RINDU


RINDU

“Nak, kamu kapan pulang? Mama udah kangen sama anak, mantu, dan cucu-cucu.”
“Sabar ya, Ma. Yang penting Mama, Papa, semua sehat. Nurut sama aturan pemerintah, jangan keluar rumah dulu. Insya Allah semua sehat, vaksin lengkap, biar kita bisa ketemuan cepat. Yang di sini semua juga udah kangen.”

Sesak dada saya menulis dialog di atas. Ungkapan kerinduan seorang ibu, pada anak perempuannya, yang selalu berada jauh sejak di bangku kuliah. Juga kerinduan seorang eyang pada tiga cucu, yang ketika bayi, semua merasakan sentuhan serta hangat gendongannya.

Tak pernah rasanya saya ikut melebur dengan euphoria pandemi ini, dengan menulis status dari A sampai Z. Seliweran berita yang muncul, tak juga membuat saya tergerak untuk menuliskannya. Sudahlah, cukup rasanya, melihat banyak pakar menulis bahkan membahas hingga ke akar. Hanya doa tulus untuk semua korban yang telah berpulang, agar mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.

Pandemi ini, biar kami hadapi.

Video TokTok yang viral, copasan berita dari sebuah media dengan narasi seenak perut sendiri dari malam tadi, memang akhirnya membuat pertahanan saya jebol sendiri.

Teman-teman, terhitung sejak awal merebaknya di tahun lalu, saya sudah tidak bisa pulang ke rumah bertemu keluarga. Bagaimana mau ke Jakarta, hanya berkendara ke Johor Bahru, Malaysia, yang berjarak satu jam saja dari rumah, sudah tidak bisa.

Lantas bagaimana situasi di Singapura hari ini? Saya akan merunutkannya satu per satu, sependek yang saya tahu.

1. Hari ini, 28 Juni 2021, murid upper primary (SD kelas 4, 5, 6) dan upper secondary (SMP kelas 3 ke atas) mulai masuk sekolah seperti biasa. Sementara lower primary dan secondary akan masuk sekolah di awal Juli, namun mereka tetap melakukan pembelajaran dari rumah. Home Based Learning namanya.

Why? Pastinya untuk membatasi kerumunan murid di awal semester. Tentu saja sekolah menerapkan prokes super ketat yang harus dipatuhi semua.

  • Masker harus dipakai setiap saat
  • Termometer harus dibawa masing² murid
  • Trace Together Token juga wajib dibawa

2. Apa itu Trace Together Token?
Seluruh warga yang tinggal di Singapura, diharuskan memiliki aplikasi Trace Together di ponsel, atau sebentuk token, yang bisa diambil secara gratis di Community Centre terdekat. Aplikasi ini berguna untuk mengecek keberadaan setiap warganya. Sehingga jika ada kasus baru, bisa langsung ditelusuri dengan cepat, untuk mengetahui siapa saja yang mungkin terdampak. Selanjutnya? Ya, isolasi dengan anjuran melakukan test dalam kurun waktu 14 hari, bagi mereka yang pernah berada di area yang sama, atau dekat dengan penderita.

Percayakah teman-teman semua, bahkan sebuah toko kecil di sini pun harus masuk dengan memindai QR code untuk Trace Together? Saya bukannya tidak pernah coba untuk “mbludus” dan main masuk saja. Malas sekali harus scan menggunakan ponsel. Tapi inilah wujud tanggung jawab, yang muncul bukan karena ada siapa yang ditakuti, tapi karena harus menjaga sekitar dan diri sendiri.

3. Singapura memasuki phase II Heightened Alert pada 4 Mei 2021 ketika ditemukan beberapa kasus baru yang lumayan tinggi, meski tak sampai berjumlah ratusan. Pemerintah bergerak cepat dengan menutup semua restoran, sekolah, perkantoran, bahkan beberapa shopping mall besar.

Namun terhitung sejak beberapa hari yang lalu, kami diperbolehkan untuk berkumpul maksimal 5 orang saja. Sementara kunjungan ke rumah dibatasi hanya sekali setiap hari (max. 5 orang). Sementara dine-in hanya diperbolehkan 2 orang saja dalam satu meja.

