Liana – Hitam Putih Perempuan


Liana – Hitam Putih Perempuan

“Li, Dena masuk ICU! Gue tunggu di rumah sakit sekarang!”

Dena … Liana tersentak membaca sebaris pesan singkat yang baru saja dikirim Dira, sahabatnya. Dena? ICU?

Jantung Liana seketika berdebar sangat kencang, lututnya lemas, pandangannya gelap. Mimpi buruk itu kembali lagi.

“Li, Dio masuk ICU! Dia tiba-tiba jatuh waktu sedang mimpin rapat. Gue di rumah sakit sekarang. Kalau bisa cari flight ke Jakarta secepatnya!”

Liana tak ingat lagi kalimat apa yang dibacanya setelah itu. Tiba-tiba saja ia sudah terbaring di sebuah ruangan, dikelilingi beberapa teman yang pergi berlibur ke Bali dengannya waktu itu. Liburan yang seharusnya menyenangkan sebelum ia mengambil cuti hamil panjang.

Dio memang mengijinkan Liana yang tengah hamil untuk menikmati liburan bersama beberapa teman perempuannya. Liana sebenarnya tidak ingin pergi, namun Dio yang justru memintanya berangkat agar Liana bisa beristirahat dari kesibukan kerjanya. Ia meminta maaf karena tidak bisa mendampingi sang istri. Kesibukannya di kantor sangat menyita waktu.

Janin di perut Liana adalah hadiah pernikahan ke 12 tahun mereka. Ya, selama 12 tahun segala daya upaya dilakukan Dio dan Liana untuk memperoleh keturunan. Tak sedikit suara sumbang dan nada sinis didengar Liana. Sang ibu mertua bahkan terang-terangan menyuruh Dio untuk mencari istri ke-dua. Rencana yang ditolak mentah-mentah oleh Dio.

Liana mengalami depresi hingga kesehatan rahimnya makin terganggu. Mereka akhirnya memutuskan untuk meninggalkan kota kelahiran Dio dan mencari pekerjaan di Jakarta. Nasib baik memang mengiringi mereka berdua karena Dio dan Liana akhirnya bisa menduduki jabatan tinggi di tempat kerjanya masing-masing. Hingga memiliki keturunan sudah tidak lagi menjadi mimpi mereka berdua.

Meski begitu, Dio adalah lelaki baik yang sangat mencintai sang istri. Meski tidak seorang bayi pun dipersembahkan Liana dalam kehidupan mereka. Liana sangat bersyukur memiliki Dio sebagai pasangan hidup. Hingga tanpa disadari menginjak tahun ke 12 pernikahan mereka, Liana hamil. Berita yang tentu saja membuat Dio sangat bahagia.

Bulan depan adalah ulang tahun pernikahan mereka yang ke 12. Rencananya Dio akan menyusul Liana, kemudian berada di Bali hingga tiba saatnya ia melahirkan. Namun sebaris pesan singkat yang dikirim seorang sahabat menjadi awal mimpi buruk Liana.

Setelah siuman dan merasa kuat Liana mengambil penerbangan terakhir ke Jakarta. Airmata tak henti mengalir sepanjang perjalanan yang dirasanya begitu lama. Perasaannya tidak enak, jantungnya berdebar, dan di satu saat ia merasa ada yang hilang.

Setibanya di rumah sakit, seluruh keluarga telah berkumpul dan sang ibu mertua dilihatnya menangis histeris. Melihat kedatangan Liana, matanya memerah lalu ia menghampiri dan menampar pipinya.

“Istri macam apa kau ini? Suamimu bekerja keras di Jakarta, kau asik-asikan liburan di Bali! Sekarang lihat! Lihat! Anakku mati! Mati!”

Tak dirasakannya perih pipi yang tertampar, mata Liana mencari-cari keberadaan Dio. Suami terkasih yang ditemuinya sudah dalam keadaan tak bernyawa. Liana menjerit lalu tergeletak jatuh ke lantai.

Hari itu juga, dokter terpaksa melakukan operasi Caesar karena air ketuban Liana pecah sebelum waktunya. Dio pergi tanpa sempat melihat sang putra tampan yang oleh Liana diberi nama Al Dio, Anak Lelaki Dio.

