Tentang Cinta


Tentang Cinta

“Adek, ayo cepat! Ambil bag Bunda yang Miu Miu biru sana, atau MJ juga ada warna biru. Pake baju biru, kan?”
“Iyaaa, Maam.”
“Udah? Pake bag apa?”
“Bag yang Bunda buat.”
“Ohhh. Why?”
“Because this is your handmade. I like it. Even all of my friends liked it. They said, you’re so cool. You can make everything. Even the foods that you made, they loved it! I’m so proud of you, Bunda. I love you.”

Oh life. So beautiful, indeed.

Tas berbahan denim itu adalah hasil dedhel dhuwel dari celana jeans suami yang sudah tidak dipakai lagi. Ternyata jahitan tangan saya yang acakadut tak sempurna, bahkan tanpa pola itu, lebih dipilihnya. Ketimbang tas-tas saya yang bermerk lainnya.

Thanks, Lana. I know I raise you right.

Love, Rere

V A L U E (Sebuah Perjalanan Hidup)


V A L U E (Sebuah Perjalanan Hidup)

“Urip iku mung mampir ngombe.”

Pernah denger ungkapan dalam bahasa Jawa ini, yang artinya hidup itu cuma mampir minum saja?

Ya, bener juga. Menjalani hari hingga saat ini kadang terasa lama sekali. Namun melihat anak-anak tumbuh dewasa, rasanya waktu berlalu begitu saja. Semudah menghabiskan segelas minuman pelepas dahaga.

Sebentar lagi, tanpa terasa mereka akan lulus sekolah. Lalu kemudian bekerja, membeli rumah lantas menikah, membangun keluarga kecil hingga beranak pinak. Begitu saja sih sebenarnya hidup kita. Benar-benar ibarat segelas air yang hilang dalam setegukan. Hanya perjalanan masing-masing saja yang membedakan. Ada yang bak garis lurus, ada yang berkelok bak zig-zag, ada yang kusut di awal lalu lurus di belakang, atau sebaliknya.

Alur itu terangkum dalam sederet foto ini. Ketika seorang keponakan melepas masa lajang, saya menghadiahinya dekorasi mobil pengantin berwarna terang. Kemudian tiba giliran keponakan yang lain naik pelaminan, sebuah kotak ang paw berbentuk sepasang pengantin berbaju khas Melayu dan berkain songket jadi pilihan.

Berbulan setelah hari itu, saya kembali menghadiahi mereka dengan sebuah bingkisan berbentuk cake bertingkat. Bedanya yang ini tidak untuk dikonsumsi, karena terbuat dari susunan diaper untuk bayi. Yep, saya sudah punya cucu meskipun bukan lahir dari tiga buah hati sendiri. Belum. 😁

Jalan kehidupan kemudian akan kembali berulang, kelak saat para cucu beranjak dewasa. Ketika tiba giliran mereka naik pelaminan, mungkin saya yang akan kembali menghias mobil pengantin meski dengan tangan gemetaran. Lalu sambil membetulkan kacamata yang melorot, mungkin saya juga akan membuatkan kotak ang paw dengan hiasan yang hits nan kekinian.

Semoga … karena saya ingin hidup ini tidak cuma sekedar numpang minum tapi juga berguna, meski tak mampu muluk-muluk menawarkan bantu. Semata hanya karena ingin hidup memiliki value. Meski harus melalui jalan panjang yang berkelok, bahkan berdebu.

Life’s too short, make the most of it.

Love, Rere.

MACRAME ON SANDAL


MACRAME ON SANDAL

Leigh Wedges dari brand Crocs ini adalah sahabat saya ke sana kemari. Sandal berbahan plastik dengan hak model wedges ini sudah cocok dengan kaki. Saking cintanya, sampai punya beberapa pasang dengan warna berbeda sesuai tas yang dipakai sehari-hari. Gitu itu kalau sudah ketemu alas kaki yang nyaman, tak pernah ingin berganti model, kan?

Kalian sama enggak?

Nah, bayangkan ketika salah satu sandal kesayangan itu, kecemplung kubangan air berisi lumpur. Eh, bukan itu saja yang bikin hancur. Strapnya pun ikutan lepas! Ajur!

