LOML

“Rayyan, will you still love me and take care of me when you’re growing older?”
“Of course, Bunda.”
“Even when you have a wife and your own family? Will you still love me?”
“Yes, Bunda. I will always love you … forever.”
“Are you willing to take care of me if, let’s say, I got so weak and couldn’t get off of bed?”
“I will. I will carry you everywhere.”
“Change my diaper and wash my butt?”
“Eewww! But yes, Bunda. I will do it.”
“What if your wife didn’t allow you to take care of me or ayah?”
“Bunda, I don’t care. I will still take care of you.”
“Really? Why? Why don’t you listen to her?”
“I will tell her that if it’s not because of you, I will not be here in this world. What’s the point of me living if I can’t take care of my parents when they need me the most?”
“What if she insisted and angry at you for not listening to her?”
“Bunda, even if the love of my life asked me to ignore you, I will never listen to her.”
“What? The love of your life? Like Chayenne? Hahaha!”
“Bunda, stop.”
“The love of my life … sekolah dulu, Tooonggg!” 🙄

Dialog ini terjadi ketika saya mendapati kenyataan tentang banyak orang tua yang disia-siakan anak-anaknya di masa tua. Sedih rasanya membayangkan itu semua.

Membesarkan seorang atau lebih anak, itu bukan perkara mudah. Mempersiapkan mereka menghadapi masa depan dan mengajarkan semua hal baik tentang kehidupan, rasanya lebih tidak mudah lagi. Apalagi mempersiapkan mereka untuk menghadapi kenyataan, bahwa suatu hari nanti orang tuanya akan mengalami siklus “kembali menjadi bayi” hingga butuh kesabaran tingkat tinggi.

Begitulah kehidupan. Bersiap saja para orang tua. Cepat atau lambat, anak-anak butuh memahami dan mengerti. Belum terlambat untuk mengajak mereka bicara dari hati ke hati, dan menanamkan afirmasi positif tentang masa tua nanti.

Semoga kelak, diri ini tak jadi orang tua yang menyusahkan hati.

Love, Rere

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: