Hitam Putih Perempuan (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Hitam Putih Perempuan (Secangkir Kopi Hangat Emak)

Being a woman is never easy
Melalui banyak fase yang berakibat perubahan pada diri
Belum lagi siklus hormonal yang kadang bikin pusing sendiri
Mending jauh-jauh daripada kena usir

Being a woman is never easy
Masa muda harus benar-benar jaga diri
Kalau tak ingin masa itu terenggut dini

Being a woman is never easy
Setelah berbuntut dan menimang buah hati
Kesenangan pribadi harus rela tersisih

Being a woman is never easy
Menjaga yang tersayang kadang butuh otot besi
Namun penampilan tetap harus manis tak boleh basi

Ladies, mari saling mendukung
Berbagi cinta dan cerita untuk yang terkungkung
Tak perlu drama dan kelamaan merenung
Segera bangkit dan tegakkan punggung
Hitam putihnya dunia mari hadapi dengan senyum

Hitam putih challenge ini sungguh menarik. Melihat bagaimana kaum perempuan saling memdukung dan berbagi kekuatan satu sama lain. Melalui berbagi foto tanpa warna-warni.

Hanya hitam dan putih.

Ibarat hidup yang penuh dengan pasang surut. Kadang berpikir ia bahagia, ternyata hidupnya carut marut. Kadang menganggap ia menyebalkan, ternyata justru darinya didapat ilmu tentang kehidupan. Ahhh … sawang sinawangnya hidup.

The least we can do adalah berhenti memberi terlalu banyak komentar, terutama berbagi negativity. Karena terkadang di mata kita tampak hitam, ternyata ada putih di sana, pun sebaliknya. Berhati-hati dengan setiap ucapan, karena sejatinya pergumulan hidup setiap orang berbeda. We never know.

Pelukku untukmu semua yang sedang berjuang menghadapi kehidupan, dan berpacu menghadapi waktu. Berbahagialah menghadapi hiruk pikuknya. Karena ketika kita bahagia, tak akan ada waktu terbuang untuk membuat orang lain tidak bahagia.

Ladies, sisihkan waktu untuk menikmati hidupmu. Seruput hangat kopi di hadapan, agar senyum kembali terkembang di wajahmu.

Love, Rere

Hitam Putih


Hitam Putih

Hitam Putih
Karena hidup tak selalu berwarna bak pelangi
Kadang membosankan bahkan terlalu sepi
Menunggu bahagia, ia tak selalu datang sendiri

Wahai raga yang sedang tak berwarna
Sampai kapan jiwamu akan terpuruk merana?
Padahal banyak jalan mungkin terbuka
Jika netra berani melawan rasa

Duhai sukma yang sedang dirundung duka
Tataplah masa depan di hadapan
Tak perlu lagi menengok ke belakang
Jika hanya luka yang akan kau hirup aromanya

Beranikan diri menghadapi hari
Sampai hitam putihnya buana kau jalani
Hidup penuh warna pasti di ujung menanti
Tanpa perlu menunggu siapapun mengiringi

Bahagia itu adanya di hati
Bahagia itu tentang mencintai diri
Airmata segera sudahi
Bangkit dan segera maju sebelum mati

Mencintai diri sendiri itu butuh nyali
Berani melangkah itu bak pemantik api
Cintai jiwamu dengan sepenuh hati
Sirami dengan kasih agar ia senantiasa berseri

Life won’t sparkle unless you do!


Love, Rere

Boys Cry Too (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Boys Cry Too (Secangkir Kopi Hangat Emak)

“Bunda, can we talk?”

Sederet kalimat sakti yang datang dari 3 buah hati di rumah dan sanggup membuat saya berhenti dari segala kegiatan. Termasuk ketika sedang asyik bermain scrabble yang biasanya sanggup membuat mata saya memelototi layar gawai tanpa henti.

Saya memang sengaja menyediakan waktu dan telinga untuk mendengarkan apapun cerita mereka. Termasuk hal-hal receh nan sepele yang biasanya dibagi si bungsu.

Rayyan memang saat ini lebih cerewet dibanding 2 kakak perempuannya yang beranjak dewasa. Pada mereka berdua kadang saya yang harus rajin bertanya tentang apapun, walau tetap menahan diri untuk tidak menjadi terlalu cerewet dan rese. Saya berusaha berada di dalam sepatu mereka demi menyelami dunia remaja. Proses yang bukan dengan otomatis saya dapat, namun melalui sederetan kesalahan.

