COMPASSION


COMPASSION

“Why are you laughing at me?”

Begitu tanya saya pada Lana ketika ia menertawakan saya yang hampir salah masuk lift. Bukan hanya salah lift, kacamata yang bertengger di atas kepala pun meluncur jatuh ke lantai. Saya memang nampak seperti seorang yang telah berusia lanjut hari itu.

“Let me tell you something …”

Mendengarnya tertawa, saya spontan menatap dengan tajam.

Lalu meluncur lah sederet kalimat bernada ketidaksukaan saya pada perilakunya saat itu. Bukan hanya pada Lana, tapi juga pada sang kakak yang ikut tertawa.

Saya memang tidak suka anak-anak menertawai orang lain yang sedang tertimpa kesulitan. Be it jatuh, atau melakukan sebuah kesalahan.

“You shouldn’t laugh! Help out if you can.”

Daripada menertawakan, bukan kah lebih baik menolong? Siapa yang bisa memastikan, bahwa suatu hari nanti kejadian yang sama akan menimpa kita? Mungkin tiba-tiba kita terpeleset makgedabruk, jatuh di tengah keramaian, atau melakukan kesalahan tanpa sengaja.

Menunduk, mereka pun meminta maaf pada saya.

Ingat ya, Nak. Kita ini cuma manusia biasa, tempatnya salah dan khilaf. Kita bukan super heroes yang tak pernah salah, atau ahli nujum yang bisa meramal masa depan. Bayangkan, betapa sedihnya ketika kelak kita jatuh terperosok dalam sebuah lubang, dan tidak ada seorang pun mengulurkan bantuan.

Banyak tertawa memang membuat bahagia, tapi menertawakan orang lain yang sedang tertimpa kesulitan itu sangat menyebalkan.

Paling tidak bagi bunda, Nak. Jangan menganggap diri lebih sempurna dan baik dari orang lain hingga menertawakan jadi kebiasaan. Itu saja.

“Be like me, Kak. I’m very kind you know. I like to help people. Right, Bunda?”

Ya, enggak pake pamer juga kalik, Toooong.

Love,
Rere

Tulis Yang Manis


Tulis Yang Manis

“Oy! Mana setoran?”

Begitu seorang sahabat yang bertugas menjaga mading alias majalah dinding sekolah, menyapa saya pagi itu. Hmm … mungkin sekitar tahun 1992-1993.

Penuh senyum, saya serahkan 2 lembar pantun konyol, hasil ketak-ketik saya semalam, menggunakan mesin tik tua milik papa. Tentu saja saya begitu percaya diri, karena menggunakan nama samaran. Saya tidak tumbuh dewasa menjadi anak yang terlalu berani menampakkan diri. Sampai tulisan sendiri, tak mampu saya mencantumkan nama asli.

Biasanya di jam istirahat, saya akan sengaja berdiri di depan mading untuk memperhatikan reaksi siswa dan siswi. Beberapa memang rajin melihat isi mading, yang berubah hampir setiap hari. Kebanyakan tertawa ngakak melihat isi pantun saya yang kocak.

“Ini sih bener banget!” ujar seorang senior sambil tertawa, menatap pantun berisi curhat saya tentang ujian yang bikin kepala sakit luar biasa.

Menulis memang sudah jadi bagian dalam hidup ini. Anggap saja katarsis dari kebiasaan saya yang suka meringis dan ngomong sendiri. Tentu saja bertambahnya usia membuat gaya menulis saya banyak berubah. Dua pelajaran penting dalam menulis, awalnya saya dapat dari 2 orang mentor berkumis tipis.

Pelajaran pertama, saya dapat dari seseorang yang dengan baik hati menjapri dan berbagi hal penting dalam menulis.

“Menulis harus berisi, namun tidak bertujuan untuk menyerang orang lain.”

Darinya saya belajar untuk menulis karena ingin berbagi, bukan untuk menyerang atau mengkritisi. Meski terselubung, diajarkannya saya untuk menahan semua itu. Menulis dengan hati, bukan untuk puja dan puji. Bukan pula untuk menyerang si anu atau ini.

You know who you are, Kak, yang segala ilmunya saya terapkan hingga hari ini. Thank you, You!

Pelajaran kedua adalah tentang memotong tulisan. Meski kritik ini awalnya melemahkan hati, karena berbanding terbalik dengan pelajaran pertama yang saya dapati. Dengan kalimat keras, menurut saya, sang mentor berkata bahwa kalimat saya membuatnya susah bernafas.