Kalau di Depok pasti saya sudah keplok-keplok memanggil bapak sol sepatu yang selalu mangkal depan rumah ibu. Di sini? Biayanya, tinggal ditambah sedikit saja, bisa buat beli sandal baru. Huhuhu!

Akhirnya, mengutak-atiknya jadi pilihan. Memakai tehnik macrame dengan tali kur berukuran kecil berwarna khaki, jadi tujuan.

Tadaaa … sandal buluk akhirnya jadi seperti baru. Lumayan daripada lumanyun. Ayok, kita halan-halan, Cuy!

Love, Rere

SI KASET RUSAK


SI KASET RUSAK

“Lara, sudah sholat belum?”
“Lana, sapu rumah.”
“Rayyan, make up your bed!”
“Ayo, cepat makan. It’s 6.30 already!”
“Don’t forget your masks!”
“Botol, lunch box dah bawa?”
“Your keys, don’t forget!”
“Go home straight away.”

Bla … bla … bla.

Begitulah setiap pagi keramaian di rumah kami. Asalnya hanya dari satu suara, sih. Ya, suara SAYA pasti. Sementara suara lain hanya berbunyi, “yes, Bunda,” atau “sudah, Bunda.” atau … “apasal pagi-pagi pekik macam Tarzan?” Hahaha!

Awalnya saya berpikir keributan ini hanya terjadi di rumah kami. Ternyata setelah berbincang dengan beberapa sahabat, sama juga hebohnya, sih. Lega … berarti saya tidak sendiri.

Bukan tidak pernah saya mengajukan keberatan, karena harus berubah bak sebuah kaset rusak setiap pagi. Ya, setiap pagi. Beberapa cara pun pernah saya lakukan. Membuat jadwal harian mulai dari yang sederhana hingga berbagai bentuk dan gaya agar menarik. Tentu saja setiap saat harus berubah, menyesuaikan jadwal dan usia ketiga anak.

Kadang saya juga harus menahan diri setengah mati dengan tujuan untuk mendidik. Saya biarkan mereka gedubrakan karena terlambat bangun, hingga beberapa keperluan sekolahnya tertinggal. Ya, saya pun pernah juga begitu. Walaupun sebagai ibu dengan didikan disiplin tingkat tinggi di masa sekolah, ini adalah satu hal yang sangat menyiksa. Iya, tersiksa rasanya melihat ketidakaturan atau ketidaksiapan di depan mata.

Namun anak-anak harus belajar dari kesalahan. Sementara saya harus belajar untuk sedikit menutup mata. Saya juga terpaksa harus banyak mengurangi kebiasaan “serba harus, tidak boleh salah, mesti tersusun rapi dan sempurna”.

Saya tahu, mereka sebenarnya paham apa yang harus dilakukan. Mungkin mereka hanya terlalu suka dan selalu rindu mendengar suara nyanyian sang ibu yang berulang seumur hidup. Hingga melambatkan diri setiap pagi, adalah salah satu cara untuk tetap menghidupkan bunyi si kaset rusak itu.

Meski tiap pagi “bernyanyi”, saya tidak marah. Saya tahu suatu hari nanti mereka akan rindu, seperti saya yang kerap merindukan kebawelan mama saat ini. Oleh karena itu, setelah selesai merepet bak petasan banting, saya tetap memeluk dan selalu mencium mereka dengan penuh cinta di depan pintu. Sambil mendoakan dalam hati agar Yang Kuasa melindungi mereka selama di luar rumah menuntut ilmu.

Toh, setelah semua pergi, rumah jadi sepi. Saya bisa dengan tenang menyeruput secangkir kopi hangat, sambil menonton acara televisi.

“Abaaang! Dah sholat belum? Cepatlah! Dah almost shuruk!”

Lamat saya dengar tetangga sebelah rumah yang dapurnya bersebelahan, sedang “bernyanyi” merdu pada sang putra yang berusia 40. Hahaha! Cik, I feel you!

Motherhood … where silence is no longer golden.

Love, Rere.

Pic: Suryatmaning Hany

MACRAME POUCH


MACRAME POUCH

“Ribet, ih!”