Beruntung Lara dan Lana tumbuh besar bersama dan melewati masa tumbuh kembangnya berdua. Bak sepasang anak kembar yang tak terpisahkan. Mereka begitu akur bahkan jarang sekali bertengkar. Keakraban yang seringkali berdampak pada perasaan tersingkirnya sang adik lelaki.

Rayyan kerap mengeluh dan bersedih karena merasa diabaikan sang kakak. Untuk itu lah saya hadir sebagai sahabat baginya. Bahkan saya juga masih menemaninya tidur sambil sesekali menepuk-nepuk punggungnya. Mungkin bagi ilmu parenting saya akan dianggap memanjakan. Bagi saya, anak lelaki atau perempuan wajib mendapat kasih sayang dan perlakuan sama.

Saya bahkan membiasakan Rayyan untuk mengungkapkan perasaan dan isi hatinya. Mengatakan cinta dan berbagi pelukan. Jika ia ingin menangis, saya tidak pernah menahan dan berkata, “boys can not cry.” Saya biarkan ia menangis dan memeluknya sambil berkata, “everything will be alright, you will be fine.”

Moms, tidak perlu ragu memeluk anak lelakimu dan berpikir bahwa ia akan tumbuh menjadi lelaki cengeng yang lemah. Saya justru percaya bahwa anak lelaki harus memiliki hati yang lembut dan penyayang. Tidak perlu mencegah airmata yang mengalir dan berpikir bahwa tangisan akan melemahkan. Menangis justru tanda bahwa kita kuat dan mampu menghadapi setiap bulir kesedihan yang muncul dari setiap rasa sakit. Rasa sakit yang bisa dihadapi siapapun, lelaki maupun perempuan.

Saya hanya berpikir, anak-anak yang dibesarkan tanpa cinta kasih akan tumbuh dewasa pun tanpa rasa cinta dalam hatinya. Karena mereka tidak terbiasa mengungkapkan semua rasa, lalu menguburnya dalam diam, dan menganggap diri baik-baik saja. Percayalah, suatu hari ia akan meledak dengan hebat tanpa bisa terbendung.

Harapan saya hanya semoga kelak Rayyan tumbuh dewasa menjadi lelaki penyayang yang akan bersikap lembut pada sekitar dan pasangannya kelak. Tentu saja dibarengi dengan ilmu tentang tanggung jawab dan disiplin yang semua dilakukan dengan cinta kasih. Semoga.

“I love you, Bunda.”
“I love you more,
Nak.”
“I love you the most,
Bunda.”

Love … it will never be over.

Love, Rere.

Kenalan, yuk!


Kenalan, yuk!

“Suka baking ya, Bun?”

Melihat beberapa postingan saya tentang baking, seorang sahabat bertanya apakah saya memang hobi membuat kue atau roti.

“Sama sekali enggak,” demikian jawab saya padanya. Hahaha!

Jika dibandingan dengan membuat kue, memanggang roti, atau membuat makanan sejenis, saya lebih memilih untuk memasak. Tidak telaten rasanya jika harus mengaduk adonan lama-lama, atau menguleni hingga lengan pegal-pegal, atau membentuk satu demi satu penganan. Beda sekali dengan masakan. Satu kali masak, saya bisa menyediakan sekian banyak porsi tanpa harus lama-lama berdiri di dapur.

Namun tak suka bukan berarti saya menolak untuk mencoba. Justru karena keengganan itu saya jadi tertarik untuk belajar. Ya, pilihan saya jatuh untuk belajar di sebuah studio.

“Apa bedanya dengan belajar sendiri lewat internet? Malah gratis.”

Betul banget. Banyak sekali mereka yang dengan sukarela berbagi resep bahkan video tutorial langkah demi langkah membuat beragam masakan. Kadang saya juga dengan rajin mencari postingan seperti ini, lho. Mencatatnya, kemudian beberapa kali mencoba sendiri. Sebagian berhasil, meskipun banyak yang gagal dengan sukses. Hahaha!