Bocah tampan yang kini telah beranjak dewasa dan menjadi pelindung bagi sang ibu sepeninggal ayah, yang tidak pernah dilihat wajahnya. Liana memutuskan untuk tidak mencari pengganti Dio sampai kapanpun. Ia membesarkan Dio kecil seorang diri dan bekerja keras demi menghidupi mereka berdua. Sementara seluruh harta benda yang ditinggalkan sang suami, habis dikuras sang ibu mertua.

“Dena … astaga! Apa yang kamu lakukan? Raka! Apa yang terjadi?”
“Dena … Dena berusaha bunuh diri, Li. Aku … aku enggak tahu kenapa.”
“Kamu suaminya, sialan! Bagaimana mungkin kamu tak tahu apa yang terjadi pada istrimu sendiri!”
“Aku … aku …”
“Ah! Diem lu! Dena … Dena … Dira, apa yang terjadi?”

Dira menatap Liana dengan pandangan kosong. Di bawah matanya tampak bekas lebam berwarna kebiruan.

Hitam Putih Perempuan
ReReynilda

Dua Belas Tahun Terindah – BCL (Cover)

DENA – Hitam Putih Perempuan


DENA – Hitam Putih Perempuan

“Maaaa, mana jaketku? Udah telat nih!”
“Maaaa, tadi aku taro kacamata di meja kok hilang?”
“Maaaa, tolong setrika baju Papa yg ini dulu dong. Enggak mau ah pakai yang udah disetrika itu.”

Dena, sedari pagi sudah bangun. Dengan gerakan super cepat ia menyiapkan sarapan, bekal ke sekolah kedua anak kembarnya, serta bekal suami ke kantor. Ya, mereka semua malas pergi ke kantin hingga meminta Dena menyiapkan bekal untuk makan di siang hari.

Dena melakukan semuanya dengan tulus hati. Walau hidupnya berubah 360 derajat sejak memutuskan berhenti dari pekerjaan terdahulunya. Di masa muda, Dena adalah seorang awak kabin sebuah maskapai internasional. Penampilannya selalu glamour dan memikat. Sepatu berhak tinggi, tas tangan bermerk mahal, make up cantik, serta keluar masuk pusat perbelanjaan terkenal adalah kesehariannya.

Bertemu dengan Raka, yang kemudian menjadi suaminya, benar-benar merubah sudut pandang Dena tentang kehidupan. Ia rela berhenti dari pekerjaan yang membawanya keliling dunia dan bergelimang harta. Tak lagi dipedulikannya semua harta dunia. Apalagi selepas menikah, ia mengandung anak kembar lelaki dan perempuan. Tora dan Tiara, semakin melengkapi hidupnya.

Hidup yang kemudian ternyata membuatnya berubah. Dena tidak lagi mempedulikan dirinya sendiri. Hidupnya adalah melulu tentang Raka, Tora, dan Tiara saja.

Raka bukanlah lelaki yang romantis. Ia tidak pernah mengingat hari lahir Dena yang dulu selalu dirayakan dengan meriah. Jangankan hadiah, seikat bunga pun rasanya hanya diterima Dena di tahun pertama pernikahan mereka. Dena berusaha memahami dan tidak ingin merusak janjinya untuk tulus mengabdi pada keluarga. Ia ingin menjadi ibu dan istri yang terbaik bagi keluarga.

Kemarin ia bertemu dengan 4 sahabatnya, Dira, Tari, Lili, dan Liana. Berbeda dengan Dena, mereka ber 4 adalah para pengusaha terkenal dan sosialita cantik yang kerap menghabiskan waktu di sebuah kafe. Dena yang paling sering menolak acara kumpul-kumpul itu. Ia kehilangan rasa percaya diri yang dulu begitu penuh ia miliki.

“Dena! Bajumu enggak banget sih! Emang si Raka enggak pernah beliin kamu baju baru? Tiap ketemu itu saja yang kamu pakai!”

