•• TULIS.YANG.MANIS ••

Menulis sudah jadi bagian dari diri sejak masa sekolah dulu. Berawal dari majalah dinding dan hanya berbentuk pantun jenaka nan lucu. Rasanya bahagia ketika melihat beberapa siswa berseragam putih abu tergelak bahkan mecucu.

Hobi ini lalu berkembang menjadi sebuah buku. Buku perdana yang berdasarkan kisah nyata tentang jungkir baliknya menjadi ibu.

Di balik pembuatan tulisan itu, ada seorang mentor yang berjasa. Ia mengajarkan banyak hal untuk menjadikan deret aksara jadi manis dibaca. Pelajaran utama yang diingatkannya adalah, menulis harus manis. Jangan menulis karena nyinyir apalagi nyindir.

Hmm … susah sekali, waktu itu kupikir.

Menulis justru seringkali jadi katarsis menanggapi sebuah peristiwa atau gosip terbaru tentang seseorang, kan?

Sang mentor menanggapi dengan bijak. Menulis harus tulus, dengan maksud berbagi bukan untuk menyatakan bahwa diri lebih tinggi.

Seperti dihantam godam, tiba-tiba diri ini jadi malu sendiri. Betapa seringnya menyajikan untaian kalimat bersayap dengan maksud urun pendapat namun ternyata meninggikan derajat jadi hidden agenda.

Maaf ya, sahabat, ucapku dulu penuh penyesalan.

Terima kasih mentor yang baik hati. Semua hal yang dulu kau ajarkan, akan selalu jadi pengingat diri. Manakala keinginan untuk tinggi hati muncul lagi. Siapalah kita ini, yang hidup di dunia hanya numpang minum dan mandi.

Mari menulis dengan manis, supaya banyak hidung kembang kempis karena meringis, di hari Minggu yang gerimis.

Love,
Rere Yang Manis

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: