Thank You, Self!


Thank You, Self!

Hi, Ladies!

Sudah bilang terima kasih sama dirimu belum?
Sudah bilang cinta sama jiwamu?
Sudah menepuk bahu dan bilang, you are doing great, hatiku?

Meski masalah datang silih berganti, air mata jatuh tanpa bisa dibendung lagi, kecewa datang menghampiri, percayalah itu tanda kita masih punya hati.
Meski terkadang “being numb” cukup membantu melewati hari.
Jangan sering-sering, nanti rasamu jadi makin mati.

Turunkan saja ekspektasimu pada sesuatu atau seseorang itu.
Belajarlah untuk lebih banyak berdialog hanya dengan dirimu.
Nyatakan kesukaan dan ketidaksukaanmu pada banyak hal.
Jangan khawatir, tak ada yang bisa menghakimi apapun yang ada di akal.

Tak perlu banyak mengaduh atau mengadu.
Anggap saja semua masalahmu adalah cara-Nya menunjukkan kekuatanmu.
Kekuatan yang tak kau tahu hingga saatnya perlu.

Belajar juga untuk memaafkan diri sendiri, kita masih manusia ini.
Tempatnya salah dan kerap mengulangi.
Namanya juga proses mengenali diri.
Asal berani dan ingat untuk selalu mengapresiasi.
Tak perlu berharap setengah mati didapat dari orang lain.
Cukup seduh secangkir kopi seraya berbisik, “Terima kasih, DIRI!”

Love, Rere

THE FIRST TIME


THE FIRST TIME

Bersepeda, yang dulu begitu kuakrabi ketika di bangku sekolah, nyatanya menjadi sesuatu yang asing setelah beranjak dewasa.

Tangan gemetar, kaki keram, hingga berujung nyusruk di Pulau Ubin dengan luka di sepanjang paha dan lutut. Bahkan sempat mencium pohon, yang berdiri tegak tak bersalah, di pinggiran pantai East Coast. Payah!

Namun melihat teman-teman bersepeda keliling Singapura, rasanya ngiler juga. Akhirnya dua sepeda lipat bertengger manis di dalam mobil, yang sekarang lebih mirip gudang.

Penuh semangat, mulai mengayuh pedalnya pelan-pelan. Bertahan meski badan rasanya tak karuan. Pinggang, punggung, bokong, semua kesakitan. Daerah sepanjang East Coast menjadi sasaran. Sekaligus mengajarkan si bungsu bersepeda biar fun.

Hari ini pergi ke Ulu Sembawang nun jauh di sana pun dilakukan. Serunya lagi, harus bersepeda di jalanan. Meski tegang dan stress luar biasa, tetap mengayuh sambil ngos-ngosan.

There’s always the first time for everyone, kan?

Finally, bersepeda done, pergi ke jalan raya done. Tinggal menunggu keberanian melakukan perjalanan mengelilingi Singapura, yang masih butuh sejuta bekal dan kenekatan. Nantilah suatu hari … kalau nekat ini makin menjadi. 🤣

Love,
Rere

NASKAH TERBAIK


NASKAH TERBAIK

Di Persimpangan, hadir sebagai tema dari antologi ke-5, sementara Cul De Sac adalah antologi ke-6 area luar negeri Nubar Rumedia.

Muncul sebagai jawaban dari pergolakan batin jiwa-jiwa yang berada di sebuah persimpangan, dengan beberapa pilihan. Apakah akan berakhir bahagia atau pahitnya bak menelan simalakama? Atau bahkan justru tak ada jalan keluar? Buntu.

Empat puluh satu naskah tersaji, menghadirkan cerita-cerita penuh inspirasi. Ada duka, suka, air mata, hingga beragam rasa, campur aduk menjadi bumbu kehidupan. Namun satu yang sangat mencuri perhatian dari masing-masing tema.

Siapa saja mereka, para peraih trophy naskah terbaik?

https://reynsdrain.com/2021/09/05/saat-diri-harus-memilih/

https://reynsdrain.com/2021/09/05/cul-de-sac/

Selamat, untukmu, dan semua penulis yang telah meluahkan segenap rasa demi kepuasan pembaca. Kalian semua pemenang, karena berani berkontribusi dan mengalahkan ragu untuk menyelesaikan satu demi satu buku. Congrats, untukmu!

Love,
Rere

CUL DE SAC


CUL DE SAC

Cul De Sac, adalah sebuah istilah dalam bahasa Prancis yang berarti dead end. Jalan buntu. Tema yang menjadi judul buku ke-6 area luar negeri Nubar Rumedia kali ini.

