DENA – Hitam Putih Perempuan


DENA – Hitam Putih Perempuan

“Maaaa, mana jaketku? Udah telat nih!”
“Maaaa, tadi aku taro kacamata di meja kok hilang?”
“Maaaa, tolong setrika baju Papa yg ini dulu dong. Enggak mau ah pakai yang udah disetrika itu.”

Dena, sedari pagi sudah bangun. Dengan gerakan super cepat ia menyiapkan sarapan, bekal ke sekolah kedua anak kembarnya, serta bekal suami ke kantor. Ya, mereka semua malas pergi ke kantin hingga meminta Dena menyiapkan bekal untuk makan di siang hari.

Dena melakukan semuanya dengan tulus hati. Walau hidupnya berubah 360 derajat sejak memutuskan berhenti dari pekerjaan terdahulunya. Di masa muda, Dena adalah seorang awak kabin sebuah maskapai internasional. Penampilannya selalu glamour dan memikat. Sepatu berhak tinggi, tas tangan bermerk mahal, make up cantik, serta keluar masuk pusat perbelanjaan terkenal adalah kesehariannya.

Bertemu dengan Raka, yang kemudian menjadi suaminya, benar-benar merubah sudut pandang Dena tentang kehidupan. Ia rela berhenti dari pekerjaan yang membawanya keliling dunia dan bergelimang harta. Tak lagi dipedulikannya semua harta dunia. Apalagi selepas menikah, ia mengandung anak kembar lelaki dan perempuan. Tora dan Tiara, semakin melengkapi hidupnya.

Hidup yang kemudian ternyata membuatnya berubah. Dena tidak lagi mempedulikan dirinya sendiri. Hidupnya adalah melulu tentang Raka, Tora, dan Tiara saja.

Raka bukanlah lelaki yang romantis. Ia tidak pernah mengingat hari lahir Dena yang dulu selalu dirayakan dengan meriah. Jangankan hadiah, seikat bunga pun rasanya hanya diterima Dena di tahun pertama pernikahan mereka. Dena berusaha memahami dan tidak ingin merusak janjinya untuk tulus mengabdi pada keluarga. Ia ingin menjadi ibu dan istri yang terbaik bagi keluarga.

Kemarin ia bertemu dengan 4 sahabatnya, Dira, Tari, Vini, dan Liana. Berbeda dengan Dena, mereka ber 4 adalah para pengusaha terkenal dan sosialita cantik yang kerap menghabiskan waktu di sebuah kafe. Dena yang paling sering menolak acara kumpul-kumpul itu. Ia kehilangan rasa percaya diri yang dulu begitu penuh ia miliki.

“Dena! Bajumu enggak banget sih! Emang si Raka enggak pernah beliin kamu baju baru? Tiap ketemu itu saja yang kamu pakai!”

Dira, memang selalu outspoken karena menganggap Dena sudah seperti saudara sendiri. Tanpa sadar ia menorehkan luka di hati Dena. Gaji Raka memang tidak akan cukup memenuhi gaya hidup seorang istri pengusaha terkenal seperti Dira. Namun ia adalah teman yang baik. Dira hanya khawatir melihat perubahan pada diri Dena, sang sahabat.

Pagi itu perasaan Dena memang sedang tidak karuan. Ia merasa semakin tidak dianggap di rumahnya sendiri. Kedua anak kembarnya hanya mencari ketika mereka butuh bantuan sang mama untuk mencari barang yang hilang. Sementara Raka hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Tidak dipedulikannya Dena yang kerepotan membersihkan rumah sendiri atau ketika ia harus mondar-mandir mengantar kedua anaknya ke tempat belajar yang berbeda. Padahal ia masih harus pulang lalu memasak makanan untuk semua.

Dena terlalu lelah. Ia menolak berpikir bahwa ia tidak bahagia. Ia takut mengungkapkan isi hatinya karena tidak ingin ada keributan di rumah. Ia tidak ingin dianggap istri yang tak tahu bersyukur. Ia tak ingin menjadi contoh ibu yang banyak mengeluh. Ia ingin terlihat sebagai perempuan yang kuat dan mampu menyelesaikan segala hal sendiri. Ia lupa, dirinya juga seorang manusia, bukan robot yang tanpa rasa.

Berbicara dengan 4 sahabatnya tidak juga mengisi ruang kosong di hatinya. Dira selalu sibuk menceritakan tentang hidupnya yang sempurna. Suami tampan yang kaya raya dan putri tunggalnya yang manis dan pintar. Tari, juga sibuk bercerita tentang bisnisnya yang tersebar di mana-mana dan keluarganya yang sangat harmonis. Vini, adalah sahabatnya yang selalu penuh keberuntungan sejak dulu. Ia juga tidak lagi bekerja sama seperti Dena. Namun suaminya sangat baik dan romantis hingga sang istri selalu diajak berlibur ke luar negeri dan dilimpahi banyak materi. Liana? Sang pengusaha terkenal, yang meskipun hidup sendirian namun tidak nampak kesepian karena kesibukan yang sangat padat.

Dena memandang kedua anak kembarnya yang sedang sarapan, lalu melihat ke arah Raka yang tampak necis dalam balutan pakaian kerja. Ia sedang menyesap kopinya sambil membaca koran. Dena lalu melangkah ke dalam kamar dan melihat pantulannya sendiri ke arah cermin. Rambutnya yang penuh uban, berantakan, wajah pucat dan penuh garis halus, serta sebuah daster lusuh melengkapi penampilannya setiap hari. Tak seorang pun menyadari perubahan sikap Dena yang semakin diam tanpa suara di rumah.

Bulir bening mengalir di pipinya. “Apa yang terjadi padaku?” bisik Dena pelan.

“Maaaa, kita berangkat ya.”
“Iya Nak. Pa, Mama mau mandi ya.”
“Bye, Ma.”

Dena memandang ke lantai bawah sambil melihat mobil Raka meninggalkan rumah. “Mereka tidak membutuhkanku lagi, tidak mencintaiku,” gumam Dena pelan.

“Mamaaaa aku ada tugas sekolah ya. Jangan diganggu.”
“Ma, Tora belajar bareng temen di kafe Cinta ya.”
“Ma, Papa ada rapat. Pulang lambat. Enggak usah ditungguin.”

Dena menenggak butir pil terakhirnya lalu tubuhnya mengejang, dan mulutnya merintih pelan sambil mengeluarkan busa. Matanya terpejam perlahan, ia merasa tenang.

(Bersambung)

Hitam Putih Perempuan
ReReynilda

Human – Christina Perri (Cover)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.