THEN & NOW (Darat, Udara, Laut)

THEN & NOW
(Darat, Udara, Laut)

Hola! Selamat hari Senin! Lanjut ceritanya, ya.

Jadi, saya masuk sebagai pramugari batch 2001. Waktu itu seniority berdasarkan payroll number yang berawalan 300. Sementara PRN saya berawalan 100. Apesnya adalah, flight yang kami dapat terbatas hanya seputaran Asia dan sesekali saja flight ke Eropa. Semua destinasi “impian” dikuasai para senior, yang kebanyakan berasal dari Maroko dan Philipines.

Namun saya berpikir, kan cuma mau sign up selama Haj Season saja. Jadi saya tidak terlalu berambisi tinggal di Jeddah terlalu lama. Masa itu Jeddah sangat tertutup. Saya tidak betah. Tidak ada bioskop, tidak bisa pergi disko, takut melihat para Mottawa alias polisi Islam berkeliaran, pendeknya tidak ada kehidupan. Saya kan, masih muda. Eeaaa!

Lagipula di balik glamournya profesi pramugari banyak orang tidak tahu, bahwa kami ini juga harus membersihkan lavatory … alias toilet. Ya, TOILET.

Sebagai “fresh grad” dari sebuah universitas bergengsi di Indonesia, saya tentu saja masih memiliki segudang idealisme dan mimpi. Membersihkan toilet tentu bukan salah satunya. Hingga kibasan Saudi Riyal yang jumlahnya bikin senyum lebar tak juga membuat mata berbinar, dan di akhir tahun 2001 saya pun memilih resign. Nevertheless, sebelum kembali ke Jakarta, saya sudah dapat kerja. Gercep, kan? 😆

Sebuah perusahaan trading, menjadi sasaran saya selanjutnya. Bidang yang lagi-lagi baru hingga bikin penasaran. Posisi saya waktu itu adalah Account Executive. Selain mengurusi segala hal tentang proses trading dari luar negeri, saya lagi-lagi dijadikan coach untuk mengajarkan bahasa Inggris bagi semua karyawan. Saya sih mau saja, wong dibayar. Sayangnya, boss yang kecentilan membuat saya hengkang dari perusahaan. Alasan remeh dan lebay, tapi sesuatu yang dilakukan setengah hati juga tidak akan membawa hasil baik, kan?

Seperti biasa sebelum cabut, saya sudah mendapat pekerjaan baru. Seterusnya saya mencoba bidang yang berhubungan dengan laut. Sebuah shipping company besar di Indonesia menjadi pijakan selanjutnya. Setelah darat, dan udara, kali ini laut jadi ajang coba-coba, demi memuaskan idealisme si anak muda.

Di perusahan shipping itu, rasanya saya satu-satunya pelamar yang diterima, padahal tidak punya latar belakang di bidang pelayaran. Sebagai Sales Executive, saya memegang kontrak shipment USA-Canada. Salah satu destinasi yang kontraknya paling rumit. Sial! 😆

Coaching dan mentoring saya dapat dari para boss yang semuanya anak muda. Tak ada yang genit seperti boss di perusahaan sebelumnya, hingga saya betah dan belajar seluk beluk shipment dengan cepat. Di sini saya tak lagi perlu menjadi coach bahasa Inggris. Justru saya belajar bahasa Mandarin, sebagai bekal kelak dikirim belajar ke kantor pusat di China, impiannya.

Apakah laut menjadi destinasi terakhir saya? Hmm …

(To be continued)

Love, Rere

Pssttt! Hey, anak muda! Jangan takut coba-coba!

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: