KEBAYA


KEBAYA

Hari Kartini selalu membawa ingatanku di masa SD dulu, kelas empat kalau tak salah waktu itu.

Si itik buruk rupa, yang meskipun prestasi akademisnya membanggakan, namun selalu kalah karena rupa dan penampilan. Penampilan fisik waktu itu memang membuatku kerap jadi korban perundungan.

Hari Kartini di tahun 80-an itu, adalah kali pertamaku berani maju ke depan. Mama yang “memaksa” putri kecilnya yang gak punya kepercayaan diri ini, buat tampil berani.

“Aku enggak bisa lenggak-lenggok depan orang, Ma. Aku kan enggak cakep.”
“Kata siapa anak Mama enggak cakep? Yang penting nanti jalan saja seperti biasa. Senyum lebar seperti kalau kamu ketawa di rumah.”
“Tapi kan, gigiku gede-gede, jarang lagi, trus warnanya juga enggak putih. Malu, Ma.”
“Ayo ah, berani. Anak Mama pasti bisa.”

Akhirnya dengan terpaksa kuturuti keinginan mama buat mengikuti sebuah lomba keluwesan. Sebenarnya di kelas satu aku pernah ikut berkebaya juga, namun hanya pawai bukan lomba. Pengalaman pertama yang traumatis, karena semua orang tertawa melihat sanggul di kepalaku, yang bak helm kebesaran abis.

Pagi itu, hari Kartini sekitar tahun 1985. Kupakai sanggul yang dibuat mama di salon kecil miliknya, dan baju kebaya warna merah warisan mama di masa muda, yang dikecilkan malam sebelumnya. Dengan wajah kemerahan menahan gugup, kupasang senyum lebar meski jantung kencang berdegup. Dari sudut mata kulihat wajah-wajah sinis yang menertawakan. Pasti mereka berpikir, tak mungkinlah si itik buruk rupa ini yang menang.

Upacara bendera hari Senin berikutnya, rupanya ada pengumuman. Takjub, namaku yang terpilih jadi pemenang lomba keluwesan. Kubenamkan wajah di balik topi merah putih dalam-dalam, ketika maju menerima hadiah kemenangan. Lagi-lagi beberapa mata memandang sinis dan berbisik tidak senang. Bagaimana mungkin si itik buruk rupa yang jadi pemenang.

Hari Kartini mungkin hanya nampak soal kebaya dan kebaya saja bagi sebagian. Tak banyak yang paham apa artinya bagi beberapa orang. Termasuk diri ini yang dulu selalu merasa jadi korban. Hari Kartini bikin perempuan kecil itu sadar, dia bukan sekedar itik buruk rupa yang tak pernah akan jadi orang.

Kartinian bukan sekedar kebayaan. Kartinian membuat para perempuan berpikir dengan sadar, “Gue harus merasa nyaman.” Mau kebayaan atau dasteran, yang penting punya kebisaan dan prestasi membanggakan. Jadi ibu Kartini tak perlu melihat kebaya sebagai sebuah penderitaan. Nantilah suatu saat di alam lain, asumsi ini akan kutanyakan. Tapi mohon, jangan cepat-cepat didoakan.

Love,
Ibunya Rayyan (Bukan Ibu Kartini)

Then And Now


Then And Now

“Do you have a boyfriend, Kak?”

Begitu tanya suami saya semalam, ketika kami berlima sedang berbuka puasa.

Pertanyaan ringan yang membuat kedua putri saya makjegagig, njenggirat. Sambil saling memandang, mereka berdua tertawa girang.

“Apelah Ayah ni,” jawab si tengah menjadi juru bicara sang kakak yang tak mampu berkata-kata.

Saya tersenyum simpul. Rasanya baru saja kemarin, mereka berdua memakai tas punggung bertali yang terkait pada kedua lengan saya, supaya kedua balita pecicilan itu tak bisa berlarian. Rasanya baru kemarin saya menggendong Rayyan, mendorong Lana dalam keretanya, dan menggandeng tangan mungil Lara, turun naik kendaraan umum ke mana-mana.

Sekarang saya harus siap jika suatu hari nanti, ada lelaki muda mengantar mereka berdua pulang ke rumah. Meski tak ingin membayangkan, namun cepat atau lambat saat itu pasti akan datang.

Sang ayah hanya tidak ingin putri-putri kecilnya nanti terkaget-kaget manakala mendapat surat cinta dari seseorang. Walaupun saya tahu, ia akan menjaga mereka berdua sekuat tenaganya.

“Bunda, do you know the feeling of being neglected by your crush?”

Hadeh! Kalau yang satu ini, tak perlu ditanya tentang urusan cinta. Rasanya ia cuma butuh dijitak dan dijewer saja.

Love, Rere

Bukan KARTINI


Bukan KARTINI

“Mbak, kerja di mana?”
“Hmm … how do I put it in one word?”

I’m a wife and a mother.

Now let me elaborate that.

