THEN and NOW (The Beginning)

THEN and NOW (The Beginning)

Selamat pagi!

Saya dulu adalah seorang pramugari salah satu maskapai internasional. Setelah meluncurkan sebuah antologi, hasil kolaborasi dengan beberapa crew dan ex crew, banyak yang mengirimkan japri dan bertanya itu ini.

Bagaimana saya bisa berkarir sebagai pramugari?

Semua berawal dari berhentinya saya sebagai seorang reporter di sebuah perusahaan MLM besar pada awal tahun 2000. Saya yang masih “ijo” ini baru mengerti kejamnya politik di korporasi dan jurnalistik. 😁

Blessing in disguise, sebaris lowongan di sebuah surat kabar, jadi awal saya berkarir di udara. Ya, lowongan di surat kabar. Padahal saat itu saya sedang menjalani training sebagai Trainee Manager di sebuah fast food terkenal. Yep, saya memang tipikal orang yang “gercep”. Tak bisa menganggur lama-lama. Baru berhenti di dunia jurnalistik, langsung pindah ke F&B.

Menghadiri serangkaian tes penerimaan, di sela menjalani training, akhirnya saya lulus dengan mudahnya. Ya, mudah. Soalnya di tahun saya melamar, Saudi Arabian Airlines sedang butuh banyak sekali crew asal Indonesia. Tak heran, batch saya dulu tidak berisi perempuan-perempuan yang semuanya rata bertubuh langsing dan semampai. Salah satu teman saya hanya bertinggi badan kurang dari 150cm, hingga kerap mengalami kesulitan mencapai overhead compartment. Rejeki memang tidak pernah melihat fisik.

Tiga bulan kemudian, saya minta ijin berhenti dari pekerjaan sebagai TM, lalu terbang ke Jeddah. Tempat saya melakukan training. Jangan dipikir mudah menjadi seorang crew yang hanya terlihat berlenggak-lenggok manis dengan seragam dan trolley yang klimis. Kami belajar banyak sekali hal sulit, dalam pengantar bahasa Inggris. Sebagai lulusan Sastra Inggris, saya beruntung tidak mengalami kesulitan sama sekali. Namun tidak demikian dengan beberapa teman yang hanya bisa meringis.

Alhasil, saat itu di tahun 2001, saya menjadi coach bahasa Inggris sekaligus instruktur renang gratis. Renang? Ya, kami kan harus menguasai penyelamatan darurat di air. Bagaimana mau menyelamatkan penumpang, kalau diri sendiri tak bisa berenang. 😆

(To be continued)

Love, Rere

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: