TUNANGAN


TUNANGAN

Mengerjakan pesanan 3D jelly cake bertema tunangan kali ini, membawa ingatan pada hari saya “nembak” suami. Hahaha!

Ya, di usia yang sudah 29 waktu itu, sebenarnya saya sudah malas membina hubungan yang hanya begitu-begitu. Tanpa tujuan, tanpa arah, tanpa ujung yang jelas.

Untung saja, begitu saya tanya apa tujuannya mendekati saya, juga rencananya ke depan, lelaki itu tidak lari menjauh karena ketakutan. Mimpi apa rupanya dia, ditembak seorang perempuan judes untuk menikah. Sungguh kasihan.

Jadi, selamat bertunang untukmu berdua. Semoga lancar hingga ke hari pernikahan, dan saling mencinta hingga akhir dunia.

Terima kasih, sudah memberi saya kesempatan untuk ikut berbahagia sambil mengingat masa lampau yang penuh kejutan.

Pssttt! Mau pesan untuk hari spesialmu juga? Hubungi saya, ya!

Love, Rere

MAUDY YANG AYU


MAUDY YANG AYU

Bolak balik kutonton video, saat sang artis muda nan Ayu naik ke podium untuk menerima gelar Masternya. Bukan tempat belajar sembarangan, namun dari sebuah universitas bergengsi di luar negeri.

Bermunculan kemudian suntingan berita dan tampilan foto miliknya, yang nampak sumringah berkebaya warna merah.

Sebagai ibu, aku pun ikut bangga. Sama seperti ribuan orang tua lain, yang mungkin akhirnya menunjukkan pencapaian akademik sang artis muda sambil berujar.

“Tuh lihat Maudy yang Ayu ini. Cantik, cerdas, terkenal, mementingkan pendidikan, sekolah di tempat yang membanggakan. Kamu harus seperti dia, ya.”

Moms, aku pun kagum pada si gadis Ayu. Namun menyuruh putri-putri kecilku untuk jadi sepertinya? Hmm … rasanya akan jadi hal yang paling terakhir sekali, bahkan tidak mungkin akan kulakukan.

Justru yang terjadi kemudian adalah, aku berkaca pada diri sendiri sambil berpikir, bagaimana orang tua si gadis Ayu mendidiknya di rumah. Itu yang terlintas, bukan keinginan untuk menunjukkan pencapaian sang gadis muda pada anak-anak saja.

Hmm … Pasti ayah si gadis ayu telah bekerja begitu keras, hingga mampu memberikan kedua putri cantiknya pendidikan dasar yang sangat baik, dengan biaya yang tentu tak sedikit. Puluhan tahun yang lalu, Jerman adalah tujuanku melanjutkan sekolah dengan mimpi meraih gelar master di sana. Mengapa Jerman? Karena Bahasa Jerman adalah salah satu mata pelajaran yang dengan baik kukuasai selama sekolah.

Apa daya. Mendapati biaya yang harus ditanggung papa, sebelum menemukan pekerjaan sambilan sembari kuliah, menghentikan semua mimpi yang telah tertanam sejak belia.

Aku kan, bukan artis terkenal, yang sudah punya uang jajan, dan sejumlah tabungan.

Bagaimana mungkin tega meminta sejumlah uang dari orang tua untuk modal berangkat kuliah ke lain negara, ketika biaya study tour ke Jogja jaman SMA saja tak sanggup kuminta. Padahal jumlahnya hanya ratusan ribu saja. Hingga akhirnya, aku jadi satu-satunya murid yang tidak berangkat study tour dari sekolah. Meski Jogja lalu menjadi bagian hidupku tanpa diduga, beberapa tahun lamanya.

Sejurus kemudian terdengar suara cekikikan kedua putriku dari kamar sebelah, dan suara si bungsu, menirukan bunyi yang didengarnya dari televisi di ruang tengah. Ahh, selama mereka tumbuh sehat dan bahagia, rasanya tak perlu menanamkan keinginan terlalu dalam, untuk melihat sosok sang gadis ayu menjelma dalam diri ketiganya.

Kunikmati saja alur hidup yang saat ini ada di hadapanku. Kekonyolan si sulung yang kadang bikin malu, perjuangan setengah mati si tengah menghadapi kelas akselerasi, dan ributnya suara si bungsu yang bermimpi jadi Youtuber terkenal seperti Comodo Gaming. Hahahaha!

