GRATISAN


GRATISAN

“Yah, ambil masker gratisan, yuk.”
“Enggak mau.”
“Ish!”


Secara berkala, pemerintah setempat memberikan kami semua, fasilitas masker yang bisa diambil gratis. Hanya butuh nomor IC atau KTP yang dimasukkan pada sebuah mesin, voila! Masker gratis pun siap meluncur untuk dipakai siapa pun.

Sayangnya, keriangan saya menerima barang gratisan ini kerap bertolak belakang dengan prinsip suami. Ia memang tidak pernah ikut menjadi seorang “kiasu” pada hampir semua hal. Berbeda dengan sang istri yang kerap heboh sendiri. Terutama jika ada kerumunan di sana-sini. 🤣

Padanya, “Biarkan mereka yang lebih membutuhkan mengambil bagian kita. Kita toh masih mampu membeli, meski bukan seorang yang hidup berlebih.”

Bangga, sih, saya padanya. Prinsip ini yang kemudian menjadi sebuah pengingat penting, untuk menekan keriangan saya, pada semua hal yang tidak terlalu saya butuhkan. Walaupun saya masih tetap bahagia mengejar barang gratisan, hingga saat ini. 🤣

Tentu saja dengan resiko menerima “roll eyes” dan muka melengos darinya, yang takjub dengan kegigihan saya. Hingga rela berkeliling mencari masker gratisan ini, contohnya.

“Ini bagus, Yah. Ukurannya besar, pas buatmu biar ganti-ganti.”
“Heleh! Ayah belikan Bunda masker seperti yang kemarin, ya?”
“Okay. Mahal?”
“Enggak.”
“Okay, deh.”

Meskipun bahagia akhirnya punya masker gratisan, namun rejeki jangan pernah ditolak, Gaes!

Love,
Rere

Emak MoDisAn
(Modal Diskon dan Gratisan)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.