TURUN MESIN


TURUN MESIN

Menarik memperhatikan berita yang belakangan ini ramai diperbincangkan.

Sambil membaca dan menggali dalam, kubayangkan lelaki muda itu adalah Rayyan. Ia yang bahkan tidur pun masih masuk ketiakku, yang kadang bau belacan. Ia, yang ketika melihat sang ayah bercanda dengan pura-pura meninju lengan, akan melindungiku dengan tangan kecilnya penuh kekuatan. Ia juga akan balik memukul sang ayah, meski tertawa lepas setelahnya.

Itu … hanya bercanda.

Bukan ia saja, lelaki kecil yang sejak dini paham bahwa dirinya adalah penjaga keluarga. Kedua putri kecilku pun sama juga. Mereka yang selalu memeluk manakala melihat sang ayah berakting memukul lengan sang ibu.

Itu … hanya akting padahal.

Tak terbayang apa yang akan benar-benar mereka lakukan, manakala melihat sang bunda disakiti hatinya. Jiwa dan raga. Tak kira kecilnya badan, mereka pasti akan maju membela tanpa perhitungan.

Beruntung, tak salah kupilih pendamping hidup. Ia, yang mendampingiku “turun mesin” sampai kali ke tiga. Ia yang selalu mengingatkan ketiga buah hatinya untuk tak lepas memperhatikan keberadaan, kesehatan, bahkan kebahagiaan sang bunda.

“Remind her to drink water, from time to time.”
“Listen to bunda, and don’t make her angry.”
“Massage her back and remind her to rest.”
“Apply lotion on her back, when I’m not around.”

Tentu saja ini hanya sebagian. Belum lagi rentetan pengingat bahwa bunda harus dihormati dan disayangi, juga dibantu mencari kaus kaki yang selalu lupa ia letakkan di mana. Padahal tidak ada satu pun barang di rumah yang hilang, kecuali tak ia temukan. Hanya kaus kaki miliknya sendiri saja, yang bolak-balik raib tak tentu rimbanya. Aku … perempuan yang sudah turun mesin itu, memang hampir tak merasa perlu mengingat segala hal tentang diriku melulu.

Mengetahui sang belahan hati turun mesin berkali-kali, lelaki beruban itu toh tak lantas pergi. Malah menjagaku yang makin renta kini. Kursi pemijat ini salah satu bukti. Betapa ia tak ingin melihat sang pendamping yang sudah tua dan performanya turun ini, semakin berkarat sebelum benar-benar harus pergi.

Meski pijatan mesin ini bagiku tak senyaman tangan kekarnya, yang selalu memijat punggung lemahku dengan cinta. Tapi caranya menjaga serta tak menganggapku bak sebuah mesin yang sudah aus, membuatku yakin, putra kecil kami tak akan perlu berkeluh kesah seperti lelaki muda itu.

Hey, you … lelaki muda yang kini banyak dianggap durhaka, pada mereka yang mengagumi dengan gelap mata. Kurasakan cintamu yang tulus dan penuh untuk sang ibu. Kuyakin kelak pada istri dan anakmu, kau paham caranya mencintai dengan sungguh-sungguh. Tak menganggap belahan jiwamu mesin yang akan turun, hingga perlu diganti dengan yang baru. Kuyakin itu. Doaku untukmu, dan juga ibu cantikmu.

Love, Rere

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.