Memutuskan untuk mengikuti kelas membuat kue dan roti di sebuah tempat tentu saja dengan beberapa pertimbangan. Salah satunya adalah tips dan trik dari mereka yang ahli di bidang ini. Satu hal yang tidak mudah saya dapat dari internet, karena beberapa tutorial hanya menyajikan hasil akhir yang cantik. Padahal sebelumnya mereka melakukan banyak trial and error di balik layar tanpa kita sadari.

Pertimbangan selanjutnya adalah keseruan memasak bersama para sahabat. Meskipun saya bukan orang yang terlalu suka bepergian, tapi bertemu mereka lalu memasak hingga tertawa bersama, adalah salah satu cara melepas penat dan rutinitas harian di rumah. Beda lho rasanya memasak sendiri dengan bersama teman. Seru!

Lambat laun saya makin cinta dengan perbakingan. Pupus sudah keyakinan bahwa saya dikutuk oleh semua oven di dunia ini. Ternyata saya hanya belum kenal, makanya belum cinta.

Jadi, keluar dari zona nyaman memasak itu ternyata seru juga, lho. Seseru hasil baking saya beberapa hari ini dengan mencoba beberapa resep kekinian dengan hasil yang kece berat. Burnt Cheese Cake, Volcano Garlic Bread, dan Camembert Noix it is, guys!

Wow! Your cake and breads are awesome, Bunda! So yummy!” dan ini yang membuat saya makin bersemangat mencoba banyak hal baru.

Jadi … masih mau bilang enggak suka bikin ini itu? Cobaaaa kenalan duluuu.

Love, Rere

Bila Tak Ada Lagi Esok (Untukmu, Anakku)


Bila Tak Ada Lagi Esok
(Untukmu, Anakku)

Hidup
Sesungguhnya sebuah misteri
Serba rahasia dan sangat tertutup
Tak ada seorang pun tahu ujung cerita ini

Hidup
Akan seperti apa kita semua akhiri?
Serba samar dan sayup
Entah bagaimana akhir masing-masing kisah ini

Hidup
Sesungguhnya mengerikan untukku
Penuh dengan aroma semu
Dalam langkah yang serba ujian melulu

Hidup
Tiba-tiba bisa direnggut oleh-Nya, Sang Empunya
Kita ini lalu bisa apa?
Hanya mampu pasrah tertelungkup kelu

Hidup
Mengajarkanku banyak hal baru
Tentang arti bergaul juga berseteru
Kuncinya ada pada dirimu
Mau ikut atau segera berlalu

Hidup
Yang terlewati dengan banyak ujian dan pelajaran
Memberiku banyak peringatan
Tentang segala yang tersurat, tersirat, juga tersiar
Penuh godaan yang erat mencengkeram

Hidup
Bagaimana kelak akan kita akhiri?
Penuh doa pada semua atau semata caci maki?
Yang hingga akhir tercurah dari lisan hingga jari
Ngeri

Nak, hidup ini bukan kekal
Serba singkat bahkan hanya sekedip mata saja
Jika IA berkehendak, kita bisa apa?
Tiba-tiba segala kenikmatan musnah di hadapan
Tanpa bisa protes maupun banyak tuntutan

Nak, di tanganmu pena dan penghapus itu tergenggam
Bagaimana caramu mengisi putihnya setiap lembaran
Mungkin sesekali butuh menghapus lisan dan tulisan
Karena dosa dan kesalahan sejatinya berjalan beriringan
Hanya butuh luasnya hati untuk menyadari kesalahan

Nak, kejahatan tak perlu berbalas yang sama
Singkatnya hidup, jalani saja dengan kedamaian
Sebelum terlambat sadar dan semua terenggut tanpa peringatan
Doakan saja mereka yang memancing amarah dan kesedihan
Mungkin suatu saat dari mereka kau dapat pertolongan
Jika bukan perlakuan, mungkin doa yang menyelamatkan

Nak, ketika esok tak ada lagi di hadapan
Berharap lah matamu terpejam dalam kenyamanan
Karena tak ada hati yang tersakiti atau jiwa yang merintih perih
Memintamu untuk menjahit setiap sisi yang tanpa sadar kau iris

Nak, mulailah memahat setiap sisi kehidupan dengan ukiran indah
Menulis setiap laku dan lakon dengan sebaik-baiknya
Karena hidup tak selalu berujung megah

Bila tak ada lagi esok untukmu melangkah

Love, Rere

TTM Yang Manis


TTM Yang Manis

Sudah ada yang nonton “Teman Tapi Menikah” 1 dan 2?

