Selamat Makan, Nak! (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Selamat Makan, Nak! (Secangkir Kopi Hangat Emak)

Pagi tadi saya melihat sebuah status yang isinya kurang lebih menanyakan kenapa para lelaki harus mencari istri yang pandai memasak. Bukankah mereka sedang membangun rumah tangga, bukan rumah makan?

Hahaha! Saya ketawa sih membacanya. Kemudian berpikir sambil menghirup wanginya kopi hangat di hadapan saya.

Pernah kah saya berpikir bahwa saya dijadikan bak rumah makan di rumah? Hmm … sependek ingatan saya sih belum pernah. Selama ini saya menyukai seluruh kegiatan di dapur, bahkan sempat rajin menerima pesanan masakan dari beberapa pelanggan.

Terpaksa kah saya melakukan kegiatan masak memasak di rumah selama ini? Jawabannya adalah sama sekali tidak. Saya melakukannya dengan senang hati dan gembira, tanpa paksaan atau keterpaksaan. Bahkan dengan penuh semangat belajar banyak menu baru untuk disajikan di rumah.

Wahai para remaja putri atau teman-teman perempuan yang belum menikah. Percaya lah, kalian akan sangat bahagia ketika mendengar sang suami memuji masakan anda semua bahkan lebih memilih untuk makan di rumah, sesederhana apapun masakan anda. Bahkan dengan bangga membawanya ke tempat kerja, dalam sebuah kotak makan unyu, tanpa ragu dan malu.

Itu belum seberapa. Senyum anda juga pasti mengembang selebar-lebarnya ketika mendengar anak-anak mengatakan dengan bangga bahwa teman-teman sekolahnya menganggap anda “cool”. Hanya karena mereka mengagumi hasil buatan tangan anda di dalam kotak makan, yang selalu berbeda tiap hari hingga mereka selalu penasaran dengan isinya.

“Your Mom so cool! The food looks delicious and always nice to look at.”

Belum lagi pujian dari sahabat, teman, teman suami, atau keluarga yang berkesempatan makan di rumah anda dan dengan tulus mengatakan betapa lezatnya rasa masakan anda. Bahagianya mungkin lebih dari rasa lelah yang muncul setelah selesai memasak, dan melihat dapur bak kapal pecah.

Tapi eh tapi, ada nilai edukasi juga di rumah kami lho. Meski dengan suka hati saya memasak beragam menu, anak-anak juga harus belajar untuk tidak cerewet dan menjadi picky eater. Saya membiasakan mereka untuk being grateful, sesederhana apapun masakan yang saya buat. Mereka harus paham bahwa ada banyak sekali anak seusia mereka di luar sana yang tidak bisa menikmati makanan seperti mereka di rumah. Jadi, mereka tidak boleh banyak protes dan harus banyak bersyukur. Makan apapun yang ibunya masak, dan selalu berterima kasih atas segala anugerah yang didapat dari Sang Pencipta.

Saya juga mengajarkan mereka untuk terbiasa dan mengenal isi dapur. Ini adalah salah satu dari sekian banyak life skills yang saya wariskan untuk hidup mereka kelak. Jadi mereka tetap bisa survive di mana pun mereka tumbuh dewasa nanti. Saya toh tidak bisa selamanya memasak untuk mereka, kan?

Suatu hari nanti anak-anak harus hidup mandiri dan mampu bertahan sendiri. Jika memasak hal yang paling sederhana saja tidak mampu, bisa dibayangkan betapa tipisnya kantong mereka kelak, karena harus jajan setiap hari.

Jadi, masih mau menganggap kemampuan memasak ini sepele? Think again, ladies.

Jangan merendahkan diri dan menganggap bahwa kegiatan memasak akan menjadikan anda bak rumah makan di rumah sendiri. Tersenyum lah dengan bangga hati karena bisa berkata, “Gue dong, masak sendiri buat anak-anak dan suami.”

Love, Rere

2 thoughts on “Selamat Makan, Nak! (Secangkir Kopi Hangat Emak)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.