Dira, memang selalu outspoken karena menganggap Dena sudah seperti saudara sendiri. Tanpa sadar ia menorehkan luka di hati Dena. Gaji Raka memang tidak akan cukup memenuhi gaya hidup seorang istri pengusaha terkenal seperti Dira. Namun ia adalah teman yang baik. Dira hanya khawatir melihat perubahan pada diri Dena, sang sahabat.

Pagi itu perasaan Dena memang sedang tidak karuan. Ia merasa semakin tidak dianggap di rumahnya sendiri. Kedua anak kembarnya hanya mencari ketika mereka butuh bantuan sang mama untuk mencari barang yang hilang. Sementara Raka hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Tidak dipedulikannya Dena yang kerepotan membersihkan rumah sendiri atau ketika ia harus mondar-mandir mengantar kedua anaknya ke tempat belajar yang berbeda. Padahal ia masih harus pulang lalu memasak makanan untuk semua.

Dena terlalu lelah. Ia menolak berpikir bahwa ia tidak bahagia. Ia takut mengungkapkan isi hatinya karena tidak ingin ada keributan di rumah. Ia tidak ingin dianggap istri yang tak tahu bersyukur. Ia tak ingin menjadi contoh ibu yang banyak mengeluh. Ia ingin terlihat sebagai perempuan yang kuat dan mampu menyelesaikan segala hal sendiri. Ia lupa, dirinya juga seorang manusia, bukan robot yang tanpa rasa.

Berbicara dengan 4 sahabatnya tidak juga mengisi ruang kosong di hatinya. Dira selalu sibuk menceritakan tentang hidupnya yang sempurna. Suami tampan yang kaya raya dan putri tunggalnya yang manis dan pintar. Tari, juga sibuk bercerita tentang bisnisnya yang tersebar di mana-mana dan keluarganya yang sangat harmonis. Lili, adalah sahabatnya yang selalu penuh keberuntungan sejak dulu. Ia juga tidak lagi bekerja sama seperti Dena. Namun suaminya sangat baik dan romantis. Lili selalu diajak berlibur ke luar negeri dan dilimpahi banyak materi. Liana? Sang pengusaha terkenal, yang meskipun hidup sendirian namun tidak nampak kesepian karena kesibukan yang sangat padat.

Dena memandang kedua anak kembarnya yang sedang sarapan, lalu melihat ke arah Raka yang tampak necis dalam balutan pakaian kerja. Ia sedang menyesap kopinya sambil membaca koran. Dena lalu melangkah ke dalam kamar dan melihat pantulannya sendiri ke arah cermin. Rambutnya yang penuh uban, berantakan, wajah pucat dan penuh garis halus, serta sebuah daster lusuh melengkapi penampilannya setiap hari. Tak seorang pun menyadari perubahan sikap Dena yang semakin diam tanpa suara di rumah.

Bulir bening mengalir di pipinya. “Apa yang terjadi padaku?” bisik Dena pelan.

“Maaaa, kita berangkat ya.”
“Iya Nak. Pa, Mama mau mandi ya.”
“Bye, Ma.”

Dena memandang ke lantai bawah sambil melihat mobil Raka meninggalkan rumah. “Mereka tidak membutuhkanku lagi, tidak mencintaiku,” gumam Dena pelan.

“Mamaaaa aku ada tugas sekolah ya. Jangan diganggu.”
“Ma, Tora belajar bareng temen di kafe Cinta ya.”
“Ma, Papa ada rapat. Pulang lambat. Enggak usah ditungguin.”

Dena menenggak butir pil terakhirnya lalu tubuhnya mengejang, dan mulutnya merintih pelan sambil mengeluarkan busa. Matanya terpejam perlahan, ia merasa tenang.

Hitam Putih Perempuan
ReReynilda

Human – Christina Perri (Cover)

KINDNESS


KINDNESS

Bunda, when will I be able to work?”
“When you’re above 14 years old you can do some part time jobs during school holiday.”
“I can’t wait! Well of course I will still pursue my dream to be an engineer.”
“Why are you so eager to work?”
“So I can give you money that I earn
Bunda.”
“That’s sweet.”

Nak, janji saja bahwa kamu kelak jadi manusia yang banyak kawan bukan cuma bikin sawan.

Jadi manusia yang kehadirannya bikin seneng bukan senep.

