C I N T A Ini …


C I N T A Ini …

“I want to kill myself.”
“Astaga! Alma! Sadar! Oy! Ngomong apa, lu?!”

Bergetar jemari Tania membalas pesan singkat yang diterimanya dari sang sahabat.

Alma, putri tunggal seorang pengusaha kaya raya. Ia cantik, seorang model yang cukup terkenal, baik hati dan tidak sombong. Kehidupan yang sangat berkecukupan tidak pernah membuatnya tinggi hati. Ia bahkan mau bersahabat dengan Tania sejak kecil, yang hanya putri seorang pegawai kantor sederhana di salah satu perusahaan milik Ayahnya.

Tania begitu mengagumi Alma. Kadang ia pun tak habis pikir, mengapa Alma mau bersahabat dengannya. Padahal sebagai kembang di kampus, tidak sedikit mahasiswi tajir bak sosialita, yang mendekati, dan ingin menjadi sahabatnya. Tapi Alma malah lebih suka nongkrong di warung mie ayam seberang kampus bersama Tania.

“Aku kesepian. Jangan tinggalkan aku, Tania.”

Rumah megah bak istana dengan deretan mobil mewah, ternyata tidak cukup membuat Alma bahagia. Ia tumbuh dewasa menjadi sosok yang rapuh dan lemah. Jika saja Tania tidak menjaga bahkan kerap memarahinya, mungkin Alma sudah terjerumus dalam buaian semu zat psikotropika.

Orang tua Alma memang kerap meninggalkannya sendiri, karena sibuk dengan bisnis dan dunia gemerlap mereka masing-masing. Alma, yang dilahirkan di luar sebuah pernikahan resmi, merupakan “beban” bagi mereka. Sebuah kehidupan yang tidak pernah diharapkan kehadirannya.

Alma kecil lalu tumbuh dewasa di bawah asuhan beberapa asisten rumah tangga. Mereka yang diam-diam begitu dibencinya, hingga ia seringkali berulah untuk membuat para asisten itu diberhentikan dari pekerjaannya. Yang tersisa hanya Mbok Sarmi yang sudah berusia lanjut dan Mang Diman sang supir keluarga.

Orang tua Alma pun menyerah dan membiarkan sang putri mengurus dirinya sendiri. Bagi mereka, melimpahi hidup Alma dengan materi, dirasa cukup. Toh ada Tania, sang sahabat yang sudah dianggap seperti anggota keluarga sendiri. Mereka tidak menyadari bahwa kebebasan yang diterima Alma membuatnya semakin kesepian. Ia sering terlihat murung sambil memeluk sebuah boneka. Boneka usang yang tidak pernah lepas dari pelukannya, milik Tania yang direbutnya ketika kecil dulu.

Pesta kelulusan yang seharusnya menjadi momen membahagiakan bagi para mahasiswa, nyatanya hanyalah sebuah episode buruk dalam hidup Alma. Tania, yang datang dengan orang tua dan calon suaminya nampak begitu bahagia berfoto bersama. Sementara di suatu sudut, Alma menghembuskan asap rokoknya sambil memandang senyum Tania dari kejauhan dengan tajam.

“Al! Ngapain lu di sini? Ayo, foto sama gue. Om dan Tante Sofyan mana?”
“Mati.”
“Ih, udah gila ni anak! Amit-amit! Udah sih, ngerokok mulu! Betulin, tuh, make up lu.”
“Foto sama sapa? Pacar lu? Males gue!”
“Ihhhhh! Berdua aja. Yuk. Ayo, lahhh. Abis ini lu cabut ke luar negri. Kapan lagi kita foto berdua.”

Tangan Tania pun menggeret lengan Alma yang melangkah dengan malas sembari cemberut. “Kamu bodoh, Tania! Kamu tidak paham perasaanku! Sial!” Maki Alma dalam hati. Sambil memperhatikan Tania dari belakang, terbayang wajah manisnya ketika ia menginap di rumah megahnya dulu. Tania yang cantik, baik hati dan menyayanginya seperti … seperti seorang adik kecil. Alma mendengus kesal.

