MARAH – Secangkir Kopi Hangat Emak


MARAH – Secangkir Kopi Hangat Emak

Terserang sinus parah sejak hari Sabtu, sempat membatasi ruang gerak saya. Karena kepala dan bagian wajah saya rasanya seperti minta dilepas. Sakit luar biasa.

Akhirnya saya hanya bisa berbaring karena menghindari minum obat. Mencoba menyembuhkan diri sendiri dengan mengatur nafas dan relaksasi. Walau akhirnya terpaksa harus menyerah dengan tablet penahan rasa nyeri.

Hari berikutnya saya menolak menyerah pada sakit ini. Bangkit dan mencoba berdiri, walau kaki bak melayang di atas bumi. Tapi saya seorang ibu, dengan janji dan amanah yang harus ditepati. Sakit ini, semoga cepat pergi.

Apa daya, beratnya kepala membuat emosi membuncah. Saya marah sekali ketika melihat rumah dalam keadaan sedikit “meriah”. Cucian baju menumpuk belum dilipat, meja makan tak beraturan, dan “kemeriahan” lainnya.

Kesal sekali rasanya. Berjalan terhuyung-huyung keluar kamar, dan mendapati rumah bak kapal pecah. Well, tidak betul-betul tampak seperti kapal yang pecah sih. Hanya mungkin bak kapal yang sedikit oleng. Sehingga beberapa barang ngeloyor pergi ke tempat yang tidak seharusnya ia berada.

Amukan saya belum berhenti di situ saja. Akhirnya kami semua berdiskusi dan berbincang di meja makan. Semua tertunduk dengan muka tegang. Hahahaha!

Saya mengajukan keberatan, atas pemandangan indah yang saya temui pagi itu. Apalagi dalam keadaan kepala bak mendengar suara perkusi beradu. Berdentum di dalam tanpa bisa berhenti bertalu.

Semua menunduk dan meneteskan airmata, ketika saya mengingatkan diri ini yang semakin bertambah tua. Malas rasanya beradu tegang dan menambah kerutan di muka. Perawatan di salon mahal, Cinta.

Perbincangan kami pun berakhir manis. Walau diiringi derai airmata dan tangis. Yang penting semua masalah selesai dengan baik, tanpa perlu menjadi sinis. Biarlah sang emak tetap tampak kinyis-kinyis. Walau seharian berdaster dan bau amis. Ihir!

Hey, Moms! Sakit itu alami, tanda kita ini manusia dengan jiwa dan hati. Katakan saja apa yang kau rasa, jangan membatasi diri. Apalagi berpura-pura tegak berdiri. Sakit, marah, bahagia, katakan saja tanpa perlu membohongi diri.

Siang menjelang, matahari pun naik dengan terang. Setelah pagi bersitegang, semua lalu berubah menjadi riang. Rumah bersih dan benderang, Emak pun tersenyum girang.

Sinus yang menyerang sejak Sabtu siang pun, berubah menjadi tawa lebar. Ketika membuka gawai yang sedari Minggu pagi itu, terus bergetar. Pertanda pesan masuk dari seseorang. Dengan mata sedikit menyipit, karena tak kuat melihat pantulan cahaya, hati ini berubah senang. Karena membaca sebuah pesan tentang keberhasilan.

Apa sih isi pesannya?

Rahasia. Tunggu saja. Kopi hangat di depan mata saya ini, sedang menunggu untuk dihirup wanginya. Kamu tunggu ceritanya lagi, esok atau lusa, ya.

Love, Rere

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.