FLAWS


FLAWS

Ketika ingin mengatakan hal buruk tentang seseorang, ingat jika orang lain juga punya mulut untuk membicarakan keburukanmu.

Ketika ingin memfitnah seseorang, ingat jika orang lain juga punya mulut untuk mengabarkan cerita buruk tentangmu, dan ada telinga yang mendengar untuk menyebarkan tanpa ragu.

Ketika ingin melontarkan caci maki, ingat ada anak-anak yang membuntuti setiap polahmu dan mungkin akan tumbuh besar dengan mulut penuh makian sepertimu.

Jika ingin membalas perlakuan buruk dengan menjadi buruk, apa bedanya kita semua kalau begitu?

Nobody’s perfect, neither you. So, only judge when you have no flaws in you.

Love,
Rere

LISTEN TO UNDERSTAND


LISTEN TO UNDERSTAND

OOPSSS!

Rayyan! How many times Bunda told you to crack the egg in a bowl? Can you be very careful and stop acting smart? The bowl is just there!”

Meledak amarah saya melihat sebutir telur pecah dan meluncur jatuh ke atas selembar karpet yang saya letakkan di dapur. Ini bukan kejadian pertama kali.

Minggu lalu saya pun harus mencuci karpet karena Rayyan juga menjatuhkan sebutir telur ke atasnya. Kejadian ini tidak saya lihat sendiri, karena waktu itu sedang pergi. Begitu sampai di rumah, saya sudah membaui sesuatu yang amis. Ini pasti ada sesuatu yang tidak manis. Benar saja, saya melihat karpet di dapur basah. Meski awalnya tidak mengaku, lewat tatapan tajam Emak Suzana, akhirnya ia mengaku juga.

Pagi ini, baru saja saya mengajaknya bicara sebelum berangkat sekolah. Saya meminta maaf sudah membentaknya tadi pagi karena marah luar biasa. Ia juga saya ajak berdiskusi tentang “jatuh ke lubang yang sama” dan bagaimana cara menghindarinya.

Nak, ibarat hidup. Jika di ujung jalanmu ada sebuah lubang, kemungkinan untuk terperosok ke dalamnya sangat besar. Mungkin saat itu, pandanganmu tertutup rerumputan. Namun selanjutnya, apakah akan merelakan diri terperosok hingga kedua kalinya? Jangan ya, Nak. Itu fungsinya Yang Kuasa menganugerahi kita dengan susunan otak yang luar biasa.

Putar arahmu, ambil jalan lain, atau tutup lubang itu dengan sesuatu yang bisa kau gunakan untuk melangkah maju. Be smart don’t act smart.

“I’m sorry, Bunda.”
“Is it so hard for you to get a bowl? Is it so difficult for you to memorize what I’ve been telling you? I’m telling you things because I’m older than you. I was you age, too. So I know how careless you can be. Do you understand?”
“Understand,
Bunda. I’m sorry. I won’t do it again. I promise.”

Belajar dari kesalahan, Nak. Lalu ingat untuk tidak mengulanginya lagi. Jangan menganggap diri terlalu pintar hingga mengabaikan sekitar. Bertindak dengan cerdas dan hati-hati, bukan merasa diri terlalu cerdas hingga menutup telinga dan mata sampai hati mati.

Love,
Rere

Sincerity


Sincerity

“Don’t be someone many people avoid to be with.”

Selain mengajarkan tentang disiplin dan tanggung jawab, saya selalu mengingatkan anak-anak untuk bersikap baik pada siapapun.

Jangan jadi pribadi yang keberadaannya tidak disukai. Bukan berarti harus berubah menjadi seseorang yang bukan diri sendiri. Bukan juga berarti harus bersikap manis di depan namun bengis di belakang.

Tumbuhlah besar jadi manusia yang tulus dan baik pada sesama. Bagaimana caranya? Mudah namun tak mudah. Dengan menahan lisan maupun tulisan.

Mengapa saya dan suami menitikberatkan persoalan ini?

Kami tidak sedang mengajarkan anak-anak untuk bermuka dua. Kami mengenal masing-masing dari mereka, sehingga mengajarkan untuk merubah segala prilaku yang tak semestinya.

Si sulung, adalah anak yang manis. Meski ketika kecil tak bisa dipegang, ketika besar ia tumbuh pendiam. Saking pendiamnya, ia terbiasa menjawab dengan singkat.

“Kak, have you had your lunch yet?”
“No.”
“Where are you now?”
“Home.”