Jadi manusia yang keberadaannya dirindukan bukan pingin disingkirkan.

Jadi manusia bukan butuh sekedar pintar Nak tapi juga harus baik hati dan punya empati.

Jangan jahat sama orang, kalau enggak mau kelak dijahatin.

Jangan sombong, dalam sekedip mata nasib kita bisa dibalik Sang Pencipta.

Jadi lah besar tanpa mengecilkan sesama.

Itu saja.

Love, Bunda.

(Bukan) Orang Ketiga


PROLOG

Dimar Wisaka Brawijaya, nama yang terpatri begitu dalam di hatiku. Hidupku jadi lebih berwarna saat mengenal dia. Semua beban yang berada di pundakku seakan luruh ketika kami saling bercerita. Masalah keluargaku sangat pelik, tapi dia tetap memilih untuk bertahan disampingku. Dia yang selalu menghiburku ketika sedih. Dia juga yang selalu mengobati luka lebam yang ditorehkan oleh ayahku. Dia, hanya dia aku bisa bebas melepas semua beban yang terus menghimpit hatiku.

Hari ini tepat dua tahun kami—aku dan Dimar—menjalin hubungan. Lelakiku mengajak bertemu selepas jam kuliahku berakhir di sebuah Coffeeshop. Mungkin dia ingin merayakan hari jadi kami.

Harum Manis Coffeeshop merupakan tempat pilihannya sekaligus tempat bersejarah untuk kami. Di sini dia menyatakan isi hatinya. Aku datang sepuluh menit lebih cepat. Lalu aku memesan minuman kesukaannya dan minuman untukku. Selang lima menit kemudian, lelaki jangkung berbadan tegap itu datang dan langsung duduk di hadapanku. Tak lupa senyum manis dia sunggingkan di bibirnya.

Seperti orang kasmaran pada umumnya, kami saling pandang dan berpegangan tangan. Aksi saling pandang dan pegangan tangan kami terputus ketika seorang waiter mengantarkan pesananku. Dia berdeham untuk menghilangkan rasa malunya, sedangkan aku melempar pandangan ke sembarang tempat. Sepeninggal waiter itu, kami masih bungkam. Tak ada yang ingin membuka percakapan lebih dulu. Kulihat dia mulai menyesap coffee americano-nya dan aku hanya mengaduk-ngaduk minumanku dengan sedotan.

“Kita putus aja, ya,” ucapnya memecah kehingan di antara kami.

Aku menghentikkan kegiatan mengaduk-aduk minuman, lalu reflek mendongak. Aku menatap dalam kedua manik matanya. Daritadi tak ada perkataan apapun, tapi kenapa tiba-tiba yang keluar kata putus? Aneh. Rasanya aku ingin menangis, tapi air mata tak bisa keluar. Kurasa kedua mataku telah memerah.

“Putus?” tanyaku lirih untuk memastikan jika aku tak salah dengar.

Dimar mengangguk. “ Aku pikir ini yang terbaik untuk kita.”

Shit!

Aku hanya tersenyum sisnis menanggapi ucapannya. Tentu saja baik untuknya, tapi tidak untukku. Mungkin dia sudah muak dengan semua masalah pelikku, atau dia tak mau telibat lebih jauh dengan semua masalahku. Merasa tak ada yang harus dibahas lagi, aku mengeluarkan selembar uang seratus ribu dan meletakkan di atas meja. Kemudian bangkir dari kursi

“Oke kita putus!” kataku sebelum meninggalkannya sendirian. Namun, baru beberapa langkah, aku berbalik kembali menghampirinya. “Dapet salam dari jari tengah,” bisikku di telinganya dengan penuh penekanan di setiap kata.

Selamat datang masalah baru. Selamat bergabung dengan masalah-masalah lamaku. Semoga kalian bisa bekerjasama untuk membunuhku pelan-pelan. Allah ... jika boleh meminta, aku ingin Kau ambil nyawaku.

Aku ... lelah.

IGNORE. BE HAPPY


IGNORE. BE HAPPY

“Hmmm … I’ll ignore school to be intelligent.”
“Don’t you dare!”

Hahaha! Begitulah tanggapan krucil melihat saya mengunggah status tentang IGNORANCE kemarin.

