Keliling Indonesia


Keliling Indonesia

Sebelas tahun usia saya ketika salah seorang adik mama mengajak saya keliling Indonesia. Tante cantik saya dulu adalah seorang penyanyi, dan waktu itu ia sedang bertugas di atas sebuah kapal penumpang.

Saya yang belum pernah melihat kapal laut, berdecak kagum dengan mulut ternganga. Besar sekali kapal penumpang ini, begitu saya bergumam. KM Kerinci namanya. Ia membawa saya mengarungi lautan luas dan menginjakkan kaki ke beberapa pulau di Indonesia selama sebulan penuh.

Bertolak dari pelabuhan Tanjung Priuk, saya memulai petualangan baru di usia yang masih belia. Beberapa kota besar di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi menjadi tempat kami berlabuh untuk mengambil dan mengantar penumpang.

Pengalaman paling menakjubkan adalah ketika melewati sebuah tempat yang belakangan baru saya tahu bernama Segitiga Masalembo. Salah satu perairan yang terangker di Indonesia, dimana banyak terjadi kecelakaan kapal laut maupun udara.

Sebut saja peristiwa tenggelamnya Kapal Tampomas pada tahun 1981. Seingat saya memang suasana agak berbeda ketika melewati perairan itu. Sunyi, mistis. Walau mungkin karena masih berusia sangat muda saya belum punya rasa takut, malah berusaha memandang ke lautan lepas dan berharap melihat “sesuatu”. Hahaha! Kalau sekarang mungkin saya sudah meringkuk di balik selimut.

Pengalaman luar biasa juga saya alami ketika kapal melewati kawasan Laut Cina Selatan. Ombak begitu besar mengayun-ayun kapal dengan ganas, hingga saya bahkan tidak bisa berdiri tegak karena terhuyung-huyung mengikuti alunannya. Dari jendela kamar saya bisa melihat ombak memukul-mukul jendela dengan dahsyat. Ngeri. Namun lagi-lagi sebagai bocah berusia 11, saya belum kenal rasa mual karena mabuk laut. Saya justru mondar-mandir mengantarkan obat pening kepada seluruh pemain musik. Hahaha!

Saya juga pernah dilanda kebingungan ketika kapal bersandar di tengah laut dan melihat para penumpang berpindah lalu menaiki kapal-kapal kecil untuk mencapai daratan. Baru saya tahu waktu itu bahwa ternyata ada daerah yang tidak memiliki pelabuhan, sehingga kapal sebesar Kerinci tidak bisa bersandar di sana.

Jika melihat peta Indonesia tercinta, tiba-tiba saya sangat merindukan udara laut yang pernah begitu lama saya nikmati aromanya. Membayangkan keriangan setiap kali saya harus ikut berbaris untuk latihan pendaratan darurat. Melihat deretan sekoci diturunkan, memakai pelampung, dan mendengarkan aba-aba kapten kapal. Menjelajahi seluruh isinya, bahkan menikmati lezatnya sate bikinan sang kapten khusus untuk saya.

Jika semesta mengijinkan, ingin rasanya saya membawa suami dan anak-anak untuk mengelilingi ibu pertiwi. Melihat deretan kepulauan yang begitu luas, penuh dengan ragam budaya, dan adat istiadat yang memanjakan rasa dan mata.

Tujuh puluh lima tahun deretan pulau ini telah merdeka. Selama itu pula ia telah memberikan banyak nuansa. Tak selalu mulus dan melulu berbagi cinta. Pergulatan dan pertikaian memang selalu ada, karena banyaknya beda. Itu lah yang membuat Indonesia menjadi luar biasa.

Dirgahayu untukmu … Engkau kubanggakan.

Love, Rere

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.