Jawaban singkat seperti ini bisa memunculkan anggapan tak sopan, meski ia tak bermaksud demikian. Mungkin saja suatu hari nanti ia menjadi seseorang yang tak disukai keberadaannya karena masalah attitude dan kesopanan.

“Ih, males gue kalo ada dia. Gak enak diajak ngomong, suka enggak sopan.”

Si tengah, ia mewarisi banyak sifat saya yang jutek, judes, pemikir, kadang terlalu lugas mengutarakan isi kepala. Padanya saya selalu ingatkan untuk berfikir dan berhati-hati sebelum bicara.

Pernah pada suatu hari saya menasihatinya ketika ia saya ajak bertemu dengan seseorang yang saya hormati sejak bangku sekolah. Mencoba untuk bersikap ramah, sang tamu mengajak si tengah bicara dan bertanya tentang bagaimana saya, ibunya, di rumah. Hanya bergurau saja, tak ada maksud untuk kepo atau apapun, karena ia sedang bercerita bagaimana saya ketika sekolah dulu. Si judes lalu berbisik dengan suara yang lumayan keras hingga bisa didengar banyak orang.

“Why does she need to know?”

Ya, salam! Dia berfikir orang lain tak memahami perkataannya itu. Sepulang dari pertemuan, saya mengajaknya bicara dan mengatakan bahwa ekpresi yang ia ungkapkan itu, sangat tidak saya sukai. Saya tak ingin kelak ia menjadi pribadi yang dihindari.

“Ah! Males gue kalo ada dia. Ngomongnya suka kasar.”

Atau,

“Ih! Males gue kalo ada dia. Ngomongnya nyinyir mulu!”

Si bungsu, yang kerap terlihat sok tau. Ia memang cerdas dan ingatannya sangat kuat. Hingga tiap kali ada pembicaraan, ia akan masuk dan berbagi pengetahuan. Saya paham maksudnya baik, hanya ingin berbagi saja. Namun lelaki kecil ini harus juga mengerti, bahwa seringkali apa yang kita pahami ternyata hanya seujung kuku jari dari orang lain. So don’t act smart. Bersikap rendah hati dan tidak boleh membanggakan diri, hingga kelak tak ada orang yang tidak menyukai.

“Ih! Males gue kalo ada dia. Suka sotoy dan sok iye!”

Jadilah lelaki yang tak banyak bicara, Nak. Seperti ayahmu. Namun penuh dedikasi, bertanggung jawab, dan baik hati. Itu baru lelaki sejati.

Putri-putri kecilku, kalian justru harus bicara. Berani speak up dan tidak boleh diam ketika tidak dihargai. Namun ingat, respect is earned. NOT given. Bersikap baik, penuh sopan santun, dan hormat pada sesama. Itu baru namanya perempuan yang bisa menjaga martabatnya.

Be kind and sincere.

Be so positive, that negative people don’t want to be around you.

Love, Rere

Grounded For Life


Grounded For Life

Pergi dari satu negara ke negara lain. Mengunjungi satu kota ke kota lain. Begitulah kami di masa muda menghabiskan hari.

Berpindah tempat tidur dari satu hotel ke hotel lain. Menghabiskan waktu di udara hampir setiap hari. Menikmati hidup tanpa perlu banyak berpikir hingga dahi berkerut.

Ketika tiba masanya harus berhenti dan menjejakkan kaki di daratan lagi, kami pun melakukannya dengan sepenuh hati.

Meski segala kemewahan serta kesenangan, berganti menjadi teriakan yang tanpa henti. Bak sebuah kaset rusak yang terdengar berulang kali. Begitulah kini kehidupan kami.

Hilang sudah segala hal tentang diri dan keinginan sendiri. Semua berganti menjadi harapan juga impian indah demi masa depan cerah, bersama anak-anak dan suami.

Meski begitu kami tak pernah berdiam diri. Menjalani hari dengan melakukan apa saja demi aktualisasi diri. Menjadi home baker, home caterer, meski harus pontang-panting mengurusi segala hal di rumah, kami tak pernah mengeluh apalagi menunduk pasrah.

Hidup harus terus berjalan, bukan? Inilah petualangan kami setelah tak lagi menaklukkan langit yang luas. Dari pramugari jadi babugari. Hahaha! Always be happy, Girls!

Love, Rere

UMPTN


UMPTN

Eits! Jamanku dulu memang namanya UMPTN, bukan susah sebut dan panjang bak kereta api seperti sekarang.

