CHANGE … FOR YOU


CHANGE … FOR YOU

“Kek mo mati gue!”

Begitu ekspresi saya pagi tadi, setelah sekian lama berhenti dari olahraga.

Ya, setelah jatuh sakit berkali-kali bahkan sejak sebelum bulan puasa kemarin, saya memang membatasi diri dan tak mau terlalu petakilan seperti biasa lagi. Namun rupanya saya jadi semakin malas berolahraga. Asli. Malas luar biasa. Akibatnya, justru badan rasanya makin tak karuan.

Love yourself, love yourself, love yourself.

Saya lalu ingat kalimat ini, yang berulang kali saya katakan pada diri sendiri.

Akhirnya, hari Minggu kemarin saya kembali beryoga, dan hari ini menyeret kaki untuk piloxing barre lagi. Meski rasanya setengah mati hingga kerap berhenti. Peace, Leti! 🤣

Ladies, jangan segan dan malas untuk berubah, yuk! Jangan dengarkan omongan kiri kanan yang mungkin akan bilang, “Elu olahraga mulu, kok enggak kurus-kurus?”

Oyy!

Olahraga itu bukan nyari kurus, Cuy! Olahraga biar badan segar, otot enggak kaku, pikiran juga relaks plus enggak kusut. Olahraga itu buat elu … bukan buat mereka yang pingin lihat elu kurus.

Berubah, yuk. Buat diri sendiri aja dulu. Berubah, cuma buat kamu.

Bunda, can we go jogging tomorrow?”
“Okay, Boss!”

I’m ready now. Are you ready to change, dearies?

Love,
Rere

Cantik.Perempuan.Perempuan.Cantik


Cantik.Perempuan.Perempuan.Cantik

Topik yang paling saya suka.

Bicara perempuan, perempuan bicara. Bicara tentang cantik, ya pastinya milik perempuan.

Sampai tak sadar, setelah memutar lagi tayangannya, ternyata ekspresi saya begitu berwarna. Hahaha! Pantas saja, saya pernah dikira mengidap satu penyakit oleh seorang dokter, yang melihat mata saya seperti mau keluar ketika bicara.

Begitulah ekspresi yang muncul tanpa bisa saya bendung, terutama ketika bicara tentang keberadaan perempuan, sesama kaum.

Cantik Yang Otentik. Begitu bahasan yang saya bagi hari ini.

Authentic artinya punya gaya sesuai kepribadian sendiri. Bukan ikutan ala dia, dia, atau influencer ternama lainnya. Namun, tetap harus membuka ruang untuk segala masukan. Masukan yang baik akan membawa perubahan yang baik juga pastinya. Itu kalau kita bersedia membuka diri dan hati, untuk segala perbaikan di banyak sisi yang masih kurang.

Hidup ini singkat, teman. Mari mengisinya dengan senyuman dan sejuta kebaikan. Hingga cantik didapat tanpa butuh banyak pengeluaran.

For beauty captures the eye, but personality captures the heart. (Unknown)

Terima kasih sudah bersedia menyimak, serta ngobrol cantik bersama saya dan kami semua, meski saya lebih milih nulis ketimbang bicara. Maafkan bunyi kemresek yang muncul tanpa diundang. Sejujurnya saya ndredeg hingga ke tulang.

Salam hangat dari Singapura.
Love, Rere

CAMPING FAIL


CAMPING FAIL

“We’re dead! We’re gonna die! Oh my God!”

Teriak putra bungsu kami yang waktu itu baru berusia enam tahun. Inilah sekelumit kisahnya, pada suatu hari di tahun 2017, yang lumayan traumatis dan penuh drama.

Cuaca awalnya sangat bersahabat ketika kami berlima tiba di lokasi pada Sabtu pagi. Sebuah tempat khusus untuk berkemah, di salah satu sudut East Coast Beach yang indah. Pagi harinya memang berselimut mendung dengan guyuran hujan. Untungnya, ketika kami tiba untuk mendirikan tenda, matahari muncul dengan malu-malu. Hembusan angin segar juga menyambut kedatangan kami semua. Hanya butuh sekitar 30 menit saja, untukku dan suami mendirikan tenda yang ukurannya lumayan besar.

