MERDEKA (Sebuah Refleksi)


MERDEKA (Sebuah Refleksi)

Astagfirullah!”

Terpekik pagi itu kuraih ponsel yang terletak di atas meja kecil dalam kamar. Pukul enam! Astaga! Lamat tadi sebenarnya sudah kudengar alarm berbunyi seperti biasa di pukul lima pagi, namun bukannya beranjak bangun malah kutidur lagi. Padahal harusnya waktuku membangunkan ketiga buah hati, untuk bersiap di pagi hari.

Sialan! Rasanya tadi aku sedang memaki seseorang dan gerombolannya yang menyebalkan dalam mimpi. Mereka yang hingga kini masih memiliki urusan yang belum selesai kuhadapi. Begini ternyata rasanya mempunyai unfinished bussiness. Sampai terbawa-bawa dalam mimpi, Ses!

Sambil memerintah anak-anak untuk bergerak cepat bak seorang komandan di tengah latihan perang, hatiku sepertinya masih meradang. Hingga siraman air dingin memadamkan api yang masih setengah berkobar. Segar!

Sambil meneguk segelas kopi panas, otakku mulai berpikir keras. Berarti selama ini hatiku belum ikhlas. Pikiranku belum merdeka jelas. Mengingat masih tersisa banyak hal di masa lalu, yang membuat amarahku muncul ke permukaan selalu. Memang, bukan sifatku untuk memendam dan mendendam. Apa daya, aku tak punya hati seluas samudra dan kesabaran yang tak ada batas.

Tapi tak apa, berarti aku masih manusia. Dengan segala keterbatasan serta kegilaan.

Sambil menghela nafas panjang, kubuang segala pikiran rungsing tentang mereka yang pernah membuatku pusing. Takkan kubiarkan mereka menjadikanku sinting, dengan mengambil alih kemerdekaan dan kebahagiaanku yang penting.

Kubuang saja segala pikiran tentang unfinished bussiness tadi. Paling tidak, untuk hari ini. Kalau esok muncul lagi, tinggal kuseruput kopi lalu beranjak pergi. Seperti pagi ini, meski berjalan menerjang hujan dan dingin, keinginan untuk menyatakan cintaku pada Indonesia tercapai, Cin!

Rasanya sih tak ada lagi sisa pikiran yang bisa kubagi, untuk memasukkan masalah yang tak penting dalam otakku yang masih suka miring. Paling tidak, untuk hari ini, Cing!

Dirgahayu Republik Indonesia, semoga semangat merdeka yang kubawa pagi tadi di tengah guyuran hujan, terbawa hingga ke dalam jiwa serta pikiran. Supaya merdeka itu bisa kurasa dalam setiap tarikan nafas yang masih tersisa.

Merdeka!

Pic: Suryatmaning Hany & Dee

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.