Then And Now


Then And Now

“Do you have a boyfriend, Kak?”

Begitu tanya suami saya semalam, ketika kami berlima sedang berbuka puasa.

Pertanyaan ringan yang membuat kedua putri saya makjegagig, njenggirat. Sambil saling memandang, mereka berdua tertawa girang.

“Apelah Ayah ni,” jawab si tengah menjadi juru bicara sang kakak yang tak mampu berkata-kata.

Saya tersenyum simpul. Rasanya baru saja kemarin, mereka berdua memakai tas punggung bertali yang terkait pada kedua lengan saya, supaya kedua balita pecicilan itu tak bisa berlarian. Rasanya baru kemarin saya menggendong Rayyan, mendorong Lana dalam keretanya, dan menggandeng tangan mungil Lara, turun naik kendaraan umum ke mana-mana.

Sekarang saya harus siap jika suatu hari nanti, ada lelaki muda mengantar mereka berdua pulang ke rumah. Meski tak ingin membayangkan, namun cepat atau lambat saat itu pasti akan datang.

Sang ayah hanya tidak ingin putri-putri kecilnya nanti terkaget-kaget manakala mendapat surat cinta dari seseorang. Walaupun saya tahu, ia akan menjaga mereka berdua sekuat tenaganya.

“Bunda, do you know the feeling of being neglected by your crush?”

Hadeh! Kalau yang satu ini, tak perlu ditanya tentang urusan cinta. Rasanya ia cuma butuh dijitak dan dijewer saja.

Love, Rere

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.