Sebagai seorang istri, tugasku adalah menjaga suami. Membuatnya sehat, sehingga jauh dari penyakit. Membuatnya nyaman, hingga ia betah berada di rumah yang bersih dan terawat. Menjaga asupan makanan, supaya sehat pencernaan. Memastikan semua pengeluaran, agar titik peluhnya tak melayang entah ke mana. Paling utama adalah menjaga martabat dan nama baiknya, dengan tidak berlaku sembarangan.

Sebagai seorang ibu, tugasku banyak bukan cuma itu. Aku adalah seorang juru rawat, yang harus sigap menangani segala penyakit yang datang menyerang. Aku adalah sang juru masak, yang harus memastikan semua isi perut kenyang. Aku adalah si ahli gizi, yang harus selalu menjaga kesehatan semua penghuni. Untuk itu aku harus menjadi seorang stockist, yang memantau ketersediaan bahan makanan, dari yang gurih hingga manis.

Aku juga menjadi tempat laudry, yang harus menjaga semua pakaian bersih dan wangi. Aku pastinya adalah seorang cleaning service, yang harus memastikan semua ruangan bersih tanpa kotoran atau bau amis.

Aku pun adalah seorang psikolog, yang bahunya harus siap menjadi tempat bersandar dari sebuah kekecewaan atau tangisan. Kadang aku juga jadi seorang plumber, yang berbekal peralatan sederhana, harus membetulkan pipa atau apa pun yang mampet. Oh, tempo-tempo aku juga harus siap menjadi sebuah ensiklopedia. Tempat semua orang bertanya di mana letak pakaian, siapa itu Tuhan, bagaimana bentuk gorgonian, atau bagaimana cara membetulkan mainan.

Kadang aku lupa rasanya menjadi seorang perempuan, yang lemah lembut dan selalu butuh perhatian. Hari-hariku sudah terlalu penuh untuk sekedar memikirkan. Sampai di hari spesial, aku justru sibuk dengan segunung cucian.

Jadi, bagaimana aku harus menjawab pertanyaan tentang pekerjaan, dalam satu kalimat sederhana? Jika setiap harinya, tugasku berubah tergantung keadaan. Padahal aku bukan perempuan hebat, tanpa deret gelar pendidikan, tanpa kartu nama dengan profesi menggiurkan, dan juga bukan sosok ternama. Seperti Kartini yang namanya harum, hingga selalu dikenang sepanjang kehidupan.

Namaku … hanya Bunda. Bunda saja.

Love,
Rere

Kantong Doraemon


Kantong Doraemon

“Mama kok mumet liat isi tas dan kopermu. Penuh sama kantong Doraemon. Opo ae iku isine?”
“Ih, aku yang mumet liat isi tas Mama. Semua campur aduk. Ini lho pake kantong-kantong jadi rapi.”

Begitulah mama, setiap kali melihat saya packing sewaktu masih bekerja dulu.

Beberapa kantong mungil dengan motif senada, menjadi isi koper serta tas tangan yang selalu saya bawa.

Dalam koper, kantong-kantong itu berisi baju bersih, baju kotor, jeroan alias daleman, juga sepatu ganti. Kantong lainnya berisi make up lengkap, pembersih muka dengan kapas dan segala peralatan perempuan, toiletries, obat-obatan, tissue baik kering, basah maupun untuk toilet. Ada lagi kantong untuk segala rupa kabel beserta charger juga power bank, plus assesoris dengan kantong-kantong kecil dalam sebuah kantong berukuran sedang. Kantong dalam kantong, alias kantong beranak. Oh, tak lupa kantong berisi minuman sachet, lalu kantong terpisah untuk cemilan.

Bayangkan, ada berapa banyak kantong dalam satu koper?

Bagaimana dengan isi tas tangan? Ya, sama juga walaupun lebih simple.

Ada kantong kecil berisi make up untuk touch up, kantong untuk tissue, dompet kecil untuk kartu, key pouch, dan kantong obat. Oh, satu lagi untuk printilan seperti minyak oles, sanitizer, dan lain-lain.

Buat saya, seperti ini lebih memudahkan untuk mencari barang yang diperlukan. Namun tidak begitu bagi sebagian, misalnya mama. Menurutnya, saya adalah manusia yang ribet. Hahahaha! Berbeda dengan saya si kantong Doraemon, isi tas mama hanya sebuah dompet, dan segala rupa barang bercampur aduk menjadi satu.

Biasanya, kalau saya yang disuruh mengambil sesuatu dari dalam tasnya, dan tidak kunjung menemukan, akan saya jungkir balikkan saja seluruh isinya. Kok, mumet melihat segala macam barang bercampur amburadul. Setelah itu saya akan menata dengan rapi, lalu memasukkan beberapa kantong kecil di dalamnya. Tentu saja tak bertahan lama, karena esok hari, isinya kembali seperti semula.

“Pusing ah, Mama, liat banyak kantong. Malah kesuwen mbukak satu per satu.”