Berani-berani ignore school bisa kena jitak nanti!

Status kemarin muncul setelah saya menonton podcast seorang public figure yang sebenarnya bukan idola saya karena orangnya cenderung tengil dan sengak. Tapi saya tonton juga sih karena materinya lumayan lebih berbobot dibanding podcast seleb yang lain.

Nah, kemarin saya full nonton talk shownya dengan seorang pemuka agama yang baru saja mengalami musibah, ditusuk seseorang. Kata demi kata saya dengarkan, tak seperti biasanya. Kali ini saya benar-benar in awe. Ternganga. Kok bisa ya?

Bagaimana bisa seseorang memiliki sifat welas asih, sabar, dan gak suka ribut seperti itu? Sifat yang saya tahu hanya dimiliki seorang “manusia pilihan” Sang Pencipta.

Dari ucapan demi ucapan sang pemuka agama, saya belajar banyak sekali. Salah satunya tentang ignorance, dalam arti positif.

“Apa yang Syekh pikirkan ketika melihat si penusuk?”
“Enggak ada pikir apa-apa. Ya sudah saja, gak saya pikir lagi. Ndak pikir siapa, apa motifnya, apa alasannya, saya pikir ini takdir dari Allah. Alhamdulillah. Saya tidak mau dikaitkan dengan apapun.”

Jangankan sang host, saya saja yang mendengar sampe jaw dropped. Tak percaya. Padahal di luar sana, lisan dan tulisan, ribut tak terkendali, saling menyalahkan serta menyindir padahal belum juga paham cerita sebenarnya. Menggelikan.

Kalian belum nonton? Tonton deh. Wajib. Ini linknya https://youtu.be/6OTBeW-SIh8

Dari beliau saya akhirnya benar-benar paham, kapan kita harus bersikap acuh pada sesuatu. Terutama yang bukan menjadi urusan dan keahlian kita untuk berkomentar. Termasuk menanggapi segala jenis keributan remeh yang bisa diselesaikan dengan tanpa membesar-besarkan.

Masalah besar, kecilkan. Masalah kecil, hilangkan. Tak ada masalah? Jangan ikutan orang mengipasi masalah.

Walau rasanya masih jauh panggang dari api, paling tidak podcast sang Syekh memberi saya sudut pandang baru tentang ignorance.

Tak semua hal butuh campur tangan dan komentar kita, karena tak semua hal kita pahami dengan benar. Jadi, diam dan mengamati untuk belajar, masih jauh lebih berguna. Percayalah, banyak ribut itu tak ada gunanya kecuali ini menjadi katalisator kurangnya sesuatu dalam hidupmu. Kurang bahagia mungkin? Hingga senang melihat orang lain ribut dan ribut melihat orang lain senang menjadi pelampiasan.

Be happy … not because everything is good, but because you can see the good side of everything.

Love, Rere.

Refleksi. Manusia. Refleksi


Refleksi. Manusia. Refleksi

Refleksi
Satu kata sederhana
Terlalu sederhana hingga banyak orang lupa
Lalu memilih untuk sekedar menunjuk muka
Tentu saja selain mengarah ke dirinya
Lebih mudah, karena tak butuh kaca

Refleksi
Nyatanya tidak benar-benar sederhana
Melihat kelam dalam diri menjadi tak mudah
Mengakuinya ada, jadi tak biasa
Padahal kelam itu yang membuat dewasa
Hingga mampu memahami segala

Refleksi
Butuh diam dari banyak berulah
Butuh dengar dari sering berujar
Butuh berhenti dari menunjuk jari
Lalu mulai melihat ke dalam diri

Refleksi hanya butuh berani
Berani mengakui kelamnya diri

Refleksi hanya butuh berhenti
Berhenti melihat ke arah lain

Refleksi hanya butuh konsentrasi
Konsentrasi mengisi lubang kosong dalam hati

Refleksi bukan semula jadi
Ia butuh dilatih hingga ujung waktu sendiri

Refleksi
Membuat manusia kembali sejati
Sejatinya manusia
Bukan Tuhan bagi sesama

“The more reflective you are, the more humane you are.”