Silih berganti memandang cerita menyenangkan dari beberapa sahabat tentang berita kelulusan, membuat memoriku sedikit tertarik ke belakang.
Aku memang bukan lulusan UMPTN, karena masuk ke universitas impian dulu, melalui jalur PBUD. Jalur yang sudah sedemikian rupa dibentuk oleh papaku.

“Nanti SMA kamu ambil saja jurusan bahasa. Bakatmu di sana, bukan ilmu pasti dan matematika. Setelah itu jadilah juara di kelas, nanti bisa ikut PMDK. Siapa tahu bisa kuliah di UGM, fakultas sastra. Papa ingin sekali liat anak-anak kuliah di sana.”

Papaku memang luar biasa. Ia paham putri kecilnya tidak menyukai matematika. Padahal dulu, dirimya kerap menjadi sumber contekan ulangan semasa di bangku sekolah, saking pintarnya. Namun ia tidak memaksaku menjadi sepertinya.

Papaku memang sangat pengertian. Ia paham, putri kecilnya hanya tertarik dengan bahasa dan sastra, karena kerap melihatku menulis sebuah karya, dengan mesin tik tua miliknya. Karena itu ia tak pernah memaksaku belajar fisika dan kimia.

Papa … ia inspirasiku. Darinya aku tahu, masa depan harus direncanakan dan ditulis dengan tinta berwarna cetar. Namun ingat, tulislah dengan pintar. Memahami kemampuan, agar bisa maju tanpa gentar. Bukan mundur di tengah jalan karena bingung hingga gemetar.

Selamat untukmu semua! Nikmati masa muda dengan banyak menuntut ilmu. Buah manisnya kelak akan kalian nikmati selalu. Terima kasih jangan lupa, pada ayah dan ibu. Mereka yang membantu menuliskan tinta masa depanmu.

Selamat jadi mahasiswa baru!
Dariku, mahasiswi lama … tapi masih nampak seperti mahasiswi baru. 🤣

Love,
Rere

Daging Untuk Si Anti Daging


Daging Untuk Si Anti Daging

“What’s that, Bunda? Smells so yummy!”
“Come and try.”

Rayyan, bocah yang gampang-gampang susah makannya. Dia memang senang makan, tapi daging … sama sekali tak bakal tertelan. Mau berbentuk apapun itu, pasti hoek-hoek kalau ketemu daging-dagingan.

Hari ini saya membuat lasagna dengan isian yang ada saja di lemari pendingin. Minced meat atau daging cincang, wortel, frozen spinach, frozen hashbrown, dan sebungkus cheddar cheese saja yang saya temukan. Yah, bikin sajalah.

Bagaimana caranya?

  1. Lembaran lasagna direbus dalam air panas yang diberi sedikit minyak goreng. Masukkan satu per satu.
  2. Tumis bawang bombay, wortel yang dipotong dadu, lalu daging cincang. Tambahkan saus spaghetti, bubuk pala, pepper, bawang putih, parsley, oregano, gula, dan garam. Koreksi rasa.
  3. Masukkan sedikit susu cair.
  4. Siapin wadah yang sudah dioles butter, susun tumisan daging lalu taburi keju, kemudian tutup dengan lembaran lasagna di atasnya. Kemudian masukkan hashbrown yang sudah digoreng atau air fry dan sudah dihancurkan, taburi frozen spinach lalu keju. Tutup dengan lembaran lasagna dan ulangi lagi urutannya. Terakhir lembaran lasagna paling atas, lalu taburi keju juga oregano.
  5. Panggang deh, dalam oven yang sudah dipanaskan, dengan suhu 150 derajat selama 15 – 20 menit.

Voila! Si anti daging, sudah empat kali makan lasagna isi daging hari ini. Katanya, so yummy! 😁

Love, Rere

Nulis Lagi. Lagi Nulis


Nulis Lagi. Lagi Nulis

“Teman-teman, siapin naskah bertema parenting untuk latihan menulis setelah SBMB, ya. Saya kasih waktu tiga hari. Mmm, apa tiga jam, ya?”
“Alamak!”
“Oh no! Oh no! Oh no, no, no, no!”
“Bobok, ahh!”
“Duh! Nyesel gue buka grup.”
“Kak Rere, Margareth Thatcher-nya SBMB.”

Hahahaha!

Mereka boleh makjegagig menerima tantangan dari saya ini. Mereka boleh tidak percaya diri karena merasa tulisannya tidak secanggih Dee Lestari.