I will always support you, guys! Me and your dad. Ayah yang tanpa lelah berjuang memberikan kehidupan yang baik untukmu semua. Meski usianya beranjak tua, ia tak pernah mengeluh dirinya lelah.

Tugas kami berdua, hanya membimbing serta mengawasi saja. Tumbuhlah dengan ceria dan nikmati semua prosesnya. Jatuh bangun, gagal berhasil, gagal lagi lalu bangkit, dan belajar darinya.

Tak perlu menjadi orang lain, dan berharap nasibmu sama seperti si gadis Ayu, atau public figure lainnya. Just be you, dengan banyak perbaikan tentu, serta keinginan untuk maju. Untukmu, dan masa depanmu.

Selamat ya, gadis Ayu! Salam hormat untuk ayah ibumu.

Love,
Rere

TURUN MESIN


TURUN MESIN

Menarik memperhatikan berita yang belakangan ini ramai diperbincangkan.

Sambil membaca dan menggali dalam, kubayangkan lelaki muda itu adalah Rayyan. Ia yang bahkan tidur pun masih masuk ketiakku, yang kadang bau belacan. Ia, yang ketika melihat sang ayah bercanda dengan pura-pura meninju lengan, akan melindungiku dengan tangan kecilnya penuh kekuatan. Ia juga akan balik memukul sang ayah, meski tertawa lepas setelahnya.

Itu … hanya bercanda.

Bukan ia saja, lelaki kecil yang sejak dini paham bahwa dirinya adalah penjaga keluarga. Kedua putri kecilku pun sama juga. Mereka yang selalu memeluk manakala melihat sang ayah berakting memukul lengan sang ibu.

Itu … hanya akting padahal.

Tak terbayang apa yang akan benar-benar mereka lakukan, manakala melihat sang bunda disakiti hatinya. Jiwa dan raga. Tak kira kecilnya badan, mereka pasti akan maju membela tanpa perhitungan.

Beruntung, tak salah kupilih pendamping hidup. Ia, yang mendampingiku “turun mesin” sampai kali ke tiga. Ia yang selalu mengingatkan ketiga buah hatinya untuk tak lepas memperhatikan keberadaan, kesehatan, bahkan kebahagiaan sang bunda.

“Remind her to drink water, from time to time.”
“Listen to bunda, and don’t make her angry.”
“Massage her back and remind her to rest.”
“Apply lotion on her back, when I’m not around.”

Tentu saja ini hanya sebagian. Belum lagi rentetan pengingat bahwa bunda harus dihormati dan disayangi, juga dibantu mencari kaus kaki yang selalu lupa ia letakkan di mana. Padahal tidak ada satu pun barang di rumah yang hilang, kecuali tak ia temukan. Hanya kaus kaki miliknya sendiri saja, yang bolak-balik raib tak tentu rimbanya. Aku … perempuan yang sudah turun mesin itu, memang hampir tak merasa perlu mengingat segala hal tentang diriku melulu.

Mengetahui sang belahan hati turun mesin berkali-kali, lelaki beruban itu toh tak lantas pergi. Malah menjagaku yang makin renta kini. Kursi pemijat ini salah satu bukti. Betapa ia tak ingin melihat sang pendamping yang sudah tua dan performanya turun ini, semakin berkarat sebelum benar-benar harus pergi.

Meski pijatan mesin ini bagiku tak senyaman tangan kekarnya, yang selalu memijat punggung lemahku dengan cinta. Tapi caranya menjaga serta tak menganggapku bak sebuah mesin yang sudah aus, membuatku yakin, putra kecil kami tak akan perlu berkeluh kesah seperti lelaki muda itu.

Hey, you … lelaki muda yang kini banyak dianggap durhaka, pada mereka yang mengagumi dengan gelap mata. Kurasakan cintamu yang tulus dan penuh untuk sang ibu. Kuyakin kelak pada istri dan anakmu, kau paham caranya mencintai dengan sungguh-sungguh. Tak menganggap belahan jiwamu mesin yang akan turun, hingga perlu diganti dengan yang baru. Kuyakin itu. Doaku untukmu, dan juga ibu cantikmu.

Love, Rere