Love, Rere

Mawar Untuk Ibu


Mawar Untuk Ibu

“Bapakmu mana, Nduk?”
“Bapak di rumah sakit Tentara, Bu. Di sana peralatannya lebih lengkap.”
“Ibu mau ketemu Bapak, Nduk.”

Lirih, ibu memintaku mengantarnya ke rumah sakit tempat bapak dirawat. Ibu, juga sedang dirawat di sebuah rumah sakit khusus penderita jantung. Mereka terpaksa dirawat berjauhan karena kondisi bapak yang semakin menurun, setelah terserang penyakit liver. Pagi itu, ibu bersikeras bangun dari tempat tidurnya dan ingin menemui bapak.

Ya, ia memaksa kami untuk mengajaknya pergi dan menjenguk sang suami. Suami yang selama 40 tahun lebih didampinginya keluar masuk hutan, berpindah tempat penugasan. Hingga 9 anaknya lahir di daerah yang berbeda-beda.

Bapak adalah sosok suami ideal di mataku. Berperawakan tinggi besar dan kulit kecoklatan, sekilas ia tampak garang. Namun, belum pernah sekalipun ia marah atau bersikap kasar pada 9 putrinya. Tutur katanya begitu santun, lembut, dan penuh cinta.

Kharismanya begitu luar biasa, hingga pada suatu hari, muncul seorang wanita sambil menggendong seorang bayi lelaki, yang tangannya juga menuntun seorang bocah lelaki mungil. Ia mengaku istri Bapak.

Ibu begitu terkejut, dan sempat pingsan tak sadarkan diri. Ia tak pernah mengira, lelaki yang sangat dicintainya dan nampak begitu sempurna sebagai seorang suami dan ayah itu, tega mengkhianatinya.

Ibu begitu terluka. Sejak hari itu, ia menolak tidur sekamar dengan bapak. “Aku jijik,” katanya. Kami semua begitu marah pada bapak, tapi segala kebencian dan amarah luluh kala ia memohon maaf atas kesalahannya sambil berurai airmata.

Meskipun begitu, ibu tidak pernah mengucapkan keinginan untuk berpisah. Tidak satu kata pun. Sementara bapak juga tidak mengurangi rasa sayang, cinta, dan tanggung jawabnya pada kami semua. Ibu bertahan dalam pernikahan semu demi kami, 9 putrinya yang tengah beranjak dewasa.

Pagi itu, kondisi ibu semakin melemah. Ia memang menderita penyakit jantung, dan sedang dirawat secara intensif. Bapak menempatkan ibu di sebuah rumah sakit khusus dengan pengawasan penuh. Sementara ia sendiri yang keadaannya juga semakin melemah, segera dilarikan ke rumah sakit tentara keesokan harinya. Keadaannya yang semakin mengkhawatirkan, membuat kami harus berbagi tugas. Kakak sulung hingga ke-4 bertugas menjaga bapak secara bergantian.

Aku, si bungsu dan kakak ke-5 dan 6, bertugas menjaga Ibu. Kakak ke-7 dan 8 ku berada di luar negeri, dan sedang dalam perjalanan menuju ke rumah kami.

“Dira, cepat datang. Kondisi Bapak semakin parah. Dokter bilang, tidak ada lagi harapan.”

Vira kakak sulungku, baru saja menghubungi sambil menangis. Ia memintaku segera datang menemui bapak. Dengan suara parau karena sekuat tenaga menahan tangis, aku meminta ijin pada ibu untuk keluar sebentar.

“Bu, Dira mau pulang dan mandi dulu, ya? Lapar juga, nih.”
“Kamu mau menemui bapakmu ya, Nak?”
“Ha? Oh, eh, bukan, Bu. Dira mau pulang sebentar saja. Belum mandi dari semalam, dan perut Dira keroncongan. Ibu nanti ditemani Suster Ani dulu, ya?”
“Bawa Ibu menemui bapak, Nak.”
“Tunggu Ibu kuat dulu, ya. Dira pamit, Bu.”

