Mount Faber – Singapore Out And About


Mount Faber – Singapore Out And About

Hari ini perjalanan kami dimulai dari Harbour Front. Setelah memarkir kendaraan di tempat biasanya para pelancong datang dari Batam, kami menyusuri jalan menuju sebuah tempat parkir luas.

Siapa mengira di balik sebuah pohon besar yang ada di sana, ada jalur menuju ke hutan belantara.

Tempat pertama yang kami datangi adalah sebuah bunker. Iya, bunker yang kemungkinan menjadi tempat penyimpanan amunisi dan makanan selama Perang Dunia II. Meski agak spooky, namun seru sekali. Membayangkan berada di sana ketika desing peluru bersautan di atas kepala. Jangan lupa membawa sebuah senter atau torch light karena kondisi bunker yang gelap gulita.

Dengan tinggi hanya sekitar 1m dengan luas hanya 2,5m di bagian dalam, bunker ini cocok sih jadi setting cerita horor. Haha! Oh, jangan kaget jika di dalamnya nanti bertemu dengan bermacam hewan. Saya hampir pingsan ketika di depan saya melintas seekor kadal berukuran cukup besar. Hahaha!

In the bunker
Seah Im Bunker

Bak cerita dalam film petualangan, kami lalu melanjutkan perjalanan dengan menyusuri jalan setapak yang kebanyakan naik dengan kemiringan hingga 60 derajat. Warbyasak!

Tiba di atas, kami menyusuri jalan utama yang lumayan besar hingga sampai di sebuah rumah bernomor 11 di Keppel Hill.

Tak banyak cerita bisa saya temukan tentang keberadaan rumah yang konon dibangun pada abad 19 selama masa kolonial. Sayangnya bangunan besar ini lalu tidak terawat dan ditutup untuk umum oleh pemerintah setempat.

Kemudian kami menuju sebuah tempat yang dulu digunakan sebagai tempat penampungan air hujan bernama Keppel Hill Reservoir. Selama masa pendudukan Jepang, konon tempat ini juga digunakan sebagai kolam renang. Hal itu ditandai dengan adanya sebuah tangga sebagai tanjakan untuk diving seperti yang biasa ada di kolam renang.

Undak-undakan di pinggir kolam

Ingat, jangan coba-coba untuk menceburkan diri ya. Konon di masa kolonialisme, di tempat ini pernah ada kejadian tenggelamnya 2 orang tentara Inggris dan seorang penduduk lokal,

Pemandangannya memang breathtaking. Hingga rasanya tak percaya, di tengah kota metropolitan seperti Singapura, ada sebuah hutan dengan kolam seperti ini.

Kemudian kami berjalan lagi dan menemukan sebuah monumen bertulisan Kanji yang dikenal bernama The Japanesse Tomb. Entah apa arti tulisan yang tertera pada monumen batu itu. Konon ini adalah tomb dari Ekasa Komoto, seorang naval engineer asal Jepang. (Sumber: Wikipedia)

Perjalanan kami menyusuri hutan kemudian berakhir di puncak Mount Faber. Bak berdiri di sebuah negeri yang berada di atas awan, kami disuguhkan pemandangan yang sangat menawan. Dengan Sentosa di sebelah kiri, dan sebuah bangunan unik berjuluk The Reflection di sisi kanan.

https://www.facebook.com/reynilda.hendryatie/videos/10224562176428951/?d=n

Kemudian saya menemukan sesuatu yang sangat menarik yaitu The Wishing Bell. Sekilas nampak seperti deretan padlocks yang ada di Pon Des Art, the lock bridge in Paris. Namun bukan kunci yang banyak tergantung di sana, melainkan deretan lonceng imut yang konon diibaratkan sebagai tanda cinta. Cinta yang diabadikan dalam sebuah lonceng, bertuliskan nama pasangan atau doa, yang diharapkan bisa langgeng bahkan setinggi Mount Faber. Awww, so sweet!

Loncengnya bisa dibeli di sana, berharga sekitar $4 lebih saja.

Kemudian kami menuruni bukit untuk menuju ke tempat lain. Oh, sangat mengerikan. Saya sudah berpikir akan meluncur dari atas bukit dan sukses “ngglundung” ke bawah. Hahaha!

Lihat lah betapa strugglingnya saya berusaha turun dengan sepatu yang tidak memadai untuk itu.

Perjalanan berlanjut hingga kami tiba di Kent Ridge Park. Sebagai bagian dari Southern Ridges yang menghubungkan 3 parks melalui jembatan dan jalan yang saling menyambung.