Begitu saya selalu ngomel, setiap kali harus trekking masuk hutan sambil memegang ponsel. Maunya sih dalam tas saja disimpan. Tapi kaaan … banyak moment harus didokumentasikan sepanjang perjalanan, bukan? Belum lagi hobi berselfi ria, yang mengharuskan saya sigap dengan kamera ponsel di tangan. Eeeaaaa!

Nah, sambil mengistirahatkan mata dari layar laptop, akhirnya jadilah sebuah pouch untuk tempat saya menggantung ponsel serta trace together token yang gendut nan bantet. Token yang belakangan lebih sering saya pakai, ketimbang aplikasi pada gawai yang ribet.

Menggunakan macrame cords berwarna hitam dengan tebal 5mm. Plus, assesoris seperti gantungan kunci untuk menggantung token pouch, serta hook untuk menggantung sling yang juga bikinan sendiri.

Emak-emak enggak suka ribet, tapi bikinannya ribet-ribet. Dasar manusia ribet! 😆

Love,
Reyn’s Handmade by Rere

MERDEKA (Sebuah Refleksi)


MERDEKA (Sebuah Refleksi)

Astagfirullah!”

Terpekik pagi itu kuraih ponsel yang terletak di atas meja kecil dalam kamar. Pukul enam! Astaga! Lamat tadi sebenarnya sudah kudengar alarm berbunyi seperti biasa di pukul lima pagi, namun bukannya beranjak bangun malah kutidur lagi. Padahal harusnya waktuku membangunkan ketiga buah hati, untuk bersiap di pagi hari.

Sialan! Rasanya tadi aku sedang memaki seseorang dan gerombolannya yang menyebalkan dalam mimpi. Mereka yang hingga kini masih memiliki urusan yang belum selesai kuhadapi. Begini ternyata rasanya mempunyai unfinished bussiness. Sampai terbawa-bawa dalam mimpi, Ses!

Sambil memerintah anak-anak untuk bergerak cepat bak seorang komandan di tengah latihan perang, hatiku sepertinya masih meradang. Hingga siraman air dingin memadamkan api yang masih setengah berkobar. Segar!

Sambil meneguk segelas kopi panas, otakku mulai berpikir keras. Berarti selama ini hatiku belum ikhlas. Pikiranku belum merdeka jelas. Mengingat masih tersisa banyak hal di masa lalu, yang membuat amarahku muncul ke permukaan selalu. Memang, bukan sifatku untuk memendam dan mendendam. Apa daya, aku tak punya hati seluas samudra dan kesabaran yang tak ada batas.

Tapi tak apa, berarti aku masih manusia. Dengan segala keterbatasan serta kegilaan.

Sambil menghela nafas panjang, kubuang segala pikiran rungsing tentang mereka yang pernah membuatku pusing. Takkan kubiarkan mereka menjadikanku sinting, dengan mengambil alih kemerdekaan dan kebahagiaanku yang penting.

Kubuang saja segala pikiran tentang unfinished bussiness tadi. Paling tidak, untuk hari ini. Kalau esok muncul lagi, tinggal kuseruput kopi lalu beranjak pergi. Seperti pagi ini, meski berjalan menerjang hujan dan dingin, keinginan untuk menyatakan cintaku pada Indonesia tercapai, Cin!

Rasanya sih tak ada lagi sisa pikiran yang bisa kubagi, untuk memasukkan masalah yang tak penting dalam otakku yang masih suka miring. Paling tidak, untuk hari ini, Cing!

Dirgahayu Republik Indonesia, semoga semangat merdeka yang kubawa pagi tadi di tengah guyuran hujan, terbawa hingga ke dalam jiwa serta pikiran. Supaya merdeka itu bisa kurasa dalam setiap tarikan nafas yang masih tersisa.

Merdeka!

Pic: Suryatmaning Hany & Dee

KISAH KASIH (Bedah Buku Nubar Sumatera)


KISAH KASIH (Bedah Buku Nubar Sumatera)

Beberapa kisah tentang kasih pada aksara dan keluarga, menjadi topik bedah buku semalam, [9 Agustus 2021].

Adalah Mi Familia dan Ada Cinta Di Tiap Aksara yang menjadi sumber bedahannya.

