TALENAN HITAM


TALENAN HITAM

“Hitamnya chopping boardmu, Bunda.”
“Ih, iya. Ya, ampun! Baru sadar.”

***

Melengos wajah suami saya, kala melihat ulang tayangan video live yang biasa saya buat setiap pagi menjelang.

Hampir setiap hari, saya memang menayangkan video pembuatan camilan untuk anak-anak. Pagi itu saya tidak melihat lagi ulangannya seperti biasa, karena terlalu sibuk menyiapkan banyak hal di rumah. Sampai suami dan beberapa teman tertawa, melihat betapa hitamnya chopping board alias talenan yang saya pakai.

Saya benar-benar tidak menyadari noda hitam yang sudah bertanda, di talenan yang selama ini sudah berjasa. Ia yang menemani saya menyajikan masakan untuk semua kesayangan di rumah. Meski nampak hitam tapi saya selalu mencucinya bersih dengan air panas, lho. Ia menghitam entah karena apa, saya pun lupa.

Video itu lalu lumayan membuat saya merenung, dan berpikir dalam tentang kehidupan.

Begitu ya ternyata, kala melihat sesuatu dari sisi yang lainnya. Mungkin selama ini kita sendiri tak pernah melihat cacat cela pada diri sendiri, karena selalu sibuk mengomentari. Bereaksi pada segala hal yang bukan urusan pribadi. Mencibir bahkan bergunjing secara terbuka, tentang masalah orang lain. Masalah yang kita tak pernah tahu kebenarannya, bahkan kadang berasumsi semaunya. Tanpa kita sadari, mungkin diri ini juga menjadi bahan gunjingan, meski tak nampak di permukaan.

Talenan hitam yang baru saya lihat penampakannya melalui tayangan video di dinding hari itu, ibarat sebuah pengingat. Bahwa ada noda, cacat cela, atau kesalahan, yang baru nampak ketika pandangan berubah arah serta haluan.

Hmm … memang kadang butuh merubah pandangan atau mendengar komentar orang tentang diri kita, sebelum akhirnya sadar. Kamu, saya, kita … sama berdosanya. Sama bersalahnya, dan sama-sama punya noda dalam kehidupan.

Terima kasih, talenan hitam. Kalau bukan karenamu, mungkin diri ini tak pernah tahu betapa fokus pada perbaikan diri sendiri itu, yang paling penting dan perlu.

Namun maaf, dirimu terpaksa berakhir di bak sampah setelah cukup mengabdi sekian tahun di rumah. Ibarat noda pada perilaku yang harus diperbaiki setiap waktu, bahkan diubah dan dihilangkan bila perlu.

Maaf, talenan hitam, kedudukanmu di dapur berubah dengan dia yang baru. Seperti halnya attitude yang harus melewati jalan berliku sebelum akhirnya tahu, bahwa refleksi atas diri sendiri itu sangat perlu. Jangan sampai jari ini banyak menunjuk, tapi lupa untuk memperbaiki tingkah laku.

Don’t judge. You might know the names, but never the stories.

Love,
Rere

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.