STOP, THINK, REFLECT

STOP, THINK, REFLECT

“You know, Kak. When I attend zoom meeting with Rayyan’s form teacher, do you know what she said?”
“What is it,
Bunda?”
“She greeted me and
Rayyan only.”
“Hmm … you didn’t find it insulting?”
“Why should I think so?”
“I don’t know. Maybe she always picks on him because you know …
Rayyan can be very naughty at school.”
“I know. I talked to the teacher a lot, but I didn’t find it insulting though. Okay, explain how do you see an insult to me.”

***

Sabtu pagi itu, saya mengajak si sulung berkeliling mengantar pesanan buku pada beberapa pembeli. Tujuan saya ada dua, yaitu saya ingin ia melihat bagaimana ibunya tetap aktif melakukan banyak pekerjaan, mesti tak lagi bekerja kantoran. Kedua, saya ingin sepanjang perjalanan mengajaknya ngobrol tentang apa saja dalam kehidupan. Seperti biasanya.

Pembicaraan menjadi menarik ketika ia menganggap, sapaan yang diberikan sang wali kelas hanya pada saya dan Rayyan hari itu, berkategori penghinaan atau semacam sindiran halus. Ia bercerita bagaimana ia pernah melihat beberapa orang tua siswa yang datang ke sekolah untuk marah-marah karena merasa tersinggung, padahal kesalahan ada pada siswa tersebut.

Ia heran kenapa saya tidak marah, terutama jika sang guru menghubungi saya untuk menceritakan sesuatu hal tentang Rayyan. Ia juga heran mengapa saya justru seringkali menghukum Rayyan karena perbuatannya yang saya anggap keliru. Menurutnya, orang tua lain mungkin akan balik menyerang sang guru.

Saya tersenyum lalu bercerita bagaimana dulu saya selalu menanggapi kritik dan saran dengan kemarahan. Tanpa butuh mendengar dan memahami, saya akan bereaksi keras dan menjadi super defensive. Saya sangat mudah tersinggung, dan menganggap orang lain membenci saya melalui kritikannya.

Pengalaman-pengalaman itu yang membuat pemahaman saya tentang feedback kini berubah. Instead of being defensive dan mendengar hanya untuk mencari celah bantahan, saya justru kini memilih untuk melakukan banyak refleksi diri.

Berhenti dan menahan diri untuk berkomentar, berpikir untuk melihat dari sudut pandang lain, lalu mendengar untuk memahami lebih dalam. Feedback yang masuk pada saya, membuat saya menatap cermin dan melihat “kesalahan” atau “alpa” yang mungkin saya buat tanpa sadar. Dalam hal ini lewat kesalahan yang dilakukan Rayyan di sekolah.

Lalu, instead of menjawab untuk membela diri, saya diam dan berjanji akan berubah lebih baik lagi jika saya memang benar melakukan kesalahan. Saya kan tidak bisa melihat, bagaimana diri ini bertingkah laku, di mata orang lain. Jadi opini, saran, feedback, yang diberikan dengan cara baik dan santun, pasti akan saya dengar dengan baik.

Tentu saja yang disampaikan bukan dengan tujuan untuk menyerang di hadapan publik. Itu sih, anggap saja mereka baru datang dari hutan rimba dan tidak bisa berkomunikasi dengan baik, layaknya manusia yang berakal sehat.

I stop and listen to understand, not reply. Pemahaman yang saya peroleh lalu menjadi bahan untuk berfleksi. Jika saya salah maka saya harus berubah. Begitu juga yang saya ajarkan di rumah. Tak perlu mengeraskan kepala demi sebuah ego diri. Embracing yourself, tak melulu berarti keras hati, kan? 😉

Love,
Rere

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: