Bishan – Lower Peirce – Newton


Bishan – Lower Peirce – Newton

Tiga nama. Tiga cerita.

Nyemplung kali dengan sekumpulan ikan ginuk-ginuk dan kura-kura lucu di Bishan Park, seperti berada di sebuah desa yang sangat dirindukan. Oh, bahkan sudah terkagum-kagum sepanjang perjalanan ke sana, ketika netra ini disuguhi begitu banyak warna, melalui deret bunga serta taman yang menggugah jiwa.

Lower Peirce Reservoir, kalau tak ingat denda, ingin rasanya nyemplung saja. Melihat oasis begitu segarnya, di tengah deru bisingnya kota. Silahkan memanjakan diri sejenak, wahai netra.

Thomson Nature Park, yang dulunya adalah sebuah perkampungan, kini hanya menyisakan cerita. Babi hutan, monyet, dan beragam unggas bergantian menunjukkan diri ditingkahi raut wajah yang menganga sedikit ngeri. Mungkin mereka ingin bilang, “Masih ada kehidupan di sini, wahai manusia. Meski kini hanya tersisa puing-puing masa jaya.”

Total perjalanan 15 kilometer.
Pic courtesy: Mbak Hany, Mdm. Liza.

Love,
Rere

https://vt.tiktok.com/ZSJGdeU6E/

Jalan-Jalan ke Bishan

Three In One


Three In One

What a day today!

Tiga kegiatan berbeda dalam satu hari.

Pagi ngomongin buku, siang melukis botol, malam mendadak dangdut jadi MC.

Oh well, kalau tak begitu, penat rasanya terus menerus mendengar kabar kehilangan, yang begitu menguras emosi dan jiwa.

Being active makes me happy. Being happy makes me healthy.

… dan ini another recycled project for today’s event yang bikin happy.

Menggunakan acrylic paint, gold flakes sisa bebikinan uv resin, plus bunga manis dari clay yang dibuat beberapa minggu lalu.

Kamu, sudah bahagia belum hari ini? 😊

Love,
Rere

LOML


LOML

“Rayyan, will you still love me and take care of me when you’re growing older?”
“Of course, Bunda.”
“Even when you have a wife and your own family? Will you still love me?”
“Yes, Bunda. I will always love you … forever.”
“Are you willing to take care of me if, let’s say, I got so weak and couldn’t get off of bed?”
“I will. I will carry you everywhere.”
“Change my diaper and wash my butt?”
“Eewww! But yes, Bunda. I will do it.”
“What if your wife didn’t allow you to take care of me or ayah?”
“Bunda, I don’t care. I will still take care of you.”
“Really? Why? Why don’t you listen to her?”
“I will tell her that if it’s not because of you, I will not be here in this world. What’s the point of me living if I can’t take care of my parents when they need me the most?”
“What if she insisted and angry at you for not listening to her?”
“Bunda, even if the love of my life asked me to ignore you, I will never listen to her.”
“What? The love of your life? Like Chayenne? Hahaha!”
“Bunda, stop.”
“The love of my life … sekolah dulu, Tooonggg!” 🙄

Dialog ini terjadi ketika saya mendapati kenyataan tentang banyak orang tua yang disia-siakan anak-anaknya di masa tua. Sedih rasanya membayangkan itu semua.

Membesarkan seorang atau lebih anak, itu bukan perkara mudah. Mempersiapkan mereka menghadapi masa depan dan mengajarkan semua hal baik tentang kehidupan, rasanya lebih tidak mudah lagi. Apalagi mempersiapkan mereka untuk menghadapi kenyataan, bahwa suatu hari nanti orang tuanya akan mengalami siklus “kembali menjadi bayi” hingga butuh kesabaran tingkat tinggi.

Begitulah kehidupan. Bersiap saja para orang tua. Cepat atau lambat, anak-anak butuh memahami dan mengerti. Belum terlambat untuk mengajak mereka bicara dari hati ke hati, dan menanamkan afirmasi positif tentang masa tua nanti.

Semoga kelak, diri ini tak jadi orang tua yang menyusahkan hati.

Love, Rere

HITAM PUTIH PEREMPUAN II


HITAM PUTIH PEREMPUAN II

Bukan mudah bagi saya untuk memilih. Apalagi ketika semua pilihan menghadirkan rasa yang berbeda, dari bahagia hingga perih.

Hitam Putih Perempuan Jilid II ini, sama seperti jilid I yang mengharu biru. Membaca semua kisah tentang perempuan, nyatanya membuat lidah saya kelu.

Ratih Prasodjo masih terpaku pada surat Tum, dalam hati berjanji memegang teguh amanat almarhumah. Ia melipat surat itu, menciumnya dengan takzim.Kenangan akan Tum membanjiri benaknya, menyisakan haru dan duka mendalam. Matanya basah. Selamat jalan, Tum.

Rahasia Dua Wanita, milik Maria Vela ini ternyata paling membuat saya berderai airmata. Membayangkan kesedihan sang tokoh yang harus menahan rindu, demi masa depan sang buah hati. Buah hati yang dikandungnya karena sebuah peristiwa pahit. Romansa kehidupan yang harus dilalui seorang perempuan bernama Tum.