Film yang diangkat dari buku milik Ayudia Bing Slamet dan Ditto Percussion ini buat saya lumayan menghibur. Bagian 1 menceritakan bagaimana mereka bertemu di bangku SMA dan bertahun-tahun berada di friendzone hingga menyadari ternyata ada cinta di sana. Hmm … berapa banyak sih dari kita yang berawal dari teman sekolah lalu berakhir menjadi pasangan hidup karena menikah?

Well, walau harus saya akui cerita film ini sebenarnya biasa saja. Namun tanpa diduga, sequelnya ternyata lumayan menyentuh, hingga saya sempat meneteskan airmata. Ya, di bagian ke-2 film ini, Ayu dan Ditto akhirnya menikah. Namun tak seindah ketika bersahabat, konflik di antara mereka justru muncul ketika Ayu mulai berbadan dua.

Bagian ini saya tonton bersama suami, lalu kami sedikit flashback mengenang masa-masa ketika saya hamil pertama kali dulu. Tiga kehamilan yang masing-masing membawa cerita berbeda. Beruntung saya tidak mengalami perubahan yang terlalu parah seperti Ayu yang menjadi sangat emosional, hingga sempat membuat Ditto kelabakan.

Perubahan emosi Ayu semakin menjadi setiap kali ia bertemu dengan para sahabat yang masih lajang. Tubuh langsing, dandanan cantik, sepatu berhak tinggi yang tidak lagi dimiliki Ayu, membuatnya kehilangan kepercayaan diri di hadapan mereka.

“Nikmati masa-masa single lo karena itu enggak bakal balik lagi. Maksimalin. Main, kerja, jalan-jalan, jatuh cinta, karena kalau badan lo udah kayak gue nih, gerak aja usaha. Kalian bisa lihat kaki gue kan? Gue udah berbulan-bulan enggak bisa lihat,” ucapnya dengan sedih di hadapan para sahabatnya yang masih lajang.

Ayu … memang masih muda ketika menyadari telah berbadan dua pasca menikah. Padahal ia bermimpi ingin keliling dunia berdua Ditto dan sempat merasa kehamilannya menjadi penghalang.

Hehe. Yu, saya dulu juga begitu. Bulan madu berdua saja bahkan tak sempat kami lakukan. Keburu hamil, lalu hamil lagi, lalu hamil lagi. Tubuh yang sebelumnya cantik dan langsing jadi membengkak, lalu susut, lalu bengkak lagi, susut lagi, bengkak lagi, susut dikit … dikiiit sekali hingga hari ini, dan tak bisa kembali langsing seperti ketika masa muda.

Saya juga sempat merasa tidak percaya diri bertemu teman-teman kerja dulu. Melihat betapa chic dan cantiknya mereka, sementara saya kesana-kemari membawa gembolan dengan baju longgar dan muka pucat tanpa polesan make up. Kalau tidak sedang hamil, gembolan saya berubah menjadi botol susu, popok, dan segala printilan bayi.

Ah, sungguh masa-masa peralihan yang tidak mudah. Berubah dari lajang menjadi calon ibu, mengganti semua hal tentang aku menjadi tentangmu, kamu, dan kamu.

Namun sembilan bulan kesakitan itu nyatanya berbuah cinta hingga seumur hidup. Dengan tambahan gurat pelangi di setiap sudut. Dunia juga jadi lebih berwarna tak lagi pucat, indah tak lagi gundah, seru tak lagi beku.

Terima kasih untuk-Mu yang sudah menyempurnakan hidup ini dengan lika-liku, meski tak mudah tapi tetap indah. Seindah kisah Ayu dan Ditto yang menutup cerita dengan manis. Semanis senyum sang bayi, Dia Sekala Bumi.

Love, Rere

Terlanjur Mencinta


Terlanjur Mencinta

“Mas, mau ke mana?”
Meeting. Enggak usah ditunggu. Aku pulang malam.”
“Hati-hati ya, Mas.”

Sebuah kecupan seadanya mendarat di dahi Ayumi. Datar. Tanpa gairah.

Dua puluh lima tahun usia pernikahan mereka, Ayumi merasa ada yang berubah pada diri Aldi, sang suami. Hambar. Sekedar melakukan kewajiban sebagai sepasang suami istri, terutama di hadapan 3 putri mereka yang beranjak dewasa. Si sulung, Alya, bahkan sebentar lagi akan naik pelaminan.

