SEBELAS … LIMA BELAS … SELAMANYA


SEBELAS … LIMA BELAS … SELAMANYA

Thank you, ya, kornetnya waktu itu. Enak, deh! Aku suka,” kataku melalui sambungan telpon.
“Kornet? Kornet apa, ya?” tanyanya dengan nada kebingungan.
“Kornet, masak enggak tau? Itu lho, daging ancur dalam kaleng yang kamu bawain waktu itu.”
“Ancur itu … hancur, ya? Kornet saya belum paham … kaleng apa lagi, ya?”
“Ihhhh! Gimana, sih! Kornet, ya … kornet, lah! Kaleng masak enggak ngerti juga, sih!”
“Spell … please.”
C O R N E D Beef. Kornet.”
“Oooh, –Korndbeef. Bukan kornet, laaaah.”
“Orang Indonesia bilangnya kornet! Pokoknya kornet!” kataku mulai kesal.
“Terus, kal … kal tadi apa?”
“Kaleng? Tempatnya kornet!” jawabku dengan ketus.
So, kaleng is tin?”
“Iya! Kalengnya kornet!”
Kornd.”
“Kornet! Pokoknya kornet!”
“Ih! Kan saya bilang yang betul.”
“Biarin! Udah, ah! Aku mau berangkat kerja. Pokoknya tetep kornet! Bye!” kataku menutup telepon dengan marah.

Kami memang beda. Bukan hanya beda bahasa, namun juga karakter. Ia yang pendiam, dan aku yang tidak bisa diam. Ia yang sabar, aku yang tidak sabaran. Ia yang selalu mengalah, aku si “degil” yang tak pernah mau kalah, apalagi mengaku salah.

Setidaknya ini semua sudah tergambar lewat komunikasi fail antara kami berdua. Bahkan di minggu-minggu awal setelah kami berkenalan di dunia maya, lalu bertatap muka di dunia nyata.

Masalah kornet … errr –kornd– ini, hanya salah satu contoh kecil, yang setelah kami pikir ternyata lumayan bikin nyengir. Hahaha!

Sebelas tahun sesudah September 2005, kami yang awalnya berdua menjadi berlima. Dua putri, dan seorang putra melengkapi kehidupan. Keluarga kecil yang ramainya bak pasar malam. Tentu saja bukan tanpa kerikil dan aral.

Namun beda itu tak setengah mati berusaha kami samakan. Biarkan saja ia ada, kami hanya butuh banyak pemahaman. Seperti ia yang paham bagaimana saya mengucapkan kornet, bukan –kornd-. Saya juga belajar memahami bahwa ia tak kenal apa itu kaleng. Sedari kecil ia hanya tahu “tin“.

Apakah beda itu lantas menjadikan kami semakin jauh berjarak? Tentu saja tidak. Lalu, bagaimana cara kami menjaganya supaya tetap utuh meski tak bersuara penuh?

Beda itu jadi kekuatan kami mengajarkan anak-anak tentang warna pelangi. Dengan semburat yang tak sama, ia tetap indah dipandang mata. Mungkin jika pelangi tak berwarna-warni, ia tak akan menghiasi bumi hingga nampak berseri.

Lima belas tahun sudah hingga hari ini, dan beda itu tetap ada di sini. Saya, tidak berubah menjadi dia. Dia, tidak berubah menjadi saya. Kami tetap membawa warna sendiri, namun saling melengkapi. Hingga ketika hujan menghampiri, pelangi siap menghiasi.

Jika ia sedang menjadi api, saya akan berusaha menjadi air yang menyejukkan panas hati. Begitu pula sebaliknya. Maka, biarkan saja beda itu ada.

Untuk sebelas, lima belas … hingga selamanya.

Love, Rere

Dedicated untuk Mbak Emmy Herlina dan suami tercinta, di sebelas tahun kebersamaan. Semoga selalu mencinta di atas segala beda, hingga menuju surga bersama. Sebelas … hingga lima belas … bersama selamanya.

http://parapecintaliterasi.com

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.