Bolehkah kami bargain alias minta keringanan alias cincay pada petugas? Kami serumah berlima, masak harus duduk berjauhan ketika makan di restoran? GAK BISA! Peraturan ada untuk ditegakkan, bukan demi dilanggar, hingga dianggap bisa main mata.

4. Terakhir ada peraturan baru lagi muncul, mengenai dining in di tempat makan. Be it restoran atau hawker centre. Kami tidak boleh meninggalkan meja makan dengan tumpukan piring di atasnya, termasuk kotoran seperti tissue, atau sisa makanan. Semua harus dikembalikan ke rak khusus untuk piring kotor, dan kami sudah harus membersihkan meja sebelum dipakai pengunjung selanjutnya. Kalau di restoran, para staff akan berkeliling dan dengan cepat membersihkan meja. Memastikan bahwa tidak ada kotoran menggunung di sana.

Kenapa begitu, ya? Resikonya … Denda.

5. Jangan tanya tentang pemakaian masker. Ratusan petugas berseragam merah akan keliling di banyak tempat untuk menegur siapa saja yang tidak memakai masker. Mau ndableg? Siap saja merogoh kocek dalam untuk membayar denda, atau berani masuk penjara. Tentu saja, ketika sedang berolahraga di tempat terbuka, kami diperbolehkan membuka masker “sebentar” saja.

6. Bagaimana dengan info harian dari pemerintah tentang jumlah kasus per hari? Pemerintah setempat menyediakan link Whatsapp resmi yang bisa dibaca setiap hari.

Apakah untuk menakuti? TENTU TIDAK! Pemerintah ingin kami semua paham dengan segala pembatasan yang diberlakukan. Bukan untuk menurunkan immunity, tapi agar kami semua waspada dan berhati-hati. Pesan terakhir saya dapatkan pukul 4 sore kemarin, 27 Juni 2021.

PM Lee memang pernah mengatakan pada pidatonya 31 Mei yang lalu, bahwa pandemic ini akan menjadi endemic. Tapi eh tapiii … tidak dalam waktu dekat ini. Suatu hari nanti, kita memang harus hidup berdampingan dengan Covid-19. SUATU HARI NANTI. BUKAN SEKARANG. Ketika masih banyak korban berjatuhan.

Teman-teman, percayalah. Singapura masih melewati banyak sekali pembatasan super duper ketat. Dengan peraturan yang tidak main-main, dan bisa dianggap ringan. Ancaman denda, penjara, pencabutan paspor, hingga deportasi, menghantui kami semua.

Saat ini vaksinasi masih terus dilakukan. Kali ini giliran semua yang berusia 12 tahun ke atas, bisa menerima vaksin secara percuma. Untuk mereka yang sudah divaksin, akan menerima sertifikat, lengkap dengan info nomor paspor jika NANTINYA sudah diperbolehkan melakukan perjalanan ke luar negeri. Keterangan tentang vaksinasi juga otomatis tercatat di aplikasi Trace Together masing-masing.

Terakhir, apakah masih ada karantina untuk mereka yang dengan alasan khusus harus pergi ke negara lain? MASIH.

Siap saja merogoh kocek $2000 atau $3000 per orang untuk menjalani karantina selama 14 hari hingga 30 hari, tergantung ketentuan dari ICA atau pihak imigrasi. Info ini saya dapatkan dari beberapa teman yang pernah melewati, plus dari sumber resmi pemerintah. Bukan comot sana sini dari media entahlah.

Jadi, jangan ribut lagi masalah endemi di Singapura sini. Tak perlu menambah kesedihan kami yang belum bisa berkumpul dengan orang tua, bahkan anak, suami, atau istri. Tentu saja tak bisa “nekat” pulang bukan karena tak rindu family. Tapi kami ingin menjagamu, menjaga mereka, dan juga diri sendiri. Karena itu wujud tanggung jawab sebagai manusia yang berakal, dan punya nurani. Jangan ketakutan berlebih, namun jangan juga abai, dan menganggap semua ini semata konspirasi.

Know what you say, say what you know. Don’t say what you don’t know.

Salam sehat,
Rere

*UPDATED* untuk tambahan info. Silahkan membagi informasi ini dengan utuh. Tanpa ada bagian yang dihilangkan. (Rere)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.