Aldi adalah sosok ayah idola bagi 3 putrinya.Tampan, bertanggung jawab, penyayang, dan setia. Persis seperti gambaran mereka tentang laki-laki idaman.

“Aku akan mencari calon suami seperti ayah. Harus seperti ayah,” begitu selalu mereka membayangkan sosok seorang suami. Seperti Aldi.

****

“Pagi, cantik. Sudah bangun?”
“Pagi, Mas. Sudah dong. Mas sedang apa?”
“Sedang berdiri di depan rumahmu. Makan siang, yuk.”
“Astaga! Kamu selalu memberi kejutan! Aku suka.”

***

Happy Anniversary Ibu dan Ayah. Semoga selalu mencinta hingga akhir hayat. Selamat menikmati pemandangan cantik dari hotel, tanda cinta kami bertiga. Love, Alya, Alina, Aulia.

“Terima kasih, Nak. Cantik sekali kartu, cake, dan bunganya. Terima kasih juga hadiah menginap di hotelnya. Pemandangannya indah sekali dari jendela kamar,” tulis Ayumi pada sebuah pesan singkat untuk ketiga putrinya.

Ya, ulang tahun pernikahan perak itu sangat luar biasa. Sebuah hotel dengan pemandangan menawan, buket bunga segar, dan sebuah cake cantik, hadiah dari ketiga putri kesayangannya.

Hadiah pernikahan perak yang dinikmatinya sendiri … tanpa Aldi di sisi.

Mata Ayumi menerawang jauh mengingat kejadian yang ia alami 2 minggu sebelumnya. Sebuah pesan singkat berisi foto Aldi sedang menggandeng mesra seorang perempuan cantik di suatu tempat, terkirim ke gawainya dari deretan nomor asing yang tidak bernama. Ayumi mengenali tempat di foto itu karena dulu ia dan Aldi sama-sama menimba ilmu di sana. Di sebuah kota tempat awal cinta mereka bersemi.

Perempuan itu, Soraya namanya, yang pesan singkat bernada mesranya juga terkirim bersama dengan beberapa foto mereka berdua dalam berbagai pose. Termasuk juga bukti pengiriman bunga, beberapa barang, nota restoran, dan hotel.

Hati Ayumi hancur. Tepat di hari ulang tahun pernikahan peraknya, ia harus ikhlas melepas Aldi yang lebih memilih menemui perempuan lain.

***

“Maafkan aku, Mas. Aku terlanjur mencinta dan tak mampu melupa. Semoga istrimu ikhlas melepasmu menjadi milikku.”

Senyum Soraya mengembang sambil jemari lentiknya mengirim pesan singkat ke sebuah nomor … milik Ayumi.

(Tamat)

Song: Maafkan Aku, Terlanjur Mencinta – Tiara Andini (cover)

Selamat Makan, Nak! (Secangkir Kopi Hangat Emak)


Selamat Makan, Nak! (Secangkir Kopi Hangat Emak)

Pagi tadi saya melihat sebuah status yang isinya kurang lebih menanyakan kenapa para lelaki harus mencari istri yang pandai memasak. Bukankah mereka sedang membangun rumah tangga, bukan rumah makan?

Hahaha! Saya ketawa sih membacanya. Kemudian berpikir sambil menghirup wanginya kopi hangat di hadapan saya.

Pernah kah saya berpikir bahwa saya dijadikan bak rumah makan di rumah? Hmm … sependek ingatan saya sih belum pernah. Selama ini saya menyukai seluruh kegiatan di dapur, bahkan sempat rajin menerima pesanan masakan dari beberapa pelanggan.

Terpaksa kah saya melakukan kegiatan masak memasak di rumah selama ini? Jawabannya adalah sama sekali tidak. Saya melakukannya dengan senang hati dan gembira, tanpa paksaan atau keterpaksaan. Bahkan dengan penuh semangat belajar banyak menu baru untuk disajikan di rumah.

Wahai para remaja putri atau teman-teman perempuan yang belum menikah. Percaya lah, kalian akan sangat bahagia ketika mendengar sang suami memuji masakan anda semua bahkan lebih memilih untuk makan di rumah, sesederhana apapun masakan anda. Bahkan dengan bangga membawanya ke tempat kerja, dalam sebuah kotak makan unyu, tanpa ragu dan malu.