Keraguan mereka menyerahkan naskah ternyata manis berbuah. Silahkan baca sendiri cerita pendek para peserta pelatihan, di laman rumah media grup ini.

https://rumahmediagrup.com/ibuk/

https://rumahmediagrup.com/andai-mereka-tahu/

https://rumahmediagrup.com/marah-tanpa-amarah/

https://rumahmediagrup.com/sepatu-roda-dari-bapak/

https://rumahmediagrup.com/masker-cinta-rumah-harlyn/

https://rumahmediagrup.com/pejuang-subuh/

https://rumahmediagrup.com/liburan-ala-kami/

https://rumahmediagrup.com/karena-aku-perempuan/

https://rumahmediagrup.com/untukmu-anakku/

https://rumahmediagrup.com/scroll-tap-repeat/

https://rumahmediagrup.com/belajar-2/

Happy reading, peeps! Ayo, kita nulis lagi!

Love, Rere

https://rumahmediagrup.com/category/secangkir-kopi-hangat-emak-rere/

Menulis Biar Manis


Menulis Biar Manis

Menulis bagi saya adalah sebuah terapi. Terapi dari kebiasaan ngomong sendiri. Menulis ternyata mampu membuat saya melupakan segala penat dan susah di hati. Meski kerap mengalami buntu hingga sering ingin berhenti, namun belajar dan membuka hati, adalah salah satu cara saya menghindari.

Sehari Bisa Menulis Buku adalah salah satu ruang ilmu yang saya tunggu-tunggu. Ibarat sebuah gelas yang kosong dan ingin saya isi dengan sesuatu yang manis. Maka belajar dan belajar lagi adalah kunci agar tak lagi meringis karena kebuntuan menulis.

Nubar Area Luar Negeri baru saja mengadakan sebuah pelatihan menulis bersama duo founder Rumedia Grup, pekan lalu. Apa saja yang kami dapat hari itu?

Pelatihan ini dimulai dengan pengetahuan tentang kinerja otak, sebagai karunia yang diberikan Tuhan kepada manusia. Manusia yang diciptakan berbakat dan punya potensi. Namun tentu saja jika tidak terus dilatih, maka kedua anugerah itu tidak akan muncul dengan optimal.

Penulis harus punya modal, untuk memperkaya isi tulisan. Lima modal itu adalah banyak membaca, rajin bersilaturahmi, melakukan banyak penjelajahan lokasi lewat perjalanan wisata, rajin mengikat ide yang datang, dan memiliki sudut pandang yang berbeda.

Seringkali kita terjebak pada banyak mitos seputar menulis. Di antaranya, menulis itu membutuhkan mood hingga kerap membuat termangu manakala sang mood tak kunjung datang. Tidak punya ide untuk dijadikan bahan menulis, padahal ini hanya persoalan peluang yang tidak segera diambil sebagai kesempatan. Ah, aku bukan seorang puitis hingga tak bisa menulis dengan bahasa yang indah dan manis. Hey, menulis adalah tentang menyajikan sebuah gagasan yang bisa diambil sebagai pelajaran. Maka menulis tak perlu harus puitis, yang penting kaidah dan tata bahasanya tersusun manis. Mitos paling dahsyat adalah pemikiran bahwa, aku tak berbakat menulis. Manis, manusia diciptakan Sang Kuasa dengan beragam bakat dan potensi diri. Namun semua tidak akan muncul manakala kelebihan itu tidak dilatih dan terus digali.

Kami kemudian diajarkan untuk membuat sebuah outline penulisan cerita pendek, yang bertujuan untuk mengikat ide dan gagasan. Dimulai dengan menentukan tokoh, yang sebaiknya dibatasi maksimal hanya lima karakter saja dalam sebuah cerpen. Kemudian setting tempat, yang tidak perlu terlalu banyak disajikan. Cukup maksimal dua saja agar tidak membingungkan. Setting suasana juga pegang peranan. Apakah cerita menghadirkan suasana yang muram atau terang, tentang bahagia atau kesedihan. Penempatan plot twist atau gimmick pada akhir cerita, juga menambah bumbu sebuah bacaan. Baik pada plot dengan akhir tertutup atau terbuka.