Awalnya saya ke-GR-an mengira ia susah bernafas karena tercekat. Rupanya, ia literally susah bernafas, membaca kalimat yang begitu panjang tanpa potongan. Hahaha!

“Jangan baper!” ujar saya kepada hati serta otak yang sempat lemah dan hampir menyerah. Dengan segera, kalimat panjang itu saya potong menjadi beberapa bagian. Jadi kalian sekarang bisa benar-benar tercekat karena cerita saya yang memikat, bukan karena asma yang kumat.

Meski mengikuti beberapa tantangan menulis, saya bahkan tak pernah berfikir untuk menjadi yang terbaik. Saya hanya menulis dengan hati, untuk berbagi hal baik, atau menyimpan ilmu yang masih sedikit di dinding, sebagai pembatas diri. Agar tak perlu menyerang ke sana kemari, dan fokus saja pada cerita yang berisi.

Menulis benar-benar membuat saya banyak merubah diri. Tidak lagi sinis, namun berganti senyum manis. Tidak lagi memandang banyak hal dari sisi kritis namun lebih melankolis. Sesekali berubah mistis namun tetap bikin mringis.

Itu saja, sih. Selamat menikmati hari Minggu yang manis, dengan keluarga yang banyak mringis.

Love, Rere.

Cinta … Tanpa Suara


Cinta … Tanpa Suara

“Remember … you all must take care of Bunda, just like how she took care of you since you are small. Don’t make Bunda angry all the time, and remind her to drink water when I’m not around.”

Lamat terdengar suara lembut namun tegas itu dari pinggir tempat tidur dimana aku terbaring lemah hari itu. Sakit kepala dahsyat yang kualami pasca dirawat memang datang tanpa isyarat.

Dua hari terbaring tak berdaya memang membuatku bak mati rasa. Membuka mata saja rasanya seperti dalam kepala ada bunyi meriam berdentum tanpa jeda.

Ia … yang kudengar suaranya dalam tidur yang tak nyenyak, memang tak pernah kuceritakan dengan congkak. Tentu saja bukan karena tak cinta, tapi rasanya tak rela jika semua jadi ikut jatuh cinta.

Ia … memang tak banyak bersuara, pun tak suka dilihat banyak mata. Ia juga bukan sang pengobral cinta, namun segala ucapannya terdengar seperti obat paling manjur sedunia.

Ia … yang dulu memperjuangkan cinta, hingga rela mengarungi samudera. Tak dihiraukannya berapa besaran hanya demi bertukar sapa.

“Cinta harus diperjuangkan,” katanya.

Perjuangan yang hingga hari ini tanpa lelah ia tunjukkan. Merelakan seluruh harinya berkutat dengan pekerjaan, demi menghidupi kami semua. Tanpa lelah, tanpa pamrih, tanpa pernah berkeluh kesah.

Hidup baginya adalah keluarga. Hidup baginya adalah mengatakan cinta meski tanpa suara.

Untukmu … yang tercinta.
Yang tak pernah ingin kuberitakan ceritanya.
Karena tak ingin pada dunia, ku berbagi cinta.
Cinta yang meski tak bersuara.
Namun karenamu hidupku … sempurna.

Love, Rere

Sumber Foto: WAG

BEING INDEPENDENT


BEING INDEPENDENT

Sembunyi-sembunyi kupandangi si bungsu yang sedang menyiapkan makan malamnya sendiri.

Memasukkan olahan ayam ke dalam airfryer, menyendok nasi dari dalam periuk, daaaan menumpahkannya ke lantai dapur. Dengan cepat diletakkannya pinggan ke atas meja makan, lalu mengambil tissue dapur untuk mengangkat butiran nasi yang jatuh. Kemudian diraihnya vacuum cleaner untuk membersihkan sisa nasi yang bertebaran.

Semua dilakukannya sendiri dengan cepat. Mungkin takut bunda galaknya keburu membeliakkan mata sambil “bernyanyi” dengan suara nyaringnya.

Saya bukannya marah, malah tertawa geli. Saya memang sedang menjaga supaya sakit kepala dahsyat yang sudah 2 kali saya alami kemarin tak datang lagi. Saya tak boleh banyak mendhelik dan marah hari ini. Jadi, meskipun “getem-getem” saya hanya tepok jidat sambil meringis.

Bocah lelaki berusia 9 tahun itu memang sudah mandiri luar biasa. Kemandirian yang kerap diprotes eyang mama.