Itu belum seberapa. Senyum anda juga pasti mengembang selebar-lebarnya ketika mendengar anak-anak mengatakan dengan bangga bahwa teman-teman sekolahnya menganggap anda “cool”. Hanya karena mereka mengagumi hasil buatan tangan anda di dalam kotak makan, yang selalu berbeda tiap hari hingga mereka selalu penasaran dengan isinya.

“Your Mom so cool! The food looks delicious and always nice to look at.”

Belum lagi pujian dari sahabat, teman, teman suami, atau keluarga yang berkesempatan makan di rumah anda dan dengan tulus mengatakan betapa lezatnya rasa masakan anda. Bahagianya mungkin lebih dari rasa lelah yang muncul setelah selesai memasak, dan melihat dapur bak kapal pecah.

Tapi eh tapi, ada nilai edukasi juga di rumah kami lho. Meski dengan suka hati saya memasak beragam menu, anak-anak juga harus belajar untuk tidak cerewet dan menjadi picky eater. Saya membiasakan mereka untuk being grateful, sesederhana apapun masakan yang saya buat. Mereka harus paham bahwa ada banyak sekali anak seusia mereka di luar sana yang tidak bisa menikmati makanan seperti mereka di rumah. Jadi, mereka tidak boleh banyak protes dan harus banyak bersyukur. Makan apapun yang ibunya masak, dan selalu berterima kasih atas segala anugerah yang didapat dari Sang Pencipta.

Saya juga mengajarkan mereka untuk terbiasa dan mengenal isi dapur. Ini adalah salah satu dari sekian banyak life skills yang saya wariskan untuk hidup mereka kelak. Jadi mereka tetap bisa survive di mana pun mereka tumbuh dewasa nanti. Saya toh tidak bisa selamanya memasak untuk mereka, kan?

Suatu hari nanti anak-anak harus hidup mandiri dan mampu bertahan sendiri. Jika memasak hal yang paling sederhana saja tidak mampu, bisa dibayangkan betapa tipisnya kantong mereka kelak, karena harus jajan setiap hari.

Jadi, masih mau menganggap kemampuan memasak ini sepele? Think again, ladies.

Jangan merendahkan diri dan menganggap bahwa kegiatan memasak akan menjadikan anda bak rumah makan di rumah sendiri. Tersenyum lah dengan bangga hati karena bisa berkata, “Gue dong, masak sendiri buat anak-anak dan suami.”

Love, Rere

From Scratch To The New Path


From Scratch To The New Path

“Waduh! Lupa, besok Lana ulang tahun! Bikin apa nih? Mana waktunya mepet, enggak sempat belanja!”

Ya ya … saya memang sering lupa tanggal dan hari. Saya selalu ingat hari lahir hampir semua anggota keluarga terdekat. Hanya saja saya kerap lupa ini hari apa dan tanggal berapa, dan … saya baru sadar tanggal 7 Juli adalah keesokan harinya.

Kami memang tidak pernah dengan sengaja merayakan ulang tahun anak-anak secara besar-besaran. Biasa saja, hanya di rumah dan makan masakan saya. Nah, biasanya saya sudah belanja beberapa hari sebelumnya untuk persiapan membuat nasi kuning dan sebuah cake sederhana.

Hari itu saya betul-betul tidak sadar tanggal 7 sudah di depan mata. Pantas saja putri kecil saya nampak sedih apalagi sempat saya marahi di malam hari. Hahaha! Sorry, Nak.

Hmmm … what should I do? What could I make? Gumam saya di depan kulkas sambil mata menyusuri semua sudut dapur, mencari bahan masakan yang bisa saya gunakan.

Akhirnya, pilihan jatuh pada nasi kuning sederhana, pizza hanya dengan topping salami, dan sebuah cheese cake yang baru saya pelajari sehari sebelumnya. Set!

Ingin tahu bagaimana saya membuat pizza dengan bahan sederhana dan relatif cepat? Berikut bahan dan cara membuatnya.