“Al, ini undangan pernikahanku. Kamu pulang, ya, ke Indonesia. Jangan sampai nggak datang. Awas!”

Pesan singkat yang diterima Alma berupa sebuah undangan cantik dengan foto Tania dan Raka, membuatnya histeris. Ia melempar gawai berharga mahal pemberian sang Ayah ke dinding kamar apartemennya, hingga hancur berkeping. Alma menjerit, meraung, dan menangis sejadi-jadinya.

“Taniaaaa! Bodoh lu! Bodohh!” Tangannya meraih sesuatu yang tersimpan di dalam laci sebelah tempat tidurnya. Sebotol penuh obat tidur yang menemani hari-hari Alma, karena insomnia akut yang dideritanya. Dengan gemetar, ia menelan semua isinya sambil menenggak sebotol minuman beralkohol. Sebentar kemudian ia menggelepar dengan mulut berbusa.

“I want to kill myself.”
“Astaga! Alma! Sadar! Oy! Ngomong apa, lu?!”

Tangan gemetar Tania menekan nomor gawai milik Tante Sofyan yang dijawab lama sekali setelah ia berkali-kali menghubungi. Suara keras musik disko yang terdengar di latar belakang, membuat Tania harus bicara sambil berteriak. “Tante!!! Alma ingin bunuh diri. Tante di mana? Tolong lihat Alma, Tante. Toloong.”

“Aku mencintaimu, Tania. Mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Mungkin kau tak sadar makna belaian tanganku di wajahmu. Mungkin kau tak sadar pelukan hangatku ketika kau tidur. Bahkan kecupan mesraku di dahimu. Boneka lusuh yang kurebut darimu dulu, adalah pengganti wujudmu untuk mengisi hariku yang sepi dan tanpa arti di sini. Aku tidak ingin menjadi adikmu, Tania. Aku ingin menjadi … kekasihmu. Maafkan aku. Selamat tinggal, Tania. Semoga kau berbahagia dengan Raka. Aku benci padamu.”

Wajah Tania pucat pasi menerima sepucuk surat berwarna jingga dari Tante Sofyan.

“Tania, Alma ditemukan meninggal dunia di kamar apartemennya sambil memeluk boneka yang direbutnya darimu dulu. Surat ini mereka temukan di dalam laci kamarnya bersama puluhan alat suntik bekas pakai. Tante menyesal. Tante berdosa pada Alma,” tangis Tante Sofyan kemudian terdengar samar. Pandangan Tania seketika gelap, ia meraung memanggil nama sang sahabat, kemudian terkulai lemah.

“Alma!!!!”

Tamat

Re Reynilda

Berani Terima Rantangan?


Berani Terima Rantangan?

“Have you decide on what to draw?”
“Eeenggg …”

Dasar paling enggak bisa ditenteng eh ditantang!

Melihat sahabat di hadapan saya mengeluarkan sebuah gambar cantik berbentuk batik, saya pun latah. Pola mandala yang sudah saya gadang-gadang untuk dilukis di atas rantang putih nan imut ini pun berubah haluan.

Motif Parang yang selalu saya kagumi menjadi pilihan. Entah kenapa, saya yang sebenarnya tidak terlalu suka batik, begitu jatuh cinta pada motif ini. Berbentuk bak huruf S yang sederhana, dengan garis tegas namun tidak putus, seperti bagaimana saya memandang hidup.

Tidak perlu gumunan, namun pantang menjadi lemah apalagi mudah menyerah. No way, Cinta!

Meskipun saya jadi harus bekerja 2 kali untuk merubahnya dari motif awal yang saya buat pada goresan pertama. Enggak apa-apa. Rasa cinta pada bentuk dan filosofi yang terkandung pada motif ini membuat saya kembali mencoba melukisnya dengan harap-harap cemas. Takut hasil akhirnya tidak sesuai harapan seperti sebelumnya.

Hmmm seperti hidup ya, yang kadang tidak seindah bayangan. Namun akan selalu terbentang jalan untuk merubah, meski butuh perjuangan.