Selamat, Mbak Maria Vela! Naskah yang manis, tak butuh banyak editing karena tersusun rapi nan klimis. Kisah yang akan membuat semua menangis, lalu mengucap syukur karena tak bernasib sekelam Tum.

Congrats!

Ingin menulis dan meraih piala untuk naskah terbaik seperti Mbak Maria Vela? Mari bergabung bersama saya dan teman-teman penulis lainnya, di Nubar RUMEDIA Area Luar Negeri, Sumatera, Jabar, dan Jatim.

There’s no right or wrong, just write!

Love, Rere

Hair Cut DIY


Hair Cut DIY

Dulu … saya paling rajin pergi ke salon.

Luluran, creambath, meni pedi, gunting rambut bahkan hampir tiap bulan. Rambut saya memang cepat sekali panjang, dan saya bosenan. Gonta ganti model, warna, begitu saja.

Sejak memutuskan berhijab, dan tinggal di negara “mahal” ini, saya jadi malas masuk ke salon. Bayangkan saja, saya … (eh suami ding) pernah merogoh kocek hingga $400 hanya karena ingin melihat sang istri dirawat rambutnya. Ya, saya memang mengalami kerontokan parah setelah melahirkan si bungsu.

Empat jeti lebih buat treatment dan gunting rambut itu, sudah cukup membuat saya makjegagig, lalu kapok masuk salon di pusat perbelanjaan besar.

Pernah juga saya masuk salon biasa, yang sekali gunting rambut cuma butuh $10-$12 tergantung panjangnya rambut. Tapi, keesokan harinya, setelah keramas lalu tidak diblow, saya terlihat seperti Dora The Explorer ukuran XL. Bangbayik!

Setelah itu saya memutuskan untuk menggunting rambut sendiri. Termasuk rambut anak-anak, dan suami. Hanya saja sekarang mulai malas, dan memasrahkan urusan gunting rambut Rayyan pada sebuah salon Korea. Cepet, murah, saya juga tak perlu encok karena harus bongkok-bongkok. Sementara dua gadis sedang suka memanjangkan rambut dan menolak ke salon, karena takut saya memangkas habis rambut mereka.

Nah, apa saja yang harus disiapkan untuk proses DIY gunting rambut?

  1. Hair clipper. Sebenarnya saya membeli alat ini untuk mencukur rambut suami. Tapi untuk potongan pendek seperti pixie cut, alat ini sangat membantu menggunting bagian belakang. Saya memakai nomor 12mm biar tidak jadi botak. Pastikan alat sudah charged supaya tidak berhenti di tengah jalan, dan rambut jadi seperti terasering persawahan.
  2. Gunting. Pakailah gunting yang khusus untuk rambut, bukan gunting kain atau kertas. Investasi juga dengan membeli gunting zig zag khusus rambut. Fungsinya, untuk membuat potongan terlihat alami, enggak kaku seperti dicetak dengan sebuah mangkok bakso.
  3. Lokasi. Saya lebih suka mengeksekusi rambut di dalam toilet. Kenapa? Karena ada cermin besar di sana. Biasanya juga minta bantuan suami untuk memegang sebuah cermin berukuran sedang, agar saya bisa melihat bentuk bagian belakang. Kalau enggak juga bisa, asal pakai hair clipper dengan ukuran blade tertentu yang sudah dipasang. Jangan lupa untuk meletakkan beberapa lembar koran sebagai alas, biar lebih mudah membersihkan sisa guntingan.

Nah, sekarang bagaimana caranya?

  1. Belah rambut jadi tiga bagian. Bawah, tengah, atas hingga ke poni.
  2. Gunting bagian bawah dengan hair clipper ukuran terbesar. Selalu mulai dengan blade ukuran besar, ya. Biar tidak menyesal kalau terlanjur pitak sebagian.
  3. Kemudian lanjut bagian tengah. Pakai sisir saja, mengikuti panjang rambut yang sudah dicukur tadi. Tarik ke arah atas lalu gunting biar terbentuk layer.
  4. Ikat bagian atas hingga poni ke arah depan hidung, lalu gunting. Potongan akan langsung terbentuk menjadi bob nungging.
  5. Cek lagi dan betulkan dengan gunting zig zag, bagian-bagian yang tidak rata. Kemudian keramas, keringkan dengan hair dryer, lalu cek panjang pendek rambut. Biasanya bagian yang masih terlalu panjang akan kelihatan, hingga bisa diperbaiki lagi.

Voila! Gunting rambut DIY beres! Beruntung suami juga tidak melarang saya gunting rambut pendek, meski ia suka melihat sang istri dengan rambut panjang. Ia lebih kasihan melihat rambut saya yang rontok hingga bertebaran di mana-mana.

Satu saja tips dari saya. Gunting rambut hanya ketika mood sedang dalam keadaan bagus dan punya cukup waktu. Jika tidak, lebih baik datang ke salon saja. Daripada nanti nangis bombay melihat rambut pitak sana-sini, atau bak terasering di Panyaweuyan. Jangan juga berharap potongan rambut akan sesempurna hasil guntingan para kapster di salon, ya.

… but beauty lies in the imperfections.

Selamat mencoba!
Love, Rere

(Photo credit: hadviser.com)