“Kasihan, masih kecil kok disuruh nyiapin makan sendiri,” begitu selalu katanya setiap kali memprotes “kekejaman” saya mendidik anak-anak.

Saya, cukup mrenges saja.

“Emang, dulu Mama enggak begitu? Malah lebih parah. Aku kemah pertama kali pas umur Rayyan gini, juga nyari barang sendiri, lho. Enggak minta tolong, dan enggak ada yang nawarin buat nolong.”

Hahaha! Eyang mama mungkin lupa betapa kerasnya ia dan papa mendidik saya dulu. Sebagai anak perempuan pertama, saya sama sekali tak bisa bermanja-manja. Meskipun membesar dengan seorang ART di rumah, segelas air pun belum pernah saya minta darinya. Saya justru harus membantu pekerjaan bibik tanpa bisa prembik-prembik.

Tenang, Rayyan.

Kelak ketika dewasa nanti, kamu pasti baru manggut-manggut sambil tersenyum simpul. Melihat beberapa teman lelakimu yang bahkan menyiapkan makannya sendiri pun tak mampu. Sementara kamu sedang asyik menggoreng masakan favoritmu, atau mungkin dengan cekatan membantu istrimu di dapur.

Kemandirian itu tak bisa dalam semalam dipelajari. Tak bisa mendadak masuk ke otak dan hati. Semua butuh waktu dan kebiasaan sejak dini. Semua butuh ibu yang nampak kejam sekali.

Seperti kejamnya eyang mama di mata bunda kecil dulu. Minta air minum pada bibik di rumah pun tercekat kelu. Malah disuruh ambil sapu dan ikut bantu-bantu.

Biar lah bunda nampak bengis kali ini. Buah manisnya akan kamu petik nanti. Janji, jangan buat susah hidup orang lain dengan tergantung pada siapa pun. Lebih baik membantu daripada minta dibantu.

Selamat Hari Ibu untukku, eyang mama, dan semua ibu yang hari ini nampak “kejam” di mata umum. Tugas kami berat, menyandang gelar yang tersemat demi menghasilkan generasi yang hebat. Generasi mandiri yang cerdas, berani, dan mampu survive menghadapi hidup yang kejam ini.

Love,
Rere

Teman Bahagia


Teman Bahagia

“Takkan pernah terlintas ‘tuk tinggalkan kamu, jauh darimu … kasihku.”

Sebaris awal lagu milik Jaz ini membuat saya sedikit merenungi acara mudik yang kerap saya lewati hanya dengan anak-anak saja selama ini. Liburan keluarga (tidak sekeluarga) yang jarang sekali saya lalui bersama suami karena sibuk dengan pekerjaannya.

Saya berusaha memaklumi. Sebagaimana ia yang juga berusaha memaklumi ketika terpaksa harus rela berpisah dengan anak-anak dan istrinya untuk waktu yang biasanya lumayan lama.

Perjalanan mudik saya dulu kerap kali mengundang kernyitan dahi beberapa orang. Menurut mereka, saya tidak seharusnya meninggalkan suami begitu lama. Saya seharusnya 24 jam, 7 hari dalam seminggu berada di sampingnya. Saya tidak seharusnya pergi tanpa didampingi olehnya.

Mereka mungkin lupa, saya juga manusia biasa.

Manusia yang butuh waktu untuk sekedar menikmati do nothing days. Manusia yang sesekali butuh merawat diri from head to toe ke sebuah tempat perawatan kecantikan. Manusia yang juga butuh bersosialisasi dengan orang lain, terutama para sahabat untuk sekedar bertukar cerita dan berbagi rasa.

Suami saya sebenarnya yang justru meminta saya untuk pergi berlibur dengan anak-anak. Ia tahu, saya juga butuh membahagiakan diri sendiri.

Apakah artinya selama ini saya tidak bahagia?

Saya sangat bahagia. Bahagia yang datang dari rasa syukur atas apa yang telah saya lalui dan miliki hingga hari ini. Namun ibarat sebuah gawai, saya juga butuh charging. Butuh sekedar keluar sebentar dari rutinitas, dan menikmati hidup sebagai seorang individu.

Saya butuh ruang.

Memutuskan untuk mengabdikan diri sebagai seorang ibu dan istri, pastinya kehidupan saya berubah 180 derajat dari sebelumnya. Namun saya juga tidak ingin merampas hak sebagai seorang manusia. Saya juga berhak menikmati hari tanpa kerutan di dahi. Caranya? Pergi berlibur selama beberapa hari, bertemu orang tua dan sahabat baik, sudah cukup melegakan hati.