Kalau ingin menambah sedikit bumbu di tengah perjalanan itu, please do. Seperti saya yang akhirnya membuat 2 sisi rantang dengan motif berbeda. Batik parang dan motif bunga. Sebagai tanda cinta saya pada keindahan dan segala hal tentang perempuan.

Jadi perempuan harus kuat namun tetap nampak indah. Keindahan yang didapat dari rasa bahagia yang muncul dari dalam jiwa. Jiwa yang sehat tentunya.

Jadi, berani terima rantangan … eh tantangan? Berani, dong! Ingat, jangan ragu membuat perubahan. Karena berubah itu seru dan bikin hidup berani maju!

Love, Rere

Hi, Self!


Hi, Self!

Knowing yourself is the beginning of everything.

Sudahkah kita mengenal dan selesai dengan diri sendiri?

Mengenal bukan hanya dari luar dan pantulan di cermin. Namun memahami hingga ke dalam untuk kemudian bisa jujur pada diri sendiri. Jujur dengan perasaan yang muncul.

Jika sedang marah ya hadapi saja kemarahan itu, jangan ditahan sebelum suatu hari nanti meledak tak terkendali. Jika harimu sedang biru, hadapi saja bak sedang menatap langit mendung. Nikmati kesedihan dan udara dingin yang menyapu wajah. Menangis bak rinai hujan jika perlu. Setelah itu tataplah pelangi yang muncul dan membawa beragam warna kemudian mulai lagi tersenyum.

Forgive but never forget. Maafkan, demi jiwa yang tenang tapi jangan lupakan untuk sebuah pelajaran. Bahwa hidup sejatinya penuh persoalan bukan bak dongeng indah di negeri khayalan. Simpan ceritanya di sudut hati tanpa butuh kunci. Hingga sewaktu-waktu bisa dibuka dan diingat kembali untuk menguatkan hati. I’ve been there, I’ve done that. Jangan gumun ya, self.

Setelah itu tanyakan diri sendiri, sudahkah kita selesai dengan diri ini? Setelah mampu memahami, apakah sudah selesai dengan tanda tanya dalam hati, dan selesai dengan semua hal yang menyakiti?

Tanda tanya harusnya berbalas jawab. Jika masih ada tanya, tanyakan lagi hingga menemukan titik akhir dan puas dengan jawaban itu. Semua hal yang menyakiti, sudahkah menemukan solusi? Jika belum, bersyukurlah masih bertemu dengan rasa sakit. Bukankah itu tanda kita masih manusia dan punya kehidupan? Karena tanpanya, kita pasti sudah tak bernyawa.

Meski tidak selalu bisa berdamai dengan diri sendiri, percayalah, jika menatap semua persoalan dengan tenang niscaya damai itu ada di hadapan. Tak perlu mengumbar kesakitan diri dengan balik menyakiti orang lain tanpa henti. Tak perlu meluahkan kekecewaan pada apa yang terjadi dengan menunjuk jari. Semua sejatinya kembali ke dalam diri sendiri.

Selamat berdamai dengan diri, selamat menyelesaikan masalah sendiri, selamat melupakan dendam, lalu memaafkan demi kedamaian diri. Jangan lupa setelah itu pat yourself in the back dan bilang, “Thank you, Self. I’ve done a great job with myself. I’m ready to spread kindness now. No more hatred, no more bitterness, and no more belittling others.”

Selamat menghadapi hari, semoga banyak cinta menaungi. Masalah? Jangan sembunyi, berdiri tegak, dan hadapi dengan berani.

Love Life, Rere

Harus Bahagia


Harus Bahagia

Rasanya enggak akan bosan saya menggaungkan kata ini.

Bahagia.

Bagaimana cara menemukannya? Gampang. Banyak bersyukur, dan jangan sombong.

Bener deh, hidup kita tu bisa dengan mudah dibolak balik macem tahu walik oleh Sang Empunya Hidup. Sedetik kita ketawa, detik berikutnya kita mungkin menangis tersedu.