Sebuah pohon berumur ratusan tahun yang terdapat di Kent Ridge Park

Kemudian kami tiba di sebuah area yang dulunya berfungsi sebagai tempat pemakaman umat Muslim. Saat ini area itu sudah ditutup namun beberapa nisan masih bisa ditemukan di sana.

… daaan saya mulai lelah. Hahaha!

Enter at your own risk!

Akhirnya perjalanan kami hari ini berakhir. Meski kaki mulai terasa pegal akibat turun naik bukit terjal, namun saya merasa senang. Berjalan dan menyusuri banyak tempat seru seperti ini, benar-benar membuat hati ini semakin mensyukuri hidup. Indah sekali karunia Ilahi!

Hooray for today!

Saya pun pulang dengan perasaan riang. Tentu saja bukan dengan menaiki si sapu terbang. Hahaha!

Up up away … to 2022.

Begitu lah petualangan saya hari ini. Tunggu cerita saya menyusuri sisi lain dari Singapura selanjutnya, ya.

Photo courtesy of Mak Hany & Dya.

Love, Rere

The Little Thing ​


The Little Thing

“Bunda, why didn’t you wave at me from the window like always?”

Dengan suara parau seperti menahan tangis, bocah lelaki itu menghubungi saya lewat sambungan telepon sekolahnya pagi tadi.

Saya pun kaget, tidak mengira bahwa keterlambatan kami berdua membuka jendela untuk melambaikan tangan , begitu berarti untuknya. Sampai ia harus menghubungi saya melalui telepon sekolah.

Entah apa yang ia katakan pada penjaga counter kantor pusat, tempat telepon itu berada. Mungkin dengan bilang, ada sesuatu yang penting hingga ia harus menghubungi saya secepatnya. Hahaha! Padahal hanya gara-gara lambaian tangan ayah dan bundanya, yang tadi pagi terlambat membuka jendela.

Saya pun segera meminta maaf dan menjelaskan bahwa setelah ia keluar rumah, saya bergegas membuka catatan untuk membayar tagihan bulanan. Sementara sang ayah sedang kebingungan mencari dompetnya yang entah ia simpan di mana. Begitu sadar, ia segera membuka jendela namun sang putra tercinta sudah berjalan masuk ke gerbang sekolah. Hanya sekian detik saja mungkin kami terlambat melihatmu dari lantai atas.

Ahh … Rayyan. Lembut sekali hatimu, hingga sepasang lambaian tangan saja bisa membuatmu sendu. Jangan tanya bagaimana menyesalnya ayah karena terlambat membuka jendela untuk melihatmu. Bunda sih, seperti biasa, pikun dan lupa selalu.

Jadi inget eyang papa kalau urusan seperti ini. Papa yang selalu menitikkan airmata terhadap segala pencapaian putri kecilnya dalam hidup, even the very smallest thing. Hal manis yang membuat sang putri tumbuh percaya diri karena tahu ia dicintai.

Enjoy the little things in life. One day you will look back and realize they were BIG things … for it is the little thing that matter the most.

Love, Rere

Pisang Tanda Sayang


Pisang Tanda Sayang

Hmm … back to school berarti kembali klutekan di dapur nyiapin bekal para krucils sekolah.

Capek, kah, saya? Enggak, tuh.

Saya justru menikmati harus bangun lebih pagi demi membuat makanan kecil yang akan mereka bawa pergi. Saya juga menikmati setiap proses ketika memikirkan bentuk, dan jenis snack untuk anak-anak. Bener, lho. Suwertekewerkewer!

Meskipun tidak melulu fancy, karena saya cuma membuat apa saja yang saya punya di lemari es. Bahan dasarnya, ya … biasanya paling roti. Tinggal mikir mau diisi apa atau dibentuk seperti apa supaya nampak cantik dan menarik.

Padahal mending ngasih duit jajan kan, ya? Gampang, enggak ribet.

Hmm … Dua anak sekolah menengah sih, tetap saya kasih “sangu” $20 untuk seminggu. Sementara Rayyan, hanya boleh jajan di kantin sekolah setiap hari Rabu, sesuai jadwal ekskul. Walaupun saya membekali LL dengan duit jajan, saya tetap membuatkan mereka makanan kecil, lho.

Saya hanya ingin, kelak mereka mengingat semua sentuhan cinta yang saya ungkapkan tak melulu lewat kata. Meski hanya sebuah kotak makan berisi cemilan sederhana, saya ingin mereka merasakan kehadiran saya, di mana pun mereka berada.

Pagi ini, cinta itu terwakili lewat bentuk KW dari pisang molen. Pisang kepok berbalut kulit pastry sebagai tanda cinta, yang beratnya lebih dari segepok. Semoga hari ini saya dapet cipok. 💋

Cihuy!

