BEING INDEPENDENT


BEING INDEPENDENT

Sembunyi-sembunyi kupandangi si bungsu yang sedang menyiapkan makan malamnya sendiri.

Memasukkan olahan ayam ke dalam airfryer, menyendok nasi dari dalam periuk, daaaan menumpahkannya ke lantai dapur. Dengan cepat diletakkannya pinggan ke atas meja makan, lalu mengambil tissue dapur untuk mengangkat butiran nasi yang jatuh. Kemudian diraihnya vacuum cleaner untuk membersihkan sisa nasi yang bertebaran.

Semua dilakukannya sendiri dengan cepat. Mungkin takut bunda galaknya keburu membeliakkan mata sambil “bernyanyi” dengan suara nyaringnya.

Saya bukannya marah, malah tertawa geli. Saya memang sedang menjaga supaya sakit kepala dahsyat yang sudah 2 kali saya alami kemarin tak datang lagi. Saya tak boleh banyak mendhelik dan marah hari ini. Jadi, meskipun “getem-getem” saya hanya tepok jidat sambil meringis.

Bocah lelaki berusia 9 tahun itu memang sudah mandiri luar biasa. Kemandirian yang kerap diprotes eyang mama.

“Kasihan, masih kecil kok disuruh nyiapin makan sendiri,” begitu selalu katanya setiap kali memprotes “kekejaman” saya mendidik anak-anak.

Saya, cukup mrenges saja.

“Emang, dulu Mama enggak begitu? Malah lebih parah. Aku kemah pertama kali pas umur Rayyan gini, juga nyari barang sendiri, lho. Enggak minta tolong, dan enggak ada yang nawarin buat nolong.”

Hahaha! Eyang mama mungkin lupa betapa kerasnya ia dan papa mendidik saya dulu. Sebagai anak perempuan pertama, saya sama sekali tak bisa bermanja-manja. Meskipun membesar dengan seorang ART di rumah, segelas air pun belum pernah saya minta darinya. Saya justru harus membantu pekerjaan bibik tanpa bisa prembik-prembik.

Tenang, Rayyan.

Kelak ketika dewasa nanti, kamu pasti baru manggut-manggut sambil tersenyum simpul. Melihat beberapa teman lelakimu yang bahkan menyiapkan makannya sendiri pun tak mampu. Sementara kamu sedang asyik menggoreng masakan favoritmu, atau mungkin dengan cekatan membantu istrimu di dapur.

Kemandirian itu tak bisa dalam semalam dipelajari. Tak bisa mendadak masuk ke otak dan hati. Semua butuh waktu dan kebiasaan sejak dini. Semua butuh ibu yang nampak kejam sekali.

Seperti kejamnya eyang mama di mata bunda kecil dulu. Minta air minum pada bibik di rumah pun tercekat kelu. Malah disuruh ambil sapu dan ikut bantu-bantu.

Biar lah bunda nampak bengis kali ini. Buah manisnya akan kamu petik nanti. Janji, jangan buat susah hidup orang lain dengan tergantung pada siapa pun. Lebih baik membantu daripada minta dibantu.

Selamat Hari Ibu untukku, eyang mama, dan semua ibu yang hari ini nampak “kejam” di mata umum. Tugas kami berat, menyandang gelar yang tersemat demi menghasilkan generasi yang hebat. Generasi mandiri yang cerdas, berani, dan mampu survive menghadapi hidup yang kejam ini.

Love,
Rere

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.