Tulip Untuk Mamak

Tulip Untuk Mamak

“Maakk!Selamat hari Ibu, Maak. Maakk. Mana sih, Mamak, nih? Niana bawa tulip ni, Mak.”

Berjalan tertatih, Niana berteriak ke sana kemari, sambil menggenggam seikat tulip berbahan plastik. Ia keluar masuk dapur mencari keberadaan ibu yang dipanggilnya Mamak itu.

Remaja cantik berusia 15 dengan rambut keriting itu berjalan pelan, sambil menyeret kaki kanannya menggunakan tongkat buatan. Sebelah kakinya yang lain, terpaksa diamputasi karena kecelakaan mobil yang terjadi dua tahun lalu.

Ia terus berteriak mencari keberadaan sang Ibu sampai ke dalam kamar tidur utama.

“Aahhh! Ini dia. Mamak nih, Niana cari dari tadi diam saja. Mak, selamat hari Ibu, ya. Terima kasih karena telah menjaga Niana selama ini. Niana sayaang sekali sama Mamak. Niana enggak tau bagaimana kalau harus hidup sendiri, tanpa Mamak. Niana pasti bisa gila. Mamak suka enggak bunga tulipnya? Ini yang kita beli waktu itu di Keukenhof, Mak. Niana ganti terus airnya biar segar buat Mamak. Suka enggak, Mak?”

Hening.

Niana terus bercerita dengan riang, bagaimana suasana Keukenhof ketika bunga tulip bermekaran dengan warna warni yang indah. Sesekali tertawa lepas, ia terus mengungkapkan betapa senangnya menikmati setiap detik selama berada di sana.

“Mak! Diem aja, sih. Niana capek nih nyerocos terus dari tadi. Suka enggak tulipnya, Mak? Niana jaga terus nih buat Mamak, biar enggak layu. Mamak mau jalan-jalan ke Volendam lagi, enggak? Katanya kemarin masih mau naik ke atas kincir angin. Mamak sih, dibilangin jangan pake sepatu tinggi, bandel! Sakit deh, kakinya. Untung Mamak enggak gedubrakan jatuh kemarin.”

Tawa Niana terdengar lepas karena geli mengingat bagaimana sang ibu berjalan-jalan memakai sepatu tinggi, kemudian mengeluh kejang pada otot kaki.

“Niana … Sayang. Sedang apa, Nak? Dengan siapa kamu bicara?” tanya Baba.

Baba, Ayah Niana, yang hampir seluruh rambutnya telah memutih, mengetuk pintu kamar dengan pelan. Ia mendapati Niana sedang duduk di atas tempat tidur sambil tertawa lepas.

“Baba, duduk sini. Niana sedang cerita-cerita dengan Mamak, waktu kita liat tulip di Keukenhof kemarin. Tapi Mamak diam saja dari tadi. Niana baru kasih tulip, nih. Hari ini hari Ibu, lho. Baba kasih apa ke Mamak?”

Pelan, Baba menghapus airmatanya. Dengan lembut ia mengusap kepala Niana. Putri kecil yang sebelah kakinya terpaksa diamputasi. Jiwanya terganggu sejak kecelakaan yang terjadi dua tahun lalu. Sepulang dari melihat tulip yang bermekaran dengan indah di Keukenhof waktu itu.

Kecelakaan yang juga merenggut nyawa istri tercintanya.

Mamak Niana.

“Niana, Mamak sudah tiada, Nak. Ayo, doakan Mamak. Bunga tulipnya cantik sekali, Nak. Besok kita letakkan di makam Mamak, ya?”

“Baba, ngomong apa, sih? Mamak ada di sini, kok dibilang sudah tiada. Mamak baru bilang kita mau ke Volendam lagi besok. Gimana sih, Baba! Niana benci Baba!”

Amsterdam, 12 May 2019

ReReynilda

Mesin Waktu – Mawar De Jongh (Cover)

Mesin Waktu – Mawar De Jongh (Cover)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: