P A M I T


P A M I T

“Aku pergi dulu.”
“Eh, kemana Mas?”
“Hubungan ini enggak akan mulus. Harus diakhiri demi kebaikan kita berdua.”
“Mas …”

“Sum! Sum! Ngelamun! Ayo kerja!”

Bentakan Tuan Hadi membuyarkan lamunan Sumini. Ia kembali melanjutkan tugasnya mengepel lantai ruangan kantor megah itu.

Airmata mengalir dari sudut matanya. Betapa ia sangat merindukan aroma khas yang selalu datang dari tubuh sang suami, Manto. Sumanto, lelaki yang telah didampinginya selama 24 tahun masa pernikahan dengan segala pasang surutnya.

Dua puluh empat tahun lalu mereka mengikat janji dalam segala keterbatasan. Manto hanyalah pegawai kecil pada sebuah perusahaan percetakan. Gajinya hanya cukup untuk makan sehari-hari mereka berdua. Selama itu pun Sumini tidak pernah sama sekali mengeluhkan nasibnya. Walau hanya tinggal di sebuah rumah petak dan tidur di atas sebuah kasur sederhana.

Manto adalah lelaki baik hati yang selalu membuat Sumini merasa sangat beruntung meski hidup serba pas-pasan. Mereka sangat bahagia terutama setelah di tahun ke-10 pernikahan mereka, seorang bocah lelaki muncul sebagai cahaya yang semakin menyinari kehidupan. Damar, begitu nama yang mereka sematkan, berarti obor dalam bahasa Jawa. Ia memang terbukti menerangi kehidupan mereka setelah kelahirannya.

Sebagai pegawai rendahan, Sumanto sangat rajin dan bekerja dengan sungguh-sungguh. Hingga ketika sang pemilik percetakan beranjak tua dan mulai lemah, ia mempercayakan laju perusahaan padanya. Keberuntungan memang nyata berpihak pada Sumanto, karena sang pemilik adalah seorang lelaki yang melajang hingga di renta usianya. Sumanto adalah satu-satunya orang yang dengan setia menemani hingga akhir hayatnya.

Kehidupan Sumini dan Sumanto pun berubah membaik di tahun ke 20 pernikahan. Mereka tidak lagi perlu menahan segala keinginan, dan bisa makan apapun yang mereka inginkan. Sang putra, Damar, kini duduk di bangku sekolah menengah dan menjadi salah satu murid terpandai dengan prestasi baik di kelasnya.

Namun, seiring dengan kemakmuran hidupnya, Sumini mulai merasakan perubahan pada diri Manto. Lelaki yang kini tampak semakin muda dengan tubuh terjaga dan wangi parfum yang semerbak itu terasa semakin jauh. Ia tidak lagi pernah bertanya ke mana dan sedang apa istrinya. Rapat di sana, rapat di sini, itu selalu jawaban yang didapat Sumini. Namun perasaan aneh itu kerap ditepis dan Sumini menyibukkan diri dengan menjadi ibu rumah tangga seutuhnya, demi menyenangkan sang suami.

Bulan depan adalah ulang tahun perkawinan perak Sumini dan Sumanto. Sederet rencana sudah disusun dengan matang oleh Sumini. Sebuah restoran megah dengan hiasan cantik akan menjadi tempat mereka makan malam berdua. Damar bahkan telah menyiapkan sebuah hadiah istimewa untuk kedua orang tuanya.

Hingga malam itu sebuah kejadian menghempas rencana indah Sumini dan Damar. Sang bapak memilih untuk pergi meninggalkan rumah dengan alasan pernikahan mereka adalah sebuah beban. Sumini terhenyak, ia tak kuasa menahan tangis. Damar tampak tegar dan memeluk sang ibu dengan tangan kecilnya, erat sekali.

Entah apa yang ada di benak Manto. Ia seperti lupa bagaimana sang istri dengan setia mendampinginya di kala susah, dan tanpa ragu menghempas ketika dirinya semakin bersinar terang. Sumini hanya mampu pasrah. Namun tidak demikian dengan Damar. Ia yang begitu mengagumi sang bapak seperti mendapat sebuah mimpi buruk. Murid terpandai itu jatuh terpuruk. Ia bahkan harus rela mengulang pelajaran di kelas sebelumnya karena tidak mampu mengerjakan ujian akhir dengan baik.

Sumini harus keluar dari rumah mewah mereka karena kalah di pengadilan agama. Tanpa disadarinya, sang suami tidak pernah meletakkan namanya di dokumen apapun selama ini. Ia hanya memberi Sumini sejumlah uang untuk bertahan hidup, walau berjanji akan bertanggung jawab pada biaya sekolah Damar.

Janji tinggal janji … Sumini memilih pergi.

Perjuangan hidup membawanya pada pekerjaan sebagai petugas kebersihan di sebuah kantor megah di pusat kota. Damar, sang putra tercinta, memilih untuk mengakhiri hidupnya karena depresi. Sumini menemukannya sedang meregang nyawa setelah sebotol cairan pembasmi serangga masuk ke dalam tenggorokannya.

“Sum! Melamun lagi! Cepat bikinkan minuman untuk Bapak dan 2 orang tamu!”
“Oh … baik Bu.”

Ibu Sisi, sang sekretaris cantik, kali ini yang membuyarkan lamunan Sumini akan Sumanto. Sepuluh tahun berlalu namun lelaki itu dengan aroma tubuh khasnya tetap dirindukan setiap saat. Meski ia telah menorehkan luka yang begitu dalam di hati Sumini.

“Permisi, Pak. Ini minumannya.”
“Letakkan saja di atas meja, Sum. Terima kasih.”

BRAKK!

Nampan berisi 3 cangkir minuman panas itu terjatuh bersamaan dengan terhuyungnya tubuh Sumini yang mendadak hilang kesadaran.

“Astaga! Sum!”
“Aduh! Massss! Bajuku basahhhh ketumpahan minuman! Aaaaaahhh! Gimana sih pembantumu Mas Hadi!”
“Aduh maaf Dik Sinta, Mas Anto. Maaf. Sum! Sum! Pak Satpam angkat ini si Sumini! Sum! Bangun!”

“Mas … Ma … Manto.”

Sumini … pergi dalam diam. Ia terkena serangan stroke setelah melihat Sumanto bersama seorang wanita bernama Sinta, istri barunya. Kekasih gelapnya sejak Sumini mengandung Damar … yang sinarnya telah redup lebih dulu dalam kesunyian.

Tamat.

“No matter what I say or do,
I’ll still feel you here ’till the moment I’m gone.”
(Sara Bareilles)

Gravity – Sara Bareilles (Cover)

Love, Rere

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.