Ya, salam!

Kalau kamu, geng kantong Doraemon apa geng Mama?

Much Love,
Rere

Senandung Cinta


Senandung Cinta

Siapa tak pernah merasakan cinta. Mungkin hanya mereka yang tak bernyawa, atau pernah merasakan kepedihan.

Cinta, yang kadang menjadi inspirasi sebuah alunan. Diramu dengan musik yang indah hingga menjadi sebuah kasidah.

If You’re Not The One, mungkin pernah membuat seseorang berkata sial! Namun senandung selawas Seroja, nyatanya mampu membuat sebuah kisah sedih berubah menjadi senandung penuh kasih.

Bagaimana dengan kisah yang lain? Tentu saja semua begitu mengaduk perasaan dan batin.

Someone’s Watching Over Me, mungkin yang paling mampu mengobrak-abrik tatanan hati. Hati yang begitu penuh cinta, namun dihancurkan dalam sekejap mata. Hingga semua harapan luluh lantak, tak bersisa.

Selamat untukmu! Deretan aksara yang tertuang qdarimu, mampu membuatku merenung. Bahwa perjalanan hidup memang sangat berliku. Meski sulit namun hidup harus terus bergerak, dari sebuah ruang sempit … bernama sakit.

Terima kasih untuk 20 penulis yang bersedia berbagi senandung cinta kasihnya. Para perempuan hebat, dan lelaki luar biasa.

Salam hangat,
Rere
(Nubar Area Luar Negeri)

Hitam Putih Perempuan


Hitam Putih Perempuan

Perempuan.

Selalu punya cerita mengejutkan. Isi hatinya tak mudah dicari jawabnya. Semua tertuang dalam 21 cerita yang sangat menghangatkan.

Perempuan yang bermetamorfosa, ada lalu tiada, menghadapi kepingan puzzle kehidupan, hingga kembali menjadi manusia purba.

Sebuah kacamata milik seorang mama, ternyata berisi kenangan penuh duka lara. Namun ia membentuk sebuah jiwa, menjadi tegar menghadapi dunia. Meski kadang butuh tiga sahabat, atau seseorang yang sekedar duduk to keep me company silently, through the rain. Serta deretan kisah lain yang begitu menawan.

Surat Untuk Diriku Yang Dulu, nyatanya paling mencuri hatiku. Kisah manis penuh kesederhanaan, yang mampu membuat siapa pun yang membacanya, larut melangut.

Selamat hey kamu! Deretan aksaramu mewakili pengembaraan seorang perempuan, yang sedang mencari jati diri di tengah sebuah kerinduan. Bahwa ada hitam, dan putih di setiap perjalanan.

Peluk penuh cinta untuk 20 perempuan hebat yang bersedia berbagi rasa. Sebagai ibu, emak, anak perempuan, maupun sahabat bagi sesama.

Salam hangat,
Rere

Botol Bekas Jadi Vas


Botol Bekas Jadi Vas

“Banyak banget botol NXR.”

Saya memang peminum NingXia Red karena manfaatnya yang sangat baik untuk saya pribadi.

Saking seringnya beli, jadi botolnya pun menumpuk di gudang, karena bentuknya yang manis jadi dibuang sayang.

Sakit kepala yang hari ini menyerang, membuat saya butuh outlet yang harus bikin senang. Maka saya pun melihat sekililing rumah untuk mencari korban.

Voila! Botol-botol bekas, sudah berubah jadi deretan vas cantik, untuk deco di rumah.

Lumayan, kan?

Punya botol bekas? Recycle aja.

Love,
Rere

D.I.Y FASHION


D.I.Y FASHION

Hmm … D.I.Y?

Yes! Do It Yourself.

Siapa bilang untuk jadi fashionable butuh modal besar?
Siapa bilang untuk jadi fashionista butuh branded stuffs atau designer clothes?

Be your own design artist, Gengs!

Buka lemari, cari baju yang sudah kekecilan, atau malah kebesaran, atau yang sudah tidak terpakai karena sesuatu hal.

Cari inspirasi dari internet yang bejibun dibagi, buka Pinterest untuk ide seru, dan cari video tutorial yang kamu mau.

Saya memang bukan penjahit betulan, karena hanya belajar secara otodidak. Menjahit baju baru nyatanya memang kurang menarik hati saya. Mendhedeldhuwel baju lama yang dijadikan baru rasanya lebih menarik kalbu. Caelah!

Apa saja D.I.Y Fashion yang pernah saya buat? Semoga menjadi inspirasi ya, Gengs!

Yuk, buka lemarimu dan bikin sesuatu yang lama jadi baru!

Love,
Rere & SewAdorableYou!

PS: Ini hanya sebagian kecil hasil oprekan tangan saya mendhedeldhuwel baju lama. Ada beberapa baju yang kemudian berubah bentuk menjadi tas bertali, atau lunch bag tempat anak-anak menyimpan kotak makan.