BELIEVE


BELIEVE

“I feel really stressed out, Bunda. Express is hard. School is hard. I get headaches and I’m super sleepy even sometimes after sleeping around 10. I’m not sure how much longer I can cope with it … I’m sorry, Bunda. I’ll try harder.”

Begitu sebagian dari pesan singkat yang saya terima kemarin. Lana, putri kedua saya mengirimkannya di sela masa istirahat sebelum kegiatan ekskulnya dimulai. Pesan singkat tak singkat, yang cukup membuat saya mundur untuk berpikir.

Saya menelaah kata demi kata yang dikirimkannya itu. Berpikir ulang apakah tepat keputusan saya mendorongnya mengambil tawaran untuk masuk kelas akselerasi, atau express stream namanya di sini. Ia juga mengeluh bahwa pada saat yang bersamaan dengan musim ujian di sekolah, madrasah tempatnya belajar agama juga mengadakan ujian.

Saya merasa ia hanya takut menghadapinya. Ia takut gagal. Apalagi setelah 1 mata pelajarannya di sekolah, mendapat nilai yang tidak sesuai harapan. Padahal ia merasa mampu.

Ia lalu bertanya apakah ia bisa belajar pada saya saja tentang Islam, hingga tak perlu datang dan belajar di kelas madrasah. Hmm … ilmu saya sangat tak cukup untuk membekalinya dengan pengetahuan tentang agama. Saya pun masih terus belajar. Itu sebabnya saya mengirimnya belajar ke madrasah, dengan harapan ilmu yang mereka dapat bisa menjadi pegangan dalam hidup kelak.

Sepulangnya dari sekolah, kami mulai berbicara dari hati ke hati. Setelah mendapat banyak pencerahan dari sang ayah, tiba giliran saya berbicara padanya. Sebelum mulai, saya memeluknya dan berkata betapa bangganya kami semua pada segala pencapaiannya di sekolah selama ini.

Sambil mengusap lembut kepalanya, saya mengatakan bahwa saya paham ketakutannya menghadapi ujian. Ia takut karena memang tidak mempersiapkan diri dengan baik, hingga tak punya kepercayaan diri yang cukup. Namun hidup sejatinya berisi penuh ujian, Nak. Jika satu ujian saja membuatmu mundur bahkan sebelum mencoba, bagaimana kamu akan menjalani hidup kelak? Hidup yang pasti akan semakin tidak mudah.

Gagal itu biasa, yang tidak biasa adalah tidak pernah gagal … karena tidak pernah berani mencoba.

Saya mengajaknya untuk mengurai masalah dan mencoba fokus satu per satu untuk menyelesaikan dengan segala kemampuan. Ia saya ajarkan untuk percaya pada kemampuan dirinya sendiri.

If you think you can, you will. If you think you can’t, you won’t.

Ingat, Nak. Ujian itu harus ada, untuk melihat batas kemampuan kita. Kemampuan yang kita dapat melalui proses belajar yang tanpa henti, hingga kelak tiba di ujung hari. Belajar yang harus membuat kita semakin merunduk, bukan mendongak pongah. Bak ilmu padi yang kerap menjadi nasihat.

Jangan mundur menghadapi ujian yang ada di depanmu. Maju dengan berani, percaya pada diri sendiri. Bekali diri, dan jangan pernah menyerah meski hanya sekali.

Pembicaraan pun kami tutup dengan pelukan hangat serta janji, bahwa ia akan mencoba lebih keras menghadapi semua ujian di hadapan. Kerjakan satu per satu, jangan menumpuknya dan hanya pergi berlalu. Selesaikan tugasmu, manfaatkan setiap detik hidupmu.

If you believe in yourself, anything is possible.

Love,
Rere

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.