Ibu menggenggam erat tanganku. Ia bersikeras untuk ikut tak seperti biasanya. Sejak hari ia mengetahui pengkhianatan bapak, ibu memang bersikap dingin karena luka hati yang begitu dalam. Namun hari itu, ia terus menangis karena ingin bertemu bapak. Hatiku tak karuan rasanya. Perasaanku tidak enak.

“Maaf, saya dan tim sudah berusaha semampu kami. Tapi bapak sudah tidak tertolong. Maafkan, kami. Kami turut berduka cita.”

Duniaku seketika gelap dan runtuh. Bapak pergi meninggalkan kami, tanpa sempat mengucapkan sepatah kata perpisahan, maupun cinta. Tanpa sempat bertemu ibu, istri yang mendampinginya dengan setia, meski sudah diduakan hatinya.

Bingung dan kalut kami semua, tak tahu bagaimana harus menyampaikan kabar ini pada ibu. Sakit jantung yang dideritanya, membuat kami sepakat untuk menyembunyikan kabar duka ini darinya.

“Bapakmu sudah pergi ya, Nak?”

Aku menemui ibu sedang menangis tergugu sambil menggenggam secarik kertas berwarna biru. Di sampingnya, nampak seikat bunga mawar merah, kesukaannya sejak muda dulu. Gemetar, aku mengusap lembut tangan kurus ibu, seraya mengambil kertas itu dari genggamannya.

Noora, Istriku.
Maafkan segala salah dan khilafku padamu.
Aku benar-benar menyesal telah mengkhianatimu.
Cinta suci dan pengorbananmu telah kusia-siakan tanpa ragu.
Sembilan putri cantik hadiah darimu, tak juga membuat lengkap hidupku.
Aku ingin memiliki seorang putra sebagai penerus.
Namun ternyata kebahagiaan yang kuharap itu semu.
Aku kehilanganmu … cahaya hidupku.
Meski cintaku padamu tak sedikitpun berkurang karena itu.
Cinta yang akan kubawa hingga ujung waktuku.
Cinta yang ada di setiap merah kelopak mawar kesukaanmu.
Maafkan aku, Istriku.
Aku mencintaimu.
Aku hanya mencintaimu.

Bapak.

(Tamat)

Love, Rere

Masjid Sultan – Singapore Out And About


Masjid Sultan – Singapore Out And About

Siapa tak kenal dengan bangunan bersejarah satu ini?

Sultan Mosque atau Masjid Sultan. Dipakai sebagai tempat peribadatan secara resmi pada tahun 1929. Mengambil nama Sultan Hussain yang mendirikan masjid ini sekitar tahun 1824, di samping istananya yang berlokasi di daerah Kampong Gelam. Bangunan ini lalu diabadikan sebagai monumen nasional pada tahun 1975. (Wikipedia)

Terdiri dari 2 lantai, yang bagian atasnya adalah tempat khusus beribadah kaum perempuan. Sementara tempat berwudhu dan kamar kecil ada di sisi sebelah kanannya.

Oh ya, jangan harap bisa melangkah masuk ke dalamnya jika anda tidak memakai pakaian yang rapi dan sopan. Namun jangan khawatir, para penjaga yang duduk di tangga masuk masjid telah menyediakan sarung atau abaya yang bisa anda pinjam dan kenakan jika ingin mengunjungi bagian dalam masjid.

Untuk memanjakan perut, terdapat banyak sekali restoran dan cafe di bagian luar bangunan megah ini. Mulai dari kuliner khas warga Melayu, Lebanesse, Arabs, Moroccans, India, hingga rumah makan Padang pun juga tersebar di sekitarnya. Tak ketinggalan toko-toko roti yang wanginya semerbak pun sangat menggoda untuk didatangi. Ingin membawa buah tangan untuk keluarga di rumah? Para penjaja suvenir khas negara ini pun bisa disambangi di bagian luar masjid.

Jangan lupa, segala perlengkapan umrah dan haji juga bisa didapat di sekitar bangunan ini. Harganya? Lumayan masih terjangkau lah.

Oh, jangan lupa berfoto ya. Ini adalah salah satu tempat dengan spot foto terbaik di negara ini. Pokoknya Instagrammable deh! Caelah!