Perkemahan pun berjalan lancar, anak-anak sangat menikmati keseruannya hingga malam datang. Ini adalah pengalaman pertama mereka, tidur beralas rumput, berhiaskan bintang-bintang. Aku yang sudah melengkapi diri dengan banyak “peralatan perang” pun mulai membuat masakan. Instant noodle, Milo sachet, lengkap dengan sayuran, telur, bakso, dan sausages.

Feels like home!

Agenda kami selama dua hari itu, memang hanya berenang, main pasir, tiduran, dan makan saja. Kebetulan hari itu adalah jadwal libur sekolah anak-anak. Tenda yang kami bawa itu pun masih terhitung baru, karena hanya sekali saja kami pakai untuk berkemah tanpa menginap. Hanya nampak beberapa lubang kecil akibat penyimpanan di gudang. Tak masalah, toh, cuaca terlihat cerah.

Hari Minggu, seharusnya kami berencana pulang selepas Asar. Tapi karena ketiga bocah yang kelihatan happy dan enggan untuk pulang, maka saya putuskan untuk berkemas selepas Magrib saja. Meskipun suami sudah mengajak untuk beres-beres sejak siang.

Apa daya, manusia punya rencana, Allah sang penentu segala.

Sekitar pukul lima petang, hujan rintik-rintik mulai datang. Awalnya kami anggap hanya sebentar, seperti yang terjadi pada Sabtu sore sebelumnya. Ternyata hujan rintik itu seketika menjadi besar.Bukan sekedar hujan biasa tapi hujan angin, persis seperti badai.

Tenda kesayangan yang meskipun baru kali kedua dipakai, usianya memang sudah lumayan lanjut, dan melapuk seiring waktu. Apalagi, sekian lama hanya nongkrong di sudut gudang. Lubang-lubang kecil yang awalnya tak saya hiraukan, ternyata membuat semuanya berantakan.

Tenda yang dibeli suami di Amerika itu pun nyaris melayang terbang, padahal aku sedang memasak mie instan. Ketiga anak kami pun berteriak histeris, karena air sudah mulai masuk dengan cepat ke dalam tenda. Angin yang berputar kencang juga hampir merobohkan semua tenda yang ada di lokasi perkemahan.

Rasanya campur aduk ketika itu. Antara panik memikirkan mie yang sedang dimasak, melihat semua tas sudah terendam air, plus harus saling membantu menahan pondasi tenda, yang hampir terbang tertiup derasnya hujan dan angin. Suasana betul-betul mencekam karena kami seperti terjebak di tengah hujan badai. Waktu itu Lara masih berusia 11, Lana 10 tahun, dan Rayyan baru saja enam tahun. Ia menangis ketakutan.

“We’re gonna die!” katanya dengan wajah pucat dan tubuh menggigil kedinginan.

Akhirnya dengan gagah perkasa, di antara tatapan iba para campers lain yang berteduh di bawah gazebo sekitar tenda, aku berjuang menembus angin dan hujan. Bergantian mondar-mandir membawa ketiga anak, beserta beberapa backpack besar untuk berteduh, di dalam toilet dan changing room terdekat. Sementara sang ayah berjuang menahan pondasi tenda supaya tak keburu terbang.

Untung saja kupilih suami bertubuh gagah dan kuat. Sendirian, ia menahan pondasi tenda yang sudah siap melayang.

Phew! It was a very tense moment for us, especially the kids. Layaknya adegan dalam film laga yang penuh dengan ketegangan, pengalaman kemah pertama anak-anak berakhir dengan sangat dramatis. Di tengah ketakutan dan tangis mereka, aku harus nampak kuat, meski tubuh sudah menggigil kedinginan akibat menembus hujan.

“Guys, listen. It’s an emergency situation. You have to be strong because we gotta help each other. Can we do that and support each other?”

Beruntung kedua putri saya sangat luar biasa. Mereka saling berpelukan untuk menguatkan, juga menenangkan adik bungsunya yang begitu histeris ketakutan.

Setelah anak-anak dan semua barang aman, aku kembali membantu suami. Kami putuskan untuk membuang tenda kesayangan beserta beberapa bantal, selimut, dan semua peralatan masak. Tak sunggup rasanya harus membawa semua barang itu kembali. Tubuhku sudah lemas, rasanya stress luar biasa menghadapi perubahan ekstrim yang terjadi.

Akhirnya, farewell tenda kesayangan. Jasamu akan selalu kami kenang. Selamat memasuki peraduanmu yang abadi. Di dalam tong sampah kau harus pergi.

Lesson learnt, jangan pernah mengabaikan peringatan alam, dan jangan pernah ngeyel sama suami tersayang. Hahaha! Kapok!

Pasir Ris, 22 May 2017

Love, Rere

TAKE A BREAK


TAKE A BREAK

Bunda! Are you okay? Guys! Come help!”

Begitu pekik putri saya yang sulung kemarin pagi, melihat sang bunda mendadak tak bisa berdiri.

Ya, sudah seminggu ini kondisi saya memang sedang tidak baik. Sakit pada perut, pinggang dan punggung sebelah kanan ini sangat menyiksa. Mencoba untuk menghindari rumah sakit di Phase Two Heightened Alert kali ini, menjadi alasan saya bertahan. Hanya minum obat penahan sakit yang bisa saya lakukan. Beruntung suami sedang bekerja dari rumah hingga bisa membantu mengurut badan si istri yang melemah.

Bagaimana ini semua terjadi? Semua kesalahan saya sendiri, yang menganggap bahwa tubuh ini sama kuat seperti ketika usia masih 20-an.

Dengan sombongnya saya mengangkat sebuah lemari buku yang beratnya minta ampun. Setelah itu rasa tidak nyaman saya alami di bagian groin sebelah kiri. Seperti ada rasa kesetrum ketika berjalan atau pada posisi tertentu.

Alarm itu saya acuhkan.

Kemudian saya sibuk mempersiapkan hantaran Lebaran untuk beberapa teman dan saudara. Duduk seharian mengerjakan jelly cake rupanya membuat tubuh semakin tak karuan. Selesai dengan belasan kotak, saya tak lagi bisa berdiri tanpa berpegangan. Kali ini sakit mulai datang di bagian kanan.

Alarm kedua tetap saya acuhkan.

Menjelang lebaran saya kembali sibuk memasak, untuk rumah dan beberapa bingkisan. Kembali seharian saya berdiri mengerjakan segala hal sendiri, dengan kondisi sakit yang makin menjadi. Sehari sebelum lebaran, saya masih mengantarkan semua bingkisan keliling Singapura bersama keluarga.

Rasa sakit yang terus menyerang tetap saya acuhkan, hingga bisa berkunjung ke rumah kerabat dan menerima tamu di hari raya. Sampai akhirnya kemarin pagi, saya benar-benar tak mampu berdiri lagi.

Panik, suami hampir memanggil ambulance untuk membawa saya ke rumah sakit. Waktu itu saya sedang sibuk membuat prakarya dari bahan clay. I know, saya memang tak tahu diri. Sudah tahu sakit, bukannya banyak berehat malah cari sibuk sendiri.

Saya bosan hanya bisa tiduran selama dua harian. Padahal banyak pekerjaan harus saya selesaikan. Tapi apa daya saya tak bisa berdiri atau duduk terlalu lama, karena beberapa pekerjaan mengharuskan begitu adanya.

Namun saya menyerah, dan pergi ke rumah sakit diantar seorang sahabat suami. Saya menolak diangkut ambulance seperti usul suami sebelumnya. Rasanya takut, malah nanti khawatir sendiri.