Jadi rasanya kita ini gak punya alasan buat sombong pada orang lain. Harta, tahta, jabatan, bahkan yang tercinta bisa dengan mudah diambil tanpa banyak kata.

So be kind and don’t hold grudges.

Setelah itu baru esensi bahagia kita dapat dengan mudah. Melihat orang lain bahagia, kita ikut bahagia. Melihat teman tanpa airmata, kita ikut bersuka. Melihat hal sekecil apapun, kita pasti senang dan makin menghargai hidup.

Jika hidupmu kelabu
Jika hatimu sendu
Coba tersenyum dan bilang I love you

I love you, self
I love you, life
I love you, people
I love you, universe

Yuk, mulai berbagi hal-hal baik yang kelak kita syukuri ketika memorinya muncul kembali.

Yuk, mulai biasakan berbahasa dengan santun, yang kelak kita syukuri impact-nya pada lingkungan.

Yuk, beri contoh anak-anak di rumah cara menyebar kebaikan dan kebahagiaan, yang kelak kita rasakan di damainya dunia.

Harus bahagia, ya!

Share love not hate,
Rere

Harus Bahagia – Yura Yunita (Cover)

Kerja – Now And Then


Kerja – Now And Then

Foto sebelah kanan yang ‘nyusruk’ itu, muncul di memori dinding saya pagi ini. Dengan tertawa saya menunjukkan pada anak-anak dan semua tergelak. Ketawa geli melihat kekonyolan sang Bunda yang memang sudah terkenal antik.

Setelah mereka berangkat sekolah dan rumah sepi, saya kembali melihat foto itu dan merenung. Foto yang diambil Lana ketika sedang musim Fallen Angel Challenge. Emak yang suka banget dikasih rantangan … eh tantangan ini, serta merta memintanya untuk mengambil gambar dengan pose ‘nyusruk‘. Sembari menggelengkan kepala ia terpaksa mengikuti arahan Emak. Pasrah. Daripada kena omelan panjang. Hahahaha.

Ingatan saya kemudian melayang di masa remaja dulu. Saya bukan anak yang selalu manis di rumah. Walaupun tidak pernah berani membentak atau marah pada orang tua. Pemberontakan saya dimulai di hari saya kabur dari rumah, karena merasa Mama tidak mengerti saya. Kaburnya sih juga ke rumah dinas Papa yang kosong di daerah Slipi. Hahaha. Jadi bukan kabur, ya. Cuma pindah rumah.

Kaburnya saya yang sebenarnya stress setelah diberhentikan secara mendadak dari sebuah kantor, ternyata membawa perubahan nasib.

Baca di sini https://reynsdrain.com/2020/10/09/kerja/

Berbekal selembar 20 ribuan di kantong, saya melamar kerja pada sebuah maskapai asing. Keberuntungan memang sedang berpihak pada saya. Saya diterima kerja setelah melalui serangkaian tes. Hingga tiba saatnya saya meninggalkan Indonesia tercinta.

Hari-hari saya kemudian, setelah bekerja dan menetap di luar negeri sebagai pramugari, hanya terpusat pada diri saya, dan saya saja. Me, myself, and I. Saya bahkan tidak pernah merasa perlu untuk memikirkan orang lain. Hidup saya hanya kerja atau bersenang-senang. Menghabiskan liburan dengan mengunjungi negara-negara di belahan bumi yang lain, atau sekedar membuang uang untuk belanja. Itu saja. Hal yang belakangan, lumayan saya sesali.

Ya. Seharusnya saya bisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama orang tua dan mengajak mereka liburan bersama. Saya seharusnya juga bisa menyimpan uang untuk membeli sesuatu sebagai investasi. Apa daya semua itu tidak pernah ada dalam pikiran saya dulu. Live life to the fullest, begitulah saya dulu.

Mungkin juga karena saya membesar dalam situasi yang serba terbatas dan dibatasi. Termasuk dalam soal keuangan. Sampai-sampai ketika kuliah dulu, saya mengisi waktu luang di sela kegiatan sebagai mahasiswa dengan bekerja. Mulai dari pagi, sampai kadang dini hari. Hanya sekedar untuk membeli sepotong baju cantik yang terpampang di etalase sebuah toko. Saya memang tidak terbiasa membebani orang tua dengan segala keinginan pribadi. Seminim apapun uang jajan diberi, saya tidak pernah protes atau meminta lebih. Kebiasaan mandiri yang terbawa hingga kini termasuk dalam cara pengasuhan anak-anak saya sendiri.

Oh ya, beberapa teman kerap meminta saya berbagi pengalaman sebagai pramugari dulu. Saya hanya tersenyum. Karena bukan cerita indah yang banyak saya alami, kecuali bagian belanja dan jalan-jalannya tadi. Hahaha. Selebihnya hanya cerita tentang kenakalan dan kegilaan saya di masa muda, mungkin bisa dibilang fase terparah dalam hidup saya. Hehe.

Bersyukur sekali pada akhirnya, saya pernah mengalami beragam fase itu dalam hidup. Nakal, bandel, pemberontak, keras kepala, egois, egosentris, cuek, hingga yang paling parah menjadi seorang hedonis. Semua fase itu justru yang akhirnya membesarkan dan membentuk karakter saya hingga hari ini. Hingga hidup yang awalnya hanya me, myself, and I berubah menjadi family first.

Settling down atau duduk dengan tenang dan menikmati setiap detik keberadaan saya sebagai ibu rumah tangga sekarang, adalah hal yang sangat menyenangkan saat ini. Walau harus berjibaku mengurus rumah tangga dan membesarkan buah hati hanya dengan suami, saya bahagia sekali. Bahkan ketika tangan yang dulu lembut dan mulus berubah menjadi kasar dan berurat, saya tetap bangga.

Bangganya berperan sebagai ibu rumah tangga yang 24/7 di rumah, dan tidak pernah merasa membutuhkan kehadiran seorang asisten pribadi. Bahkan, ketika saya hampir setiap hari memasak untuk pesanan para pelanggan dulu, semua tetap saya kerjakan sendiri, di sela-sela waktu mengurus anak dan suami. Tawaran suami untuk memanggil pekerja paruh waktu ke rumah pun saya tolak. Saya merasa bisa mengatasi semua hal.

Ya. Saya bisa dan saya bahagia.

Jadi, tak perlu merasa terpuruk dan terkungkung di rumah sendiri ya, Moms. Percayalah, ketika suami bahagia dan anak-anak tumbuh sehat serta ceria, di situlah kepuasan pribadi melebihi segala keriaan di masa muda dulu. Namun ingat, yang terpenting adalah diri sendiri harus bahagia. Percayalah, seorang ibu yang bahagia akan membuat seisi rumah bahagia. Kalau saya, secangkir kopi hangat saja sudah cukuplah membuat bahagia di pagi hari.

Bagaimana cara saya menemukan bahagia? Baca di sini, yuk https://reynsdrain.com/2020/04/21/secangkir-kopi-hangat-emak-self-love-is-not-selfish/

Happy Mom, Happy Home.
Be that Happy Home, Moms.

Love Life, Rere

#worldmentalhealthday #harikesehatanmental #nubarsumatera

KERJA


KERJA

“Besok Senin mulai kerja ya. Ikut saja arahan teman-teman senior.”

Yayyyy! Gue jadi reporter!

Hari itu, 20 tahun yang lalu. Dengan sumringah saya pulang ke rumah di Depok. Meski harus menempuh jarak panjang karena lokasi tempat wawancara yang berada di tengah kota Jakarta.

Sejak hari itu, setiap hari tak kenal ujung Minggu, dengan penuh semangat saya melakukan liputan, wawancara, menulis naskah, dan sederet aktifitas lainnya. Bangga rasanya bisa mengecap pengalaman bekerja sebagai seorang awak media. Meski hanya untuk sebuah perusahaan yang tidak terlalu besar waktu itu.