Photo credit: Mila Photography

(Bersambung)

Love, Rere

Haji Lane – Singapore Out & About


Haji Lane – Singapore Out & About

Terletak di antara gang sempit, kawasan ini memang terkenal sebagai salah satu spot foto yang instagrammable. Caelah!

Siapa mengira, bahwa di antara tahun 1800-1960an, toko-toko yang berjejer di kiri kanan itu adalah pondok tempat para jemaah haji menginap, dalam perjalanan menuju Mekkah. Demi menghemat uang saku, mereka akan berjualan apa saja yang penting laku. Dari sini lah nama Haji Lane didapat kawasan ini.

Kurun waktu 1960-1970an, tempat ini kemudian terkenal sebagai tempat belanja penduduk Melayu yang hidup kekurangan. Mereka bisa mendapat banyak barang berharga murah di sini.

Beda sekali dengan sekarang ya. Setelah menjadi salah satu spot berfoto para turis, sebuah henna sederhana yang dilukis di atas tangan bisa berharga $15-$25. Padahal cuma gambar setangkai bunga sederhana. Oh, well.

Di tempat ini bisa ditemukan banyak sekali cafe, tempat makan termasuk rumah makan Padang. Tidak ketinggalan tempat belanja barang-barang khas Turki seperti lampu-lampu cantik dan karpet indah. Pastinya beragam kain-kain cantik dengan harga yang lumayan bikin dompet mlipir cantik. Mencari wewangian atau oleh-oleh untuk dibawa pulang ke rumah? Juga ada di sini.

Oh ya, selain Sari Ratu sebagai tujuan mengisi perut dengan cita rasa khas Indonesia, Kampung Gelam Cafe adalah salah satu tempat yang bisa dijadikan alternatif untuk menyicipi kuliner khas Melayu. Menu seperti lontong, mee siam, mee rebusnya maknyussss! Harganya pun ramah di kantong. Ada pula kuliner khas Swedia seperti Fika Cafe, atau masakan khas timur tengah. Semua berjejer rapi demi memanjakan lidah.

Photo credit: Mila Photography

(Bersambung)

Love, Rere

Si Susah Sebut – Road To The Crystal Year


Si Susah Sebut – Road To The Crystal Year

Desember 2003

“Nama kamu gimana sih bacanya? Siyed? Said?”
“Bukan. Spelled as Saeed.”
“Susah banget, sih.”
“Panggil Bull saja. Tak susah, kan?”
“Kok, Bull? Kenapa kamu dipanggil, Bull?”
“Kata teman-teman, dulu sewaktu saya main sepakbola, saya hantam orang macam bulldozer.”
“Ha? Serem amat! Ya udah, Bull aja. Nggak susah sebut.”
“Kalau full name kamu?”
“Beuh. Full banget. Kamu nggak bakal inget, deh!”
“Siapa coba?”
“Susah pasti buat kamu.”
“Try me.”

Dengan pelan, kueja nama panjangku, yang dulu kerap ditertawakan teman-teman, saking panjangnya. Bahkan setiap kali mengisi formulir pengisian data diri dengan kotak-kotak per huruf itu, namaku nggak pernah cukup. Belum kalau harus ditambah Binti nama bapakku.

Apes betul laki-laki yang kelak menikahiku. Terbayang sulitnya mereka mengucapkan akad nikah dengan menyebut nama panjangku, ditambah binti nama bapakku. Ya, namanya sendiri tak kalah panjang bak deretan gerbong kereta api. Hahahaha!

Sayangnya, sambungan telepon Singapura – Jeddah itu tidak mampu merekam ekspresi wajah lelaki si susah sebut itu. Ah, belum tentu juga ia ingat namaku yang lebih susah sebut ini.

September 2005

Sembilan September 2005, di dalam sebuah kamar hotel Sari Pan Pacific, Jakarta. Lelaki bernama susah sebut itu, mondar mandir dengan muka tegang. Mulutnya terlihat komat kamit menghafalkan sesuatu.

Ia tidak memejamkan mata semalaman. Tegang, katanya. Ia juga mendadak kehilangan selera makan.

“Semoga esok lancar, dan semoga aku bisa mengingat nama panjang si kurus … yang susah sebut ini.”

Love, Rere