Si Kaset Rusak (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Si Kaset Rusak
(Secangkir Kopi Hangat Emak)

“Lara, sudah sholat belum?”
“Lana, sapu rumah, Nak.”
“Rayyan, make up your bed!”
“Ayo, cepat makan. It’s 6.30 already!”
“Don’t forget your masks”
“Botol, lunch box dah bawa?”
“Your keys, don’t forget!”
“Go home straight away.”

Bla … bla … bla.

Begitulah setiap pagi keramaian di rumah kami. Asalnya hanya dari satu suara, sih. Saya. Sementara suara lain hanya berbunyi, “yes, Bunda,” atau “sudah, Bunda.” Hahaha!

Awalnya saya berpikir keributan ini hanya terjadi di rumah kami. Ternyata setelah berbincang dengan beberapa sahabat, sama juga hebohnya. Phew! Berarti saya tidak sendiri. Lega.

Bukan tidak pernah saya mengajukan keberatan karena harus berubah bak sebuah kaset rusak setiap pagi. Ya, setiap pagi. Beberapa cara pun pernah saya lakukan. Membuat jadwal harian mulai dari yang sederhana hingga berbagai bentuk dan gaya agar menarik. Tentu saja setiap saat harus berubah demi menyesuaikan jadwal dan usia anak-anak.

Kadang saya juga harus menahan diri setengah mati dengan tujuan untuk mendidik. Saya biarkan mereka gedubrakan karena terlambat bangun, hingga beberapa keperluan sekolahnya tertinggal. Ya, saya pun pernah juga begitu. Walaupun sebagai ibu dengan didikan disiplin tingkat tinggi di masa sekolah, ini adalah satu hal yang sangat menyiksa. Iya, tersiksa rasanya melihat ketidakaturan dan ketidaksiapan di depan mata.

Namun anak-anak harus belajar dari kesalahan. Sementara saya harus belajar untuk sedikit menutup mata dan mengurangi kebiasaan “serba harus dan tidak boleh salah”.

Saya tahu, mereka sebenarnya paham apa yang harus dilakukan. Mungkin mereka hanya terlalu suka dan selalu rindu mendengar suara nyanyian sang ibu yang berulang seumur hidup. Hingga melambatkan diri setiap pagi adalah salah satu cara untuk tetap menghidupkan bunyi sang kaset rusak.

Meski tiap pagi “bernyanyi” saya tidak marah. Saya tahu suatu hari nanti mereka akan rindu, seperti saya yang kerap merindukan kebawelan mama saat ini. Oleh karena itu setelah puas merepet bak petasan banting, saya tetap memeluk dan selalu mencium mereka dengan penuh cinta di depan pintu. Sambil mendoakan dalam hati agar Yang Kuasa melindungi mereka selama di luar rumah.

Toh setelah semua pergi, rumah jadi sepi. Saya bisa dengan tenang menyeruput secangkir kopi hangat sambil menonton acara televisi.

“Abaaang! Dah sholat belum? Cepat lah! Dah almost shuruk!”

Lamat saya dengar tetangga sebelah rumah yang dapurnya bersebelahan, sedang “bernyanyi” merdu pada sang putra yang berusia 40. Hahaha!

Motherhood … where silence is no longer golden.

Love, Rere.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.