Kerja – Now And Then


Kerja – Now And Then

Foto sebelah kanan yang ‘nyusruk’ itu, muncul di memori dinding saya pagi ini. Dengan tertawa saya menunjukkan pada anak-anak dan semua tergelak. Ketawa geli melihat kekonyolan sang Bunda yang memang sudah terkenal antik.

Setelah mereka berangkat sekolah dan rumah sepi, saya kembali melihat foto itu dan merenung. Foto yang diambil Lana ketika sedang musim Fallen Angel Challenge. Emak yang suka banget dikasih rantangan … eh tantangan ini, serta merta memintanya untuk mengambil gambar dengan pose ‘nyusruk‘. Sembari menggelengkan kepala ia terpaksa mengikuti arahan Emak. Pasrah. Daripada kena omelan panjang. Hahahaha.

Ingatan saya kemudian melayang di masa remaja dulu. Saya bukan anak yang selalu manis di rumah. Walaupun tidak pernah berani membentak atau marah pada orang tua. Pemberontakan saya dimulai di hari saya kabur dari rumah, karena merasa Mama tidak mengerti saya. Kaburnya sih juga ke rumah dinas Papa yang kosong di daerah Slipi. Hahaha. Jadi bukan kabur, ya. Cuma pindah rumah.

Kaburnya saya yang sebenarnya stress setelah diberhentikan secara mendadak dari sebuah kantor, ternyata membawa perubahan nasib.

Baca di sini https://reynsdrain.com/2020/10/09/kerja/

Berbekal selembar 20 ribuan di kantong, saya melamar kerja pada sebuah maskapai asing. Keberuntungan memang sedang berpihak pada saya. Saya diterima kerja setelah melalui serangkaian tes. Hingga tiba saatnya saya meninggalkan Indonesia tercinta.

Hari-hari saya kemudian, setelah bekerja dan menetap di luar negeri sebagai pramugari, hanya terpusat pada diri saya, dan saya saja. Me, myself, and I. Saya bahkan tidak pernah merasa perlu untuk memikirkan orang lain. Hidup saya hanya kerja atau bersenang-senang. Menghabiskan liburan dengan mengunjungi negara-negara di belahan bumi yang lain, atau sekedar membuang uang untuk belanja. Itu saja. Hal yang belakangan, lumayan saya sesali.

Ya. Seharusnya saya bisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama orang tua dan mengajak mereka liburan bersama. Saya seharusnya juga bisa menyimpan uang untuk membeli sesuatu sebagai investasi. Apa daya semua itu tidak pernah ada dalam pikiran saya dulu. Live life to the fullest, begitulah saya dulu.

Mungkin juga karena saya membesar dalam situasi yang serba terbatas dan dibatasi. Termasuk dalam soal keuangan. Sampai-sampai ketika kuliah dulu, saya mengisi waktu luang di sela kegiatan sebagai mahasiswa dengan bekerja. Mulai dari pagi, sampai kadang dini hari. Hanya sekedar untuk membeli sepotong baju cantik yang terpampang di etalase sebuah toko. Saya memang tidak terbiasa membebani orang tua dengan segala keinginan pribadi. Seminim apapun uang jajan diberi, saya tidak pernah protes atau meminta lebih. Kebiasaan mandiri yang terbawa hingga kini termasuk dalam cara pengasuhan anak-anak saya sendiri.

Oh ya, beberapa teman kerap meminta saya berbagi pengalaman sebagai pramugari dulu. Saya hanya tersenyum. Karena bukan cerita indah yang banyak saya alami, kecuali bagian belanja dan jalan-jalannya tadi. Hahaha. Selebihnya hanya cerita tentang kenakalan dan kegilaan saya di masa muda, mungkin bisa dibilang fase terparah dalam hidup saya. Hehe.

Bersyukur sekali pada akhirnya, saya pernah mengalami beragam fase itu dalam hidup. Nakal, bandel, pemberontak, keras kepala, egois, egosentris, cuek, hingga yang paling parah menjadi seorang hedonis. Semua fase itu justru yang akhirnya membesarkan dan membentuk karakter saya hingga hari ini. Hingga hidup yang awalnya hanya me, myself, and I berubah menjadi family first.

Settling down atau duduk dengan tenang dan menikmati setiap detik keberadaan saya sebagai ibu rumah tangga sekarang, adalah hal yang sangat menyenangkan saat ini. Walau harus berjibaku mengurus rumah tangga dan membesarkan buah hati hanya dengan suami, saya bahagia sekali. Bahkan ketika tangan yang dulu lembut dan mulus berubah menjadi kasar dan berurat, saya tetap bangga.

Bangganya berperan sebagai ibu rumah tangga yang 24/7 di rumah, dan tidak pernah merasa membutuhkan kehadiran seorang asisten pribadi. Bahkan, ketika saya hampir setiap hari memasak untuk pesanan para pelanggan dulu, semua tetap saya kerjakan sendiri, di sela-sela waktu mengurus anak dan suami. Tawaran suami untuk memanggil pekerja paruh waktu ke rumah pun saya tolak. Saya merasa bisa mengatasi semua hal.

Ya. Saya bisa dan saya bahagia.

Jadi, tak perlu merasa terpuruk dan terkungkung di rumah sendiri ya, Moms. Percayalah, ketika suami bahagia dan anak-anak tumbuh sehat serta ceria, di situlah kepuasan pribadi melebihi segala keriaan di masa muda dulu. Namun ingat, yang terpenting adalah diri sendiri harus bahagia. Percayalah, seorang ibu yang bahagia akan membuat seisi rumah bahagia. Kalau saya, secangkir kopi hangat saja sudah cukuplah membuat bahagia di pagi hari.

Bagaimana cara saya menemukan bahagia? Baca di sini, yuk https://reynsdrain.com/2020/04/21/secangkir-kopi-hangat-emak-self-love-is-not-selfish/

Happy Mom, Happy Home.
Be that Happy Home, Moms.

Love Life, Rere

#worldmentalhealthday #harikesehatanmental #nubarsumatera

2 thoughts on “Kerja – Now And Then

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.