Pelatihan itu juga mengajarkan kami beberapa tips jitu penulisan cerpen. Seperti pemilihan tema yang sesuai kemampuan, kemudian memilih jumlah, nama, sifat, dan peran masing-masing tokoh dalam cerita. Penentuan alur baik maju, mundur, atau campuran, juga setting tempat, waktu, dan suasana. Sudut pandang memegang peranan penting dalam sebuah cerita agar tidak membuat pembaca kebingungan. Kehadiran konflik yang membuat sebuah kisah menarik, juga harus jelas ditelisik. Terakhir, menentukan sebuah judul yang mantul alias mantap betul.

Setelah semua data dan outline didapat, selanjutnya adalah mulai dengan kalimat pembuka. Sebuah cerita bisa dibuka dengan narasi atau deskripsi, bisa juga diawali dengan percakapan atau dialog yang mengundang penasaran. Tentunya juga menentukan akhir atau ending cerita yang menawan. Pilihannya bisa tertutup hingga jelas akhir ceritanya, atau terbuka untuk membiarkan pembaca menentukan pilihan.

Pelatihan diakhiri dengan anjuran agar percaya diri menjadi sorang penulis. Dengan cara, branding diri melalui nama pena dan motivasi bahwa kita semua bisa. Jangan biarkan hambatan yang muncul di tengah jalan, menjadi batu sandungan hingga membuat sebuah tulisan tak berujung diwujudkan.

Ingatlah lima resep dasar untuk penulis berikut ini.

  1. Abaikan teori, mulailah dengan menulis apapun yang terpikirkan, bagaimana pun jenisnya. Segera membuat kerangka untuk menuangkan ide dan gagasan dalam bentuk tulisan.
  2. Terus berlatih, tanpa kenal berhenti. Bisa dimulai dengan membuat catatan harian atau menulis di platform sosial media setiap saat.
  3. Jika mengalami kebuntuan, berhentilah sejenak. Namun tak berhenti untuk menyimpan ide yang melintas dalam sebuah buku catatan.
  4. Menulislah segala hal yang memang kita kuasai dengan baik. Jika ingin mencoba hal lain, punyai referensi yang memadai sebagai modal penulisan.
  5. Abaikan gaya menulis terutama keinginan untuk menjadi seperti penulis lain. Miliki gayamu sendiri yang unik untuk menghadirkan jati diri yang asik.

Jadi, ingin jadi penulis? Mulailah dari sekarang dan buat semua orang meringis atau menangis, membaca luahan rasamu dalam sebuah tulisan yang manis.

Love, ReRe

Sumber: Pelatihan SBMB Rumedia Grup Bersama Ilham Alfafa dan DeeJay Supriyanto

Ilustrasi: Canva Apps

FAITH


FAITH

Semalam saya bermimpi membuka jendela di pagi hari.
Lalu melihat pemandangan gunung yang tinggi.
Udara yang segar, dengan hembus angin yang membuat tubuh bergetar.
Aroma pinus memanjakan hidung, membuat hati sendu menjadi hidup.

Apa daya ketika sadar, hanya nampak bangunan apartemen berjajar.
Bukan tak bersyukur meski jadi tepekur.
Hidup toh harus terus meluncur jika tak ingin jiwa menjadi hancur.

Be happy, Self. This shall pass.

Love,
Rere

PEREMPUAN


PEREMPUAN

Belum tuntas proses pencetakan antologi Hitam Putih Perempuan selesai, jilid keduanya sudah full quota saja.

Ya. Perempuan … memang kompleks dan penuh cerita. Isi kepalanya ibarat gulungan kabel yang tak beraturan. Mbulet, pating kruwel. Itulah mengapa tema tentangnya, selalu menarik untuk saya abadikan.

Semua naskah dari kontributor cantik yang masuk, saya baca dengan penuh perasaan. Saya edit dengan penuh kehati-hatian, agar pesannya sampai dengan baik pada para pemesan.

Wahai, teman-teman perempuan. Mari kita saling mendukung dan mengingatkan dalam kebaikan. Jika jarimu memang tak sanggup kau tahan, mari sini tuliskan. Akan kubaca ceritamu dan kujadikan sebuah buku, bukan hanya menjadi buku harian.

Kelak, semua anak cucu akan mampu mengambil pelajaran hidup darimu. Hingga memori yang nanti muncul tentangmu, akan berisi kisah indah meski kadang sendu.

Mari berhenti saling menjatuhkan antara sesamamu. Jika tidak saling mendukung dan berbagi ilmu, bagaimana kelak anak-anak akan mengambil contoh darimu?

Being a woman is never easy, but together we’ll make it easier.

Love,
Rere

Photo Courtesy: Sahabat-sahabat perempuan yang saya percaya dengan sepenuh jiwa.