis dan menyeret koper hitam yang selalu dibawanya pergi.

“Iya Mam, cuma seminggu, kok,” jawabnya sambil menyemprotkan parfum ke seluruh tubuh. Wangi yang selalu membuatku enggan beranjak dari sisinya sejak dulu.

“Pergi sama siapa? Jangan macem-macem, ya! Ada perempuan coba-coba godain kamu, gak?”
“Sama orang kantor, Mam. Sama Yusuf juga. Mam, mana ada sih perempuan mau menggodaku? Aku melirik saja tidak pernah, kan?”

Sambil menjawab, sebuah kecupan manis mendarat di pipiku yang bulat. Dion, suamiku yang wajah tampannya selalu membuatku lupa darat. Mata teduhnya begitu membius sejak pertama mengenalnya, sepuluh tahun silam. Meski beberapa helai rambut sudah beruban, namun tak mengurangi ketampanan.

Perilakunya yang santun, lembut, setia, dan tak mata keranjang membuatku merasa jadi istri paling beruntung dan disayang. Meski kadang, kelebat ucapan Mayang mampir tanpa bisa ditahan.

Kau salah, Mayang. Aku tak salah menjatuhkan pilihan, bisikku pelan sambil menahan lemah pada tubuh dan sakit di bagian kewanitaan.

“Kenapa, Mam? Sakit lagi? Jadwalmu ke dokter hari ini, kan? Nanti kabari aku hasilnya, ya? Aku pergi dulu. Oh, tadi Yusuf kirim salam.”


“Ibu, terdiagnosa menderita HIV, sudah stage yang mengkhawatirkan. Mmm … apakah suami ibu di rumah?”

Tak mampu kujawab apapun yang dikatakan dokter siang itu. Tersinggung, marah, lemas, semua rasa bercampur aduk menjadi satu.

Aku? HIV? Mana mungkin! Aku hanya berhubungan dengan suamiku saja, tak pernah dengan yang lain! Suamiku … apa dia punya perempuan lain?


Bulan berganti tahun, diagnosa dokter tak lantas membuatku resah. Kubiarkan saja apapun yang terjadi pada tubuh tanpa ingin merusak kebahagiaan pernikahan. Meski kadang juga bertanya, mengapa aku tak kunjung diberi keturunan. Walaupun jujur, semua sentuhan Dion rasanya dilakukan dengan hambar.

Namun hari itu terpaksa aku menyerah. Sakit pada bagian kewanitaan, gatal pada permukaan kulit, ngilu pada tulang serta sendi, dan sakit kepala yang semakin menjadi, membawaku kembali ke rumah sakit ini.

Kali ini kupasrahkan diri pada dokter yang menatapku dengan penuh khawatir. Pandanganku mulai mengabur. Sebelum semua menjadi gelap gulita, nampak suami tampanku menangis sambil menggenggam tangan Yusuf, sahabatnya. Yang lalu merengkuhnya dalam pelukan dan mengecup bibirnya dalam.

Seperti … seperti sepasang kekasih yang penuh cinta.

(Tamat)

Sahabat Dulu – Prinsa Mandagie (Cover) https://www.smule.com/sing-recording/365290303_4260193784

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: