DIRA – Hitam Putih Perempuan


DIRA – Hitam Putih Perempuan

“Dir, eee … Dena, Dena Dir.”
“Raka? Dena kenapa?”
“Dibawa ambulance ke rumah sakit. Tolong Dir. Aku bingung harus gimana.”
“Ah! Dasar lu! Sama aja laki di mana-mana! Tunggu gue dateng sebentar lagi. Gue coba hubungi Liana, Vini, dan Tari dulu.”

Menyeret langkah, Dira bangun dari atas tempat tidur sambil menahan sakit di kepalanya.

“Tsk! Masih berdarah lagi!” bisiknya sambil berjalan perlahan menuju toilet lalu membasuh wajahnya dengan air keran. Bercak merah pun memercik ke dalam wastafel berwarna putih di dalam kamar mandi luas itu.

Dira meringis kesakitan. Airmatanya pun tumpah tanpa tertahan. “Diam, Dira! Hapus airmatamu!” Hardiknya pada sosok di cermin dengan mata lebam dan kening berhias luka menganga itu. “Ini toh bukan yang pertama kali! Diam!”

Alam, sang suami, sebenarnya lelaki baik dan sangat penyayang. Ia begitu memuja Dira yang ditatapnya pertama kali di ruang kantor mewah tampatnya duduk menjadi pimpinan sebuah perusahaan. Dira masih sangat muda ketika datang untung memenuhi panggilan wawancara kerja di kantornya. Cantik, langsing, cerdas, dan sangat memikat. Alam langsung jatuh hati dan menjadikan perempuan muda itu sekretaris pribadinya.

Dibawanya Dira kemana pun ia berdinas bahkan hingga ke luar negeri. Kedekatan yang kemudian menjadikan mereka berdua bak sepasang kekasih. Sudah bukan rahasia lagi di kantor ketika itu. Karena siapapun bisa melihat dengan jelas bagaimana hubungan terlarang yang terjalin antara sang pimpina dengan sekretaris cantiknya.

Hubungan terlarang yang kemudian tercium istri sah Alam yang datang melabrak Dira hingga keributan besar pun terjadi. Alam lalu memberhentikan kekasih gelapnya itu dari pekerjaannya dan menikahinya secara siri, tanpa diketahui sang istri.

Sebuah rumah mewah, beberapa kendaraan berharga fantastis diberikan Alam pada Dira yang kemudian mendadak hidup senang. Dira memang tumbuh dalam keadaan serba kekurangan. Ibunya hanyalah seorang pemilik toko kelontong kecil di kampung tempatnya dibesarkan. Ia membesarkan Dira seorang diri karena tidak tahu siapa lelaki yang dengan keji telah merenggut masa depannya dulu. Ia hanya ingat sepasang lengan yang kuat membekap dan menutup wajahnya dengan sebuah kain. Hanya deru mobil yang didengarnya terakhir kali sebelum ia lemas tak sadarkan diri, dan ketika sadar ia sudah berada di sebuah rumah tua dalam keadaan mengenaskan.

Sekuat tenaga ia membesarkan Dira yang tumbuh menjadi seorang gadis cantik berambut kemerahan dan kulit putih bersih. Keberuntungan lah yang lalu membawa Dira hingga ia mampu menapakkan kaki di ibukota yang terkenal kejam. Sampai di hari ia bertemu dengan Alam yang begitu tampan dan membuatnya jatuh cinta.

Dira sang anak kampung menjelma menjadi sosialita dengan pergaulan luas. Berlibur ke luar negeri, bergelimang kemewahan, begitulah ia sekarang. Walau tak banyak orang tahu bahwa Alam kerap menyiksa Dira bahkan melarangnya memiliki keturunan. Siksaan yang diterima Dira bertahun-tahun hingga ia merasa kebal dan tak lagi menangis.

Dalam pikirannya hanyalah bertahan hidup demi sang ibu yang sudah sakit-sakitan karena usia lanjut. Dira menahan semua sakit dan selalu menceritakan betapa sempurna hidupnya pada teman-temannya. Kesempurnaan semu namun cukup membuatnya terhibur dan melupakan kesepian hati terutama kekejaman sang suami. Suami yang dicintainya dengan sepenuh hati meski sadar tak akan pernah utuh dimiliki.

Segala cara telah dilakukan untuk memaksa Alam meninggalkan istri sahnya seperti janjinya pada Dira dulu. Alam bergeming, “Aku masih mencintai istriku namun aku tak bisa melepaskanmu.”

Setelah membasuh mukanya dan membubuhkan riasan tipis, Dira membuka sebuah laci yang selalu dikunci. Tangannya mengelus perlahan sebuah kotak berwarna hitam sambil menghela nafas panjang. “Belum lagi, Dira. Belum waktunya,” desisnya sambil menatap cermin.

“Dir, mata lu kenapa? Kenapa Dir?”
“Eh, eee … enggak apa-apa Li. Tadi pagi gue terantuk pintu tanpa sengaja. Sudah enggak apa-apa. Sini deh. Dena pernah cerita apa sama lu? Rasanya dia baik-baik saja kemarin.”
“Dir, lu jawab dulu pertanyaan gue. Kenapa mata lu? Jangan bohong! Lu pikir gue percaya lebam begitu karena pintu? Astaga! Dahi lu Dir! Berdarah!”
“Gue, gue enggak apa-apa Li. Bener deh.”

… kemudian pandangan Dira menghitam. Ia jatuh pingsan.

(Bersambung)

Hitam Putih Perempuan
ReReynilda

Tanya Hati – Pasto (Cover)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.