Saya bahkan tidak peduli, ongkos transportasi yang lebih besar dari gaji yang saya dapat. Sudah bekerja bahkan sebelum wisuda saja, rasanya bikin kegirangan luar biasa. Belum lagi kesempatan mendapat pengalaman baru, bertemu tokoh-tokoh terkenal, berbincang dengan mereka, menulis artikel … ahhhh semua itu tak tergantikan dengan besaran apapun.

Sayangnya, kesempatan bagus itu terpaksa harus putus karena konflik di dalam perusahaan. Belum setahun menikmati pekerjaan seru itu, saya diberhentikan mendadak. Sedih, mangkel, gemes, dengan gigi gemerutuk menahan marah, saya menyodorkan sejumlah pekerjaan yang telah saya selesaikan sebelum batas waktu.

“Jangan patah semangat ya, Re. Di depan masih banyak peluang untuk perempuan pintar dan tangguh sepertimu. Kamu pasti lebih berhasil setelah ini,” ujar Pemred baik hati, dengan suara tercekat.

Di bawah tetesan hujan sambil berurai airmata, saya berjalan pulang.

“Jangan cengeng, ini baru awal. Sana lihat ke depan! Jalanmu masih panjang!”

(Bersambung)

Never give up, you are stronger than you think ~ Rere

To My Children


To My Children

Happy Children’s Day, Nak!

Bertumbuh lah dengan riang dan bahagia
Bersahabat lah dengan dunia serta isinya
Mencintai sesama tanpa sekat
Mengulurkan tangan tanpa melihat

Belajar lah tentang kehidupan
Punyai setumpuk rasa penasaran
Agar kelak tak salah jalan
Agar kelak tak sekedar ikut haluan

Buka mata dan jangan tutup telinga
Semua hal butuh ilmu dan luasnya pengetahuan
Jangan menyerah jika kelak tak sejalan impian
Karena hidup sejatinya tentang perjuangan

Disiplin, tanggung jawab, dan kemandirian
Bawa selalu dalam ingatan
Hanya itu bekalku untukmu ke depan
Karena kelak akan kau temui banyak tantangan

Jadi lah pemimpin bukan pemimpi
Berdiri lah di depan bukan mengekor dari belakang
Banyak lah memberi bukan semata memikirkan diri
Ingat lah untuk selalu mengasihi bukan rajin mencaci

I will always be around
Stalking you
Flipping out on you
Lecturing you
Driving you insane
Being your worst nightmare
Even hunting you down like a bloodhound

To make you a responsible adult
Who will always stay humble and kind
Who will always say what you know and know what you say

Love, Bunda

The Future – Secangkir Kopi Hangat Emak


The Future – Secangkir Kopi Hangat Emak

Bunda, is it okay if I choose Design And Technology over Art?”
“Well I’m super okay if you think that’s the best for you.”
“My friends were like surprised, thinking that art is always be my passion.”
“Now tell me, why did you choose design over your passion of art?”
“I’m thinking about the future. I’ll let my passion become a hobby.”
“Good one,
Kak! Now, why do you need to think about the future?”
“I have to work, right?”
“Yes, and by working means you have to be independent. You can always pursue your dream and passion, it’ll come along with it. But your future depends on you decision now.”
“Thank you,
Bunda.”
“I know I can count on you to choose wisely.”

Berbicara tentang kegemaran, Lara adalah seorang seniman kecil. Ia pandai menulis lirik lagu, menulis cerita, memainkan instrumen musik, menggambar? Oh, ini sih sudah tidak diragukan.

Dulu ketika ditanya apa cita-citanya, ia akan dengan cepat bilang ingin jadi seniman, voice actress, animator, dan lain-lain. Kami menghargai keinginannya, sekaligus juga mengajaknya berdiskusi tentang masa depan.

Masa depan yang pastinya akan jauh lebih menantang dihadapi generasinya kelak. Masa depan yang tentunya harus dilalui dengan banyak bekal terutama of being independent.