Terima kasih suamiku, karena sudah menempatkan istrimu di sisi bukan di belakang. Terima kasih karena sudah mengingatku sebagai seorang yang masih memiliki hak untuk bahagia. Terima kasih karena menyetujui pemahamanku, bahwa happy wife bermakna happy home. Terima kasih karena bersedia menjalani hari bersama sebagai sepasang “teman” bahagia.

“Percaya aku takkan kemana mana, setia akan ku jaga. Kita teman bahagia.”

Dedicated to my soulmate.

Soulmate aren’t just lovers. They are happy team mates!

Love, Rere

SEBELAS … LIMA BELAS … SELAMANYA


SEBELAS … LIMA BELAS … SELAMANYA

Thank you, ya, kornetnya waktu itu. Enak, deh! Aku suka,” kataku melalui sambungan telpon.
“Kornet? Kornet apa, ya?” tanyanya dengan nada kebingungan.
“Kornet, masak enggak tau? Itu lho, daging ancur dalam kaleng yang kamu bawain waktu itu.”
“Ancur itu … hancur, ya? Kornet saya belum paham … kaleng apa lagi, ya?”
“Ihhhh! Gimana, sih! Kornet, ya … kornet, lah! Kaleng masak enggak ngerti juga, sih!”
“Spell … please.”
C O R N E D Beef. Kornet.”
“Oooh, –Korndbeef. Bukan kornet, laaaah.”
“Orang Indonesia bilangnya kornet! Pokoknya kornet!” kataku mulai kesal.
“Terus, kal … kal tadi apa?”
“Kaleng? Tempatnya kornet!” jawabku dengan ketus.
So, kaleng is tin?”
“Iya! Kalengnya kornet!”
Kornd.”
“Kornet! Pokoknya kornet!”
“Ih! Kan saya bilang yang betul.”
“Biarin! Udah, ah! Aku mau berangkat kerja. Pokoknya tetep kornet! Bye!” kataku menutup telepon dengan marah.

Kami memang beda. Bukan hanya beda bahasa, namun juga karakter. Ia yang pendiam, dan aku yang tidak bisa diam. Ia yang sabar, aku yang tidak sabaran. Ia yang selalu mengalah, aku si “degil” yang tak pernah mau kalah, apalagi mengaku salah.

Setidaknya ini semua sudah tergambar lewat komunikasi fail antara kami berdua. Bahkan di minggu-minggu awal setelah kami berkenalan di dunia maya, lalu bertatap muka di dunia nyata.

Masalah kornet … errr –kornd– ini, hanya salah satu contoh kecil, yang setelah kami pikir ternyata lumayan bikin nyengir. Hahaha!

Sebelas tahun sesudah September 2005, kami yang awalnya berdua menjadi berlima. Dua putri, dan seorang putra melengkapi kehidupan. Keluarga kecil yang ramainya bak pasar malam. Tentu saja bukan tanpa kerikil dan aral.

Namun beda itu tak setengah mati berusaha kami samakan. Biarkan saja ia ada, kami hanya butuh banyak pemahaman. Seperti ia yang paham bagaimana saya mengucapkan kornet, bukan –kornd-. Saya juga belajar memahami bahwa ia tak kenal apa itu kaleng. Sedari kecil ia hanya tahu “tin“.

Apakah beda itu lantas menjadikan kami semakin jauh berjarak? Tentu saja tidak. Lalu, bagaimana cara kami menjaganya supaya tetap utuh meski tak bersuara penuh?

Beda itu jadi kekuatan kami mengajarkan anak-anak tentang warna pelangi. Dengan semburat yang tak sama, ia tetap indah dipandang mata. Mungkin jika pelangi tak berwarna-warni, ia tak akan menghiasi bumi hingga nampak berseri.

Lima belas tahun sudah hingga hari ini, dan beda itu tetap ada di sini. Saya, tidak berubah menjadi dia. Dia, tidak berubah menjadi saya. Kami tetap membawa warna sendiri, namun saling melengkapi. Hingga ketika hujan menghampiri, pelangi siap menghiasi.

Jika ia sedang menjadi api, saya akan berusaha menjadi air yang menyejukkan panas hati. Begitu pula sebaliknya. Maka, biarkan saja beda itu ada.

Untuk sebelas, lima belas … hingga selamanya.

