MIMPI BURUK


MIMPI BURUK

“Wah, ada sandal bagus. Kebetulan sandalku sudah buluk.”

Dengan tenang, Adul memakai sandal berwarna coklat muda yang dilihatnya tergeletak di depan warnet tempatnya bermain games hari itu. Ditinggalkannya sandal plastik berwarna biru yang telah usang, namun sudah bertahun-tahun menemaninya berjalan ke sana kemari itu.

Ia pun bergegas pulang meninggalkan tempat itu, takut sang pemilik sendal yang asli tiba-tiba muncul. Meski bukan miliknya, Adul merasa bahagia dan bolak balik menatap sandal cantik yang menghiasi jemari kakinya itu dengan bangga.

“Akhirnya, punya juga aku sandal kekinian yang mirip seperti punya teman-teman. Keren, nih!”

Setibanya di rumah petak yang disewanya bersama sang ibu, Adul bergegas mandi. Sandal barunya ia letakkan dengan rapi di bawah lemari. Semoga tidak ada tikus yang menggerogoti. Ia lalu merebahkan diri di atas kasur tipis yang ada di sudut rumah kecilnya itu. Sambil menatap langit-langit rumah yang sudah berwarna kusam itu, Adul memikirkan nasibnya yang pilu.

Sejak kecil ia hanya tahu sosok sang ibu. Wanita pekerja keras yang sehari-hari berjualan sayur hingga beras. Ia tak tahu di mana bapaknya berada. Ibu hanya bilang, laki-laki itu minggat, artinya pergi entah kemana. Adul kesal sekali, karena berarti ia harus banting tulang menghidupi diri. Padahal ia malas sekali.

Adul juga tidak pernah merasakan bangku sekolah. Kerjanya hanya membantu Bang Amat si tukang parkir, atau sesekali menjadi tukang angkut barang di pasar. Uang hasil kerjanya habis di warnet untuk bermain games kegemarannya. Telinganya sudah bebal dimarahi ibu setiap hari tanpa jeda.

“Semoga Ibu tidak melihat sandal yang kuambil tadi. Bisa habis telingaku dijewernya sambil dimarahi sampai akhir bulan.”

Diliriknya sandal yang ada di bawah lemari kayu usang, tempatnya meletakkan baju yang hanya beberapa helai saja. Sandal itu seperti bersinar terang, hingga Adul tertidur dalam senyuman.

“Ibuuuuu! Kakiku sakit sekali! Kenapa sandal ini membuat kakiku nyeri?”
“Apaan sih, Dul? Berisik sekali! Ibu sedang masak, nih!”
“Lho! Ibuuuu mana sandal coklatku yang baru? Kenapa sandalku berubah seperti ini? Ini kan sabut kelapa!”

Adul menjerit kesakitan dan heran, melihat sandal coklat barunya mendadak berubah menjadi sabut kelapa dengan tali biru. Seperti sandal buluknya dulu! Kakinya pun terlihat mengeluarkan darah karena sabut kelapa yang tajam dan melukai kulitnya itu.

“Sandal coklat apa? Mana kau punya sandal coklat, Adullll? Sandalmu kan berwarna biru!”
“Aku … aku … punya sandal baru, Bu. Warnanya coklat, cantik sekali menghiasi kakiku. Tadi … aku letakkan di bawah lemari baju. Kenapa … kenapa sandalku hilang dan berubah begini?”
“Sandal coklat baru? Dari mana kau punya uang untuk membeli, ha? Kau curi milik orang lain, ya? Adul! Kau curi barang milik orang? Nanti kau dicokok polisi dan dimasukkan penjara baru tahu rasa!”

Seketika teriakan ibu menggema bak petir di siang bolong. Ia marah sekali dan menjewer telinga Adul dengan keras. Ibu memang selalu berpesan padanya untuk tidak pernah mengambil apa-apa yang bukan miliknya, meski hidup mereka serba kekurangan. Hidup sederhana dan jujur, begitu selalu nasehatnya sejak Adul kecil.

Adul menangis. Bukan hanya karena telinganya sakit, tapi karena sudah berani mencuri dan telah melanggar janjinya pada ibu untuk selalu jujur. Ia juga takut ditangkap pak polisi lalu dimasukkan ke penjara karena telah mencuri sandal.

“Ibuuuuu! Maafkan Adul! Huhuhuhu! Adul mau mengembalikan sandal coklat itu. Adul kapok, Bu. Tapi … tapi … sandalnya sudah jadi begini,” ujarnya sambil mengangkat sepasang sandal yang terbuat dari sabut kelapa dan berbentuk aneh itu.

“Adul! Adul! Bangun, woy! Mimpi apa, sih? Sampai teriak-teriak begitu?”
“Ha? Sandalku! Sandalku mana? Sandal …” Adul terbeliak menatap wajah Bang Amat yang menatapnya dengan heran.
“Sandal sandal! Sana kerja! Tidur aja, lu!” Ujar lelaki berambut plontos di hadapannya itu sambil memukul kepalanya dengan sebuah sandal.

Sandal plastik berwarna biru buluk miliknya yang digenggamnya erat kala tertidur di pos ronda tadi siang.

Honesty saves everyone’s life.

Love Life, Rere

Sumber Photo: Internet

Dedicated untuk para peserta RNB 3 dengan tantangan menulis bertema. Tantangan yang mengajarkan saya untuk membuka mata dan keluar dari segala keterbatasan. Enam ratus lebih kata dalam satu jam saja. Kalian pasti bisa!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.