Being Brave


Being Brave

“Maaf, Cik, tengah cuci bilik toilet, kah? Baju saya jemur jadi basah semua.”

Kemarin seorang tetangga, dari lantai 3 bangunan apartemen kami, mengetuk pintu rumah. Ia ingin tahu apakah kami sedang membersihkan toilet sampai airnya keluar jendela, hingga membasahi deretan baju yang sedang dijemurnya.

Kami tinggal di lantai 5, dan jendela toilet menghadap tepat ke arah tempat kami semua biasa menggantung galah jemuran. Herannya, hari itu saya tidak sedang ngosrek toilet. Lagian saya tidak pernah membersihkan jendela dengan menyemprotkan banyak air. Biasanya hanya saya lap saja.

Setelah suami saya selidiki ternyata jendela toilet memang terbuka dan … basah! Jadi benar lah ada orang yang menyemprotkan air lewat jendela.

Hmmm … siapa pelakunya, ya?

Ya, siapa lagi kalau bukan Rayyan.

Rayyan … memang tak selalu manis. Ia kadang “teramat manis” sampai membuat kami semua kesal dan meringis. Menurut pengakuannya, ia iseng saja menyemprotkan air melalui jendela toilet ketika sedang BAB. Gustiiiii! 🤦🏻‍♀️ Ia tidak mengerti bahwa di luar sana ada deretan baju sedang dijemur.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, ia akhirnya turun ke lantai 3, dan menemui sang pemilik baju itu. Didampingi kedua kakaknya, ia meminta maaf karena tanpa sadar melakukan hal yang merugikan orang lain.

“I’m so sorry, it was ME who sprayed the water through our toilet window. I didn’t realize that I’d wet your clothes. I’m so sorry.”
“Well, though I have to wash my clothes again, but it’s okay. Thanks for telling me this.”
“I won’t do it again. I’m sorry.”

Kami sedang mengajarkan Rayyan artinya berani. Bukan sekedar berani menghadapi kesulitan, namun juga berani mengakui kesalahan, dan berani meminta maaf. Hal mendasar dalam pendidikan di rumah, yang saya dan suami tekankan sejak mereka kecil.

Jangan segan meminta maaf dan mengakui kesalahan. Be humble and have courage.

Well, begini lah romantikanya tinggal di rumah susun. Meskipun saya tidak mengenal tetangga atas maupun bawah, saya bahkan selalu mengingatkan anak-anak untuk menjaga sikap. Misalnya dengan tidak berjalan kaki di dalam rumah bak gajah dengan bobot yang berat, atau terlalu ribut hingga membuat tetangga di sekitar pusing kepala.

Apalagi jika membuat mereka harus mencuci ulang baju yang basah kuyup karena ulah iseng Rayyan ini, contohnya.

“I’m sorry, Bunda. I’m sorry, Ayah.”
“Do 10 times push up!”
“Haaa? But … but ….”
“No buts!”

Love Life,
Rere

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.