Love, Rere

Dedicated untuk Mbak Emmy Herlina dan suami tercinta, di sebelas tahun kebersamaan. Semoga selalu mencinta di atas segala beda, hingga menuju surga bersama. Sebelas … hingga lima belas … bersama selamanya.

http://parapecintaliterasi.com

PLAGIAT


PLAGIAT

“Anya … Anya … to —”
“Ah! Diam!”

Anya bergeming. Tak diindahkannya suara lirih yang memanggil-manggil namanya.

“Diam kau, Lastri!”
“Oy! Ngomong sendiri! Udah gila, lu? Pulang, Nyet! Gue pulang duluan, ya. Awas digondol wewe gombel, lu!”
“Berisik! Pergi sana! Gue selesai sebentar lagi. Besok harus presentasi, dan gue harus berhasil.”

Menghela nafas, Nayla pun beranjak meninggalkan Anya sendiri, di ruang kantor yang hanya tinggal mereka berdua. Memandang sekeliling dengan bergidik, Nayla memilih menuruni anak tangga ketimbang memasuki lift. Suasana kantor memang belakangan agak berbeda hingga kerap membuat bulu kuduknya berdiri.

Keesokan harinya, dengan cemerlang Anya membawakan hasil pekerjaannya di hadapan para pimpinan. Tak dihiraukannya teguran Nayla yang menganggap ia seperti lupa daratan. Matanya menghitam dan tubuhnya kurus seperti kurang makan.

Anya hanya menjawab dengan senyum mengembang, “yang penting aku sukses, bukan?”

“Anya … Anya ….”
Shut it, Lastri!”

Suara itu lagi! Sial betul si Lastri ini! Tak henti-hentinya berbisik lirih di telingaku.


Anya dan Lastri, dua sahabat yang begitu terkenal di kampus dulu. Anya yang cantik dan terkenal sebagai seorang selebgram, sebutan untuk mereka yang akun Instagramnya diikuti puluhan ribu penggemar. Lastri, gadis desa yang berhasil masuk ke universitas bergengsi itu sebagai penerima beasiswa. Ia sangat cerdas, namun berbeda 180 derajat, penampilannya agak kuno bahkan kampungan. Setidaknya, begitu cibiran yang diterimanya setiap kali ia berjalan tanpa mendongakkan kepala di samping Anya.

Saling melengkapi, begitu jawab Anya tiap kali ditanya, bagaimana mereka bisa bersahabat karib. Tentu saja, karena Anya memang tidak terlalu pintar. Ia hanya pandai menebar pesona. Lastri, adalah pelengkap hidupnya, alias, sang pembuat pekerjaan rumah, dan hampir semua project di kampusnya.

Lastri yang lugu, tak sadar ia diperalat. Kekagumannya pada Anya membutakan mata dan telinga. Tak dihiraukannya cibiran dan pandangan sinis yang hanya dijawabnya dengan senyum manis.

“Anya adalah sahabat terbaikku,” begitu selalu ujarnya.

Ia baru terkesiap sadar ketika pada suatu hari, dilihatnya Anya menyadur hasil tulisan untuk karya ilmiahnya. Tulisan yang akan diserahkan Lastri sebagai syarat meneruskan pendidikan pasca sarjananya.

“A … Anya, kenapa … kenapa kau menyalin semua tulisanku? Aku … aku bisa membantumu menulisnya juga dengan materi yang berbeda.”

Ragu-ragu Lastri bertanya pada sang sahabat yang kemudian menatapnya tajam dengan mata memerah seperti kurang tidur.

“Diam kau, Lastri! Jika kau berani bersuara, akan kuhabisi kau beserta seluruh keluargamu!”

Lastri menunduk kelu, airmatanya tumpah tak terbendung. Terbayang wajah renta ibu, yang sudah bertahun-tahun bertahan hidup dari bantuan Anya, dan sang kekasih yang sudah berumur.

Karya ilmiah itu yang kemudian membuat Lastri menjadi tertuduh. Ia kini berlabel plagiator. Namun ia tak mampu membela diri dan hanya memendam segala kesedihan sendiri. Kesedihan yang makin menjadi, setelah ibu tutup usia secara mendadak. Hilang sudah penopang hidup dan segala kekuatan hidupnya.

Lastri dimasukkan ke sebuah rumah sakit jiwa … oleh Anya, sahabatnya sendiri.

“Kasihan Lastri, aku tak tahu mengapa ia sampai hati. Mencuri karya sahabatnya sendiri,” ungkap Anya penuh kesedihan di sebuah tayangan televisi.

Tak seorang pun melihat senyumnya yang licik di balik kamera TV.

Sementara Lastri, ia mulai depresi. Masa depan cerah yang tergambar di hadapannya musnah dalam hitungan hari. Ia tak lagi berpikir jernih, matanya terus mematung memandang sebotol penuh obat penenang.

Anya semakin berjaya. Namun hidupnya dihantui bayangan Lastri, sang sahabat yang dikhianati. Hingga pada suatu hari ia ditemukan tak sadarkan diri, oleh sang sugar daddy.

“Anya mengalami kelelahan kronis dan sekarang dalam kondisi koma,” ujar dokter yang menerimanya di ruang gawat darurat.

Di dalam ruang ICU, Nayla memandang Anya dengan penuh pilu. Meski mereka tak begitu dekat, namun Anya adalah rekan sekerja. Walau tak pernah dihiraukan, namun Nayla kerap mengingatkan Anya untuk berhenti bekerja terlalu berat.

“Anya … kau dengar suaraku?” ujar Nayla pelan sambil menggenggam tangan kurus itu.

Dilihatnya airmata Anya mengalir dari sudut pipinya, tanda ia masih bereaksi meski dalam diam.

Sepeninggal Nayla, Anya terbaring sendiri. Pelan kesadarannya pulih dan matanya terbuka sedikit. Nampak di hadapannya seseorang berpakaian bak suster rumah sakit, sedang tersenyum manis.

“La … Lastri? Kau … kau kah itu?” ucap Anya dalam hati, sambil memandang ngeri.

Tergambar hari ketika ia menyerahkan sebotol obat ke tangan Lastri, yang diakuinya untuk menenangkan diri. Berharap sang sahabat menenggaknya habis untuk mengakhiri hidup, yang diakuinya sudah mati.

Tak sepatah kata terucap, hanya sebuah garis lurus di layar ECG pertanda sang pasien telah pergi. Suster Astri pun melangkah ke luar ruangan, dengan senyum terkembang.

“Telah kubalaskan dendammu adik kembarku. Tenanglah sekarang di peraduan abadimu.”

(Tamat)

Don’t steal, be original, and proud of your own thing. (Rere)

PAPA


PAPA

“Nanti pas penjurusan pilih saja kelas bahasa, Nak. Terus kuliah di Sastra Inggris UGM, lewat jalur PMDK. Papa lihat minat dan kemampuanmu ada di sana. Papa yakin kamu pasti bisa.”

Papa … canggih, kan?

Baru saja sang putri kecil menginjak bangku kelas 1 SMA, ia sudah begitu memandang jauh ke depan. Benar-benar seorang visioner.

Ia yang selalu mengajariku untuk memiliki keingintahuan akan banyak hal. Memperluas pergaulan, meski sang putri kecil sangat pemalu, dan tidak punya kepercayaan diri sama sekali. Papa tidak peduli. Baginya lebih baik mencoba meski gagal, daripada tidak berusaha sama sekali.

Disuruhnya aku belajar ini itu, dan ikut berbagai komunitas, meski hanya duduk di barisan paling belakang sambil menunduk kaku. Diajarinya aku banyak hal, dan diperkenalkannya pada dunia melalui tayangan berita dan surat kabar.

Papa memang ajaib. Di saat orang tua lain tak menginginkan anak-anak mereka memilih jurusan bahasa di SMA, karena dianggap kelas terbuang, ia justru sebaliknya. Kemampuan sang putri terhadap mata pelajaran bahasa asing, membuat visinya ke depan menjadi jelas. Ia tahu sang putri memang tidak berminat pada mata pelajaran lain. Hebatnya … ia tidak memaksakan kehendaknya sendiri.

Dengan penuh senyum, hari itu kusodorkan sebuah surat berisi diterimanya aku melalui jalur prestasi untuk menjadi mahasiswa di kampus impiannya. Meski akhirnya ia justru jatuh sakit karena khawatir ditinggalkan sang putri jauh ke kota lain, aku tahu ia bangga padaku.

Ia tak tahu betapa bangga aku memanggilnya PAPA. Toga yang kudapat 4 tahun setelah hari itu, kupersembahkan hanya untuknya. Sang visioner yang tidak pernah memaksa, namun selalu penuh dengan semangat dan harapan. Ia tak pernah lelah mendukung hingga membuatku yakin akan berbagai pilihan dalam hidup.

