Serpihan Hati


Serpihan Hati

Hai, apa kabar semua?

Awal tahun ini lumayan kelabu untuk saya pribadi. Semoga tidak untukmu semua di sini.

Dimulai dengan berita masuknya papa ke rumah sakit karena terkena Covid 19. Sesuatu yang kami semua sebenarnya heran, karena beliau adalah seorang kakek berusia 70 yang sangat bugar. Olahraga tak pernah ditinggalkan dan sangat menjaga asupan makanan. Meski terbilang bandel karena kebiasaan sholat di masjid tak bisa ia tinggalkan. Meski disiplin pada protokol kesehatan.

Ala kulli haal. Semua sudah menjadi ketentuan Sang Empunya Dunia.

Kabar duka selanjutnya, datang dari seorang kakak ipar, yang buat saya, sudah seperti pengganti mama yang jauh di Jakarta. Sang putra sulung, kebanggaan kami semua, berpulang di usia yang sangat muda. Padahal almarhum baru saja merilis sebuah single bertajuk “Fly High”. Rasanya tidak percaya meski kami semua harus ikhlas menerima. Hanya doa selalu terpanjat untuknya, semoga Allah menerangi kubur dan jalannya menuju surga.

Dua berita ini membuat pertahanan saya lumayan jebol, hingga segala hal buruk yang pernah terjadi beberapa tahun belakangan, muncul tanpa bisa dicegah.

Perseteruan, fitnah keji, dan segala hal tidak menyenangkan yang selama ini saya buang serta hindari, muncul tanpa basa basi. Basi!

Meskipun cuek, berusaha memahami dan tidak mengingkari, saya tetap sakit hati. Tumbuh menjadi seorang perempuan yang belajar untuk tidak menyimpan segala hal dalam hati, dan membuat tangan yang terkepal ini harus tersembunyi, membuat saya bingung sendiri. Tidak bisa dengan lugas semua saya habisi, demi tidak menyimpan dendam dalam hati, rupanya butuh lebih dari sekedar berdamai dengan diri sendiri.

Ternyata, proses berdamai itu butuh latihan setiap hari, tanpa jeda sama sekali. Tidak mengingkari rupanya kurang cukup membuat saya memahami perlakuan beberapa orang dari masa lalu, yang sangat membuat kesal dan keki.

Pelajaran hidup yang saya dapat dari suami untuk ikhlas dan sabar, rupanya tidak cukup terpatri dalam hati. Tapi saya belajar satu hal penting, untuk tidak melayani mereka yang belum selesai dengan dirinya sendiri. Semoga mereka tidak memancing kepalan yang setengah mati saya sembunyikan ini.

As for me, saya akan mulai tahun yang sendu ini dengan lembaran demi lembaran buku yang baru lagi. Semua hal buruk yang pernah dan masih berlangsung hingga saat ini, akan jadi salah satu cerita yang ada di sudut perpustakaan hati. Tidak perlu saya robek dan bakar habis serpihannya, hanya butuh disimpan untuk menjadi senjata menghadapi esok hari.

“Oy! Gue masih berdiri dengan tegak di sini! Ape lo ape lo!”

Have a great day ahead!
Love, Rere.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.