Mandiri, berdiri di atas kaki sendiri, mengurus diri sendiri, bertanggung jawab pada kehidupan sendiri, dan tentu saja tidak membebani orang lain. Malah kalau bisa menjadi berguna untuk membantu sesama. Mengajarkan orang lain untuk membuat kail tentunya, bukan hanya menyediakan seember penuh ikan.

Bangga saya padanya, ketika di usia 14 sudah mulai memikirkan tentang masa depan. Tanpa perlu saya berikan ketakutan lebih tentang hal itu, pada akhirnya ia sendiri yang paham bahwa passion berada di urutan setelah tanggung jawab.

“I can always do my hobby after I have a proper job in the future. I’m thinking of being an architect maybe?”

My baby.

… and I’m smiling from ear to ear,
Rere

VINI – Hitam Putih Perempuan


VINI – Hitam Putih Perempuan

“Sayang, ngapain Raka telepon kamu? Ada hubungan apa kalian?”
“Raka? Rakanya Dena? Hubungan apa maksudmu, Mas?”
“Kamu jangan coba-coba selingkuh ya, Vin.”
“Mas, ngomong apa sih? Coba kembalikan gawaiku. Aku mau coba telepon Raka.”
“Heh! Kamu istriku! Ngapain kamu telepon laki-laki lain?”

PLAK!

Pipi mulus Vini kini berhias bayangan tangan sang suami. Gawainya pun pecah berhamburan setelah dibanting Attar, suami yang baru saja menikahinya selama 2 tahun ini.

Attar, dikenal Vini sejak muda belia. Mereka dulu bersahabat baik namun tanpa Vini sadari, Attar telah mencintainya sejak mereka masih sama-sama main di rumah pohon dulu. Tempat mereka bercengkrama bersama beberapa teman.

Mereka berpisah ketika Vini memutuskan untuk melanjutkan sekolah di kota lain. Sementara Attar yang harus menjaga sang mama memutuskan untuk bekerja di kota tempat mereka berdua dilahirkan. Namun tanpa jeda, ia selalu mengirimkan sepucuk surat pada Vini … yang tidak pernah menerima selembar pun berita dari sang sahabat.

Attar, tinggal bersama sang mama dan Atilla sang adik. Anita, sendirian membesarkan kedua anaknya sepeninggal sang suami. Attar adalah anak yang sangat penurut karena merasa sang mama telah berjuang tanpa bantuan siapapun. Ia tidak ingin semakin menyusahkan hidup sang mama. Tanpa ia ketahui, Anita selalu mengambil semua surat yang ia kirim pada Vini.

“Belum saatnya Attar. Kau harus berhasil dan tumbuh menjadi lelaki sukses yang mengangkat derajat kami semua. Perempuan ini hanya akan menghalangi cita-citamu,” desis Anita sambil memasukkan semua surat Attar ke dalam sebuah kotak besar. Bersamaan dengan beberapa lembar foto Vini yang ditemuinya di dalam kamar sang putra.

Setelah tamat bersekolah, Vini lalu bekerja di sebuah perusahan besar di ibukota. Pekerjaan yang mempertemukannya dengan Alfan sang tunangan. Rencana pernikahan yang tinggal hitungan bulan lalu buyar karena Vini mendapati Alfan telah berkeluarga.

Meski Vini telah berulang kali menolak rencana Alfan yang ingin menikahinya setelah ia menceraikan sang istri, Alfan terus mengejarnya. Hingga Vini terpaksa berhenti dari pekerjaannya dan pindah ke kota lain. Kepindahan yang lalu mempertemukannya dengan Attar tanpa sengaja.

Sakit hati dibohongi Alfan, Vini menutup pintu hatinya dari siapapun, termasuk Attar yang datang dengan sebuah cincin berlian. Tak kenal menyerah, Attar mendekati Vini dengan berbagai cara, termasuk mendekati sang ibu.

“Apa lagi yang kau cari, Vin? Attar sangat mencintaimu. Ia baik, tampan, soleh, sayang keluarga, pemilik beberapa usaha dan hotel terbesar di kota kita. Eh, kau tahu tidak apa nama hotel mewah bintang 5 milik Attar? Vinitta Hotel, kependekan dari Vini Attar.”