Terinspirasi dari segala persoalan dalam hidup yang tak jarang berujung dengan sebuah kebuntuan. Seperti seorang suami yang ditinggal belahan hati, lalu memilih sebuah jalan yang tak dipikirnya lagi … atau seorang reporter yang terjebak di antara romansa dan sebuah kepentingan, hingga berujung kengerian.

Aku benci pada keadaanku, yang harus memilih. Aku benci pada hatiku, yang bahkan tak memiliki hak untuk jatuh cinta. Aku benci pada relungku, yang tak punya kuasa untuk patah hati, dan aku berang pada diriku yang harus menyerah atas harga diriku akan kebenaran. Menenggelamkan kebenaran demi uang, dan kebahagiaan orang yang kucintai, dalam kobaran api yang perlahan melalap kewarasan.

Cerita pendek berjudul Reminiscence ini sangat menarik perhatian, karena ditulis dengan tata bahasa yang tak biasa. Milik seorang gadis muda, penggemar berat Pramoedya.

Congrats, Juwita! Usia muda ternyata tak menghalangimu untuk berkarya. Ingin menyampaikan pesan lewat kata bukan suara, menjadi tujuanmu menulis setiap cerita. Kisah tak biasa yang membuatmu terpilih di antara semua yang terbaik.

Selamat juga untuk para kontributor, yang bersedia bekerja sama, serta berani keluar dari zona nyaman penulisan. Genre tak biasa yang awalnya membuat gentar, nyatanya tak membuat semua mundur dengan gemetar.

Kalian semua, pemenang! Congrats!

Love, Rere

Saat Diri Harus Memilih


Saat Diri Harus Memilih

Di Persimpangan, hadir sebagai tema dari antologi ke-5, area Luar Negeri Nubar Rumedia.

Muncul sebagai jawaban dari pergolakan batin jiwa-jiwa yang berada di sebuah persimpangan, dengan beberapa pilihan. Apakah akan berakhir bahagia atau pahitnya bak menelan simalakama?

Dua puluh naskah tersaji, menghadirkan cerita-cerita penuh inspirasi. Ada duka, suka, air mata, hingga beragam rasa, campur aduk menjadi bumbu kehidupan. Namun satu yang sangat mencuri perhatian.

“Di sini Mbak Tari boleh menceritakan apa saja yang ingin disampaikan. Jangan takut, tidak ada yang akan menyalahkan. Kami akan mencoba membantu permasalahan yang sedang Mbak alami, namun semua itu hanya bisa dilakukan dengan bantuan dari mbak Tari juga. Tidak perlu takut, semua yang Mbak ceritakan akan menjadi rahasia kita. Tidak akan keluar dari ruangan ini tanpa ijin dari mbak Tari.”

Aleena mencoba melanjutkan perbincangannya dengan Tari, nama panggilan untuk Lestari Handayani. Untuk sesaat, terjadi keheningan di ruang konseling. Berkali-kali terdengar helaan nafas panjang. Tangan perempuan itu meremas saputangan yang dibawanya. Sesekali matanya melihat ke atas, mencoba menahan airmata yang sudah ingin meluncur tanpa permisi.

Naskah yang membuat air mata mengalir dan nafas sesak ini, ditulis oleh seorang psikolog yang akrab dengan sesi counselling. Jalinan cerita pendek yang disajikan, membuat tulisan ini begitu hidup seakan nyata. Seperti melihat sosok Tari dengan segala kisahnya, sedang berbicara di hadapan.

Selamat, Mbak Ekan. Naskahmu sukses membuatku merenung, bahwa banyak hal memaksa seseorang berada di persimpangan untuk menentukan sebuah pilihan. Pilihan yang kadang berakhir tanpa kendali nalar.

Selamat untukmu, dan semua penulis yang telah meluahkan segenap rasa demi kepuasan pembaca. Kalian semua pemenang, karena berani berkontribusi dan mengalahkan ragu untuk menyelesaikan satu demi satu buku. Congrats !

Love,
Rere

TEACHER’S DAY 2021


TEACHER’S DAY 2021

Hampir setiap tahun saya membuat sesuatu yang manis untuk para guru di sekolah anak-anak.

Tak fancy, tapi semua hasil buatan saya sendiri. Murni sebagai wujud terima kasih dan apresiasi. Bukan mudah mengajar murid yang kadang bandelnya gak ketulungan. Apalagi yang petakilan dan bawelnya seperti Rayyan.

Tahun ini saya membuatkan sebuah gantungan kunci manis dengan inisial nama mereka, dari uv resin. Bertema birunya laut, resin-resin cantik ini akan diberikan anak-anak besok pagi.

Happy Teacher’s Day!
Thank you for being the great teacher!

Love, Rere.