Love, Rere.

Tumpeng Bikin Seneng


Tumpeng Bikin Seneng

Masih ingat tumpeng mini yang waktu itu saya buat?

Padahal setelah hari itu, saya tobat bikin tumpeng, lho. Makannya 5 menit, menghiasnya bikin pinggang sakit.

Ternyata tobat saya tobat sambel. Cuma sesaat. Hahaha!

Pagi ini bukan lagi tumpeng mini saya buat, tapi tumpeng gede. Hahaha! Meski sudah mengatakan pada mamak pemesan yang kece berat, bahwa karena short notice, saya akan membuat tumpeng sederhana saja. Ternyata … saya tak tahan juga melihatnya terlalu biasa. Padahal hanya punya 1 hari persiapan saja.

Meski tak memberikan deretan pagar cantik, atau bentuk basket seperti sebelumnya, kali ini tumpeng saya penuh dengan bunga. Bak sebuah taman mini di sudut rumah yang asri. Penuh warna-warni, yang memikat hati. Semoga menu yang tersaji memikat lidah juga ya, ibu-ibu baik hati.

Terima kasih sudah memaksa saya membuat tumpeng lagi. Hahaha!

Love, Rere

SEX Education


SEX Education

Bunda, can you sign this consent paper?”
“Okay. Let me see.”

Di hadapan saya terpampang 2 lembar kertas permohonan ijin untuk anak-anak mengikuti kelas pendidikan seks.

Sebelum membubuhkan tanda tangan, saya baca kata demi kata dengan seksama. Ini persoalan penting bagi saya. Sekolah pun tidak memaksa, karenanya memberikan 2 lembar surat ijin berisi pernyataan ya atau tidak.

Di lembar tidak memberikan ijin, saya membaca beberapa alasan yang harus diberikan para orang tua. Di antaranya ada religious reason. Keren. Berarti concern beberapa orang tua benar-benar diperhatikan. Tidak dipaksa, tidak perlu anjuran, semua betul-betul terserah orang tua.

Anak-anak sudah pernah mendapat pendidikan ini ketika di Sekolah Dasar dulu. Meskipun saya yakin, bagi mereka hanya angin lalu. Belum mengerti juga pasti tentang ini itu.

Sambil memegang sebuah pena, saya bertanya pada kedua putri saya yang sudah beranjak dewasa. Tentang bagaimana pandangan mereka soal pendidikan seks ini. Mata mereka terbelalak lalu tertawa terbahak-bahak sambil mengatakan, mereka tidak tahu. Mungkin malu atau segan mendengar hal itu.

“Let me tell you something about being an adult …”

Lalu mulai lah saya bercerita kenapa seorang perempuan memiliki anugrah yang datang setiap bulan. Saya mengajak mereka ber-flashback, mengenang masa-masa ketika mereka kecil dulu. Saya, si pramugari yang tadinya hanya tahu shopping, having fun, dan jalan-jalan saja, mendadak harus berjibaku ketika memutuskan menjadi seorang ibu.

Mereka masih ingat bagaimana saya mengurus sendiri 3 buah hati di rumah, mengelola rumah tangga hanya berdua sang ayah, bahkan masih sempat menerima order makanan. Saya menceritakan pada mereka segala mimpi yang saya punya ketika remaja, dan mengapa baru di usia hampir 30 saya memutuskan untuk menikah. Tentu saja dengan resiko, harus mengakhiri karir saya yang begitu fancy dan menyenangkan.

Saya mengajak mereka membayangkan ketika harus mengandung dan mengurusi anak di usia belasan karena suatu “kecelakaan”. Saya juga memberitahu mereka bagaimana jalan pintas yang terpaksa ditempuh seorang remaja demi menghilangkan “benih” yang muncul karena sebuah kebodohan.

Kemudian saya bertanya tentang mimpi-mimpi mereka di masa depan, dan bagaimana mereka harus memiliki pengetahuan yang memadai demi mencapainya. Setelah yakin bahwa mereka mengerti jika masalah seks bukan lah sesuatu yang lucu jika salah pengertian, saya baru membubuhkan tanda tangan.

Di kolom bertuliskan setuju, dan memberi ijin pada mereka berdua untuk mengikuti kelas itu. Belajar dan kenal tanggung jawab ya, Nak. Tanggung jawab pada diri sendiri yang utama.

“In order to grow, you have to give it a go.”