Universitas Gadjah Mada yang sudah 71 tahun berdiri tegak, akan selalu menjadi pengingat. Bahwa tugas orang tua bukan memaksakan kehendak namun harus mengarahkan.

Terima kasih, Pa. What would I do without your full encouragement. Things that built my self esteem grow bigger and bigger. Things that made me who I am now.

Dirgahayu ke-71 UGM tercinta. Semoga selalu jaya dan tetap menjadi pilihan utama.

Love, Rere

TUMBANG


TUMBANG

“Astagfirullah!”

Begitu pekik saya di hari Kamis siang itu, setelah mengunyah sepotong prata yang dibuat si sulung.

Kunyahan pertama tiba-tiba saja membuat bagian wajah sebelah kiri saya kaku hingga tak lagi bisa mengunyah dengan baik. Saya merasa syaraf di bagian itu seperti putus, kulit menebal, dan pipi saya terasa membengkak, hingga tak lagi bisa membuka mulut dengan leluasa.

Kepanikan segera menyerang apalagi ketika menatap pantulan wajah di cermin. Tak seperti biasanya yang kerap berlaku santai, saya seketika panik. Seluruh tubuh seperti kaku, tangan gemetar, jantung berdegup kencang.

Ketiga anak saya pun ikut panik melihat ibunya terpekik di depan cermin sambil menangis. Ya, saya yang kuat bak besi baja ini, hari itu menangis terisak di hadapan mereka.

Saya bukan sedih karena kesakitan atau takut melihat wajah yang bentuknya jadi tak karuan. Bayangan di kepala saya sudah macam-macam. Bell’s palsy, stroke, hingga membayangkan apa yang akan terjadi pada anak-anak kalau ternyata saya tak mampu lagi berfungsi sebagai seorang ibu. Dalam keadaan panik, saya sedikit bersyukur, untuuung saja saya sudah selesai mengurus pembelian buku dan seragam sekolah semua anak pagi itu.

Setelah mandi dalam keadaan gemetar, saya bergegas menghubungi suami yang menyarankan untuk pergi ke rumah sakit. Ia melarang saya membawa kendaraan sendiri, dan dengan perasaan tak karuan saya mengajak putri sulung pergi.

Sesampainya di unit A&E, saya segera ditangani. Dokter yang berjaga hari itu segera memanggil seorang spesialis ENT karena curiga saya menderita kelainan tiroid.

Ingat status tentang mata saya yang disangka dokter berhubungan dengan tiroid? Nah, hari itu lah akhirnya saya dirujuk untuk opname karena dokter khawatir bengkak yang saya alami akan semakin parah jika tak ditangani dengan cepat.

Selanjutnya saya melakukan serangkaian tes mulai dari CT Scan hingga tes darah. Hari itu untuk pertama kalinya, tekanan darah saya naik tinggi hingga ke 174/100. Padahal biasanya tensi saya hanya di angka 100/70 atau di bawah itu.

Hari itu saya baru paham bagaimana bentuk anxiety. Ya, saya terkena anxiety attack yang berakibat tekanan darah saya naik. Tubuh saya juga sedikit limbung dan sempoyongan, mungkin juga karena dari pagi belum sempat makan. Rasanya trauma membuka mulut mengingat wajah yang tiba-tiba membengkak setelah mencoba mengunyah prata.

Setelah mengurus ruangan dan menunggu kedatangan suami, saya segera dimasukkan ke kamar dan menerima infus pertama. Diagnosa dokter, berdasarkan rekaman ct scan, saya terkena Salivary Gland Infection. Infeksi kelenjar ludah.

Penyebabnya adalah virus. Meski dokter juga tak dapat memastikan bagaimana saya bisa terkena virus ini. Beruntung infeksi ini belum dimasuki puss atau nanah. Jika itu yang terjadi maka saya harus menjalani operasi. Ngeri, membayangkan sayatan yang bisa saja saya lalui. Alhamdulillah. Saya cepat mendapat pertolongan dari yang ahli.

Infus antibiotik dan glucose pun saya dapatkan sejak Kamis. Bengkak di wajah saya memang tidak sakit, namun begitu saya coba untuk mengunyah makanan yang sedikit keras, rasanya membuat meringis hingga saya menangis. Sakitnya begitu membuat frustasi karena ngilu dan aneh sekali.

Lambat namun pasti, bengkak di wajah pun mulai kempes. Hingga sore hari ini saya bisa pulang ke rumah lagi. Pesan dokter hanya agar saya menghabiskan antibiotik dan mengubah kebiasaan buruk kurang minum air putih.

