Liana – Hitam Putih Perempuan


Liana – Hitam Putih Perempuan

“Li, Dena masuk ICU! Gue tunggu di rumah sakit sekarang!”

Dena … Liana tersentak membaca sebaris pesan singkat yang baru saja dikirim Dira, sahabatnya. Dena? ICU?

Jantung Liana seketika berdebar sangat kencang, lututnya lemas, pandangannya gelap. Mimpi buruk itu kembali lagi.

“Li, Dio masuk ICU! Dia tiba-tiba jatuh waktu sedang mimpin rapat. Gue di rumah sakit sekarang. Kalau bisa cari flight ke Jakarta secepatnya!”

Liana tak ingat lagi kalimat apa yang dibacanya setelah itu. Tiba-tiba saja ia sudah terbaring di sebuah ruangan, dikelilingi beberapa teman yang pergi berlibur ke Bali dengannya waktu itu. Liburan yang seharusnya menyenangkan sebelum ia mengambil cuti hamil panjang.

Dio memang mengijinkan Liana yang tengah hamil untuk menikmati liburan bersama beberapa teman perempuannya. Liana sebenarnya tidak ingin pergi, namun Dio yang justru memintanya berangkat agar Liana bisa beristirahat dari kesibukan kerjanya. Ia meminta maaf karena tidak bisa mendampingi sang istri. Kesibukannya di kantor sangat menyita waktu.

Janin di perut Liana adalah hadiah pernikahan ke 12 tahun mereka. Ya, selama 12 tahun segala daya upaya dilakukan Dio dan Liana untuk memperoleh keturunan. Tak sedikit suara sumbang dan nada sinis didengar Liana. Sang ibu mertua bahkan terang-terangan menyuruh Dio untuk mencari istri ke-dua. Rencana yang ditolak mentah-mentah oleh Dio.

Liana mengalami depresi hingga kesehatan rahimnya makin terganggu. Mereka akhirnya memutuskan untuk meninggalkan kota kelahiran Dio dan mencari pekerjaan di Jakarta. Nasib baik memang mengiringi mereka berdua karena Dio dan Liana akhirnya bisa menduduki jabatan tinggi di tempat kerjanya masing-masing. Hingga memiliki keturunan sudah tidak lagi menjadi mimpi mereka berdua.

Meski begitu, Dio adalah lelaki baik yang sangat mencintai sang istri. Meski tidak seorang bayi pun dipersembahkan Liana dalam kehidupan mereka. Liana sangat bersyukur memiliki Dio sebagai pasangan hidup. Hingga tanpa disadari menginjak tahun ke 12 pernikahan mereka, Liana hamil. Berita yang tentu saja membuat Dio sangat bahagia.

Bulan depan adalah ulang tahun pernikahan mereka yang ke 12. Rencananya Dio akan menyusul Liana, kemudian berada di Bali hingga tiba saatnya ia melahirkan. Namun sebaris pesan singkat yang dikirim seorang sahabat menjadi awal mimpi buruk Liana.

Setelah siuman dan merasa kuat Liana mengambil penerbangan terakhir ke Jakarta. Airmata tak henti mengalir sepanjang perjalanan yang dirasanya begitu lama. Perasaannya tidak enak, jantungnya berdebar, dan di satu saat ia merasa ada yang hilang.

Setibanya di rumah sakit, seluruh keluarga telah berkumpul dan sang ibu mertua dilihatnya menangis histeris. Melihat kedatangan Liana, matanya memerah lalu ia menghampiri dan menampar pipinya.

“Istri macam apa kau ini? Suamimu bekerja keras di Jakarta, kau asik-asikan liburan di Bali! Sekarang lihat! Lihat! Anakku mati! Mati!”

Tak dirasakannya perih pipi yang tertampar, mata Liana mencari-cari keberadaan Dio. Suami terkasih yang ditemuinya sudah dalam keadaan tak bernyawa. Liana menjerit lalu tergeletak jatuh ke lantai.

Hari itu juga, dokter terpaksa melakukan operasi Caesar karena air ketuban Liana pecah sebelum waktunya. Dio pergi tanpa sempat melihat sang putra tampan yang oleh Liana diberi nama Al Dio, Anak Lelaki Dio.

Bocah tampan yang kini telah beranjak dewasa dan menjadi pelindung bagi sang ibu sepeninggal ayah, yang tidak pernah dilihat wajahnya. Liana memutuskan untuk tidak mencari pengganti Dio sampai kapanpun. Ia membesarkan Dio kecil seorang diri dan bekerja keras demi menghidupi mereka berdua. Sementara seluruh harta benda yang ditinggalkan sang suami, habis dikuras sang ibu mertua.

“Dena … astaga! Apa yang kamu lakukan? Raka! Apa yang terjadi?”
“Dena … Dena berusaha bunuh diri, Li. Aku … aku enggak tahu kenapa.”
“Kamu suaminya, sialan! Bagaimana mungkin kamu tak tahu apa yang terjadi pada istrimu sendiri!”
“Aku … aku …”
“Ah! Diem lu! Dena … Dena … Dira, apa yang terjadi?”

Dira menatap Liana dengan pandangan kosong. Di bawah matanya tampak bekas lebam berwarna kebiruan.

(Bersambung)

Hitam Putih Perempuan
ReReynilda

Dua Belas Tahun Terindah – BCL (Cover)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.