Tergelak Vini mendengar cerita sang ibu di ujung telepon. Mana mungkin Attar menamakan hotel mewahnya seperti itu. Lebay.

Kegigihan serta kelembutan Attar menghadapi sikap keras Vini lantas membuatnya luluh. Ia menerima pinangan Attar dan pesta pernikahan mewah mereka menjadi buah bibir semua orang.

Beberapa bulan berlalu, Vini mulai melihat perubahan pada diri Attar. Ia memang mencintai sang istri dengan sepenuh hati, besar sekali. Cinta yang lambat laun membuat Vini merasa terkekang bahkan ketakutan. Ia tak lagi boleh bekerja atau sekedar ke luar rumah sendirian. Meski harta benda dicukupi Attar, Vini merasa bak berada di dalam sebuah sangkar emas.

Pagi itu ia merasa sangat terkejut karena Attar menamparnya dan membanting gawai tanpa mau mendengar penjelasannya. Ia merasa tidak ada hubungan apa-apa dengan Raka. Perasaannya tidak enak memikirkan Dena, sang sahabat.

Ting tong!

Vini terbangun dari tempat tidurnya dan melangkah ke luar kamar untuk melihat siapa yang datang. Lamat didengarnya sang suami berbicara dengan seseorang.

“Vini sedang sakit. Ada apa, Dir?”
“Ee Dena Tar. Aku butuh ketemu Vini sekarang. Dena … Dena masuk rumah sakit. Aku enggak bisa menghubungi Vini dari tadi. Gawainya rusak ya?”
“Gue udah bilang istri gue lagi sakit! Nanti biar dia pergi sama gue ke rumah sakit. Oh dan bilang Raka, enggak usah telepon Vini terus.”
“Ehh tapi Tar.”
“Gue capek. Bye, Dir!”

Bulir bening membasahi pipi Vini. Dipandangnya ruang kamar tidur luas berhias perabotan mewah yang baginya bak sebuah sangkar emas. Tersekat. Terpenjara.

“Maafkan aku, Dena.”

(Bersambung)

ReReynilda

AKU TERIMA TANTANGAN INI


AKU TERIMA TANTANGAN INI

Hidup di zona aman dan nyaman memang menyenangkan. Namun rasanya hambar. Ibarat berjalan di jalan tol yang mulus, lurus, dan rata. Monoton, membosankan, dan bikin ngantuk. Hidup akan lebih terasa syahdu bila sekali-sekali ada tantangan yang harus dilewati. Ada tanjakan, tikungan tajam, polisi tidur, dan motor menyalakan lampu sein kiri tetapi belok kanan. Lebih indah, bukan?

Sebenarnya hidupku sudah penuh tantangan. Menganggur sejak pandemi karena kantor tutup. Banting setir berjualan nasi kuning dan gado-gado untuk menghidupi tiga anak. Masih harus menyelesaikan kuliah. Tetapi ketika ada tantangan dari Rumedia untuk menulis selama tiga bulan tanpa jeda, aku merasa harus menerima tantangan ini. Mulai Oktober sampai Desember harus terus membuat tulisan, pasti penuh tantangan.

Awalnya memang sempat ragu. Namun melihat banyak teman yang juga menerima tantangan ini, aku jadi mantap. Mereka bisa, aku juga harus bisa. Pasti banyak pengalaman dan pelajaran yang bisa aku ambil. Apalagi ada banyak pembimbing yang sudah mumpuni di bidang penulisan. Akan banyak ilmu yang bisa aku serap nantinya.

Jadi, pada hari ini, Jumat tanggal 02-10-2020, aku menyatakan siap menerima tantangan untuk menulis selama tiga bulan berturut-turut tanpa jeda.

Ngomong-ngomong, ternyata tanggalnya cantik, ya?

#Nubar

#NulisBareng

#Level1

#BerkreasiLewatAksara

#menulismengabadikankebaikan

#week01day01

#RNB067Sumatera

#rumahmediagrup