Kedua judul antologi itu diluncurkan dalam perayaan ulang tahun Nubar Sumatera dan founder Nubar Rumedia Ilham Alfafa.

Meski hanya disajikan secara daring, namun antusiasme lebih dari 30 peserta, sangat luar biasa. Acara dimulai dengan pemaparan para manager area dari tiga wilayah secara bergantian.

Dimulai dengan cerita dibalik pembuatan kedua judul buku oleh MA Sumatera Emmy Herlina, dilanjutkan dengan sharing pengalaman dari MA Jawa Barat Rhea Ilham Nurjanah, yang penuh dengan hal menarik seputar dunia menulis. MA Luar Negeri Reynilda Hendryatie mewakili para kontributor buku Mi Familia, menyajikan sebuah monolog sebelum menceritakan latar belakang penulisan naskahnya, serta pesan yang ingin disampaikan untuk para pembaca.

Tak sampai di situ saja, beberapa penulis juga berbagi pengalaman seputar dunia kepenulisan, termasuk tips dan trik untuk menyajikan tulisan yang menarik serta menggelitik.

Beberapa pertanyaan muncul dari para peserta, mengenai teknis penulisan, serta saran yang ingin diketahui dari para nara sumber. Topik seputar cara pembuatan outline, tema, hingga gaya menulis tak juga habis dikikis. Hingga dua jam lebih, rasanya tak cukup mengupas segala hal menarik tentang profesi penulis.

Sebagai penutup, founder Nubar Rumedia berpesan untuk banyak berlatih dan menghasilkan tulisan-tulisan positif yang bisa dibaca banyak orang. Bukan hanya semata soal materi, namun menulis adalah salah satu cara kita mengabadikan kisah penuh kasih.

Love,
Rere

Hitam Putih


Hitam Putih

Pernikahan adalah bersatunya dua warna, dua watak, dua budaya, dua keluarga, dua yang kelak menjadi tiga, empat, lima, dan seterusnya. Pernikahan kelak harus bertimbang rasa, berbagi bahagia dan duka, serta meleburnya dua anak manusia dalam satu kapal. Kapal kehidupan. Berdua.

Melalui buatan tangan ini, tercurah banyak cinta diiringi doa, semoga dalam duka ada suka. Dalam suka ada cinta. Cinta yang tak akan lekang oleh waktu. Cinta yang hanya berakhir di ujung waktu. Selamat mengabadikan cinta, dan mengukirnya dengan caramu.

Kotak angpaw ini adalah buatan saya untuk pernikahan seorang ponakan, yang terbuat dari kardus-kardus bekas. Mengambil tema sepasang pengantin Melayu, saya membungkus bahan-bahan bekas ini dengan selembar kain songket.

The bride and the groom dalam hitam putih songket nan anggun. Cantik, kan?

Love, Rere

KEMANUSIAAN


KEMANUSIAAN

“Bapak Sani, ini kami dengan jemaat gereja, ada mengumpulkan sedikit bekal untuk katong pu tim sepakbola berangkat ke ibukota.”
“Alhamdulillah. Terima kasih bapak Pendeta.”
“Sama-sama Bapak Sani. Saya doakan semoga semua lancar dan sukses. Amen.”
“Amin.”

Menetes air mata ini karena secuil adegan di Wave of Cinema: Surat Dari Timur. Sebuah film yang didedikasikan untuk alm. Glenn Fredly. Seorang musisi yang dikenal begitu peduli dengan persoalan bangsa.

Singkat cerita, tim sepakbola yang dipimpin oleh pelatih bernama Sani, akan berangkat bertanding ke ibukota. Tanpa disangka-sangka, seorang pendeta, dan beberapa orang warga desa muncul, lalu memberikan sumbangan berupa uang hasil “saweran” untuk mendukung Sani dan anak asuhnya.

Indah sekali melihat dialog singkat di atas, bagi saya. Pendeta. Alhamdulillah. Amen. Amin.

Percaya kok, di dunia ini masih banyak yang menyuarakan kemanusiaan di atas segala perbedaan. Mau bilang Amen maupun Amiin.

Kamu juga, kan?

Love, Rere