Love, Rere

Sang Pemenang


Sang Pemenang

Hei, bintang-bintang tampak cemerlang!
Bulan pun punya panggung untuk pamer ketampanan.
Di bawahnya, kerlap-kerlip lampu jalanan menggemaskan.
Ini adalah singa yang sama, yang kini ditatapnya dari jendela kantor lantai dua puluh enam.
Namun kini matanya justru memilih terpejam, ditariknya nafas panjang, hatinya sungguh merasa kepenuhan.

***

Tulisan kontributor satu ini memang membuat saya kagum, sejak pertama kali menerima naskahnya. Tak nampak layaknya seseorang yang baru menulis, seperti katanya dengan penuh rendah hati.

Gaya bahasa yang manis, berhias rima cantik, dan runtut dalam penyusunan, membuat saya mantap memilih naskah ini.

… daaannnn …

Ini lah naskah terbaik, antologi “Rumah Kedua”, event perdana NuBar area Luar Negeri yang berjudul “Bloom Where You Are Planted”.

Congrats Fransiska Defi! Semoga menjadi semangat untuk terus berkarya dalam menorehkan deretan aksara untuk kebaikan.

Terima kasih untuk semua kontributor Rumah Kedua. Para perempuan hebat, yang di sela-sela kesibukan hariannya, mampu berkomitmen, dan menyelesaikan tugas dengan baik tanpa banyak huru-hara.

Event perdana ini adalah bukti bahwa kami mampu menghasilkan sebuah karya. Meskipun bergelar ibu rumah tangga yang 24/7 di rumah saja.

Congrats! Untuk kita semua … para pemenang.

Love,
Rere

Serpihan Hati


Serpihan Hati

Hai, apa kabar semua?

Awal tahun ini lumayan kelabu untuk saya pribadi. Semoga tidak untukmu semua di sini.

Dimulai dengan berita masuknya papa ke rumah sakit karena terkena Covid 19. Sesuatu yang kami semua sebenarnya heran, karena beliau adalah seorang kakek berusia 70 yang sangat bugar. Olahraga tak pernah ditinggalkan dan sangat menjaga asupan makanan. Meski terbilang bandel karena kebiasaan sholat di masjid tak bisa ia tinggalkan. Meski disiplin pada protokol kesehatan.

Ala kulli haal. Semua sudah menjadi ketentuan Sang Empunya Dunia.

Kabar duka selanjutnya, datang dari seorang kakak ipar, yang buat saya, sudah seperti pengganti mama yang jauh di Jakarta. Sang putra sulung, kebanggaan kami semua, berpulang di usia yang sangat muda. Padahal almarhum baru saja merilis sebuah single bertajuk “Fly High”. Rasanya tidak percaya meski kami semua harus ikhlas menerima. Hanya doa selalu terpanjat untuknya, semoga Allah menerangi kubur dan jalannya menuju surga.

Dua berita ini membuat pertahanan saya lumayan jebol, hingga segala hal buruk yang pernah terjadi beberapa tahun belakangan, muncul tanpa bisa dicegah.

Perseteruan, fitnah keji, dan segala hal tidak menyenangkan yang selama ini saya buang serta hindari, muncul tanpa basa basi. Basi!

Meskipun cuek, berusaha memahami dan tidak mengingkari, saya tetap sakit hati. Tumbuh menjadi seorang perempuan yang belajar untuk tidak menyimpan segala hal dalam hati, dan membuat tangan yang terkepal ini harus tersembunyi, membuat saya bingung sendiri. Tidak bisa dengan lugas semua saya habisi, demi tidak menyimpan dendam dalam hati, rupanya butuh lebih dari sekedar berdamai dengan diri sendiri.

Ternyata, proses berdamai itu butuh latihan setiap hari, tanpa jeda sama sekali. Tidak mengingkari rupanya kurang cukup membuat saya memahami perlakuan beberapa orang dari masa lalu, yang sangat membuat kesal dan keki.

Pelajaran hidup yang saya dapat dari suami untuk ikhlas dan sabar, rupanya tidak cukup terpatri dalam hati. Tapi saya belajar satu hal penting, untuk tidak melayani mereka yang belum selesai dengan dirinya sendiri. Semoga mereka tidak memancing kepalan yang setengah mati saya sembunyikan ini.

As for me, saya akan mulai tahun yang sendu ini dengan lembaran demi lembaran buku yang baru lagi. Semua hal buruk yang pernah dan masih berlangsung hingga saat ini, akan jadi salah satu cerita yang ada di sudut perpustakaan hati. Tidak perlu saya robek dan bakar habis serpihannya, hanya butuh disimpan untuk menjadi senjata menghadapi esok hari.

“Oy! Gue masih berdiri dengan tegak di sini! Ape lo ape lo!”

Have a great day ahead!
Love, Rere.