Bahan:

  • Ragi instan 1 sdt
  • Gula pasir 1 sdm
  • Air hangat 240 ml
  • Bread flour 350 gr
  • Olive oil atau minyak sayur 2 sdm
  • Susu bubuk 1 sdm
  • Oregano
  • Topping: saus pasta mushroom, salami, keju cheddar dan mozarela, sosis

Cara membuat:

  1. Campurkan air hangat dengan ragi dan gula, aduk pelan dan diamkan 5-8 menit hingga berbuih.
  2. Campurkan tepung, susu bubuk, dan minyak ke dalam wadah kemudian tuang campuran ragi yang sudah berbuih.
  3. Uleni selama 10 menit, kemudian bentuk bulatan dan tutup selama 15 menit.
  4. Bentuk menurut ukuran loyang, tusuk dengan garpu.
  5. Berikan topping sesuai keinginan. Saya mengoleskan saos pasta mushroom lalu potongan salami di atasnya, dan ditutup dengan parutan keju mozarela dan cheddar lalu taburi oregano.
  6. Jika ingin mengisi pinggiran pizza seperti yang saya buat, tinggal menggulung adonan lebih keluar, lalu isi dengan sosis atau keju.
  7. Sebelum memasukkan dalam oven yang sudah dipanaskan terlebih dahulu, olesi pinggiran yang sudah diisi, dengan campuran kuning telur dan susu cair.

Voila! Last minute pizza from scratch siap disantap sebagai hadiah menjalani perjalanan baru, the new path, di 13 tahun sang putri tercinta.

“How’s the pizza, Adik?”

“It’s yummy, Bunda! Better than the one we bought outside. Thank you, Bunda.”

“Happy birthday, Adik!”

… and happy cooking to you!

Love, Rere

Love Is … Being Responsible


Love Is … Being Responsible

“Enggak usah masak dan bikin cake lah, Bunda. Beli saja gampang, enggak capek.”

“Enggak mau, ah. Buat apa saya belajar bikin cake kalau masih beli juga?”

Suami saya yang sangat baik. Ia memang tidak mau saya terlalu lelah mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Selalu khawatir saya akan jatuh sakit karena kelelahan. Hingga sang istri kerap diingatkan untuk istirahat dan banyak tidur. Ia tahu bahwa istrinya tipikal perempuan yang tidak bisa diam, pun tidak bisa dilarang alias keras kepala.

Well, sang istri hanya berusaha melakukan tugas dan kewajibannya sebagai seorang ibu dengan sepenuh hati. Baginya, ini hanya lah sebagian kecil dari bentuk tanggung jawabnya di rumah terhadap anak-anak. Mereka yang diamanahkan kepada sang istri untuk dijaga dengan baik. Hingga ia merasa bertanggung jawab dengan apapun yang masuk ke dalam tubuh mereka.

Meski ia bisa saja dengan gampang membeli apapun, tanpa harus susah memasak atau repot sendiri mempersiapkan makanan. Contohnya untuk hari spesial anak-anak seperti kemarin.

Tak jarang ia juga bertanya dalam hati, “Kenapa sih mau susah sendiri? Bukannya lebih gampang hanya keluar duit tapi tanpa keringat dan pegal sekujur badan, ya?”

Hmm … inilah cinta. Terdengar klise tapi begitulah kenyataannya.

Jika bukan atas nama cinta yang begitu besar, rasanya mudah saja baginya untuk meninggalkan segala tanggung jawab di belakang. Namun sang istri hanya ingin mewariskan kebiasaan baik bukan sekedar harta duniawi. Ia hanya berharap kelak mereka melakukan hal yang sama untuk keluarga masing-masing. Memberikan segenap cinta di setiap sentuhan tangan dan peluhnya tanpa syarat.

Pada saat yang sama sebagai seorang ibu, ia juga sedang mengajarkan arti tanggung jawab pada ketiga buah hatinya. Bahwa ketika telah berani memutuskan untuk membangun sebuah keluarga, ada tanggung jawab besar di sana. Bukan sekedar memenuhi kebutuhan materi namun juga ada kewajiban untuk selalu meningkatkan kemampuan diri.

Ibu … adalah awal seorang manusia mengenal dunia. Sejatinya semua pengalaman dan kesiapan untuk menghadapi juga matang dipikirkan. Karena hidup bukan sekedar bersenang-senang, namun ada tanggung jawab di dalamnya. Semua adalah bekal para penerus menghadapi dunia dengan segala dinamikanya.

Selamat menjalani hari-harimu Ibu, lakukan semua dengan bahagia dan cinta, hingga tak ada kata tak bisa.

Love, Rere