FRAGILE


FRAGILE

Masih ingat kah celoteh saya tentang si tetangga blok sebelah yang sering marah dan berteriak hingga seluruh telinga dalam radius 1 kilometer bisa mendengar suaranya? Sampai saya juga kehilangan fokus untuk menulis?

Sore tadi ia mulai marah lagi dan berteriak-teriak bak sedang kesurupan. Sebenarnya naluri saya sebagai ibu memberontak, ketika mendengar ada suara lain muncul setelah si tetangga berteriak sambil terdengar memukul-mukul sesuatu. Lamat saya mendengar suara tangis seorang bocah.

Saya menyimpan sebuah video yang sengaja saya ambil tadi, jika suatu hari nanti saya diijinkan suami untuk melapor pada pihak berwajib. Saat ini saya merasa helpless.

Posisi sebagai warga berstatus Permanent Resident di negara ini membuat ruang gerak saya sangat terbatas. Ada banyak hal yang harus dipikirkan dengan matang sebelum bertindak. Tidak boleh gegabah dan grasa-grusu hanya demi menenangkan hati. Mungkin juga menyenangkan hati? Hmmmm.

Mewarisi jiwa pemberontak dari bapak yang mantan Brimob, membuat saya sebenarnya gatal ingin berteriak dan menyuruh si tetangga diam dan menghentikan aksinya. Tapi … apa bedanya saya dengan dia kalau begitu adanya?

Orang dengan karakter berisik tidak perlu kita balas dengan juga menjadi berisik. Mereka dengan kebiasaan senang ribut, tidak perlu berbalas dengan kita yang ikutan ribut. Atau mereka yang senang menunjukkan emosi secara membabi buta di hadapan umum, tidak perlu berbalas emosi kita yang ikut ngalor-ngidul. Kecuali … kita ingin disamakan dengan mereka yang kita rumpiin kebiasaan buruknya.

Sigh … saya sungguh bukan ingin ikut ribut. Rasanya sudah cukup masa muda saya habiskan dengan gontok-gontokan. Saya hanya merasa ikut bertanggung jawab jika ada sesuatu yang buruk terjadi. Saya takut kelak ikut menyesal karena terlambat berbuat sesuatu. Namun apa daya, saat ini saya harus sedikit egois dan meredam keinginan untuk membela orang lain. Mungkin saja orang itu tidak butuh saya bela? Hmmm … entahlah.

Perut saya mendadak mulas memikirkan nasib anak-anak yang ibunya berkatarsis dengan begitu dahsyat. Sama hal nya ketika melihat keributan dan kegaduhan yang terjadi di depan mata atau hanya lewat sosial media. Saya hanya berpikir bahwa mereka mungkin butuh sarana pelepas emosi jiwa. Mungkin mereka tidak punya lawan bicara di dunia nyata, hingga melampiaskan keluh kesahnya di dunia maya. Mungkinkah mereka sebenarnya rapuh hingga butuh dukungan baik positif maupun negatif dari mereka yang sebagian tulus bersimpati, meski sebagian hanya sekedar mengambil opportunity?

Pilihannya memang hanya ikut terbawa arus atau menyingkir tanpa suara.

Oh, how fragile we are.

Love, Rere.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.