Satu hal yang membuat hati saya pedih melebihi rasa perih di wajah hari itu adalah, berkaca-kacanya mata indah Lara, si sulung. Ia mengira saya sakit akibat food poisoning dari prata yang ia buat untuk saya di pagi hari Kamis itu.

“I was shocked and also panicked, Bunda. I got goosebumps, thinking that I might poison you from the prata I made in the morning. I was just trying to be nice, but end up with my mother being hospitalized.”

Oalah, Nak.

Thank you for all your kind well wishes, teman-teman. Stay healthy and always happy, karena meski sekuat baja bisa tumbang juga.

Love Life, Rere.

Lucia


Lucia

“Sayang, kenapa mematung di depan pintu? Ayo, tidur lagi.”

Penuh kelembutan, ia membawa gadis itu kembali ke kamar tidurnya. Mimi bukannya tak tahu kalau putri semata wayangnya itu selalu mengigau di kala waktu tidurnya. Namun akhir-akhir ini ia sering mendapati Lucia, nama gadis kecil itu, terbangun dari tidurnya lalu berjalan tak tentu arah dengan mata terpejam.

“Lucia is sleepwalking,” katanya melalui sambungan telepon, kepada Adam sang suami, yang tinggal di luar kota karena urusan pekerjaan.

Ya, Mimi memang hanya tinggal berdua di rumah besar itu, dengan putri tunggal Adam, yang baru setahun ini menikahinya. Meskipun ada dua orang asisten rumah tangga tersedia untuk melayani segala kebutuhannya. Mereka ditempatkan di bangunan lain, di sisi sebelah utara rumah utama itu.

Adam adalah seorang pengusaha sukses. Mimi seketika jatuh hati pada pandangan pertama ketika mereka bertemu di suatu acara. Diterimanya dengan penuh cinta, status Adam yang tak lagi perjaka. Ia adalah seorang duda beranak 1 yang sudah beberapa tahun ditinggal istri pertamanya.

Tak seorang pun mengetahui keberadaan sang istri. Menurut Adam, perempuan itu pergi meninggalkannya dan lari bersama seorang lelaki muda selingkuhannya. Mimi tak sanggup menahan perih mengetahui kisah pilu ini. Ia semakin jatuh hati, hingga akhirnya bersedia dinikahi.

Lucia, adalah gadis kecil yang penuh misteri. Ia manis sekali, namun seperti menyimpan sesuatu dalam hati. Meskipun begitu, Mimi tak secepatnya menyerah lalu pergi. Penuh kelembutan, ia menempatkan diri sebagai ibu sambung sekaligus sahabat bagi sang putri.

Meski gadis itu hampir tak pernah bersuara, Mimi berkomunikasi dengannya melalui coretan berupa gambar sketsa. Lucia suka sekali menggambar sosok perempuan cantik. Mungkin ia merindukan sang ibu, yang dilihat Mimi memang mirip sekali fotonya dengan gambar milik Lucia. Kasihan.

Penuh kasih sayang, Mimi mendampingi Lucia. Termasuk menjaganya ketika ia mulai mengigau, hingga berjalan dalam keadaan tidur. Herannya, gadis itu selalu berdiri di depan sebuah pintu. Pintu menuju sebuah gudang, tempat keluarga Adam menyimpan banyak barang.

Meski penasaran, Mimi urung membuka pintu ruangan itu. Alergi debu membuatnya menghindari tempat yang berpotensi memicu. Hingga pada suatu malam, semuanya berubah pilu.

“Lucia? Astaga! Kau membuatku terperanjat! Ada apa, Sayang? Kau ….” ucapan Mimi tak sempat terselesaikan, ketika sebuah pisau menancap di dadanya, tepat mengenai jantungnya. Matanya terbeliak tak percaya, melihat Lucia menikamnya dengan mata tertutup rapat. Bersimbah darah, ia jatuh ke lantai berkarpet mahal, di dalam kamar tidurnya yang penuh perabotan mewah.

Jerit Lucia membangunkan kedua asisten rumah tangga yang sedang tidur di bangunan sebelah. Menghela nafas panjang, salah seorang dari mereka secepatnya menghubungi Adam.

“Tuan … ia melakukannya lagi. Haruskah kami mengubur jasad istri tuan di dalam gudang lagi?”

(Tamat)

Sumber foto: WAG RNB

Love, ReReynilda