Tiba di rumah sakit saya segera menjalani tes urin yang hasilnya normal. Alhamdulillah. Hanya tekanan darah yang meninggi, akibat anxiety dan upaya menahan rasa sakit yang kadang membuat tubuh menggigil.

Diagnosa dokter ternyata saya mengalami lower back pain. Phew! Bayangan saya awalnya adalah HNP, hernia atau usus buntu. Alhamdulillah, saya tak perlu dirawat hari itu. Dalam lima hari saya akan diobservasi dengan beberapa jenis obat. Kalau sakitnya datang lagi, saya harus menemui seorang orthopedis.

Saya merasa frustasi, karena tidak mengira di usia 45 harus mulai bisa menahan diri. Tak lagi sok kuat dan berusaha melakukan semua hal sendiri. Saya juga harus berusaha bergerak lebih lambat, tidak gedubrakan seperti hari-hari kemarin. Tentu tidak lagi bisa petakilan seperti biasanya. My oh my. Saya ini bahkan jalan pun tak bisa pelan, Cinta! Bayangkan saja.

Hari ini kondisi saya mulai membaik, bisa berjalan tegak meski harus melangkah super pelan. Beberapa posisi membuat sakit pada bagian belakang itu datang lagi. Sigh.

Teman-teman perempuan, jaga diri kalian. Tak perlu menunggu semaput untuk paham bahwa tubuh butuh perhatian. Kita adalah prioritas utama, karena sakit itu sungguh tidak menyenangkan. Jangan segan untuk mengatakan pada suami dan anak-anak apapun yang kita rasakan. Mereka adalah support system terbesar yang kita miliki. Mereka harus tahu apapun yang sedang terjadi, serta harus saling menguatkan satu sama lain. Mereka juga harus saling membantu dan mampu mengambil alih semua pekerjaan sang ibu.

Saya adalah ibu dan istri yang sangat beruntung. Anak-anak dan suami begitu sigap memberikan bantuan sepenuh cinta, setiap kali kondisi saya menurun, dan tidak pernah menganggap saya lebay atau mengada-ada. I’m blessed.

Salam penuh cinta dan semoga semua selalu sehat jiwa raga.

Loosen up, Ladies. Sometimes giving ourselves a break, is the very thing we need.

Love, Rere

RECYCLED DECO


RECYCLED DECO

Recycled?

Yep! Semua media yang saya pakai ini adalah hasil daur ulang kanvas dan botol bekas.

Tiga kanvas yang saya pakai untuk membuat motif mandala ini adalah kanvas bekas. Satu milik saya yang hasil lukisnya kurang saya sukai karena agak berantakan, dua lainnya adalah milik Lara dan Rayyan yang setengah jadi. Merasa sayang melihat ketiganya teronggok tak berdaya di pojokan, saya pun mendaur ulang semuanya. Melapisi dengan acrylic paint warna hitam, membuat pola untuk bisa menyatukan tiga kanvas, lalu mulai menggunakan dotting tools untuk mewujudkan motif mandala bertema inner peace.

Tema yang cocok sekali untuk situasi saat ini yang serba tak menentu akibat pandemi. Tak bisa mudik, tak boleh berkunjung dengan bebas antar keluarga, juga menerima banyak berita duka yang mengiris jiwa.

Botol yang saya pakai itu hasil daur ulang juga dari YL Ningxia Red yang saya miliki banyak sekali di rumah. Seperti beberapa botol lain yang sudah saya lukis, kali ini saya membuat motif mandala bertema sama dengan lukisan pada di kanvas. Lumayan kan, untuk mengisi waktu selama berpuasa? Meski lebaran tak bisa saling mengunjungi dengan bebas, paling tidak saya punya home deco baru yang manis dan bikin gemas.

Mau belajar? Tunggu kelas offline “Craft Chain with Reyn” setelah Lebaran, ya. Sehat selalu semua!

Love,
Rere