THIS OR THAT?

Film bergenre sci-fi atau futuristic memang tidak pernah jadi pilihan.

Percaya atau tidak, saya sebelumnya tidak pernah tahu siapa itu Darth Vader atau Luke Skywalker. Sampai suami memaksa saya untuk menonton semua serinya. Saya sih ok saja waktu akhirnya menonton “The Rise of Skywalker” di bioskop, dan justru melotot hingga akhir. Kenapa? Karena ada tokoh Rey. Saya kan selalu suka kalau ada karakter cewek jagoan. 😆

Kemudian pada suatu hari libur sekolah, saya mengajak anak-anak pergi ke bioskop, tanpa tahu akan menonton apa. Pilihan jatuh pada “Shang Chi”, salah satu film keluaran Marvel. Nah, selain cewek jagoan, saya memang suka film ala Marvel atau DC, yang penuh adegan berkelahi dan para hero yang muncul dengan ilmu tinggi.

Ternyata Shang Chi justru membuat saya berpikir di akhir, tentang keluarga. Melihat bagaimana sang ayah yang awalnya penuh ambisi namun berubah setelah bertemu cinta sejati. Meski tak berlangsung lama, karena kematian sang istri membuatnya gelap mata dan kembali keras hati. Hingga melupakan Shang Chi dan sang adik yang butuh sosok ayah, bukan pemimpin bertangan besi. Meski akhirnya cinta seorang ayah, membuat Wenwu rela mengorbankan hidup demi anak-anaknya. Aahh, bagian yang membuat si bungsu berkaca-kaca sambil berbisik, “I love ayah.”

Ya, cerita tentang para jagoan di hampir semua film Marvel dan DC, memang biasanya akan berhubungan dengan keluarga. Latar belakang mereka, kisah sedih dan duka, yang membuat mereka kuat hingga akhirnya menjadi hero bagi dunia. I like!

Nah, bagaimana dengan “Dune”? Saya menontonnya berdua si sulung, yang sedang libur hari itu. Ia, yang sangat excited ingin menonton film ini. Saya juga tak kalah excited, karena sempat menonton sedikit trailernya sewaktu menunggu Shang Chi mulai diputar.

Namun yang terjadi adalah, di pertengahan film, saya justru hampir tertidur. Alur yang sangat lambat, terlalu banyak dialog yang bertele-tele, dan tentu saja genre sci-fi futuristic menjadi alasan ketidaktertarikan saya di tengah cerita. Si sulung tertawa melihat kening saya mengkerut sebelum akhirnya terkantuk-kantuk.

“Do you understand the movie, Bunda?”
“I do. It’s just too boring.”
“No it’s not. You just don’t understand.”
“I do understand, though it’s a bit confusing. Sci-fi and futuristic are never my genre. Thus, I felt so sleepy.”

Meskipun ada kisah tentang keluarga di dalamnya, namun tetap saja Shang Chi lebih menarik untuk dinikmati hingga akhir. Saya adalah penikmat film yang senang membawa kesan di akhir tayangan. Kalau film itu menghasilkan sebaris senyum dan kesan mendalam hingga meneteskan air mata, saya bisa menontonnya berulang-ulang, walaupun jarang. “Dune” … hanya membuat saya mengantuk dan tidak menghadirkan kesan untuk dibawa pulang. Mungkin kapasitas otak saya terlalu pas-pasan atau sudah makin menurun, untuk film sekelas Dune.

Saya sih lebih memilih nonton “Joker” tiga kali lagi, asli! Peace!

Love,
Rere

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: