TTM Yang Manis


TTM Yang Manis

Sudah ada yang nonton “Teman Tapi Menikah” 1 dan 2?

Film yang diangkat dari buku milik Ayudia Bing Slamet dan Ditto Percussion ini buat saya lumayan menghibur. Bagian 1 menceritakan bagaimana mereka bertemu di bangku SMA dan bertahun-tahun berada di friendzone hingga menyadari ternyata ada cinta di sana. Hmm … berapa banyak sih dari kita yang berawal dari teman sekolah lalu berakhir menjadi pasangan hidup karena menikah?

Well, walau harus saya akui cerita film ini sebenarnya biasa saja. Namun tanpa diduga, sequelnya ternyata lumayan menyentuh, hingga saya sempat meneteskan airmata. Ya, di bagian ke-2 film ini, Ayu dan Ditto akhirnya menikah. Namun tak seindah ketika bersahabat, konflik di antara mereka justru muncul ketika Ayu mulai berbadan dua.

Bagian ini saya tonton bersama suami, lalu kami sedikit flashback mengenang masa-masa ketika saya hamil pertama kali dulu. Tiga kehamilan yang masing-masing membawa cerita berbeda. Beruntung saya tidak mengalami perubahan yang terlalu parah seperti Ayu yang menjadi sangat emosional, hingga sempat membuat Ditto kelabakan.

Perubahan emosi Ayu semakin menjadi setiap kali ia bertemu dengan para sahabat yang masih lajang. Tubuh langsing, dandanan cantik, sepatu berhak tinggi yang tidak lagi dimiliki Ayu, membuatnya kehilangan kepercayaan diri di hadapan mereka.

“Nikmati masa-masa single lo karena itu enggak bakal balik lagi. Maksimalin. Main, kerja, jalan-jalan, jatuh cinta, karena kalau badan lo udah kayak gue nih, gerak aja usaha. Kalian bisa lihat kaki gue kan? Gue udah berbulan-bulan enggak bisa lihat,” ucapnya dengan sedih di hadapan para sahabatnya yang masih lajang.

Ayu … memang masih muda ketika menyadari telah berbadan dua pasca menikah. Padahal ia bermimpi ingin keliling dunia berdua Ditto dan sempat merasa kehamilannya menjadi penghalang.

Hehe. Yu, saya dulu juga begitu. Bulan madu berdua saja bahkan tak sempat kami lakukan. Keburu hamil, lalu hamil lagi, lalu hamil lagi. Tubuh yang sebelumnya cantik dan langsing jadi membengkak, lalu susut, lalu bengkak lagi, susut lagi, bengkak lagi, susut dikit … dikiiit sekali hingga hari ini, dan tak bisa kembali langsing seperti ketika masa muda.

Saya juga sempat merasa tidak percaya diri bertemu teman-teman kerja dulu. Melihat betapa chic dan cantiknya mereka, sementara saya kesana-kemari membawa gembolan dengan baju longgar dan muka pucat tanpa polesan make up. Kalau tidak sedang hamil, gembolan saya berubah menjadi botol susu, popok, dan segala printilan bayi.

Ah, sungguh masa-masa peralihan yang tidak mudah. Berubah dari lajang menjadi calon ibu, mengganti semua hal tentang aku menjadi tentangmu, kamu, dan kamu.

Namun sembilan bulan kesakitan itu nyatanya berbuah cinta hingga seumur hidup. Dengan tambahan gurat pelangi di setiap sudut. Dunia juga jadi lebih berwarna tak lagi pucat, indah tak lagi gundah, seru tak lagi beku.

Terima kasih untuk-Mu yang sudah menyempurnakan hidup ini dengan lika-liku, meski tak mudah tapi tetap indah. Seindah kisah Ayu dan Ditto yang menutup cerita dengan manis. Semanis senyum sang bayi, Dia Sekala Bumi.

Love, Rere

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.