Sincerity


Sincerity

“Don’t be someone many people avoid to be with.”

Selain mengajarkan tentang disiplin dan tanggung jawab, saya selalu mengingatkan anak-anak untuk bersikap baik pada siapapun.

Jangan jadi pribadi yang keberadaannya tidak disukai. Bukan berarti harus berubah menjadi seseorang yang bukan diri sendiri. Bukan juga berarti harus bersikap manis di depan namun bengis di belakang.

Tumbuhlah besar jadi manusia yang tulus dan baik pada sesama. Bagaimana caranya? Mudah namun tak mudah. Dengan menahan lisan maupun tulisan.

Mengapa saya dan suami menitikberatkan persoalan ini?

Kami tidak sedang mengajarkan anak-anak untuk bermuka dua. Kami mengenal masing-masing dari mereka, sehingga mengajarkan untuk merubah segala prilaku yang tak semestinya.

Si sulung, adalah anak yang manis. Meski ketika kecil tak bisa dipegang, ketika besar ia tumbuh pendiam. Saking pendiamnya, ia terbiasa menjawab dengan singkat.

“Kak, have you had your lunch yet?”
“No.”
“Where are you now?”
“Home.”

Jawaban singkat seperti ini bisa memunculkan anggapan tak sopan, meski ia tak bermaksud demikian. Mungkin saja suatu hari nanti ia menjadi seseorang yang tak disukai keberadaannya karena masalah attitude dan kesopanan.

“Ih, males gue kalo ada dia. Gak enak diajak ngomong, suka enggak sopan.”

Si tengah, ia mewarisi banyak sifat saya yang jutek, judes, pemikir, kadang terlalu lugas mengutarakan isi kepala. Padanya saya selalu ingatkan untuk berfikir dan berhati-hati sebelum bicara.

Pernah pada suatu hari saya menasihatinya ketika ia saya ajak bertemu dengan seseorang yang saya hormati sejak bangku sekolah. Mencoba untuk bersikap ramah, sang tamu mengajak si tengah bicara dan bertanya tentang bagaimana saya, ibunya, di rumah. Hanya bergurau saja, tak ada maksud untuk kepo atau apapun, karena ia sedang bercerita bagaimana saya ketika sekolah dulu. Si judes lalu berbisik dengan suara yang lumayan keras hingga bisa didengar banyak orang.

“Why does she need to know?”

Ya, salam! Dia berfikir orang lain tak memahami perkataannya itu. Sepulang dari pertemuan, saya mengajaknya bicara dan mengatakan bahwa ekpresi yang ia ungkapkan itu, sangat tidak saya sukai. Saya tak ingin kelak ia menjadi pribadi yang dihindari.

“Ah! Males gue kalo ada dia. Ngomongnya suka kasar.”

Atau,

“Ih! Males gue kalo ada dia. Ngomongnya nyinyir mulu!”

Si bungsu, yang kerap terlihat sok tau. Ia memang cerdas dan ingatannya sangat kuat. Hingga tiap kali ada pembicaraan, ia akan masuk dan berbagi pengetahuan. Saya paham maksudnya baik, hanya ingin berbagi saja. Namun lelaki kecil ini harus juga mengerti, bahwa seringkali apa yang kita pahami ternyata hanya seujung kuku jari dari orang lain. So don’t act smart. Bersikap rendah hati dan tidak boleh membanggakan diri, hingga kelak tak ada orang yang tidak menyukai.

“Ih! Males gue kalo ada dia. Suka sotoy dan sok iye!”

Jadilah lelaki yang tak banyak bicara, Nak. Seperti ayahmu. Namun penuh dedikasi, bertanggung jawab, dan baik hati. Itu baru lelaki sejati.

Putri-putri kecilku, kalian justru harus bicara. Berani speak up dan tidak boleh diam ketika tidak dihargai. Namun ingat, respect is earned. NOT given. Bersikap baik, penuh sopan santun, dan hormat pada sesama. Itu baru namanya perempuan yang bisa menjaga martabatnya.

Be kind and sincere.

Be so positive, that negative people don’t want to be around you.

Love, Rere

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.